Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Gundah



Harun kembali ke ruang kerjanya, tampak di sana Anne telah menyiapkan makan siang mereka, sekretarisnya itu memang selalu pengertian dan semua pekerjaannya selalu dikerjakan dengan sangat baik, rapi dan cekatan.


Anne yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya mengalihkan fokusnya dari ponselnya. “Akhirnya kau datang juga. Aku sangat lapar,” katanya dengan nada mengeluh.


Harun berdehem. Ia langsung melangkah menuju sofa mengambil posisi duduk tepat di depan Anne. “Kenapa harus menungguku?”


“Makan sendiri dan makan berdua sensasinya jelas berbeda,” jawab Anne sambil mengulurkan hand sanitizer kepada Harun.


“Terima kasih,” kata Harun.


“Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanya Anne, tentu saja maksudnya adalah antara Harun dan David.


Harun yang sedang mengunyah makanan di mulutnya menyelesaikannya lalu menelannya sebelum menjawab, “Hanya membicarakan pekerjaan,” jawabnya.


“Oh.” Hanya itu yang keluar dari bibir Anne.


“Kecewa?” Harun menaikkan sebelah alisnya.


Anne terkikik. “Omong kosong,” jawabnya.


“Jadi?”


“Jadi apa? Tidak ada apa-apa antara aku dan dia.”


“Benarkah? Sepertinya dia ingin mengejarmu,” kata Harun.


Anne mencebik. “Dia selalu bertingkah seolah-olah hendak mengejarku, faktanya hingga sekarang hubungan kami tidak jelas,” katanya.


“Bagaimana jika dia serius?”


“Itu tidak mungkin,” jawab Anne.


Mereka melanjutkan makan siang mereka, menghabiskan sisa makanan yang masih ada di atas piring mereka tanpa berbicara lagi.


“Sebenarnya apa perasaanmu kepada David?” tanah Harun tiba-tiba setelah mereka menyelesaikan santap siang mereka.


“Astaga, kenapa kau bertanya seolah menginterogasiku?” tanya Anne dengan nada enggan.


Harun memutar gelas yang berisi air putih di tangannya, sudut bibirnya tampak menyunggingkan senyum samar. “Jika kau mencintainya lebih baik kau beri dia jalan tapi jika kau tidak menginginkannya beri ketegasan, jangan beri dia harapan,” katanya.


“Jadi, kau tidak mau membantuku lagi?” Anne memiringkan sedikit kepalanya.


“A-apa maksudmu?”


“Maksudku... lebih baik kita kembali bekerja,” jawab Harun sambil menyeringai lalu bangkit dari duduknya. “Panggil office boy untuk membersihkan itu,” titahnya.


***


Anne kembali dari bekerja, sepanjang perjalanan menuju tempat tinggalnya ia merenungkan apa yang di ucapkan oleh Harun. Benar yang di ucapkan oleh Harun, ia harus memberikan ketegasan kepada David. Hubungannya dengan David sama sekali tidak sehat. Tetapi, perasaan Anne tergelitik karena ia juga tidak tahu bagaimana perasaannya kepada David. Masihkah seperti dulu atau telah pudar seiring berjalannya waktu karena hubungan mereka terombang-ambing dalam hubungan yang tidak pasti nyaris selama empat tahun.


Ah, mungkin lebih.


Namun, untuk menyelidiki David ia sama sekali tidak memiliki jalan. Satu-satunya jalan menurut Anne adalah sedikit memberi jalan kepada David untuk bersama lagi. Mungkin sejenis pendekatan kecil untuk mengawali hubungan, mungkin seperti kencan untuk lebih saling mengenal.


Anne meraih ponselnya yang berada di samping bangku kemudi yang ia duduki. Memanggil David dan langsung menuju sebuah tempat di mana ia dan David sepakat untuk bertemu.


“Tumben kau mengajakku bertemu. Apa kau rindu padaku?" tanya David sambil mendudukkan bokongnya di atas kursi sebuah cafe tepat di depan Anne.


“Jangan terlalu percaya diri," jawab Anne dengan nada ketus.


“Jadi kekasihmu yang posesif itu mengizinkanmu menemuiku?” David menaikkan sebelah alisnya.


Anne ingin sekali tertawa tetapi itu tidak mungkin ia lakukan karena keperluan sandiwaranya. “Dia kekasihku yang paling pengertian,” katanya. Tatapannya menyapu seluruh wajah David mencari jejak kecemburuan, sayangnya ia tidak mendapatkan apa pun.


“Dia tidak cocok untukmu, lagi pula ia hanya sorang CEO kan? Di banding aku... seharusnya ia tidak pantas bersaing denganku,” ucap David.


Memang benar David adalah pemilik perusahaan peninggalan ayahnya, ia juga memiliki firma hukum. Tetapi, ucapannya jelas merendahkan status sosial orang lain. Anne merasa tidak terima. “Aku tidak tahu jika kau sesombong itu,” ucapnya dengan nada sangat sinis.


David menaikkan sebelah. “Kau sensitif sekali,” kata David.


Anne mendengus, tiba-tiba minatnya untuk lebih lama lagi bersama David duduk di cafe seperti rencananya semula lenyap tak berbekas.


“Aku ingin ke toilet,” kata Anne sambil bangkit dari duduknya.


David hanya mengangguk.


Anne hanya mencuci tangannya di toilet kemudian ia memandangi wajahnya di cermin.


Entahlah, kencan ini sama sekali tidak mengesankan. Yang ada hanya perasaan gundah.


Tap jempol kalian dan jangan lupa tinggalkan jejak komentar 🍒🍒🍒❤❤❤❤