
Setelah mengobrol beberapa menit dengan Sandra, Mike segera menjalankan rencananya. Tentu saja, Moses sekretarisnya yang mengurus semua dengan baik sesuai instruksi Mike.
Mike menuju perusahaan istrinya bekerja, semenjak resmi menjadi suami Prilly, Mike tidak pernah lagi mengemudikan mobilnya sendiri. Ia lebih suka duduk bersama Prilly di kursi penumpang sambil memeluk istrinya. Itu adalah jam pulang kerja sehingga banyak karyawan mulai berhamburan keluar. Namun karena itu adalah akhir tahun, mungkin beberapa orang masih bertahan di dalam kantor itu untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Mike melewati bagian depan resepsionis dengan anggun. Langkah kakinya yang lebar membuat para gadis yang sedang bergerombol di depan pintu tak bisa memandangnya lebih lama. Mereka di suguhi pemandangan luar biasa, karena untuk kedua kali sutradara tampan yang mereka kagumi muncul secara langsung di hadapan mereka, setelah yang pertama kali pada malam gala diner beberapa hari yang lalu.
“Sungguh beruntungnya CEO kita memiliki kekasih tampan seperti Michael Johanson,” pekik salah satu gadis di situ.
“Ya Tuhan, aku sangat iri.” seru yang lainnya.
Mike memasuki lift dan menuju lantai teratas di mana Prilly berada. Ia melewati Anne yang sedang mengubur dirinya dengan dokumen-dokumen dan tidak menyadari kehadiran Mike bahkan setelah Mike berdiri di hadapannya untuk beberapa saat.
“Nona, apakah saya bisa bertemu dengan pimpinan Anda?” Mike membuka suaranya.
Gadis itu terkejut dan mendongakkan kepalanya, lebih terkejut lagi pria yang di hadapannya adalah mike suami sahabatnya.
“Astaga, Mike kau mengejutkanku,” gerutunya. “Prilly ada di dalam, masuklah,” lanjutnya.
Mike membuka pintu tanpa mengetuk dan mendapati istrinya yang sedang mengubur dirinya dengan kertas-kertas dokumen. Sama seperti Anne, ia juga tak menyadari kehadiran Mike, suaminya.
Mike mendekati Prilly dan meniup anak rambut di telinganya yang langsung membuat Prilly terkejut hingga nyaris melompat.
“Astaga, kau.” hampir saja ia memaki suaminya sendiri hingga ia mendapatkan kesadarannya. “kau mengejutkanku.” Prilly memukuli lengan Mike dengan kesal.
“Hahahaha.” Mike tertawa puas melihat istrinya kesal.
“Kau serius sekali, bahkan anne juga tidak menyadari kedatanganku. Apa sesibuk kalian itu?" Sejujurnya, Mike benar-benar heran dengan keadaan dua wanita yang ia jumpai di perusahaan ini. “Apa kau akan bekerja sampai larut malam, ini bahkan malam pergantian tahun. Apa kau tidak ingin menyaksikan pesta kembang api?” tanya Mike sambil menyelipkan anak rambut istrinya ke telinganya.
“Sepertinya aku harus merombak dan mendapatkan karyawan baru di sini, beberapa laporan tidak sesuai harapanku dan terkesan lambat,” keluh Prilly pada suaminya. Ia bangkit dari duduknya dan berjinjit berusaha menciumi suaminya. Mike mencondongkan tubuhnya ke depan agar istrinya dapat menjangkaunya.
Kemudian, Mike duduk di kursi Lrilly dan membawa Prilly ke pangkuannya. lebih mirip seorang ayah yang memangku putrinya.
Mike membolak-balik dan membaca dokumen-dokumen yang membuat istrinya harus bekerja sampai malam.
Mike mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia mulai meberikan beberapa usul dan menandai beberapa kekacauan yang perlu di tangani.
Ketika pukul sepuluh malam, mereka baru saja selesai dengan pekerjaan. Prilly masih asik duduk dipangkuan suaminya ketika adasuara ketukan di pintunya. Ia masih merasa nyaman dan enggan untuk pergi dari pangkuan suaminya. Anne membuka pintu dengan hati-hati dan menyembulkan kepalanya sedikit.
“Lrilly aku akan pulang terlebih dahulu, apa kau perlu sesuatu?” tanya Anne, hubungannya dengan Lrilly sangat baik sehingga tidak ada kecanggungan. Prilly bahkan tidak berubah menjadi orang lain ketika telah menjabat sebagai seorang CEO.
“Tidak, Anne. Kau kembalilah terlebih dahulu, kami juga akan kembali,” jawab Prilly.
Prilly sanggat merasa aneh pada Anne, gadis itu bahkan sudah ia perintahkan beberapa kali untuk kembali sejak sore, namun ia lebih suka tinggal di perusahaan menemaninya yang jelas jelas ia bersama Mike. Bukankah Anne juga harus memiliki waktu untuk dirinya. Ia adalah seorang gadis yang sepantasnya menikmati masa lajangnya.
Ada sesuuatu yang sahabatnya sembunyikam sepertinya.
“Suamiku, sepertinya aku kurang memperhatikan, kalo Anne sedang ada masalah pribadi,” keluh Prilly.
“hmm,“ jawab Mike sambil menggosok dagunya pada rambut di kepala Prilly. “Lalu kau akan memata-matainya?”
“Aku?! Bukankah kau yang memata-mataiku, meretas cctv dan jadi penguntitku selama satu bulan?” ejek Prilly.
“tmTapi semua itu terbayarkan bukan?” jawab Mike.
“Andai aku tahu. Aku akan membuatmu menangis untuk mengejarku,” canda Prilly.
“Tidak, kau tidak akan berani.” Mike mengecup leher istrinya.
Dan bersamaan dengan itu pintu ruang kerja tersebut kembali terbuka dan menampakkan sosok David yang terkejut mendapati sepasang suami istri sedang bercengkrama mesra di belakang meja kerja Prilly.
“Oh maaf, kau di sini rupanya, Mike?” sesal David ia menyandarkan bahunya di tiang pintu masuk dengan santai.
“Hubby, tidak sopan.” Prilly memelototi suaminya.
“Tentu saja, siapa yang tidak senang di temani wanita cantik,” jawab David santai.
“Oke, baiklah. Karena ini sudah larut, kalian sebaiknya kembali,” kata David sambil menarik gagang pintu. “Oh iya, selamat tahun baru Prilly, Mike. Sampai jumpa lagi.” Ia menutup pintu dengan anggun tanpa menunggu Prilly maupun Mike membalas ucapannya.
“Kau mulai lagi menjadi pak tua yang pencemburu,” keluh Prilly.
“Apa seperti itu, dia selalu masuk tanpa permisi?” Mike masih menampakkan kekesalannya.
“Anne tidak ada lagi di depan. Bukannya wajar ia langung menuju kemari?” jawab Prilly santai.
“Istriku, berhentilah dari perusahasn bodoh ini. Kau bisa memegang Glamour Entertainment, perusahaan itu juga milikmu.” Mike mengingatkan Prilly bahwa ia adalah seorang nyonya besar di Glamour Entertainment.
“Suamiku sayang, aku mengerti. Tapi cemburumu tak berdasar. David dan aku hanya berteman dan selebihnya hanya atasan dan bawahan.” Prilly dengan sabar memberi Mike pengertian “Dan lagipula, aku tidak menyukai dunia hiburan,” lanjutnya.
Mike hanya diam tampak tak tertarik dengan penjelasan Prilly.
“Oh, ayolah Mike kau benar-benar pria tua yang menyebalkan,” keluh Prilly.
“Aku tidak tahan melihat kau begitu dekat dengan atasanmu,” gerutu Mike.
“Kau berlebihan.” Prilly mulai menciumi suaminya yang nampak menyebalkan. Ia harus berusaha membujuk pria ini agar melupakan emosinya dengan cumbuan, dengan apa lagi selain dengan memberi suaminya cumbuan.
Prilly mulai mengecup bibir suaminya, saat ciuman mereka mulai menjadi liar dan panas, Prilly menarik dirinya. sambil terengah-engah ia berbisik “Sayang, ada cctv. Ayo kita lanjutkan di rumah.”
“Bukankah kau dalam masa periode?” tanya Mike sedikit kecewa.
“Sudah berlalu, suamiku.”
“Kapan itu?”
“hmm,” jawab Prilly dengan riang. “Yang jelas malam ini, aku siap melayani suamiku yang telah satu minggu berpuasa,” lanjut Prilly manja.
Baru saja, Prilly hendak bangkit dari pangkuan Mike, Moses, sekretaris Mike datang membawa beberapa buah kotak berisi pakaian dan sepatu. Mike memaksa Prilly untuk mengubah pakaian formalnya menjadi pakaian santai. Hanya sebuah midi dress putih sederhana dengan lengan longgar hingga siku, di padukan dengan sepatu berwana nude. Sederhana namun tetap elegan, Prilly enggan mengganti pakaiannya. Namun ketika Mike mengatakan akan membawanya melihat pesta kembang api, ia segera menyambar kedua kotak tersebut dan segera mengubah pakainanya dengan cepat.
Prilly melirik pakaian yang di kenakan suaminya, ternyata ia juga telah mengubah pakaiannya. Ia baru menyadari suaminya mengenakan pakaian berbeda dengan yang tadi pagi ia kenakan. Mike mengenakan jas abu-abu, celana jeans berwana navi dan dipadukan dengan kaos polos di dalamnya, smart casual. Ia sangat tampan.
Mike segera membawa istrinya keluar ruangan itu dan memasuki lift, kemudian membawa istrinya menuju kediaman mereka dengan suka cita, untuk memberikan istrinya kejutan dan yang lebih penting lagi setelah kejutan adalah ia akan membuat istrinya berteriak memanggil namanya di bawah tubuhnya. Mike membawa Prilly berkeliling, mengulur waktu dengan sengaja membawa Prilly turun dari mobil, kemudian berjalan kaki menyusuri sepanjang jalan Kota London. walaupun Prilly terus mengeluh, karena kakinya mulai sakit mengenakan hak setinggi tujuh sentimeter, untuk berjalan di trotoar. Mike akhirnya menggendongnya hingga jam setengah dua belas malam, ia memutuskan membawa Prilly kembali ke kediaman mereka.
Prilly menjadi cemberut karena merasa di permainkan. Pesta kembang api bahkan belum di mulai tapi kenyataannya Mike telah mengajaknya kembali menuju kediaman mereka. Prilly ingin melampiaskan kekesalannya. Namun, ia terlalu lelah karena energinya telah ia pakai untuk bekerja keras hari ini dan paling penting ia belum mendapatkan makan malamnya. Tentu ia tidak memiliki energi untuk marah. Setelah sampai di iediamannya dan makan malam, Prilly akan menghukum Mike dengan tidur di kamar William. Ia tidak akan mengampuni suaminya, pikir Prilly.
Sesampainya di kediaman mereka, begitu Prilly membuka pintu, ia sangat terkejut karna ruang tamu di rumahnya telah berubah penuh bunga mawar putih dan lilin kecil. Bahkan ruang keluarga yang terhubung dengan balkon berubah seperti restoran yang mewah dengan suasana putih dengan meja makan romantis, berhias bunga dan lilin.
“Mike, kau merencanakan semua ini?” tanya Prilly haru.
“Tentu saja, aku ingin melamarmu dengan romantis.”
“Terima kasih, Hubby. Aku mencintaimu.” Prilly memeluk Mike dengan perasaan haru. Amarah di dadanya seketika lenyap bersamaan dengan udara yang ia hirup.
Prilly kembali terkejut karna tenyata kedua orang tuanya juga berada di rumah itu, bahkan Victoria dan Adam Johanson,mertuanya juga ada di sana. Bukan hanya itu saja. Nampak di situ ada ayah Linlin beserta Nuan Nuan. Keluarga mereka benar-benar menjadi keluarga besar sekarang. Ia sangat bahagia untuk semua ini, keluarganya semula hanya ada kedua orang tuanya, kakaknya dan William, kini mereka bahkan menjadi sebels orang. Berkah Tuhan yang dirahmatkan kepadanya sungguh tak ternilai.
“Mommy Daddy, kalian semua disini. Aku sangat bahagia,” ucap Prilly seraya menghampiri semua yang ada di ruangan itu satu persatu dan memberikan pelukan.
Prilly memutar bola mata indahnya mencari kakaknya dan Linlin, seluruh keluarganya ada di ruangan ini bagaimana mungkin mereka tidak ikut bergabung ada kekecewaan dalam hatinya.
“Apa kau mencari kami?” Tiba-tiba dari arah dapur, Anthony datang membawakan buket bunga mawar merah yang berisiskan Sembilang puluh sembilan tangkai mawar, di ikuti Linlin di sampingnya. Linlin membimbing Prilly untuk berdiri di depan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke Lota London, di sekitarnya terdapat hamparan lilin dan bunga mawar putih yang indah.