
Prilly nyaris membanting ponselnya, memang benar ia merebut Alexander dari Jovita, memang benar ia adalah selingkuhan Alexander awalnya, namun ia tidak pernah merangkak ke atas ranjang Alexander terlebih dahulu. Tidak begitu, ia memang pernah merayu Alexander dalam keadaan tidak sadar, oke! Ia memang salah, ia menyadari semua, namun Ia tidak pernah berzina, berita di media sosial memojokkannya.
Dan Prilly tahu siapa dalam di balik semua ini. Jovita telah bertindak terlalu jauh. Rupanya ia telah menjadi bahan ejekan di media sosial terlalu lama, pantas saja David mengingatkannya. Wanita itu ternyata, ah sudahlah, Prilly tidak ingin menyebutnya, menurut Prilly, bullying di media sosial itu kejam, dan menurut Prilly menggiring opini di mata publik untuk mendapatkan simpati itu kekanakan.
‘Bukankah usia Jovita lebih tua lima tahun di banding dirinya? Kenapa ia kekanakan sekali?’ Prilly merasa tidak habis pikir.
Menata emosinya Prilly memanggil suaminya melalui panggilan telefon kemudiaan ia melajukan mobilnya menuju perusahaan milik suaminya, ia perlu berbicara berdua secara langsung, seberapa pun stok kesabaran yang ia miliki tetap saja ia wanita biasa yang ingin berkeluh kesah. Apalagi menjadi bahan cibiran di media sosial, Prilly merasa harus berbagi bebannya bersama suaminya.
Benar saja efek dari cibiran di media sosial telah merambah ke dalam dunia nyata, ketika ia tiba di perusahaan di sana karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya tampak sedikit sinis menatapnya meskipun tidak berani menampakkan terang-terangan kepada Prilly.
Sesampainya di ruang kerja suaminya Prilly mendapati suaminya yang sedang mencengkeram sebuah dokumen dengan ekspresi wajah yang sangat gelap.
Emosi Prilly yang seharusnya hendak ia tumpahkan kepada suaminya tiba-tiba menguap begitu saja, sepertinya suaminya lebih memerlukan dukungan di banding harga dirinya yang telah remuk di mata publik.
“Jovita mencuri dokumen rahasia dan membocorkannya,” gumam Alexander dengan nada lirih.
“Bagaimana bisa?” Prilly nyaris tidak dapat mempercayai ucapan suaminya.
“Tender sebuah proyek besar yang berada di New York,” jawab Alexander dengan kilat amarah di matanya.
“Dari mana dia mendapatkan data itu?”
“Salinan file itu rupanya ada di laptop yang tertinggal di tempat tinggalku dulu." Alexander memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, ia memang meningbalkan tempat itu tanpa mengambil satu benda apa pun dari sana.
Terkejut mendengar qpamyang di ucapkan suaminya, Prilly mendekati suaminya yang duduk di kursi kebesarannya, Alexander dengan lembut meraih pinggang istrinya dan membenamkan wajahnya di perut istrinya.
“Ternyata aku bisa lengah juga, ya?" gumam Alexander, bagaimanapun perfeksionisnya dirinya dalam bekerja, ia tetap manusia biasa yang jauh dari sempurna.
“Kita akan pikirkan bersama, aku akan membantumu,” ucap Prilly dengan nada lembut, ia membelai rambut suaminya untuk menenangkannya.
“Aku kehilangan tender besar dan penawaran harganya dengan perusahaan pesaing hanya berbeda sepuluh dolar, isinya penawaran keuntungan yang mereka buat juga nyaris sama.”
Gurauan macam apa ini? Batin Prilly apa lagi setelah mendengarkan semua yang di ceritakan suaminya bahwa yang memenangkan tender adalah perusahaan milik ayah charles. Prilly benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran jovita, ia masuk ke dalam jebakan orang yang melecehkannya, ia masuk ke dalam jebakan musuh yang sesungguhnya.
“Aku salah menilai, kukira dia wanita baik, aku memikirkan masa depannya, tetapi ia sendiri yang merusaknya, rupanya aku salah memberikan perusahaan yang di singapura,” sesal Alexander lirih.
“Tidak, keadaan mengubahnya, Jovita baik, kita yang mengubahnya, ia tidak bisa menerima kehamilannya yang di anggapnya adalah anakmu, seharusnya kita memberitahu sejak awal,” kata Prilly.
Alexander mendudukkan Prilly di pangkuannya, menatap wajah istrinya, jika saat ini tidak ada Prilly di dalam hidupnya, mungkin ia telah murka dan mencekik leher Jovita.
“Jadi apa yang akan kau lakukan?” Prilly mengelus pipi suaminya.
“Pertama-tama aku harus menyelesaikan masalah proyek ini,” Alexander mengecup telapak tangan istrinya.
“Aku percaya semua kemampuanmu.”
“Aku sendiri yang akan menemui pemilik ptoyek aku akan mempresentasikkan sendiri penawaran proyek kali, ini bukan kerja kerasku sendiri, ini adalah kerja sama tim yang tidak sebentar, mereka memeras otak selama enam bulan, aku tidak bisa mengabaikan ini, tim telah bekerja siang malam, mereka tidak boleh kecewa,” ucap Alexander dengan rahang yang terlihat mengeras.
“Aku bisa membantumu,” Prilly menawarkan bantuannya.
“Aku ingin kekacauan ini segera berakhir,” kata Prilly. “Lalu setelah itu, Apa yang akan kau lakukan kepada Jovita?”
“Kau tonton saja nanti, ia begitu serius rupanya ingin menghancurkan kita, aku tidak akan bangkrut hanya karena masalah sepeti ini, tetapi ia tidak bisa di biarkan, benar kata Anthony, Jovita besar kepala dan berniat menggunakan bayi di dalam kandungannya sebagai senjata untuk menyerangku.”
“Dia pasti sangat kecewa jika tahu kebenarannya,” gumam Prilly.
“Aku akan memberitahunya setelah masalah proyek ini selesai,” kata Alexander.
“Kuharap semua berjalan dengan baik.”
“Masalah di media sosial biarkan tim IT yang membereskannya, kau tenang saja,” kata Alexander, rupanya ia tidak melupakan masalah yang menimpa istrinya.
“Itu tidak seberapa, lupakan saja, faktanya aku memang mengambilmu dari Jovita,” Prilly merasa ia lebih baik menyerah.
“Tidak ada yang mengambil dan di ambil, semua karena pilihan hatiku, aku ingin menjadi suamimu, hanya suamimu, bukan suami wanita lain.” Alexander menyentuh kulit wajah Prilly dengan ibu jarinya.
“Terima kasih telah menjadi suami yang sangat baik, aku sangat beruntung memilikimu,” kata Prilly, tatapan mata mereka beradu dan Alexander mendekatkan wajahnya, bibir mereka bertemu, lidah mereka bertaut, ciuman tanpa nafsu, hanya ada cinta yang manis.
Hanya Prilly yang bisa membuat Alexander merasakan hidupnya sempurna.
Tiga hari kemudian Danny muncul di ruangan itu, wajahnya tampak begitu tegang.
“Maafkan saya sir, saya tidak hati-hati,” kata Danny dengan wajah ketakutan.
“Aku belum bertanya apa pun kepadamu,” Alexander menjawab Danny dengan nada datar dan ekspresi yang angker.
“Maaf, Sir,” kata Danny lirih.
“Kau seharusnya detail melaporkan kegiatanmu padaku.” Alexander menatap lurus wajah Danny.
“Saya—“
Alexander memberikan kode kepada Danny untuk diam, ia membenarkan posisi duduknya kemudian berkata, “Jovita menyuruhnu tetap berada di Singapura, agar kegiatannya tidak tercium olehku, cukup cerdik.”
Danny masih tak berani membuka mulutnya, sementara Alexander mengambil pena kemudian memegangnya seolah menunjuk wajah Danny menggunakan pena tersebut sambil berbicara, “dan kau juga tidak bisa mengawasi kegiatannya selama dua puluh empat jam meski kau berada di sampingnya, tugasmu sekarang adalah carikan penguntit yang terpercaya untuk membuntutinya selama dua puluh empat jam, laporkan kepadamu, lalu kau laporkan kepadaku.”
Hanya untuk mengatakan hal itu, Alexander menginstruksikan dirinya jauh-jauh datang dari singapura? Danny benar-benar hanya bisa menggelengkan kepalanya diam-diam.
TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤
INGAT VOTE AUTOR ❤❤❤❤❤❤
VOTE YANG BANYAK ❤❤❤❤❤❤
TERIMA KASIH ❤❤❤❤❤❤❤