Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Grand Canyon 2



Alexander membalik tubuh Prilly menghadap ke arahnya bibirnya menempel di bibir Prilly dan tangannya menjalar di punggung istrinya kemudian turun dan meremas bokong istrinya yang sintal, perlahan namun pasti cuman mereka berubah semakin menuntut, sebelah tangan Alexander menekan Tengku Prilly memperdalam ciuman mereka, sementara telapak tangan yang lain masih terus menjalar menikmati lekukan tubuh istrinya.


Erangan-erangan kecil mulai keluar dari bibir Prilly, tidak mampu lagi bertahan Alexander mengangkat tubuh kecil Prilly dan membaringkan di atas ranjang.


“Apa kau siap untuk berisik, Sayang?” Alexander menggeram wajahnya begitu menggoda.


“Kau yang berisik,” elak Prilly. “Aku tidak pernah berisik." Prilly nyaris mengejutkan tawa melihat ekspresi suaminya yang sedikit terlihat jahil.


“Benarkah?” Alexander mengangkat sebelah alisnya. “Kalau begitu kali ini suamimu ini ingin kau berisik,” seringai Alexander sambil melucuti pakaian yang membungkus tubuh Prilly.


Prilly sama sekali tidak melawan dan tidak memberontak ketika Alexander melucuti dengan paksa pakaiannya, Prilly memang telah menanti momen di mana Alexander menekan tubuhnya, menguasai dirinya di bawah tubuh kekar itu.


Alexander juga telah melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, kini dua insan itu polos tanpa busana dan siap memulai ritual yang membuat darah mereka mengalir begitu deras, detak jantung berpacu dengan cepat dan peluh membasahi tubuh keduanya. Kedua insan itu bergerak berirama saling mendorong, berulang kali Prilly menggelepar karena nikmat yang Alexander berikan, Alexander juga berulang kali mengeram.


Alexander terus menekan Prilly yang berada di bawahnya dengan gerakan terkadang lembut dan terkadang kasar. “Prilly, aku mencintaimu, shit...!” geram Alexander.


“Alexander, oh aku—“ erang Prilly.


“Tunggu aku.”


Gelombang itu datang, Alexander menambah tempo gerakannya dan memuntahkan cairan cintanya di dalam rahim Prilly.


Alexander menutupi tubuh telanjang mereka dengan selimut memeluk Prilly dengan penuh kasih sayang seolah ia tidak pernah ingin jauh dari istrinya itu meski hanya sedetik seolah tidak pernah ingin melepaskan tubuh Prilly.


“Kuharap ia tumbuh di sini.” Alexander berapa perut Prilly.


“Semoga saja,” kata Prilly sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh Alexander.


“Istirahatlah,” kata Alexander sambil mengecup puncak kepala Prilly.


Setelah melalui dua babak pembukaan liburan mereka, kedua insan itu beristirahat sebentar lalu membersihkan tubuh kemudian pergi ke restoran untuk makan malam, setelah itu mereka duduk di balkon untuk menikmati bulan yang tampak kecil seperti sabit di antara bintang-bintang yang berada di langit, Prilly duduk di pangkuan Alexander mereka sibuk tenggelam dalam kebisuan.


Alexander beberapa kali menciumi pundak istrinya yang terbalut kain tipis, Prilly hanya diam menikmati suasana yang cukup romantis.


“Apa kau lelah?” Alexander membelai rambut Prilly.


“Jangan katakan kau belum cukup,” Prilly menjawab dengan suara pelan.


“Aku hanya bertanya.” Alexander mengambil helaian rambut di pipi Prilly dan menyelipkan di belakang telinga Prilly.


Prilly menggeser posisi duduknya menghadap Alexander. “Katakan saja kau ingin lagi." nada suaranya seperti sedang mengejek suaminya.


Alexander menyeringai, lampu di balkon memang tidak dinyalakan karena mereka ingin menikmati gelapnya malam.


Setelah melalui dua babak pembukaan liburan mereka kedua insan itu membersihkan tubuh kemudian pergi ke restoran untuk makan malam, setelah itu mereka duduk di balkon untuk menikmati bulan yang tampak kecil seperti sabit di antara bintang-bintang yang berada di langit, Prilly duduk di pangkuan Alexander mereka sibuk tenggelam dalam kebisuan.


Begitu juga Prilly, tak pernah terbayangkan olehnya. Ia akhirnya bersama Alexander, memang Alexander bersamanya sejak kecil. Tetapi, menjadi istri Alexander, sejak dulu tidak pernah terbersit dalam pikiran Prilly, menjadi istri Alexander dan mencintai pria yang saat ini sedang memangkunya, sungguh di luar dugaan.


Apalagi Prilly sejak awal Alexander melamarnya, ia memang telah menolak Alexander dan penolakan itu bukan hanya sekali atau dua kali, berulang kali Prilly menolak Alexander. Nyatanya sekarang ia bisa menerima Alexander, sekarang bahkan usia pernikahan mereka jika dihitung dari pernikahan resmi yang diakui oleh negara mereka, usia pernikahan itu telah menginjak tujuh bulan dan jika dihitung-hitung kebersamaan mereka sejak Prilly didekati oleh Alexander mungkin kebersamaan mereka telah berjalan satu tahun, sungguh waktu berjalan tanpa terasa. Ada sedikit perasaan kecut menjalari perasaan Prilly, ia tiba-tiba teringat Mike yang telah meninggalkannya selama empat tahun, sekarang ia benar-benar telah bisa merelakan kepergian suaminya yang dulu, Prilly kini hanya ingin fokus pada kebahagiaannya dan Alexander, begitu banyak yang harus mereka berdua lalui untuk menjalin cinta, tidak mudah, bahkan begitu rumit untuk sampai di titik ini.



Image source Google


Paginya mereka mengitari bagian Selatan dan timur Grand Canyon. Setelah makan siang, mereka kemudian menggunakan kembali menggunakan helikopter untuk menyusuri bagian barat Grand Canyon. Mereka mengunjungi Grand Canyon sky walk.


Di sana mereka berdua berjalan diatas jembatan kaca yang membuat wajah Prilly seketika memucat. “Ini lebih menakutkan dibanding menaiki helikopter kata Prilly.


“Jadi, diam-diam takut naik helikopter." Alexander sedikit tertawa mengejek, telapak tangannya meraih telapak tangan Prilly dan menggenggamnya.


“Kau sangat menyebalkan, kau gemar sekali mengejekku,” keluh Prilly.


“Kau penakut sekali nyonya Johanson." Alexander mengeratkan genggaman tangannya. “Jangan takut, aku akan memegangimu." Ia mengecup punggung telapak tangan Prilly.


Wajah Prilly menjadi merah merona karena di tempat itu begitu banyak orang yang menyaksikan keintiman mereka berdua.


Prilly berdiri di tepi pagar jembatan kaca, Alexander beberapa kali mengambil foto Prilly kemudian mereka berfoto berdua.


“Sangat indah,” gumam Prilly.


“Aku rasa tempat ini indah karena dirimu.” Alexander yang berdiri di belakang Prilly mengurung tubuh kecil Prilly dengan ke-2 lengannya suaranya begitu dekat di telinga Prilly.


“Kau terlalu pandai berkata-kata.” Prilly layangkan protes nya karena ia merasa Alexander terlalu banyak merayunya dengan kata-kata manis tetapi meskipun itu adalah sebuah protes bibir Prilly menyunggingkan senyum bahagia.


SORRY SAYANGKU SEMUA....


AKU KEMARIN GAK ENAK BADAN 😭😭😭


KEPALA SAKIT KLIYENGAN 😆😆 JADI TIDUR AJA SEHARIAN JADI GAK UPDATE 😭😭😭


TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️


RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️


JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️


TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️