
“Prilly, kau tidak pernah lagi mengunjungi kami." Protes Linlin ketika ia dan Prilly duduk di atas sebuah sofa di dalam sebuah kamar VVIP rumah sakit.
Gabriel, putra Anthony dan Linlin mengalami demam tinggi tadi malam dan harus di larikan ke rumah sakit, jadi Prilly menjenguk keponakannya itu.
“Maafkan aku Linlin, aku hanya tidak memiliki waktu,” jawab Prilly lirih, ia berusaha mengalihkan pandangannya menghindari tatapan mata Linlin kakak ipar sekaligus sahabatnya.
“Bagaimana hubunganmu dengan Alex?” tanya Linlin.
“A-aku, ka-kami.” Prilly tergagap.
“Aku tahu kau dan Alexander sekarang saling mencintai,” ucap Linlin.
“Aku sekarang menjadi bahan omongan keluarga ya?" tanya Priloy dengan nada getir.
“Omong kosong, keluarga hanya mengkhawatirkanmu, tetapi yang pasti kami mendukung apa pun keputusanmu asalkan kau bahagia,” jawab Linlin.
“Kakakku pasti marah,” guman Prilly lirih.
“Dia tidak akan memarahimu,” kata Linlin berusaha meyakunkan meskipun ia sendiri tidak yakin.
“Aku takut bertemu dengannya,” guman Prilly.
“Ada aku tenanglah, lagi pula ia masih berada di luar negeri, mungkin beberapa jam lagi ia akan datang,” kata Linlin memberitahu Prilly.
Prilly menganggukkan kepalanya ragu-ragu.
“Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Alex?” tanya Linlin lagi, ia tampak sangat ingin mengetahui apa yang sedang terjadi antara Alexander dan adik iparnya.
“Kau tahu, aku dengan sombongnya selalu memperingatkan dia untuk tidak mendekatiku lagi, aku selalu mengatakan aku membencinya, aku mengatakan tidak akan kembali padanya meski dunia terbelah dua, sekarang aku benar-benar termakan semua ucapanku sendiri, ya Tuhan.” Prilly mulai bercerita.
“Cinta memang tak terduga, ya?” kata Linlin sambil terkekeh.
“Aku memang tidak tahu diri, seharusnya aku melihat cinta Alexander dan kebaikannya padaku sejak aku kecil, bukan menuruti egoku,” kata Prilly, sambil meletakkan kepalanya di sandaran sofa.
“Menurutku tidak juga, kau hanya belum dewasa saat itu, kau masih terlalu muda, wajar saja,” ujar Linlin.
“Sekarang semuanya menjadi seperti ini, orang-orang akan mencibirku sebagai orang ketiga,” kata Prilly dengan nada pahit.
“Sudah, jangan di pikirkan lagi, aku yakin akan ada jalan yang terbaik nanti untuk kalian,” kata Linlin bijaksana.
Linlin Smith, photo by Instagram Dilraeba Dilmurat.
Kedua wanita itu larut dalam perbincangan akrab, sambil sesekali mereka mengunyah camilan yang berada di atas meja hingga waktu bergulir tak terasa.
Prilly langsung mengambil tas miliknya begitu melihat kakak laki-lakinya memasuki ruang inap itu, ia berencana melarikan diri.
Dengan tatapan dingin Anthony mendekati adiknya. “Jangan ke mana-mana, kita harus bicara,” kata Anthony membuat nyali Prilly mengerucut.
Anthony mendekati ranjang di mana Gabriel putranya terbaring lemah, Linlin mengikuti langkah suaminya berdiri di samping ranjang pasien.
Mereka berdua bercakap-cakap cukup serius membicarakan keadaan Gabriel, sementara Prilly duduk sambil memainkan ponselnya dengan bibir terkatup rapat, ia merasa bokongnya tengah duduk di kursi kayu yang keras. Sangat menyiksa, ia benar-benar tidak ingin berurusan dengan kakaknya, kakaknya itu seperti Sandra ibunya, sangat cerewet sementara sekarang posisi Prilly tidak ada yang bisa membelanya, tidak ada ayahnya maupun Alexander. Prilly ingin sekali menangis.
Sementara Linlin dengan lembut berbisik pada suaminya. "Sayang, jangan terlalu keras pada Prilly.”
“Aku tahu batasanku, aku hanya ingin mengkonfirmasi apa yang Alexander akui malam itu,” jawab Anthony.
“Prilly yang sekarang berbeda, ia sangat rapuh, kepergian Mike tidak sama dengan perceraiannya dengan Alexander dulu, kau harus lebih menjaga bicaramu agar tidak menyakiti perasaannya.” Linlin khawatir Anthony akan emosi seperti pada saat ia berbicara pada Alexander.
Anthony Julio Smith photo by Instagram Peter Gaman.
Anthony mendudukkan bokongnya tepat di sebelah Prilly, merengkuh bahu adingnya dan meletakkan kepala adiknya di dadanya.
Prilly menganggukkan kepalanya tanpa ragu-ragu.
“Kau yakin padanya?”
“Dia bukan Alex yang dulu,” nawab Prilly tegas membela Alexander.
“Tapi ia beristri,” kata Anthony dengan hati hati.
“Alexander tahu harus bagaimana memutuskannya nanti,” jawab Prilly tegas.
“Sayang, pria hanya itu menjebakmu,” kata Anthony dan sontak Prilly menjauhkan kepalanya dari dada kakaknya.
“Kakak, aku mengenalnya lebih dari kau mengenalnya, Alexander sangat mencintaiku, begitu juga aku sekarang,” kata Prilly dengan nada tidak terima, ia menatap wajah kakaknya dengan tatapan tidak suka.
“Dia bisa saja menyakitimu lagi, setelah kau terjebak,” kata Anthony dengan nada menuduh.
“Kakak, dalam rumah tangga kami dulu, bukan hanya Alex yang salah, aku lebih salah,” kata Prilly. “Aku tidak pernah memberinya kesempatan untuk mendekatiku, aku selalu menjaga jarak darinya, minim komunikasi dan aku tidak pernah melayaninya di ranjang dengan benar,” Prilly mengakui semuanya di depan Anthony kakaknya.
“Prilly kau di butakan cinta yang hadir karena kesepian,” kata Anthony berpendapat, ya pria memang selalu menggunakan logika.
“Kakak, kumohon biarkan aku dan Alex menikmati ini, kali ini kami benar-benar saling mencintai,” Prilly memohon pada kakaknya.
“Lalu bagaimana istri Alex, kau tega kepadanya?” tanya Anthony.
“Aku tidak mampu memikirkannya, aku ingin memikirkan diriku saja saat ini, kakak tahu hidupku begitu kacau, aku sangat terpuruk, dan saat aku terpuruk hanya Alexander selalu ada untukku, ku rasa tidak ada pria yang tepat untukku selain dia, cintanya padaku bukan tumbuh dalam waktu satu atau dua tahun, ia pria yang mencintaiku sejak aku ada di dunia ini.” Prilly menjelaskan sambil terisak membuat Anthony merasa bersalah karena terus memojokkan adiknya.
Melihat pemandangan itu Linlin mendekati kakak beradik itu dan mengelus pundak Prilly, mata sipitnya melotot galak ke arah suaminya.
“Baikalah, jika itu keputusan kalian meski aku sangat tidak bisa menerimanya, jika ada apa-apa kau harus segera beritahu aku, ingat jika Alex menyakitimu kembali, nyawanyalah taruhannya, ia telah berjanji padaku,” kata Anthony.
“Alexander tidak akan melakukan hal buruk padaku." Prilly masih dengan keyakinannya.
“Aku tidak menyangka adikku sekarang di butakan cinta." masih saja Anthony memojokkan Prilly dengan nada yang terdengar sinis.
“Kakak, aku tidak tahu seperti apa, tiba-tiba aku jatuh cinta padanya, ia seperti badai yang masuk ke dalam hatiku dengan cepat, ia menjagaku tanpa pamrih, ia merawat anak-anakku saat aku terpuruk, percayalah, Alex sangat baik, akulah sebenarnya yang mengubahnya menjadi pria ********, bukan orang lain, dan sekarang aku sangat menyesal pernah memperlakukan Alex dengan tidak adil,” kata Prilly.
Anthony menghela napas kasar, menasihati orang yang sedang jatuh cinta itu sama saja berbicara dengan benda mati.
“Jaga baik-baik ikatan cinta kalian, dan yang terpenting, minta ketegasan Alexander, kau atau istrinya, ia harus memilih, tidak bisa di benarkan memiliki dua wanita, itu gila.” Anthony pada akhirnya harus mengalah pada adik kesayangannya.
“Kami tahu," jawab Prilly sambil menyeka air mata yang membasahi wajahnya.
“Baiklah, jika terjadi hal-hal berat kembalilah ke rumah Mommy dan Daddy, ingat kau tidak sendirian, masih ada aku, kau adikku, dan kau putri kesayangan keluarga Smith.” Anthony mengingatkan adiknya dengan nada bersungguh sungguh.
“Karena ini murni pilihan hidupku, maka aku akan menjalaninya, bahkan jika harus berdarah-darah sekalipun.” Prilly menjawab dengan nada tidak terima.
Ia mengambil tas tangannya dan berdiri meninggalkan Anthony dan Linlin tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun kepada sepasang suami istri itu.
“Sayang sudah kukatakan padamu jangan terlalu keras padanya, Prilly bukan lagi seperti dulu, kehilangan Mike bukan hal yang mudah, Alexander masuk di saat yang tepat, lagi pula adikmu itu berbeda, ia pendiam dan tidak mudah di dekati orang lain apalagi di dekati oleh pria,” kata Linlin.
“Tapi, aku tidak terima jika pria itu Alex,” jawab Anthony dengan nada gusar.
“Kita cukup melihat saja dan membantu jika ia memerlukan bantuan kita, jangan campuri masalah hatinya, aku tidak setuju,” kata Linlin dengan nada galak.
“Kau galak sekali, istriku." Anthony meraih pinggang Linlin dan membawa ke dalam pelukannya, Anthony mulai mencumbui bibirnya dan jemari Anthony menelusuri kulit di balik pakaian yang di kenakan Linlin, satu minggu berada di belanda untuk urusan bisnis membuat Anthony tak bisa lagi menahan hasratnya ketika bertemu dengan wanita pujaannya, ia tak bisa bersabar lagi meski sekarang mereka berada di kamar rumah sakit. Dua insan itu memadu kasih di atas sofa.
SELAMAT MALAM GENG 🙄🙄🙄
JADI GINI, YANG TANYA KOK GAK UP KAK, KAPAN UP LAGI?
NOVEL AKU YANG UDAH DI KONTRAK ITU SELALU TEPAT WAKTU UPDATENYA, AKU STOK NASKAH 3 HARI SEKALI DENGAN SETING WAKTU JAM 7 PAGI DAN JAM 6 SORE, JADI KALIAN GAK USAH NANYA KAPAN UP LAGI, SEMUA UDAH TERORGANISIR SESUAI WAKTU YANG KUPILIH.
JANGAN LUPA YA TAP JEMPOL KALIAN 😙😙😙😙😙