
“Aku mengambil engkau Prilly Silviana Smith menjadi istriku, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kaya maupun miskin, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita dan inilah janji setiaku yang tulus.” Alexander mengucapkan ikrar pernikahan dengan suara tegas namun terdengar sangat lembut di depan seluruh keluarga yang menyaksikan pernikahan mereka, di sebuah gereja, gereja dimana delapan tahun yang laku mereka pernah berikrar di sana.
Kali ini mereka mengucapkan sumpah pernikahan dengan api cinta di dada masing-masing yang menyala-nyala, cinta yang tergambar jelas di mata kedua insan yang dimabuk asmara.
“Aku mencintaimu." Alexander menatap wajah pengantinnya, wanita pujaannya.
“Aku juga mencintaimu." Prilly menjawab dengan rona wajah yang sedikit memerah. “Terima kasih telah mengajariku arti cinta dan kesabaran.”
“Terima kasih telah memberiku rumah yang hangat untukku kembali,” kata Alexander sambil tangannya membelai punggung tangan istrinya.
“Ahemmm....” Pendeta di depan mereka berdehem. “Silakan pasangkan cincin pernikahan dan cium pengantinmu," kata pendeta itu.
Alexander mengambil cincin yang telah di siapkan dan memasangkan di jari Prilly, berlian yang sangat indah berkilauan, Prilly yakin suaminya memilih berlian terbaik, Prilly mengerjap-erjapkan matanya memandangi cincin yang kini melingkar di jarinya.
“Kau tampaknya mengagumi cincin itu hingga melupakan suamimu,” gerutu Alexander, ia juga menanti momen istrinya memasangkan cincin di jari miliknya.
Prilly menyeringai, ia mengambil cincin dan menyematkan di jemari panjang suaminya, setelah cincin melingkar di jemari mereka Alexander dengan lembut mencium bibir Prilly, wanita kesayangannya yang kini telah resmi menjadi istrinya, menjadi miliknya yang di akui secara hukum maupun kepercayaan mereka.
Wanita mungil yang membuatnya tergila-gila. Wanita yang ingin ia jaga selamanya, di sisa hidupnya.
Setelah acara pengambilan sumpah di gereja selasai, mereka melanjutkan dengan resepsi pernikahan di sebuah gedung mewah, meski di gedung dan dengan suasana mewah namun faktanya yang mereka undangan hanya keluarga besar mereka, beberapa rekan kerja dan sahabat terdekat mereka, bahkan tempat itu juga telah di jaga dengan ketat, yang pasti tidak ada wartawan, gedung itu adalah tempat mereka dulu merayakan resepsi delapan tahun yang lalu, semuanya seperti kembali ke masa lalu, namun dengan suasana yang tentu saja berbeda.
Tidak ada senyum palsu Prilly, tidak ada keterpaksaan dari hati Prilly, semua berjalan begitu manis, istri yang manis dan anak-anak yang patuh. Alexander mendapatkan semua dalam hidupnya, menurut Alexander, hidupnya terasa sempurna jika Prilly adalah wanita yang berdiri di sampingnya.
Photo from Instagram.
Prilly dan Alexander kembali ke tempat tinggal mereka setellah jam sebelas malam, pesta baru saja usai, Alexander mendudukkan Prilly di atas ranjang dan melepaskan sepatu yang menempel dikaki istrinya, ia juga membantu melepaskan gaun pengantin yang Prilly kenakan. Ia memperlakukan Prilly dengan penuh kasih sayang, seoalh Prilly adalah hartanya yang sangat bernilai harganya.
“Apa kau lelah sayang?” Alexander sedang menyandarkan punggungnya di bath tube, seperti biasa mereka membersihkan tubuh sebelum mengistirahatkan mata.
“Tidak, hari ini sangat indah, aku sangat bersyukur, kita sampai di sini." Prilly mengangkat telapak mengarah tangannya ke atas dan memandangi cincin yang melingkar di jemarinya, berlian yang sangat indah dan berkilauan, ini bukan perkara kagum pada berlian yang tidak lagi asing baginya.
Benda yang melingkar di harinya adalah perjuangan dari pria di depannya yang sangat gigih kepadanya hingga ia bertekuk lutut dan meleleh di kaki pria itu, Alexander Johanson si pria dominan.
“Kau sangat mengagumi cincin itu rupanya?” Alexander mengangkat sebelah alisnya.
“Ini sangat indah,” gumam Prilly.
Alexander tersenyum kemudian berkata, “Kau lebih indah dari berlian itu.”
“Aku tahu,” seringai Prilly.
“Berhenti memandangi itu,” nada suara Alexander seperti sedang mengeluh.
“Kau bahkan cemburu pada cincin pernikahan ini?” Prilly menurunkan telapak tangannya.
“Itu benda mati, kau lebih baik memandangiku,” jawab Alexander masih dengan nada mengeluh.
Prilly memudaratkan bibirnya di bibir milik Alexander ********** dan mencumbui bibir suaminya dengan lembut, tangannya terus membelai benda tumpul di antara paha milik suaminya sementara telapak tangan Alexander menangkup benda kenyal di dada istrinya, menikmati setiap jengkal kulit lembut dan lekukan tubuh istrinya.
Jemarinya bermain di area sensitif milik istrinya mempermainkannya hingga Prilly mendapatkan puncaknya dan menjatuhkan tubuhnya di atas dada bidang Alexander.
Alexander bangkit dan membungkus tubuh Prilly menggunakan handuk, ia juga melilitkan handuk di pinggangnya kemudian membawa Prilly ke atas ranjang.
Alisnya berkerut dalam, ini adalah hari yang indah, namun ia tidak bisa menikmati tubuh pengantinnya, benar-benar rasanya membuat frustrasi, ia meraih ponsel dan memanggil seseorang.
“Pasti ada yang salah dengan teorimu,” gerutu Alexander kepada seseorang.
“Itu tidak ada,” kata Alexander.
“Kau tidak mengatakan seperti itu,” sungutnya terdengar sangat kesal membuat Prilly mengerutkan keningnya.
“Kau benar-benar sialan!” Alexander mematikan sambungan telefonnya dan melempar berada itu le atas nakas, ia segera mendekati Prilly dan mencumbui bibir Prilly seperti pria yang kelaparan.
“Hubby, apa tidak masalah?” tanya Prilly saat suaminya mulai menindihnya dan menyatukan tubuh mereka.
“Nathalie mengatakan tidak masaklah,” Geram Alexander sambil mendorong bagian tubuhnya masuk ke dalam tubuh istrinya.
“Nathalie?” suara Prilly tersengar indah karena dibarengi dengan erangan halus.
“Ya, Sayang,” geram Alexander sambil menggoyangkan pinggulnya perlahan.
“Jadi, kau memanggil Nathalie untuk menanyakan itu?” erang Prilly yang telah terbuai dalam perasaan nikmat di bawah kendali suaminya.
“Tidak ada pilihan lain, aku sangat merindukan berada di dalam dirimu,” Alexander semakin menggeram.
“Kau sungguh tidak punya malu menanyakan itu.” Prilly sedikit terkekah menertawakan tingkah Alexander yang di anggapnya tidak memiliki rasa malu.
“Untukmu Prilly, gunung pun akan aku belah sayangku,” geram Alexander sambil menambahkan tempo gerakan pinggulnya.
“Hubby...," erang Prilly, kata-kata Alexander membuat kenikmatan yang menggelitik di bawah perutnya bagai gelombang panas yang tidak bisa lagi di bendung, seperti gunung berapi yang panas dan memuntahkan laharnya.
Alexander terus menekan Prilly hingga hasratnya tuntas, ia memuntahkan benih miliknya di atas perut Prilly, seperti kata Nathalie, yang di anjurkan beristirahat adalah rahim istrinya, aktivitas suami istri atau ritual sakral boleh di lakukan selama darah dari tindakan aborsi telah berhenti dan Nathalie menganjurkan Alexander menggunakan alat kontrasepsi, jelas ia tidak memiliki benda sialan itu sekarang.
Kedua insan itu menikmati malam pengantin yang indah dengan desahan, erangan dan geraman yang memenuhi ruangan itu, di luar serpihan salju terus berjatuhan dari langit menutupi atap bangunan di kota London. Akan tetapi di kamar itu suasana panas terus menyelimuti kedua insan yang di mabuk asmara.
Di sisi lain London, Jovita meneteakan air mata sambil mengelus perutnya yang masih rata. Sementara di belahan dunia yang lain, seseorang tersenyum masam sambil membelai rambut seorang gadis dengan manik mata berwarna Hazel.
Photo from Google.
SIAPA YANG TERSENYUM MASAM AYO COBA TEBAK !!!
TAP JEMPOLNYA❤❤❤
VOTE JIKA SAYANG AUTHOR PLISH 😏😏😏😏😏
TY❤❤❤❤