
LONDON.
Anne dan David keluar dari Restoran tempat mereka makan siang, Anne terus berusaha melepaskan cengkeraman tangan David yang mencengkeram erat di pergelangan tangannya, “lepaskan aku katakan dengan nada ketus aku bisa kembali sendiri,” ucapnya ketus.
“Ayolah Anne, kau sangat keras kepala aku tidak mengerti.” David membukakan pintu mobilnya dan mendudukkan Anne di bangku samping kemudi, kemudian ia duduk dibangku kemudi.
Setelah memasangkan sabuk pengaman di tubuh Anne dan untuk dirinya sendiri David mulai menyalakan mesin mobil dan memajukan mobil dengan kecepatan sedang.
“Aku akan mengantarmu pulang,”ucap David.
“Aku bisa memanggil taksi,” kata Anne dengan nada dingin.
“Aku ingin membicarakan masalah kita,” kata David dengan nada penuh harap.
“C’mon David setelah tiga tahun dan kau baru mengatakan ingin membicarakannya? semuanya sudah selesai, antara kau dan aku tidak ada lagi hubungan apa pun,” ucap Anne dengan nada sinis, ia tampak tidak tertarik untuk berbicara dengan David.
“Aku dengan dia telah berakhir,” kata David sambil melirik wanita di sampingnya yang tak lain adalah mantan kekasihnya.
“Sama sekali bukan urusanku,” jawab Anne dengan nada sinis.
“Perjodohan kami telah dibatalkan,” kata David.
“Itu juga bukan urusanku,” jawab Anne ketus.
“Aku mohon beri aku kesempatan,” pinta David.
“David hubungan kita hanya sebatas mantan atasan dan bawahan, kau ingat dulu aku begitu banyak mengatur gadis-gadis yang mengejarmu aku juga yang mengatur kencanmu dengan mantan artis yang lebih tua dari umur lima tahun itu,” Anne tertawa mengejek, artis yang dimaksud oleh Anne adalah Wilona.
Kehilangan kesabarannya David menepikan mobilnya dan memandang Ano dengan tatapan marah, "beri aku kesempatan kali ini, ku mohon."
Alexander mendarat di London pukul sepuluh, ia tidak sabar lagi untuk bertemu Prilly, istrinya mengabarkan bahwa ia sedang berada di perusahaan tentu saja Alexander segera meluncur menuju ke perusahaannya. Sesampainya di perusahaan ia mendapati istrinya sedang duduk dengan manis di balik meja kerja, wanita mungil itu langsung menghambur ke dalam pelukannya.
“Aku sangat merindukanmu sayang,” kata Alexander sembari mencium Prilly di pipi kanan dan kiri juga mencium rambut istrinya yang beraroma mawar.
“Aku juga sangat merindukanmu, ya Tuhan,” kata Prilly sambil memandangi rambut dan pakaian suaminya yang agak kusut. “Apa pekerjaanmu sangat berat?” ekspresi wajah Prilly tampak prihatin.
“Semua berjalan lancar, kau tidak perlu memikirkannya.” Alexander membelai rambut istrinya.
“Kau tidak perlu menutupi apa pun lagi dariku, aku tahu masalah perusahaan tidak sesederhana yang kau katakan padaku,” Prilly menatap wajah suaminya dengan tatapan protes.
“Aku tidak menutupi apa pun sayang kau tahu setelah tahu sendiri dan kau juga sudah membantuku menyelesaikan masalah ini,” kata Alexander masih dengan nada menenangkan istrinya.
“Daddy Richard membantuku,” kata Prilly. “Kau terlalu gengsi meminta bantuan kepada Daddy, padahal sebaiknya masalah ini kita bicarakan bersama, kita tanggung bersama, kumohon jangan memikul beban ini sendiri, oke?” pinta Prilly dengan tatapan penuh harap menatap mata suaminya.
“Terima kasih, kau mendampingiku dengan sangat baik,” kata Alexander sambil membelai kulit wajah Prilly dengan ujung jemarinya. “Aku merindukanmu, sayangku,” geram Alexander.
Alexander mulai menempelkan bibirnya di bibir kenyal milik istrinya, menciumnya dengan lembut merasakan sensasi kerinduan yang mendalam menghisap lidah istrinya dan saling bertukar saliva. “Apa kita akan melakukannya di sini?” suara Prilly terdengar sedikit mengarang.
“Aku--, aku tidak masalah." Prilly sedikit tergagap jujur saja ia sedikit trauma dengan tempat itu.
“Tidak, kau tidak perlu memaksakan dirimu,” kata Alexander sambil merenggangkan pelukannya dari tubuh Prilly, ia sadar Prilly mungkin masih trauma karena perbuatan bejatnya dulu meniduri sekretaris di ruangan ini ruang kerjanya.
“Aku sudah memutuskan,” kata Prilly. “Kita telah membuka lembaran baru. Aku tidak ingin mengingatnya, karena yang kucintai adalah kau, Alexander yang sekarang, Aku sangat mencintaimu.” Prilly mencium bibir Alexander dengan lembut.
“Terima kasih, sayangku,” kata Alexander setelah ciuman mereka terlepas. “Tapi, sepertinya aku harus membersihkan tubuhku terlebih dahulu, apa kau ingin menemaniku?” Alexander menatap Prilly dengan tatapan menggoda membuat Prilly mencubit lengan suaminya dengan halus.
“Kau sangat mesum,” kata Prilly.
“Aku selalu ingin bersamamu Sayang, juga mesum bersamamu,” kata Alexander sambil menyeringai, kemudian Alexander mengangkat tubuh kecil Prilly dalam gendongannya dan membawanya ke balik ruangan kerjanya, tempat istirahatnya, ia membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sepuluh menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya ia mendekati Prilly mencumbunya dengan penuh kerinduan mencium bibirnya turun ke lehernya, perlahan jari-jemari Alexander melepaskan seluruh pakaian yang membungkus tubuh Prilly, meremas gundukan kenyal di dada Prilly dan mulai menghisapnya seolah ia bayi yang kehausan, tubuh istrinya adalah tubuh wanita yang paling dirindukannya, ia menekan Prilly dengan hati-hati menikmati setiap momen dan kerinduan untuk saling memiliki, terengah-engah berpacu dalam irama memabukkan, napas mereka saling memburu hingga mereka berdua terkulai lemas setelah mendapatkan puncak mereka.
“Prilly, Aku mencintaimu.” Alexander berbisik.
Prilly hanya mengangguk.
“Maaf, aku terlalu bersemangat, apa kau puas, sayangku,?” Alexander memandangi wajah Prilly yang telah merona.
“Tentu saja aku puas karena kita mendapatkannya bersama,” jawab Prilly dengan wajah semakin merona dan ekspresi malu-malu yang semakin membuat Alexander semakin gemas.
“Kenapa kau begitu malu padaku? Kau istriku kau tidak tahu malu katakan jika aku belum puas aku akan memuaskanmu.” Alexander membelai pipi istrinya dengan ujung ibu jarinya, mata abu-abunya menatap lekat bola mata Prilly yang berwarna hazel.
“Omong kosong,” kata Prilly sedikit terkekeh. “Kau sepertinya tidak pernah cukup.”
“Aku tidak pernah cukup, Sayang... kau sangat memabukkan, Prilly apa yang kau lakukan padaku? aku sangat tergila-gila padamu.”
“Tuan Alexander, kau juga membuatku gila, aku mencintaimu,” kata Prilly sambil sedikit mengarang karena jari-jemari Alexander telah berada lagi di daerah sensitif miliknya.
“Sayang, bolehkah aku meminta satu kali lagi?” pinta Alexander.
Prilly menggeliatkah tubuhnya karena nikmat yang ditawarkan Alexander, tak perlu memberikan jawaban karena jawabannya sudah pasti dengan senang hati Prilly memberikan satu babak lagi.
Prilly kemudian memindah posisinya menjadi di atas tubuh suaminya. “Biarkan aku yang berada di atasmu, aku tidak ingin kau lelah, kau baru saja menempuh perjalanan jauh,” seringai Prilly.
“Kau sangat pengertian, Sayang, aku semakin mencintaimu,” geram Alexander sambil telapak tangannya menangkap kedua bokong kenyal milik istrinya.
Mereka mengarang dan menggeram merasakan nikmat di antara cinta yang membara di dalam dada mereka.
TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️❤️
VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤️❤️❤️❤️❤️
TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️