Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Bukti



Hari terus berganti, musim panas perlahan namun pasti beralih ke musim gugur, daun-daun mulai menguning, Kehidupan terus berjalan, Mike mulai merintis bisnis barunya, Prilly dan Alexander hidup bahagia meskipun mereka belum menyelesaikan prasangka yang masih menyelimuti benak masing-masing. Sedangkan Anne masih terus menolak David, membuat David perlahan kehilangan harapannya.


Sementara di Firma hukum milik Charles, pria itu tampak emosi. Ia membanting dokumen di tangannya ke atas meja. Dadanya tampak naik turun menahan amarah, wajahnya merah padam.


Matanya yang berwarna hijau kebiruan tampak menjadi lebih gelap, proyek yang ia beli dari tangan Jovita gagal, pembeli meminta ganti rugi. Pelaksana proyek melakukan kecurangan dan ayah Charles terbukti menerima suap dari pelaksana Proyek. Bukan hanya sekedar harus mengembalikan dana yang telah di terima, ayahnya juga harus mengganti rugi. Belum lagi pria tua itu harus berurusan dengan hukum yang menyita waktu dan tenaga.


Charles tentu saja di salahkan karena ia di anggap sebagai biang keladi dari semuanya karena Charleslah yang memiliki gagasan menggunakan cara kotor. Ayahnya bahkan bersumpah tidak ingin melihatnya lagi. Ayah Charles tidak pernah menerima suap namun uang yang di tuduhkan ada di dalam rekening perusahaan dan berasal dari rekening pribadi pihak mengembang proyek.


Bagaimanapun ayah Charles berkelit, tetap saja tuduhan itu tidak bisa di patahkan karena bukti nyata yang ada di depan mata.


“Argh!” Charles menggeram. “Alexander kau benar-benar ba**ngan!” Charles mencengkeram sisi meja seolah kukunya bisa menancap. Ia yakin dalang semua ini adalah Alexander.


Charles menata nafasnya, berusaha mengatur emosinya kemudian ia meninggalkan ruang kerjanya. Mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota London siang itu. Ia harus berbicara dengan Alexander.


Setelah satu jam berlalu menunggu Alexander, akhirnya Charles duduk berhadapan dengan Alexander di dalam ruang kerja pria bermata abu-abu itu.


“Apa yang kau lakukan pada perusahaan ayahku?” Charles bertanya pada Alexander dengan nada dingin.


Alexander menatap wajah Charles dengan tatapan mata dingin dan ekspresinya juga tampak kaku, setelah beberapa saat Alexander menjawab dengan nada dingin. “Maksudmu?”


“Kau menjebak ayahku!” Charles langsung melayangkan tuduhannya.


Alexander justru menguap kemudian dengan tatapan mata malas ia berucap, “aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan tuan pengacara.”


“Berhenti bersikap seolah tidak mengerti apa-apa Alexander!” suara Charles meninggi.


“Menuduh tanpa bukti adalah perbuatan melanggar hukum apa aku benar?” ejek Alexander, pria itu sedang dengan liciknya mengembalikan perkataan Charles beberapa bulan yang lalu.


“Jangan mengejekku Alexander!”


“Aku tidak mengejekmu tapi jika kau merasa aku mengejekmu itu terserah.” Alexander berhenti sejenak dan mengambil nafasnya, “jadi apa tujuanmu datang ke sini?”


“Kau yang memfitnah ayahku bukan?” Charles menatap tajam ke arah Alexander.


“Apa tuhanmu berdasar?” Alexander justru membalas dengan santai sambil mengangkat sebelah alisnya.


“Alexander jangan berbuat terlalu jauh. Urusanmu denganku bukan dengan perusahaan ayahku.” Charles tampak menggertakkan giginya hingga rahangnya tampak mengeras.


“Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan perusahaan ayahmu,” jawab Alexander masih dengan nada yang sangat santai.


“Kau menjebak ayahku! kau yang memalsukan bukti!”


“Kau benar-benar ******** Alexander...!” desis Charles iya hampir kehilangan kesabarannya jika ia tidak mengingat akan mempersulit keadaan mungkin ia telah memukuli Alexander agar ia merasa puas untuk melampiaskan kemarahannya.


“Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi kau bisa keluar karena aku masih banyak memiliki urusan, aku tidak ada waktu membicarakan omong kosong pada denganmu.” Alexander berkata dengan nada sinis dan sombong membuat terbakar emosi.


“Jangan terlalu sombong Alexsander aku akan membuat perhitungan dengan aku tidak akan tinggal diam kau melakukan semua ini terhadap ayahku!” ada suara Charles terdengar kembali meninggi.


Sudut kiri bibir Alexander tampak tertarik ke atas, ia sama sekali tidak peduli dengan ancaman Charles.


Melihat ekspresi Alexander yang begitu sombong cara wakil terbakar emosi seharusnya ia tidak bermain-main dengan Jovita lagi wanita itu justru membawa masalah dalam hidupnya. Charles tiba-tiba ingat kepada wanita itu, mungkin Jovita telah melahirkan, Charles ingin membuat perhitungan dengan dia dengan Jovita yang dengan bodohnya telah mengakui telah menjual data perusahaan Alexander. “Di mana kau sembunyikan Jovita?”


“Oh iya itu masalah itu, apa kau tahu? Anaknya sangat mirip denganmu.” Alexander begitu enteng menjawab pertanyaan Charles, Jovita memang telah melahirkan bayi laki-laki dan wanita itu juga beberapa kali berusaha menghubungi Wilona. Sementara Alexander membiarkan saja tindakan Jovita dan berpura-pura tidak mengetahui.


“Aku ingin bertemu dengannya,” suara Charles terdengar melunak.


“Untuk apa kau akan menikahinya? Atau kau ingin merawat anakmu?” dari nada suara Alexander bukan terdengar seperti pertanyaan nadanya seperti sebuah ejekan.


Mendengar kalimat Alexander yang seperti ejekan tentu saja kemarahan Charles kembali tersulut. “Kau tidak perlu tahu!”


“Aku tentu harus tahu Charles, karena perjanjianku dengan Jovita adalah selama ia patuh denganku maka aku akan melindunginya,” jawab Alexander disertai seringai licik.


Carilah sendiri kan matanya dan berucap, “Kau melindungi penghianat, itu wanita iblis.”


Alexander menatap wajah Charles dengan tatapan lurus, “dia tidak berhati iblis jika kau tidak menghasutnya, iblis sesungguhnya jelas-jelas kau,” kata Alexander dengan nada dingin.


Wajah Charles memerah tentu saja amarahnya semakin menjadi-jadi karena mendengar Alexander mengatai dirinya adalah iblis. Dengan kasar ia bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu keluar dari ruangan kerja milik Alexander.


Charles menarik gagang pintu dan ia berhenti tempat di ambang pintu kemudian dengan nada penuh tekanan emosi ia berucap, “akan kubuktikan bahwa kau adalah orang yang memfitnah ayahku.”


Alexander tersenyum penuh kemenangan mendengar ancaman Charles. “Lakukan semampumu aku tunggu tuntutanmu tuan Charles yang terhormat.”


TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️


RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️


JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️


TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️