
Charles tentu saja terkejut dengan apa yang dialaminya sore saat, baru saja keluar dari firma hukum miliknya, pria itu terkejut manakala tangannya hendak membuka pintu mobilnya tiba-tiba dua orang berbadan tegap menggiringnya masuk ke dalam sebuah Maybach warna hitam.
“Selamat sore tuan pengacara.” Itu adalah suara Alexander, pria yang dengan sombongnya duduk di bangku samping kemudi Maybach tersebut.
“Aku bisa memperkarakanmu dengan kasus penculikan,” kata Charles dengan nada dingin, rasanya tentu saja kesal, ia tidak menyangka sama sekali Alexander melakukan hal seperti itu.
“Jangan berkata konyol, kau pria dewasa dan kita berada di tengah kota London, jangan mempermalukan diri sendiri,” jawab Alexander, apa Charles pikir ia seorang idiot yang diculik di tengah kota sementara ia adalah pria dewasa, Alexander benar-benar ingin menertawakan kata-kata Charles yang dianggapnya tidak masuk akal.
Charles tersenyum sinis dan berdecih. “Ciiih...! Jadi, apa maumu?”
“Mauku sederhana, kembalikan seluruh file yang pernah kau beli dari mantan istriku, hanya itu, sederhana bukan?” Alexander mengangkat sebelah alisnya.
“Menuduh tanpa bukti adalah perbuatan melanggar hukum,” kata Charles dengan nada datar.
“Oh, sayang sekali. Aku tidak mengerti tentang hukum dan pasal-pasal yang berlaku di negara ini, aku hanya tahu tentang bisnis dan ekonomi,” jawab Alexander dengan nada tidak kalah datar.
“Bukankah istrimu seorang sarjana hukum bisa menanyakan kepadanya." Charles berkata kata dengan nada sedikit sinis.
“Sayangnya aku tidak tertarik membicarakan masalah hukum bersama istriku yang cantik itu, sayang sekali jika aku harus membuang waktu kami, lebih baik aku membicarakan keharmonisan rumah tangga kami,” kata Alexander seolah memamerkan kebahagiaannya.
Charles tentu saja mengeraskan rahangnya, ia pernah menginginkan Prilly dan sekarang saingan cintanya memamerkan kemenangannya begitu telak di depannya, tentu saja hatinya sangat panas.
Alexander tersenyum sinis. “Sebenarnya aku tidak ingin lebih lama lagi berbasa-basi denganmu,” katanya.
“Jika yang kau bicarakan adalah masalah file dari mantan istrimu seperti tuduhanmu tari, sayang sekali kau tidak memiliki bukti kau tidak bisa mengancamku,” kata Charles dengan nada sombong.
“Benarkah? Tapi di dunia ini tidak ada yang tidak bisa kudapatkan,” kata Alexander.
“Jangan terlalu sombong,” ucap Charles.
“Tidak ada yang kusombongkan, semuanya sesuai dengan fakta, aku hanya berbicara realita dan sayangnya jika kau tidak bersedia bersikap kooperatif untuk masalah ini, mungkin kau akan kehilangan nama baikmu, warga di London ini mungkin akan mengejekmu,” kata Alexander dengan nada mengancam.
“Jangan coba-coba mengancamku ancamanmu itu sama sekali tidak menakutkan bagiku,” kata Charles dengan nada mengejek.
¹
“Oh ya? Kau begitu percaya diri rupanya.” Sudut bibir Alexander menyunggingkan smirknya.
“Sudah kukatakan mauku hanya satu, kembalikan file yang kau beli dari mantan istriku, atau jika tidak...” Alexander menggantungkan kalimatnya.
“Jika tidak ? Apa yang akan kau lakukan padaku? Apa kau akan menculikku? Atau kau akan membunuhku?” Charles tertawa kecil.
“Oh, sayang sekali tuan Charles yang terhormat, aku tidak ingin mengotori tanganku dengan hal-hal berbau kriminal dan kejahatan, itu bukan diriku,” jawab dengan nada begitu santai.
“Jika kau tidak bersedia melakukan itu, kau tahu apa ini?” Alexander menggeser laptopnya mengarah kepada Charles, itu adalah rekaman video di mana Charles dan Jovita bercumbu di lorong kamar hotel.
Seperti reaksi Jovita ketika melihat video itu reaksi Charles pun sama tubuhnya tiba-tiba menegang wajahnya berubah suram dadanya tampak naik turun pria itu mengepalkan tinjunya, “dari mana kau mendapatkan itu?”
“Tentu saja dari rekaman kamera pengawas,” jawab Alexander sambil tertawa hambar. “Kau tahu kan jika aku melempar bukti ini sosial media? Bagaimana hancurnya reputasimu dan juga reputasi keluargamu? Lihat tanggal kalian melakukan itu, saat itu status Jovita masih sebagai istriku, apakah pantas seorang pria terhormat meniduri seorang wanita yang masih bersuami?” nada Alexander terdengar begitu percaya diri dan penuh kemenangan.
Charles menyipitkan kedua matanya. “Mantan istrimu menikmatinya,” elak Charles.
“Apakah saat itu ia dengan senang hati menerimamu? Tidak bukan?” Alexander meletakkan laptop itu di pangkuannya. "Dan sepertinya aku tahu siapa apa ayah dari bayi yang dikandung oleh Jovita karena usia kandungannya tepat dengan tanggal di mana kau menidurinya," ucap Alexander.
"Jangan bercanda, kau suaminya. Tentu saja itu anakmu," kata Charles terdengar nada suaranya tidak senang.
"Asal kau tahu, sejak lama aku tidak pernah menyentuhnya lagi. Jadi, bisa dipastikan dengan tes DNA setelah Jovita melahirkan siapa sebenarnya ayah dari bayi yang dikandungnya sekarang," kata Alexander dengan nada sinis.
“Kau benar-benar licik,” desis Charles
“Ya. Aku licik, tetapi aku tidak perlu menggunakan cara busuk sepertimu,” jawab Alexander sambil menutup laptopnya. “Jadi, Tuan Pengacara keputusan ada di tanganmu, kau kembalikan seluruh file yang pernah kau beli dari Jovita atau kuhancurkan reputasimu dalam hitungan detik, aku memberimu toleransi waktu, tidak usah buru-buru, apa dua puluh empat jam cukup untuk mengambil file itu dari perusahaan ayahmu?” Alexander menyandarkan punggungnya di kursi mobil dengan puasa yang sangat nyaman tanpa menghiraukan ekspresi wajah Charles yang tampak semakin menghitam.
“Kau benar-benar sialan Alexander!” Geram Charles lagi kali ini suaranya benar-benar terdengar geram dan penuh tekanan emosi.
“Semua terserah padamu pilihan ada di tanganmu, silakan kau pikirkan dulu, hanya itu saja, aku jamin rekaman ini aman di tanganku, silakan kau keluar dari mobilku, negosiasi kita telah selesai,” kata Alexander dengan nada sinis.
Charles duduk di belakang kemudi mobilnya dengan perasaan marah emosi dan juga kesal ia tidak menyangka Alexander berani berlaku seperti itu kepadanya, iya salah memperhitungkan Alexander.
Charles juga tidak menyangka Alexander selangkah lebih cepat daripada dirinya, bukankah setelah malam ia keluar dari kamar di mana ia menodai Jovita, paginya iya segera mengutus seseorang untuk meretas kamera pengawas di hotel itu dan menghapusnya, bagaimana bisa Alexander memiliki rekaman itu? Kali ini Charles mengaku ia memang tak secerdas Alexander dan tak secerdik pria itu.
Charles segera memutar kemudinya menuju tempat tinggal Jovita, ia harus bertemu dengan Jovita, perasaan cara sangat marah. Ia menduga wanita itu telah mengaku kepada Alexander, ia yakin jika Alexander merayu Jovita dan Jovita luluh oleh Alexander kemudian menceritakan semuanya, sayangnya ia tidak memiliki perjanjian apa pun dengan Jovita perihal jual beli file yang dicuri oleh Jovita. Namun, sesampainya di tempat tinggal Jovita, Charles kembali harus menelan kekecewaannya karena tempat tinggal itu telah kosong.
Charles benar-benar merasa telah dijebak oleh Jovita, Charles merasa wanita itu harus segera ia dapatkan dan tentunya dilenyapkan karena mengancam kehormatan dan masa depannya.