
TAP JEMPOL KALIAN TERLEBIH DULU SEBELUM MEMBACA PLIS
Anne melangkah meninggalkan lift dengan terburu-buru karena Harun tidak sengaja meninggalkan dokumen di ruang kerjanya sementara pertemuan akan dimulai sepuluh menit lagi. Ia bahkan tidak lagi memperhatikan langkah kakinya, pikirannya terfokus kepada dokumen yang ada di tangannya agar sampai di tangan Harun tepat waktu, kebetulan Harun mengadakan pertemuan dengan beberapa klien di sebuah hotel. Ketika hendak berbelok menuju tempat di mana Harun berada, ia menabrak dada seorang pria yang terasa begitu keras hingga ia nyaris roboh jika saja lengannya tidak di raih oleh orang yang menabraknya. Saat ia mendongakkan kepalanya ternyata orang yang ia tabrak adalah David.
“Kau? Maafkan aku,” kata Anne sambil hendak berlalu meninggalkan David namun David menahannya.
“David lepaskan, aku sedang terburu-buru,” ucap Anne.
David menaikkan sebelah alisnya ia tersenyum menggoda. “Kenapa terburu-buru?”
“Ada pertemuan, aku harus mengantarkan dokumen ini,” jawab Anne sambil matanya menunjuk ke arah dokumen yang ada di tangannya.
“Oh,” kata David tanpa melepaskan lengan Anne yang masih ada dalam cengkeramannya.
“Lepaskan aku, David,” pinta Anne.
“Aku akan melepaskanmu agar kau bisa mengantarkan dokumen itu dengan satu syarat... bagaimana jika nanti malam kita pergi makan malam seperti beberapa hari yang lalu,” kata David sambil menatap Anne dengan tatapan lembut.
“Bisakah kita membicarakan ini nanti? Aku serius, aku sangat terburu-buru,” kata Anne sambil berusaha melepaskan lengannya.
“Katakan iya maka aku akan melepaskanmu,” ujar David.
“Ehemmm....” Suara pria itu sukses membuat Anne dan David mengarahkan pandangan mereka ke sumber suara, Harun berdiri tak jauh dari mereka sambil tangannya dimasukkan ke dalam kedua saku celananya.
“Mr. Brown bisakah kau melepaskan kekasihku itu?” tanya harum dengan nada suara begitu datar, kaku dan dingin.
“Bosmu sepertinya sangat marah, ya?” David sambil melepaskan cengkeramannya dari tangan Anne.
Anne menatap tatapan itu penuh kemenangan, ia segera menjauhi David dan melangkah mendekati Harun.
Harun mengeluarkan sebelah tangannya dari saku kemudian ia melangkah mendekati Anne. “Sayang, kau lama sekali?” tanya Harun dengan nada yang terdengar sangat hangat namun alami membuat Anne terkesiap. Harun yang kaku bisa bersikap hangat? Dan yang paling aneh adalah sandiwaranya begitu natural.
“Kau ceroboh sekali kau meninggalkan dokumen penting perusahaan di ruanganmu, astaga,” omel Anne.
Harun mengulurkan tangannya untuk menerima dokumen yang ada di tangan Anne. “Maafkan aku, aku membuatmu kesusahan,” katanya sambil sebelah telapak tangannya yang masih berada di saku celananya telah melingkar di pinggang Anne.
Tanpa permisi di depan David, Harun mendaratkan bibirnya di bibir Anne. Meskipun itu hanya cuman sekilas tetapi baik Anne maupun David keduanya menegang, wajah David bahkan tampak memerah dan tanpa basa-basi dia meninggalkan kedua orang itu melangkah menuju lift.
Anne tidak bereaksi, ekor matanya mengikuti David dan memastikan David telah menjauh dari darinya. “H-harun, apa yang kau lakukan?”
“Berpura-pura menjadi kekasihmu,” jawab Harun dengan nada sangat santai tanpa beban.
“Tapi, tidak perlu harus seperti itu,” ucap Anne lirih. Ia tiba-tiba merasa akan tingkah di depan Harun.
Harun menaikkan sebelah alisnya. “Jadi bagaimana? Apa ciuman kita dikurang dalam?”
“Kau....”
“Dampingi aku melakukan pertemuan,” titah Harun tanpa memberikan kesempatan anak untuk melakukan prosesnya lebih panjang lagi.
“Tapi, bukankah aku tidak memiliki judul untuk mendampingi dalam pertemuan ini?”
“Sudah jangan cerewet, temani aku saja. Lagi pulang di perusahaan tidak terlalu banyak pekerjaan hari ini.”
“Jadi kau datang ke sini untuk melihat Alexa atau berkeluh kesah tentang sahabatku?” tanya Prilly kepada David yang tiba-tiba datang ke tempat tinggalnya dan membawakan hadiah untuk Alexa.
David menyeringai. “Astaga, aku ingin melihat Alexa. Aku serius, aku belum sempat menjenguknya sejak lahir,” katanya.
Prilly terkekeh. “Oh, Tuhan. David kau sangat perhatian,” kata Prilly dengan nada mengejek. Ia tahu David tidak tulus, itu karena selama ini David tidak pernah memiliki inisiatif sebaik itu. Bahkan saat bayi Grace dan Leonel, David tidak menunjukkan batang hidungnya untuk sekedar memberikan selamat. Prilly yakin ada sesuatu dibalik tujuan David kali ini datang ke tempat tinggalnya.
“Jadi Uncle David datang ke sini karena bukan untuk mencari informasi tentang aunty Anne? Tetapi, karena ingin melihat Alexa?” ucap Prilly sambil menimang buah hatinya yang berada di tangannya.
“Tentu saja aku ingin melihat Alexa, jangan mengejek dan mencurigai ketulusanku,” protes David.
“Alexa percaya ketulusan Uncke David kok, Uncle David sangat tulus ingin bertemu Alexa,” ucao Prilly dengan suara ditirukan seperti anak kecil.
David mengernyit. “Ck... aku sangat tulus ingin melihat Alexa,” ucap David pada akhirnya.
Prilly terkekeh, bersamaan dengan itu suaminya memasuki ruang tamu sambil berdehem.
“Jadi begini kau datang ke rumahku di saat aku tidak ada di rumah?” Alexander hanya bercanda, David telah memberi kabar bahwa ingin berkunjung kepadanya dan mereka juga datang dalam jarak waktu yang berdekatan karena telah saling memberi kabar.
“Ya Tuhan. Prilly suamimu sangat pencemburu,” kata David. “Aku terdengar seolah hendak merebutmu darinya.”
“Sampai bumi ini menjadi abu, kau tak akan bisa.” Alexander menaikkan sebelah alisnya.
“Selamat datang Daddy,” ucap Prilly sambil tersenyum manis ke arah suaminya.
Alexander meletakkan tas kerjanya di atas meja kayu yang berada di ruangan tersebut, meja itu berada di dekat dinding tepat di bawah kaca berbingkai kayu yang di ukir dengan ukuran yang sangat besar yang menempel di dinding, sebuah vas berisi bunga mawar segar berada di atas meja tersebut.
Alexander hanya menatap Prilly dan Alexa jarak yang dekat meskipun sebenarnya ia ingin sekali menciumi Prilly dan Alexa tetapi ia tidak melakukannya karena ia baru saja terpapar udara dari luar rumah, ia tidak ingin putrinya terkena kuman dari luar rumah, ia sangat menjaga kebersihan.
“Jadi, ada urusan apa kau datang kesini, David?” tanya Alexander sambil meletakkan bokongnya di atas sofa.
"Astaga, berapa kali kukatakan, aku ke sini untuk melihat keponakanku," jawab David dengan nada meyakinkan.
Alexander mencebik. "Alexa bukan keponakanmu," katanya.
Prilly tertawa pelan melihat tingkah suaminya yang terlihat sangat sinis kepada David.
"Sayangku, apa kau percaya kepada David?" tanya Alexander dengan gaya mesra yang di buat-buat.
Prilly menyeringai lebar. "Sayangnya tidak," jawabnya.
"Kalau begitu aku juga tidak," kata Alexander.
Melihat kemesraan keduanya membuat David mulai kehilangan kesabarannya, ia meras sedang diejek oleh pasangan yang tampak sangat berbahagia di depannya. "Kalian sepertinya bahagia melihat pria lajang kesusahan mencari pendamping sepertiku," keluhnya.
"Itu karena kau terlalu lama, aku yakin wanita incaranmu telah di miliki oleh orang lain," kata Alexander dengan nada mengejek yang kental.
TAPA JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤❤❤❤
🍒🍒🍒🍒