Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Prilly cemburu



Tanpa terasa Alexander dan Prilly telah berada di Barcelona selama empat hari, selama itu Prilly hanya menggambar desain-desain perhiasan setiap kali Alexander pergi bekerja mengurus cabang perusahaan yang ada di Barcelona. Sedangkan Anne ia telah kembali lebih dulu, Alexander memerintahkan Anne mengurus banyak Dokumen di Glamour Entertainment.


Sedangkan Harun masih tetap berada di sisi Alexander, pria itu memiliki pertahanan yang cukup kuat menghadapi emosi Alexander yang perfeksionis dalam bekerja dan sering kali memarahinya hanya karena kekurangan yang tak seberapa.


Prilly dan Alexander, kini keduanya bagaikan pasangan yang di mabuk cinta, mereka melakukan hal-hal gila di ranjang, pergi berjalan-jalan menyusuri pantai, makan malam yang romantis, atau sekedar duduk di club untuk bersenang-senang dan meneguk beberapa gelas vodca sebelum mereka kembali ke kamar di mana mereka menginap, mereka berdua begitu intim seolah di dunia ini mereka berdua yang paling bahagia.


“Hubby, aku rindu anak-anak,” kata Prilly sore itu ketika suaminya baru saja datang, Alexander sedang merebahkan tubuhnya di sofa



Alexander Johanson sourch from Instagram #zacefron


“Kemarilah,” kata Alexander, Prilly mendekati suaminya dan meletakkan merebahkan tubuhnya di sofa yang sempit dengan posisi kepalanya di atas dada Alexander.


“Bersabarlah, aku memiliki pertemuan penting lusa, setelah semuanya selesai kita segera kembali,” kata Alexander sambil membelai rambut di kepala Prilly.


“Bagaimana jika aku kembali lebih dulu?” tanya Prilly.


“Itu tidak di izinkan,” jawab Alexander dengan nada dingin.


“Kau sangat sibuk, aku bosan setiap siang hari sendirian di sini,” rengek Prilly.


“Besok kau bisa ikut ke aku pergi bekerja,” jawab Alexander tegas.


“Tidak, karyawanmu akan melihat kita,” tolak Prilly.


“Akan kupecat jika mereka menggosipkanmu walau hanya satu kalimat,” kata Alexander.


“Apa Jovita pernah ke sini?”


Alexander terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan Prilly.


“Kau tidak menjawab pertanyaanku,” keluh Prilly, ia merasa cemburu pada Jovita, wanita itu memiliki Alexander selama lima tahun, bukan waktu yang sebentar, lima tahun di atas ranjang yang sama, lima tahun melalaui suka dan duka, tidak sebanding dengannya yang dulu menikah dengan Alexander dan tidur seranjang dengan Alexander hanya dalam waktu satu bulan karena bulan berikutnya Alexander mulai jarang kembali ke tempat tinggal mereka berdua lalu di bulan ketiga Prilly memergoki Alexander bercinta dengan Sekretarisnya, dan mereka bahkan tidak pernah lagi berkomunikasi meskipun mereka tinggal satu atap.


“Dulu iya, ketika ia masih menjadi sekretarisku,” jawab Alexander dengan nada enggan.


“Kau dulu mencintainya?” tanya Prilly.


Alexander kembali terdiam cukup lama, ia sepertinya enggan untuk menjawab, ia justru menghela napasnya dalam-dalam.


“Yang jelas sejak dulu aku mencintaimu, tidak pernah berubah sedikit pun dan pada Jovita itu rasa yang berbeda, karena kau dan Jovi itu dua wanita yang berbeda, tentu rasanya juga berbeda.” Alexander menjawab demikian.


“Alex aku mencintaimu sekarang, aku takut kehilanganmu, aku tidak ingin berpisah darimu,” guman Prilly.


“Kita tidak akan berpisah, aku akan mempertahankan dirimu bagaimanapun caranya, bahkan jika orang tuamu menentang dan dunia mencemooh, aku tidak peduli, Prilly, aku tidak ingin berkata manis, aku hanya menginginkanmu, kau tahu betapa sayangnya aku padamu sejak kita muda.”


“Andai aku tahu akan seperti ini, aku akan sabar menunggumu,” sesal Alexander, kedua insan yang di permainkan takdir itu sedang saling meratapi nasib cinta mereka yang tidak bisa di bilang mudah.


“Kenapa takdir begitu membingungkan,” Prilly terisak.


“Jangan lagi menangis lagi, setiap melihat air matamu, rasanya aku menjadi pria yang paling buruk di dunia ini,” ucap Alexander, ia benar benar tidak mampu mengingat betapa baj***nnya ia di masa lalu.


“Alex, kenapa aku terlambat jatuh hati padamu? Kenapa?” Prily terus saja terisak.


Alexander mengangkat tubuh kecil Prilly, membawanya ke atas ranjang, mencumbu bibirnya. “Sayang, di muka bumi ini hanya kau yang paling aku inginkan,” bisik Alexander.


“Alex, kumohon jangan sakiti aku lagi." lirih Prilly memohon, antara ia dan Alexander telah saling mengenal seumur hidup, tidak ada jarak di antara mereka, Prilly tidak perlu menutupi apa pun yang ingin ia ungkapkan.


“Kau bersabarlah, aku sedang merencanakan kebahagiaan bersama anak-anak, hanya kita.”


Alexander kembali mencumbu bibir istrinya, tidak ada yang lebih nikmat di dunia ini selain tubuh Prilly, pria bermanik mata abu-abu itu mencumbu setiap inchi tubuh istrinya membuat Prilly melenguh karena perlakuan lembut Alexander menggunakan lidahnya untuk mengantarkannga menuju puncak, berkali-kali Alexander menekan di bawahnya menggoyangkan pinggulnya penuh irama membuat Prilly menggelepar karena nikmat yang tak tertandingi.


Ia telah melupakan Mike, bagaimanapun sekarang perasaannya hanya untuk Alexander seorang, ia ingin memiliki Alexander, Alexander hanya miliknya. Ia tidak ingin berbagi cinta, ia tidak ingin berbagi pria di atas ranjang.


Setelah babak pertama permainan Prilly mulai membuka babak baru, kali ini ia memimpin permainan hingga Alexander tak mampu berkutik, pria itu hanya pasrah dengan apa yang Prilly berikan, di masa lalu Alexander menghianatinya karena yang pasti di atas ranjang Prilly dingin, sekarang Alexander tidak akan ia biarkan lepas. Jika harus bersaing dengan Jovita sekalipun Prilly akan melakukannya, bahkan jika keluarganya menentang, Prilly tidak peduli. Saat ini yang Prilly inginkan adalah Alexander menjadi miliknya tanpa terbagi dengan Jovita.


“Sayang, aku, sampai....” itu adalah racauan Prilly yang ke sekian kali dengan gaya bercinta yang berbeda-beda.


Alexander mengganti posisinya dan mengentakkan pinggulnya dengan kasar, ia benar-benar bersemangat, rasanya tidak akan pernah puas dengan tubuh istrinya, tubuh Prilly wanita yang pertama ia jamah dalam hidupnya, tubuh Prilly, yang menggentayangi pikirannya seumur hidupnya, meski lima tahun ia bersama Jovita. Alexander memuntahkan cairan cintanya di rahim Prilly, ia berharap dengan adanya anak di antara mereka lagi, ikatan mereka semakin kuat.


Pagi hari Alexander benar-benar membawa Prilly ke perusahaannya yang ada di Barcelona, semua mata karyawan tertuju pada pasangan itu, namun karena sorot mata dingin dan ekspresi dingin di wajah Alexander tidak seorang pun berani membuka mulutnya, sementara Alexander sibuk dengan dokumen, Prilly sibuk dengan sketsa desain perhiasan dan perhitungan-perhitungan jumlah berlian dalam satu buah perhiasan. Tiba-tiba ponsel Alexander berdering dan itu panggilan video dari Jovita.


Prilly meliriknya dengan ekor matanya, ia juga memasang telinganya baik-baik.


“Alex, ada beberapa dokumen yang harus kau tangani, ini tidak bisa diwakilkan, aku akan menyusulmu ke Barcelona hari ini,” suara Jovita jelas terdengar hingga ke telinga Prilly.


“Baiklah,” jawab Alexander.


“Aku merindukanmu,” kata Jovita.


“Aku juga,” jawab Alexander datar tanpa melirik ke arah Prilly.


Sekitar sepuluh menit mereka terlibat percakapan seputar pekerjaan, ketika panggilan telah berakhir Alexander mendekati Prilly, pria itu dapat membaca raut wajah istrinya yang berubah gelap, bibirnya terkatup rapat dan ia juga telah membuang kertas desain di tangannya ke lantai tanpa memedulikannya, Alexander memungut kertas-kertas itu dan menaruhnya di atas meja. Ia tahu Prilly marah, istrinya cemburu, Alexander sangat bahagia melihat istrinya cemburu namun hatinya juga terasa di tusuk belati melihat Prilly seperti itu, ia tak tega melihat wanita pujaaannya merasakan sakit hati. Alexander tahu bagaimana rasanya cemburu.


“Sayang....” Alexander mengecup lembut kening Prilly namun Prilly tak bereaksi, isrtinya itu sama sekali tak bergeming.


ALEX YANG PERTAMA ITU AKU DAPAT DARI GOOGLE, ITU FOTO MUDANYA, MAKKANYA GAK SANGAR 😅😅 INI UDAH MATURE YANG AKU DAPAT DI IG 😅😅😅


TAP JEMPOL KALIAN DAN KOMEN, SATU KOMEN ADALAH SEMANGAT BUAT AUTHOR 😚😚😚😚