Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Cemburu



Semenjak mengabarkan kepada Alexander bahwa Sidney dalam keadaan kurang sehat pria itu agak susah agak sulit untuk dihubungi oleh Alexander. Alexander beberapa kali menghubungi Mike melalui sambungan telepon namun sepupunya itu tidak menjawabnya. Alexander juga mencoba menghubungi Harry, dan tidak berbeda sahabatnya juga tidak menjawab panggilan dan pesan teks yang di kirimkan Alexander.


Dan ada yang aneh dengan sikap Prilly, istrinya itu sudah dua hari selalu membelakangi Alexander setiap tidur dan selalu menghindari Alexander.


Contohnya tadi pagi saat Alexander meminta Prilly untuk memasangkan dasi seperti kebiasaan mereka di pagi hari, wanita itu berpura-pura tidak mendengar dan berjalan berlalu begitu saja meninggalkan Alexander di kamar. Kemudian saat Alexander kembali dari bekerja istrinya itu tidak ada di rumah, istrinya itu juga tidak memberi kabar kepada Alexander, setelah hampir waktu makan malam istrinya baru kembali, dan ketika Prilly kembali di tangannya begitu banyak memegang paper bag berisi barang-barang belanja. Biasanya istrinya bersikap seperti itu jika sedang cemburu, seperti waktu pertama kali mereka menikah. Prilly cemburu kepada Jovita dan melampiaskan dengan menghabiskan begitu banyak uang untuk berbelanja.


Tetapi kali ini Alexander bingung kepada siapa istrinya itu cemburu, karena Alexander memang benar-benar tidak melakukan perselingkuhan. Jangankan perselingkuhan niat saja tidak terbersit di benaknya.


Setelah usai makan malam Alexander bercengkerama sebentar bersama keluarga kecilnya, seperti biasa Grace yang paling cerewet di antara William dan Leonel, seperti biasa pula Grace dan Leonel seperti layaknya kucing dan tikus. Kedua saudara itu memang tidak pernah akur, sekarang Alexander memahami itu karena pada dasarnya mungkin mereka tidak memiliki ikatan batin seperti saudara kembar pada umumnya.


Alexander melirik ke arah jam dinding yang tergantung di ruangan itu, “anak-anak ini sudah terlalu larut kalian harus tidur." Alexander memberikan perintah.


“Aku belum mengantuk, Daddy,” sanggah Leonel.


“Besok kalian harus sekolah tidak ada bantahan.” Alexander bersikap tegas kali ini karena ada masalah yang harus segera diselesaikan bersama ibu dari anak-anaknya yang bersikap aneh.


“Dedi ini belum genap jam sembilan.” Kali ini Grace turut andil melayangkan protes.


“Hanya tinggal beberapa menit Grace, ayo patuhlah kalian. Gosok gigi kemudian pergi tidur, Daddy tidak ingin mendengar kalian berisik lagi,” Alexander bangkit dari duduknya dan menggiring ketiga bocah itu untuk menggosok gigi, kemudian memastikan anak-anak itu masuk ke dalam selimut mereka masing-masing. Kemudian Alexander segera menuju kamar pribadinya.


Di dalam kamar Alexander menjumpai Prilly yang membungkus tubuhnya rapat dengan selimut, Alexander menatap istrinya dengan tatapan frustrasi dan penuh tanda tanya.


Mungkinkah istrinya sedang merencanakan sesuatu untuk meminta cerai lalu kembali kepada Mike?


Perlahan Alexander menarik selimut yang membungkus tubuh Prilly, kemudian ia masuk ke dalam selimut untuk memeluk istrinya.


Prilly sama sekali tidak merespons, ia terus saja berarti bersikap acuh kepada Alexander. Alexander menciumi pundak Prilly dengan lembut. “Sayangku apa aku melakukan kesalahan?”


Prilly nafasnya dalam-dalam, kemudian perlahan ia berbalik menghadap Alexander dan menatap Alexander dengan tatapan marah, “sudah berapa kali kau tidur bersama Sidney?”


Tubuh Alexander menegang seketika, ingatannya meraba-raba dan ia sepertinya memang melupakan pesan singkat yang ia kirim kepada Harry. Alexander lupa menghapusnya.


Istrinya itu memang gemar sekali bergerilya membuka ponsel milik Alexander dan Alexander memang tidak mempermasalahkan privasinya, mereka sepakat tidak ada rahasia di dalam rumah tangga mereka meskipun saat ini Alexanderlah yang sedang bermain sandiwara, ia menutupi tentang Mike dan Sidney.


Sepertinya usia Alexander memang tidak muda lagi, ia mulai tidak teliti seperti dulu lagi, atau mungkin karena akhir-akhir ini terlalu banyak pekerjaan dan beban hingga ia tidak bisa berkonsentrasi dengan baik.


“Sidney?” Alexander bertanya kepada Prilly dengan ekspresi wajah yang ia buat setenang mungkin.


Alexander juga mengubah posisinya menjadi duduk.


Memang benar Sidney berada di New York dan memang benar aku bersekongkol dengan Harry.


“Tinggalkan dia atau kita bercerai,” ancam Prilly langsung, “aku tidak mau berbagi suami dengan siapa pun Alexander, kau tahu bukan aku tidak sudi berbagi suami.”


Alexander menatap dalam-dalam mata Hazel milik Prilly, replika Sidney. Entah bagaimana Leonel dan Sidney seperti di buat terpisah. Leonel adalah bagian dari Mike dan Sidney adalah bagian dari Prilly.


“Sidney?” Alexander mengucapkan nama Sidney setengah bergumam.


“Jangan sebut namanya!” Prilly melotot galak pada Alexander.


“Jadi bagaimana aku menjelaskan jika aku tidak boleh menyebut namanya?”


Tatapan mata Prilly sedih dan ekspresinya juga sedikit melunak. “Jelaskan saja tanpa menyebut namanya.”


“Dia keponakan Harry,” ucap Alexander, ia tidak berbohong. Sydney memang keponakan Harry dan Sophia.


Prilly menyipitkan matanya, sorot matanya terjelas terlihat jelas jika Prilly sama sekali tidak mempercayai ucapan Alexander.” Jika boleh jujur sedikit pun aku tidak mempercayai ucapanmu,” kata Prilly dengan nada yang terdengar begitu kesal.


Alexander memejamkan matanya erat-erat untuk beberapa detik kemudian ia membuka matanya, menatap Prilly dengan tatapan yang tidak bisa di gambarkan, keresahan, ketakutan, kebingungan yang ia tutupi sebisa mungkin. Alexander sendiri bingung harus bagaimana menjelaskan kepada Prilly siapa Sidney, harus bagaimana memulainya, tenggorokannya terasa tercekat.


Bagaimana reaksi Prilly jika ia tahu Grace bukan Putri kandungnya? Bagaimana jika Prilly tahu Putri kandungnya bersama Mike?


TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️


RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️


JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️


TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️