Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Hubby, kembalilah



“Sudah puas membuat suamimu khawatir Mrs. Johanson?” tanya Alexander dengan nada dingin.


Prilly tak bergeming, ia juga masih menutup mulutnya, bibirnya terkatup rapat.


“Kemarilah!” kata Alexander.


Prilly masih berdiri di tempat yang sama, ia justru menundukkan wajahnya dalam-dalam.


“Kemarilah, aku tidak akan memarahimu,” ucap Alexander lembut dan terbukti, Prilly menurut. Istrinya masih Prilly kecilnya yang dulu, Prilly yang takut padanya jika telah melakukan kesalahan yang mungkin membuat Alexander marah, ia akan menunduk dalam-dalam dan tidak akan bergeming sampai Alexander jengatakan bahwa ia tidak akan memarahinya.


Prilly perlahan berjalan mendekati Alexander sambil menunduk dalam, ia bahkan telah terisak.


Alexander meraih pergelangan tangan Prilly, mendudukkan Prilly di atas pangkuannya dan memeluknya, membiarkan air mata Prilly membasahi jas yang di kenakannya.


“Besok pagi kau pulanglah terlebih dulu bersama Harun, aku ada pertemuan hingga sore, aku akan kembali ke London dengan penerbangan malam, kita bertemu lagi di London.” Alexander menjelaskan pada Prilly setelah isak tangis istrinya telah mereda.


Prilly hanya mengangguk.


“Apa kau sudah makan?” tanya Alexander.


Prilly menggeleng, Alexander tersenyum, ia mengambil ponsel di saku jasnya dan memanggil Harun untuk menyiapkan makan malam Prilly, kemudian ia membawa Prilly ke dalam kamar mandi.


“Apa kau ingin aku mandikan?” tanya Alexander menggoda saat mereka berada di dalam kamar mandi.


“Aku bisa mandi sendiri,” jawab Prilly ketus.


“Ayolah Mrs. Johanson jangan membuat suamimu ini semakin merasa bersalah,” ucap Alexander dengan nada sangat halus seperti sedang membujuk Grace.


“Aku tidak melakukan apa-apa,” bantah Prilly.


“Kau melarikan diri dari pengawasan Harun, kau sangat nakal,” kata Alexander dengan nada geram.


“Alex, kau pengatur,” gerutu Prilly sambil memukul dada Alexander dengan pelan.


“Alex?” tanya Alexander.


“Hubby,” guman Prilly lirih.


“Sekarang kau mandi dan setelah itu makan, aku akan menunggumu di luar,” kata Alexander sambil menghidupkan kran air untuk mengisi bath tube.


Tiba-tiba Prilly memeluk Alexander dari belakang. “Aku ingin mandi bersamamu,” rengeknya begitu manja.


Bibir Alexander menyunggingkan senyum bahagia, bagaimana tidak? Gadis impiannya, sekarang datang sendiri padanya, merengek padanya, bahkan tampak jelas tak ingin jauh darinya. Alexander membalikkan tubuhnya, ia segera mencumbu bibir ranum Prilly, keduanya begitu intim, mereka telah mengikis jarak yang terbentang, telapak tangan Alexander mulai menyusuri setiap bagian tubuh istrinya yang begitu menggairahkan, memberikan begitu banyak kiss mark di kulit indah Prilly, memorak-porandakan Prilly dengan jemarinya hingga istrinya mendapatkan puncaknya, Alexander mulai menyatukan kedua tubuh menjadi satu, dengan hentakkan penuh irama, penuh cinta dan saling menggumamkan nama masing-masing dalam gairah untuk saling memiliki.


“Alexander aku mencintaimu,” erang Prilly berkali-kali.


“Aku lebih mencintaimu, Prilly,” geram Alexander di antara desahan yang keluar dari bibir Prilly.


Ia semakin bersemangat menggerakkan pinggulnya hingga mereka mendapatkan puncaknya bersama-sama lalu menikmati merendam tubuh mereka di dalam air hangarpt sambil bercengkerama, melupakan kecanggungan yang membelenggu keduanya sejak kemarin malam, mereka bahkan mengulangi babak percintaan mereka hingga beberapa kali di atas ranjang dengan berbagai gaya dan posisi.


Alexander tidak ingin Prilly merasakan sakit seperti itu, namun ia tak bisa berbuat banyak, ia juga harus menjaga perasaan Jovita. Jovita baik, ia tidak pernah melakukan kesalahan, bagaimana caranya ia menceraikan Jovita? Ia semakin iba melihat Jovita jika wanita itu sampai tahu bahwa ia adalah wanita yang di vonis dokter sulit untuk mendapatkan keturunan, wanita itu pastikan mengira bahwa ia di ceraikan Alexander karena kekurangannya itu. Alexander berada di posisi yang tidak mudah.


“Aku akan menemanimu hingga kau tertidur,” kata Alexander sambil mengecup pucuk kepala istrinya.


“Hubby, kembalilah, Jovita pasti menunggumu,” erang Prilly dari balik selimut.


“Aku akan kembali nanti,” jawab Alexander.


“Aku baik-baik saja,” kata Prilly.


“Aku tahu, kau wanita yang kuat dan sabar,” ucap Alexander menahan pedih hatinya, ia tahu Prilly tidak ingin berbagi suami, wanita mana pun tidak ada yang sudi untuk berbagi suami.


“Kembalilah, Jovita juga memerlukanmu.”


“Sstt....! Tidurlah.” Alexander memeluk Erat tubuh Prilly, hingga satu jam kemudian ia memastikan istrinya telah terlelap dan Alexander perlahan-lahan turun dari atas ranjang dan meninggalkan kamar tersebut.



Prilly Silviana Smith foto sourch Instagram.


Sementara sebuah hotel tak jauh dari tempat Prilly dan Alexander menginap.


Jovita baru saja membersihkan tubuhnya, ia mengalami jetlag dan tak bisa memejamkan matanya, ia memainkan ponselnya, ia sedang menunggu Alexander yang mengatakan sedang bertemu dengan clientnya.


Ia menggeser-geser media sosialnya dan membuka akun media sosial Prilly, wanita yang sempurna di mata Jovita, ia berasal dari keluarga yang terhormat, ia memiliki tiga putra yang manis, ia memiliki suami yang sangat hangat dan menyayanginya meski sekarang suaminya belum diketahui keberadaannya.


Andai ia berada di posisi Prilly, alangkah sempurnanya hidupnya, batin Jovita. Tidak lama Alexander muncul di kamar itu, dari raut wajahnya pria itu tampak kelelahan, wajahnya juga begitu murung. Melihat hal itu Jovita bangkit dan mendekati Alexander yang duduk di sofa dengan wajah tertunduk menatap ujung sepatunya.


“Alex, ada apa? Apa ada masalah?” tanya Jovita, tentu saja ia mengira masalah perusahaan yang membuat suaminya begitu tampak murung.


Alexander tidak bergeming, ia masih menatap ujung sepatunya.


“Alex?” sapa Jovita.


Akhirnya Alexander mengangkat wajahnya, pria itu mengangkat kedua alisnya dan menghela napas dalam dan menghembuskan dengan kasar.


“Aku akan mandi,” ucap Alexander sambil bangkit dan melangkah menuju kamar mandi tanpa menuju menjawab pertanyaan Jovita.


Masih sangat pagi ketika Jovita terbangun di dalam pelukan suaminya, ia mengamati betapa tampannya wajah Alexander, rambutnya kuning keemasan, dengan bulu-bulu halus di wajahnya. Jovita perlahan membelai wajah suaminya, ia sangat merindukan Alexander, namun saat ini sepertinya kurang tepat mengajak Alexander berolah raga pagi karena sejak Jovita datang ke Barcelona suaminya tampak kelelahan dan moodnya juga tidak dalam keadaan baik.


“Selamat pagi Alex, kau sudah bangun?” sapa Jovita ketika mendapati wajah tampan yang sedang ia pandangi membuka matanya.


“Selamat pagi, Sayang.” Alexander menjawab.


TAP JEMPOL KALIAN 😚😚😚😚😚