
Hari ini adalah hari terakhir keluarga Alexander berada di New York. Besok pagi mereka akan kembali ke London. Rencananya mereka akan kembali berkumpul saat Natal naik akan membawa Sidney ke London untuk bertemu dengan keluarga besar mereka di sana, untuk saat ini keberadaan Mike dan Sidney masih disepakati untuk disembunyikan karena pertimbangan tertentu.
Sidney duduk di kursi roda sementara Grace duduk si kursi kecil di samping Sidney. Kedua gadis itu sedang menggambar, jika di bandingkan gambar Grace lebih masuk akal di banding gambar buatan Sidney.
Tidak ada masalah dengan kaki Sidney hanya saja Mike tidak ingin Sidney kelelahan, Mike mendudukkan putrinya di kursi roda agar putrinya tidak berlarian ke sana kemari hingga keadaannya benar-benar pulih.
Leonel dan William juga berada tak jauh dari kedua gadis cilik itu, William seperti biasa ia lebih tertarik belajar William benar-benar replika dari Alexander yang gemar belajar sejak kecil, jika sudah bertemu dengan buku maka ia akan berkutat dengan buku itu untuk ia baca hingga puas.
Sementara Leonel mencoret-coret jajanan buku gambar tidak karuan, sesekali Leonel berbuat jahil dengan merebut kertas yang ada di tangan saudara kembarnya hingga membuat Grace merengek bahkan terkadang marah. Leonel sama sekali tidak berusaha mengganggu Sidney, mungkin Leonel tidak mengganggu Sidney karena Sidney duduk di kursi roda.
Tidak ada yang tahu jika saja Sidney sehat seperti Grace mungkin saja Leonel juga akan mengganggu Sidney seperti dia mengganggu Grace, Leonel sangat jahil kepada siapa saja. Tetapi, ia tidak berani berbuat jahil ataupun membantah perkataan William.
Mike tampak melangkah memasuki ruangan dan bergabung bersama Alexander Prilly dan Helena pria itu menghempaskan bokongnya di samping Helena, pria bermanik mata biru itu baru saja kembali dari luar rumah karena merokok.
Baru saja Mike hendak meletakkan bungkus rokoknya di atas meja, Alexander menatap dengan tatapan tajam.
“Jangan merokok di sini.” Alexander dengan tegas memperingatkan Mike.
“Ini rumahku,” ucap Mike dengan nada acuh, ia berada di tempat tinggalnya sendiri dan Alexander berlaku seolah-olah rumah itu adalah miliknya. Pria itu melarang si empunya rumah merokok.
“Tinggalkan kebiasaan burukmu itu,” kata Alexander dengan nada tajam.
Demi Tuhan, Mike merasa dia sedang di intimidasi di dalam rumahnya sendiri oleh tamu.
“Aku tidak pernah merokok di dalam rumah." Mike membela diri sementara Helena yang berada di samping duduk di samping Mike tampak mendengus.
“Sisa asap rokok itu menempel di pakaianmu, itu tidak cocok untuk wanita hamil. Sayang sebaiknya kita menjauh.” Alexander hendak bangkit dari duduknya dan maksud mengajak Prilly menjauh dari Mike.
“Kau hamil?” Mike dan Helena bertanya berbarengan sambil pandangannya mengarah kepada Prilly.
Prilly mengangguk wajah berseri-seri dan senyum yang begitu lebar.
“Ya Tuhan. Selamat Prilly,” Helena memberi selamat kepada Prilly.
Alexander terkekeh. “Sangat narsis,” cibirnya pada kepada Mike.
Tiba-tiba Alexander berdiri menghampiri keempat bocah cilik yang sedang menggambar, standar mendorong kursi roda yang diduduki oleh Sidney. “Anak-anak kalian ikuti Daddy sebentar.”
Ketiga anak itu mengikuti langkah Alexander dengan patuh, “sekarang kalian berempat harus memberi selamat kepada Mommy. kalian akan memiliki adik, kalian akan memiliki saudara sebentar lagi,” kata Alexander memberitahu kabar gembira kepada keempat putra-putrinya.
Grace dan Sidney mengerjap-ngerjapkan matanya.
“Adik?” kedua gadis kecil itu bertanya.
“Iya, seorang bayi kecil ada di perut Mommy,” jawab Prilly sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Grace mendekat kepada Prilly kemudian gadis kecil itu memeluk paha Prilly sambil menciumi perut ibunya yang masih rata, Prilly mengelus kepala Grace.
Alexander mendorong kursi roda Sydney mendekat kepada Prilly agar Sidney juga bisa memeluk Prilly. William dan Leonel juga mendekat kepada Prilly dan Prilly mendapat selamat bertubi-tubi dari keempat anaknya.
“Helena bukankah Apakah di perutmu juga ada seorang bayi?” Sydney bertanya kepada Helena. Semua yang berada di ruangan itu kini mengalihkan pandangan mata mereka untuk menatap Helena.
Helena tergagap karena sekarang ia menjadi pusat perhatian. “Mana mungkin,” gumam Helena.
“Di dalam perut Mommy bisa ada bayi kenapa di perutmu tidak mungkin ada bayi?” Sydney bertanya dengan mimik wajah yang begitu polos.
Helena membesarkan bola matanya menatap Prilly ia tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Sidney.
“Sidney....” Mike juga tidak mampu mengatakan apa-apa.
Alexander menyeringai senang mendengar apa yang diucapkan Sidney. Kemudian ia berucap, “Sayang, kau bisa meminta kepada Daddy untuk membuatkan seorang bayi yang akan tumbuh di dalam perut Helena.”
“Daddy....” Sydney menatap ayahnya dengan tatapan puppy eyes.
Mike menatap Alexander dengan tatapan yang tampak penuh kekalahan dan kekesalan. Tetapi, bibirnya menyunggingkan seringai licik sambil ekor matanya sekila melirik Helena yang wajahnya tampak merah padam.