Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Istri licik



“Oh, ayolah Alexander kau memaksaku. Aku tidak menemukan apa pun kekuranganmu.” Kata Prilly sambil bibirnya tampak memberengut, Alexander adalah pria yang sangat perfeksionis Bagaimana mungkin berdiri bisa menemukan kekurangan dari seorang pria yang perfeksionis seperti dirinya.


“Kau harus bisa menemukan kekuranganku,” kata Alexander dengan nada memaksa.


“Baiklah. Akan kukatakan, dengarkan baik-baik,” kata Prilly sambil menyeringai.


“Katakan.” Alexander tampak tidak sabar, tatapan matanya tampak sedikit gugup mungkin ini pertama kalinya seorang Alexander Johanson merasa gugup dalam hidupnya.


“Kau tidak memiliki kekurangan Mr. Dominan,” ucap Prilly sambil menyeringai penuh kemenangan, ia dapat membaca mata Alexander sedikit gugup dan benar-benar menunggu jawabannya.


“Aku menunggu cukup lama dan kau hanya mengatakan itu?” protes Alexander ia merasa dipermainkan oleh Prilly.


“Aku hanya berbicara fakta.”


“Kau harus mengatakan kekuranganku, satu saja.”


“Untuk apa?” Prilly terkekeh melihat tingkah Alexander yang pagi ini sangat menyebalkan baginya.


“Aku akan memperbaikinya,” jawab Alexander dengan nada penuh harap.


Prilly bangkit dari duduknya dan menyambar handuk yang terletak di atas meja wastafel lalu melilitkan handuk itu di tubuhnya.


“Hubby, kau telah terlambat bekerja dan aku juga sangat lapar. Kau tahu ini hampir tengah hari dan kau belum memberi istri mau makan,” protes Prilly.


Alexander tersenyum iya juga bangkit dari dalam bath tube, melihat itu Prilly mengulurkan handuk untuk Alexander.


“Ayo kekeringan rambutmu,” kata Alexander sambil melilitkan handuk di pinggangnya.


“Astaga, tidak perlu itu akan membuang waktu jika harus mengeringkan rambutku. Ayo cepat makan dan kita pergi ke perusahaan,” kata Prilly tampak bersemangat, telapak tangannya meraih pergelangan tangan Alexander dan menyeretnya keluar dari kamar mandi. Lalu wanita itu bergegas mengenakan pakaiannya.


Alexander tidak bisa berkelit lagi, mau tidak mau ya harus membawa Prilly ke perusahaan. Dan mungkin Prilly akan bertemu Mike, kemudian...


“Hubby....” Prilly memanggil Alexander dengan suara agak nyaring.


“Ya, ada apa?” Alexander menjawab panggilan istrinya sambil memasang pakaiannya.


“Kemarilah aku akan memasangkan dasimu,” ujar Prilly sambil menyisir rambutnya yang basah.


Alexander dengan patuh mendekati istrinya dan dengan cekatan Prilly memasangkan dasi di lehernya diam-diam Alexander menatap wajah istrinya yang begitu serius mengikat dasi, mungkin dimata Prilly, Alexander tidak memiliki kekurangan, tetapi yang jelas ia memiliki kelemahan dan satu-satunya kelemahan Alexander adalah Prilly dan anak-anaknya. Kelemahannya itu juga merupakan kelemahan Mike.


Dibandingkan pengorbanannya untuk Prilly pengorbanan Mike besar, Prilly mungkin tidak akan mau memandang dirinya jika tidak tahu pengorbanan Mike yang sesungguhnya. Keyakinan Alexander untuk mempertahankan Prilly kembali terasa sedikit goyah.


Alexander dan Prilly tiba di perusahaan hampir pukul sebelas siang. Baru saja mereka menginjakkan kaki di lobi perusahaan ternyata di sana duduk seorang yang di kenal sebagai Morgan, pria tersebut dengan anggun duduk di kursi sambil menyilangkan kakinya. Langkah Prilly dan Alexander terhenti, Prilly langsung beringsut untuk berdiri di belakang punggung Alexander. Ia seperti sedang bersembunyi.


Mike bangkit dari duduknya dan menghampiri Alexander. “Selamat pagi, Alexander,” sapa Mike. “Selamat pagi, Prilly.” Ia juga menyapa Prilly dengan seulas senyum jail.


“Menjelang siang.” Alexander meralat.


“Oh, aku pikir masih terlalu pagi, aku menunggumu dua jam. Aku pikir aku yang datang ke tempat ini terlalu pagi," ujar Mike.


Mike menunggu Alexander nyaris dua jam, sepupunya itu tidak menjawab panggilan telefon darinya dan sekarang pria itu datang bersama istrinya dengan keadaan rambut istrinya itu masih setengah basah. Sebagai seorang pria dewasa dan pernah berumah tangga tentu ia mengerti apa yang telah mereka lakukan pagi-pagi.


“Oh, istriku dia agak sedikit cerewet pagi-pagi ya aku mengerti maksudku." Alexander menaikkan sebelah alisnya disertai senyum yang tak kalah jahil.


“Aku akan mengantar istriku terlebih dahulu ke ruanganku, kita bisa bicarakan masalah kita di ruang rapat. Resepsionis akan mengantarkanmu,” kata Alexander yang angguki oleh Mike.


“Sayang, ayo,” ajak Alexander.


Dengan patuh Prilly mengikuti langkah kaki suaminya. Tetapi, sebelum ia melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki suaminya, Prilly menarik ujung jas yang dikenakan oleh Alexander, kemudian ia dengan ragu-ragu mencengkeramkan sebelah telapak tangannya di lengan suaminya. Alexander dengan senyum penuh kemenangan meraih telapak tangan Prilly yang ada di lengannya dan mengusapnya beberapa kali.


Kedua sejoli itu berjalan beriringan dengan Alexander mereka sama sekali tidak membuka percakapan hingga tiba dalam ruangan kerja Alexander.


“Sayang, kau tunggu di sini. Aku memiliki beberapa hal penting yang harus dibicarakan bersama Morgan,” kata Alexander.


Prilly mengangguk, tapi baru saja Alexander hendak melangkah meninggalkan Prilly yang duduk di kursi kebesaran miliknya wanita itu kembali meraih ujung jas yang dikenakan Alexander.


“Apa besok kita akan kembali ke London?” Prilly menatap mata Alexander dengan tatapan penuh harap.


“Iya besok kita akan kembali,” Alexander menjawab dengan nada lembut.


“Apa urusanmu dengan Morgan memakan waktu lama?” Prilly kembali bertanya.


“Kenapa? Alexander bertanya dengan nada pelan.


“Tidak aku hanya tidak ingin terlalu lama sendirian di sini,” jawab Prilly beralasan sebisanya, sebenarnya Ia hanya tidak mau Alexander terlalu lama berbicara dengan Mike karena pasti mereka akan membicarakan hal-hal rahasia terlalu banyak dan sejujurnya Prilly penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


“Nyonya manis, kau sendiri yang berjanji tidak akan mengganggu urusanku, tapi lihat sekarang. Kau sudah berusaha menggangguku.” Alexander menyunggingkan senyum di bibirnya itu adalah senyum palsu sejujurnya hatinya sangat resah, seribu kali resah.


“Seberapa besar cintamu padaku?” Prilly menatap Alexander dengan tatapan kesal.


Alexander menelan ludahnya mendengar pertanyaan Prilly, pertanyaan yang sangat bodoh menurut Alexander.


Bukankah Prilly tahu seperti apa dirinya tergila-gila kepada wanita mungil itu?


“Kau menyangsikan rasa cintaku padamu?” Alexander mengangkat sebelah alisnya.


“Kalau begitu jangan terlalu lama meninggalkan aku sendirian. Aku bisa mati bosan di sini,” rengek Prilly.


“Kau pandai menyalahgunakan wewenang Nyonya Manis." Alexander menatap Prilly dengan tatapan gemas, ia mendekatkan wajahnya dan mematuk bibir Prilly, Prilly justru tidak membuang kesempatan ia belum mat bibir Alexander mengisap-isapnya dan mereka tenggelam dalam ciuman yang membara penuh cinta.


“Suami yang mencintai istrinya harus mematuhi semua keinginan istrinya, bukan?” kata Prilly setelah ciuman mereka terlepas sambil ia menyeringai lebar dengan kilatan mata penuh kemenangan.


"Sepertinya aku semakin mencintai istri yang licik," Alexander kembali mencumbui bibir istrinya, melupakan Mike yang sedang menunggunya di ruangan lain.


TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️


RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️


JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️


TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️