
Paginya Prilly terbangun dalam pelukan Alexander dan seluruh tubuhnya benar-benar terasa sakit, untungnya Diana membawa ketiga anaknya, pagi itu ia bisa berlama-lama meringkuk di dalam pelukan Alexander, menghirup aroma maskulin suaminya.
Benar kata Alexander, mencintai dua orang yang berbeda rasanya juga berbeda, ketika bersama Mike rasanya juga berbeda saat ia bersama Alexander. Bersama Mike ia mati-matian menghindari Alexander, sekarang ia justru berada di pelukan pria yang di masa lalu selalu ia tolak dengan terang-terangan. Ia kini justru meleleh di kaki Alexander.
Prilly teringat saat ia berada di New York beberapa tahun yang lalu, Alexander bertanya seperti apa rasanya jatuh cinta kepadanya.
"Prilly, seperti apa rasanya jatuh cinta?” Alexander tiba-tiba bertanya.
“Oh Tuhan, aku rasa agak sulit untuk menjabarkannya, tapi yang pasti saat kau jatuh cinta kau akan merasakan dunia menjadi berwarna,” kata Prilly.
“Benarkah? Saat bersamamu dulu aku juga merasa duniaku berwarna, dan warna yang kulihat hanya dirimu,” jawab Alexander dengan nada bercanda.
Dan sekarang, benar yang dikatakan Alexander dulu, sekarang dunia Prilly berwarna dan warna yang ia lihat hanya Alexander. Takdir mempermainkannya, sungguh di luar dugaan.
Prilly juga mengingat setelah Alexander menculik William putranya sendiri, jika dingat hal itu sungguh konyol. Atas anjuran Mike ia menemui Alexander untuk berbicara secara pribadi berdua.
“Kak Alex, aku tidak ingin kita bermusuhan, bisakah kita kembali seperti dulu, bersahabat seperti masa kecil kita?”
“Aku tidak bisa bersahabat denganmu Prilly, aku menginginkanmu menjadi milikku.” Alexander menjawab dengan sorot mata penuh damba.
Prilly menatap wajah Alexander, “kak Alex, aku bukan mainan ataupun properti yang bisa kau miliki,” jawab prilly sambil mencoba tertawa ringan.
“Jadi kau masih tidak ingin menceraikan sepupuku?” tanya Alexander dengan nada tidak suka.
“Kak Alex, itu mustahil, aku sedang mengandung putra dari sepupumu, ia adalah orang yang aku cintai sejak aku berumur 10 tahun, kak Alex kumohon maafkan aku. Maafkanlah kami,” kata prilly memohon dengan tulus.
“Kak Alex, kuharap mulai saat ini kau bisa melalukan pendekatan pada william dengan cara alami, aku dan Mike akan membantumu,” kata prilly. “Bagaimana jika kita bersama sama pergi ke taman hiburan dan menunjukkan pada William kita adalah orang tua yang hangat, aku yakin William akan terbiasa nantinya dan perlahan menerimamu,” lanjut prilly hati-hati, prilly sangat memahami sifat Alexander yang dingin dan kaku tidak akan mudah untuk membujuknya.
Alexander menatap prilly dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.
“Kak Alex, hubungan antara kita tidak bisa di paksakan, kita lebih cocok menjadi sahabat,” kata Prilly mantap.
Alexander tetap dengan ekspresi dingin menatap wajah Prilly.
“Mulai saat ini jika kau ingin menghabiskan waktumu bersama William hubungi kami kapan saja, kami tidak akan melarang,” kata Prilly dengan nada yang ia buat semanis mungkin.
“Prilly, aku mencintaimu.” Alexander kembali menyatakan cintanya.
Prilly tersenyum. “Terima kasih kak Alex,” jawab Prilly sambil menatap mata Alexander, “kau dulu telah menjagaku sebagai adikmu, terima kasih, tapi maaf kak Alex aku benar-benar tidak bisa membalas perasaanmu.”
“Prilly, kumohon, ceraikan Mike aku akan merawatmu dan putra Mike.”
Sebenarnya prilly mulai sedikit bosan dan emosi karena Alexander terus terusan mendesak dan memaksakan kehendaknya.
“Kak Alex sepertinya perasaanmu padaku bukan cinta yang menggetarkan hatimu,” jawab Prilly. “Mungkin itu hanya perasaan ingin melindungiku.”
Nyatanya semua yang ia katakan kini justru terbalik kepada dirinya sendiri, apa yang dulu Alexander katakan, meski mungkin tidak sengaja justru menjadi kenyataan, pria itu yang merawat anak-anak Mike dengan sangat baik, penuh kasih sayang tanpa ada sedikit pun cela.
Sudut bibir Prilly menyunggingkan senyum tipis meski ia masih enggan membuka matanya, ia memutuskan mengumpulkan kantuknya kembali dan terlelap di pelukan pria yang saat ini paling di cintai.
Dua minggu kemudian itu adalah sehari sebelum Natal tiba, Anak-anak menyambut dengan suka cita, Prilly dan Alexander tengah sibuk mendekorasi rumah mereka, menghias pohon natal mendekorasi rumah mereka, menghias pohon natal dan menyiapkan aksesoris lainnya.
Leonel dan Grace berlarian ke sana-kemari sementara William, karena ia lebih dewasa tiga tahun di atas kedua adiknya tentu saja ia juga bersikap lebih pengertian, ia merangkai pita penghias pohon natal dan mengulurkan kepada Alexander yang berdiri di atas sebuah bangku.
“Daddy,” Grace memanggil Alexander.
“Ada apa Grace?” Alexander menghentikan gerakan tangannya.
“Aku ingin meletakkan bintangnya di puncak pohon,” Pinta Grace.
“Oh baik, tunggu sebentar,” kata Alexander.
“Aku, aku yang lebih dulu meminta kepada Daddy,” Grace mendorong bahu Leonel.
“Kau seharusnya mengalah,” kata Leonel tampak kesal, ia membesarkan bola matanya kepada Grace.
“Kau selalu mengikuti ideku, kau mencuri ideku!” cerca Grace tidak senang kepada saudaranya.
“Aku tidak mencuri idemu, kau yang mencuri ideku!” Leonel tidak terima di tuduh mencuri ide oleh Grace.
“Daddy, bisakah Mommy saja yang memasang bintangnya?” Prilly tiba-tiba datang dan dengan nada menggoda bertanya kepada Alexander.
“Itu juga tidak di izinkan,” jawab Alexander sambil turun dari bangku tempatnya berpijak.
“Mommy jangan merebut milikku!” Grace takut posisinya terancam.
“Mommy aku yang akan memasangnya oke?” kata Leonel sambil memeluk kaki ibunya.
“Kalian sangat berisik.” William yang sedari tadi hanya berdiam mulai angkat bicara.
Alexander tersenyum sambil tangannya mengacak-acak rambut di kepala William dengan gerakan penuh kasih sayang.
“Daddy, biar aku saja yang memasangnya." Leonel bersikeras.
“Mommy juga ingin,” goda Prilly kepada kedua anaknya.
“Baiklah, bagaimana jika di undi?” Alexander menawarkan sesuatu yang lebih bijaksana dan adil tentunya.
“Horeee...!” Grace dan Leonel berseru kegirangan, namun tidak dengan William dan Prilly. William tampaknya tidak tertarik sama sekali.
“Daddy, malam ini kau tidur dikamar tamu,” goda Prilly.
Alexander menyeringai nakal. “Mommy, kau harus mengalah pada anakmu.”
“Daddy, aku serius,” goda Prilly lagi.
“Mommy, jangan kekanakan.” Alexander mengerlingkan sebelah matanya kepada Prilly yang sukses membuat Prilly gemas terhadap tingkah suaminya.
Alexander membuat lipatan-lipatan kecil dari kertas dan mengisi setiap kertas dengan nama anggota keluarga di rumah itu, kemudian mengambil secara acak, pemenangnya adalah dirinya sendiri membuat anggota yang lain meneriakinya curang, padahal pengundian di lakukan secara jujur dan adil.
“Daddy, kau curang." Grace yang pertama kali melayangkan Protesnya.
“Daddy sangat adil,” Prilly membela suaminya.
“Tidak mungkin, kau menulis sendiri dan melipatnya lalu kau pemenangnya. Daddy, kau curang!" Protes Leonel.
“Daddy, kau tidak jujur,” tuduh William.
Alexander membuka seluruh lipatan kertas di bantu oleh Prilly untuk membebaskan tuduhan ketiga anaknya, dan hasilnya dia memang tidak bermain curang, tetapi tetap saja Grace dan Leonel menuntut ingin memasang bintang di pohon natal.
Akhirnya Alexander memberikan pertanyaan matematika kepada kedua bocah kembar itu untuk menjawab dan Leonel berhasil menjadi pemenangnya, Grace harus bersedia mengalah.
KALAU GAK MAU AKU GANTUNG CERITANYA TOLONG LIKE DAN KOMENNYA BIAR AKU SEMANGAT NGELANJUTIN CERITANYA 😎😎😎😎
TAP LIKE DAN KOMEN❤❤❤❤❤❤
VOTE JIKA SAYANG AUTHOR 😭😭😭
TERIMA KASIH ❤❤❤❤❤