Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Alexander sakit



Di kamar, Prilly dan Mike tidur tanpa melakukan aktifitas apapun karena William ada di antara mereka. Paginya mereka sarapan pagi di kamar, karena tidak bisa turun ke restoran. Akan merepotkan jika ada yang melihat mereka sarapan bersama di restoran hotel.


Prilly keluar dari hotel dan di kawal beberapa body guard yang di siapkan Mike. Ia dan William memasuki mobil dan kembali lebih dulu. Mike kembali dengan menggunakan mobilnya yang lain.


Di sisi lain, seorang pria bermanik mata abu-abu sedang meminum vodkanya. Ia hanya duduk di sofa ruang kerjanya sejak beberapa hari bertemu mantan istrinya. Ini pertama kali ia bertemu mantan istrinya setelah perceraian mereka. Ia tidak menyangka hanya butuh waktu sepuluh bulan istrinya berubah menjadi sosok anggun. Lebih cantik dan terlihat sangat matang. Alexander tahu sekarang mantan istrinya adalah seorang CEO di sebuah perusahaan. Ia mendapat jabatan CEO dengan kerja kerasnya sendiri bukan dari orang tuanya. Tubuhnya juga semakin indah dan berisi, wajahnya yang cantik juga terlihat berbinar, ia bukan lagi Prilly pendiam yang dua tahun lalu ia ambil keperawannya.


Ia bahkan hanya mengeluarkan air mata menahan sakit, saat Alexander menindih dan membobol selaput daranya. Tidak bisa menggerang maupun merintih. Alexander tahu Prilly hanya menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Dua tahun waktu Alexander bersama Prilly, ia tidak pernah bisa mendapatkan cinta wanita itu. Sejak remaja, gadis itu selalu berandai-andai menikah dengan seorang pria bermata biru. Alexander tahu, siapan pria yang Prilly maksud. Namun bukan Alexander namanya jika ia tidak dapat mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.


Prilly adalah bunga yang ia jaga selama bertahun-tahun, ketika usia gadis itu tujuh belas tahun, secara tidak sengaja ia membaca surat elektronik dari Michael Bryan Johanson yang tak lain adalah sepupunya sendiri. Surat itu di tujukan untuk Anthony, bukan untuknya. Ia hanya tak sengaja membacanya saat mereka berada di kamar Anthony.


Sepupunya mengatakan ia merindukan Prilly dan mengatakan ingin mengunjunginya. Sejak saat itu, Alexander tidak pernah melepaskan Prilly dari pandangannya. Dia tidak akan membiarkan Prilly di sentuh orang lain. Ia akan menjaganya, mengekorinya dan melakukan apapun asalkan bunganya tidak dipetik kumbang lain.


Dan saat umur Prilly duapuluh tahun, ia tak sengaja mendengar pembicaraan tantenya, Veronica yang tak lain ibu dari sepupunya Mike. Bahwa pria bermata biru itu akan kembali ke London untuk berkunjung. Alexander yakin kedatangan sepupunya untuk mengambil Prilly. Maka Alexander membuat rencana selangkah lebih dulu dari pria bermata biru.


Semula ia benar-benar tulus mencintai Prilly. Namun satu bulan berumah tangga, ia tidak mendapatkan kebahagiaan apapun bersama Prilly. Istrinya yang cantik itu, hanya seperti boneka hidup. Tidak ada kehangatan, tidak ada cinta dari Prilly. Ia mulai putus asa dan mengencani sekretarisnya. Kemudian ia mulai terbiasa berganti-ganti ****** untuk menuntaskan hasratnya.


Bunga yang ia tanam, ia jaga, ia pupuk, dan ia petik sendiri. Namun, ia tak mampu menjadikan bunga itu sebagai miliknya menghias taman hatinya. Ia tidak sabar menantikan cinta tumbuh di hati Prilly. Emosinya semakin memuncak ketika melihat portal berita online yang banyak memuat isu Mike dan Prilly, mantan istrinya.


Terlebih lagi foto mereka bersama William yang nampak erat di pelukan Mike. Bukan hanya tak mendapatkan cinta Prilly, kini ia juga tak mampu mendapatkan cinta dari anak kandungnya yang menolak untuk ia dekati.


Andai ia sabar, mungkin sekarang foto bertiga itu adalah dirinya. Dulu ia membiarkan Prilly menjalani hari-harinya saat hamil sendirian. Pergi ke dokter kandungan sendiri dan saat prilly melakukan persalinannyapun sendirian. Saat itu, ia sedang pergi ke Jepang untuk urusan bisnis dan ia pergi membawa sekretarisnya yang tak lain adalah jalangnya.


Tak hanya sampai di situ, ia juga membiarkan Prilly membesarkan William, putranya sendirian. Saat William terbaring lemah di rumah sakit, ia sedang bercumbu dengan jalangnya dan parahnya ia lakukan di rumahnya sendiri. Dosanya terhadap Prilly sangat besar. Prilly mungkin tak akan memaafkannya. ia bahkan tak punya nyali untuk datang meminta maaf.


Mungkinkah Prilly akan memaafkannya, jika ia meminta maaf dan berjanji untuk berubah? Sedangkan kini ia telah menemukan orang yang ia idam-idamkan sejak kecil? Mungkinkah ia akan kehilangan Prilly untuk selamanya? Tidak, ia memang sudah kehilangan wanita itu bahkan sebelum ia mendapatkannya.


Atau mungkin harus mendapatkan Prilly kembali dengan cara apapun, bisik hatinya.


Ia menenggak vodkanya dan membanting botol pada meja kaca menyebabkan bunyi gaduh botol itu pecah berkeping-keping. Beberapa pecahan kaca melukai tangannya, sekretarisnya terkejut mendengar bunyi gaduh tersebut dan segera berlari ke ruangan bosnya. Ia takut untuk bertanya karena yang ia tahu, bosnya pasti sedang berada dalam mood yang buruk.


Sekretaris bernama Jovita itu mengambil kotak first aid kit dan membawa Alexander menjauh dari pecahan kaca itu. Kemudian menghubungi office boy untuk membersihkan melalui interkom. Ia mulai membersihkan darah dan mengobati luka-luka di kulit bosnya.


Selama tiga hari, bosnya hanya diam. Ia juga tidak memberikan perintah. Bahkan semua meeeting dan acara-acara penting lain dibatalkan sampai waktu yang tidak jelas. Biasanya bosnya itu akan menelanjangi dan membuatnya mendesah di bawahnya kapanpun, dimanapun. Sekretarisnga itu mulai jatuh hati pada bosnya. Ia menikmati semua permaian bosnya, ia sangat perkasa di setiap permainaannya.


Dan seminggu lagi kontraknya akan habis. Ia pasti akan merindukan tubuh bosnya ini. Ia membuka-buka beberapa situs lowongan kerja. Ia berfikir harus mulai mencari-cari pekerjaan yang benar dan tidak lagi berbuat kesalahan seperti ini.


Jam sudah menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit. Namun, Jovita tidak melihat bosnya keluar dari ruangannya. Ia juga tidak mendengar suara maupun pergerakan apapun dari dalam ruangan bosnya. Ia memberanikan diri mengetuk pintu Ruangan bossnya itu, namun tidak ada jawaban, Jovita mengetuk lagi beberapa kali lagi, namun tetap tidak ada jawaban. Kemudian, ia memberanikan diri untuk mendorong pintu dan mendapati bosnya meringkuk di atas meja kerjanya, ia tampak lemah.


Jovita memberanikan diri intuk menyentuh kepala bosnya, suhu badannya sangat panas. Mungkin sekitar tiga puluh sembilan derajad. Jovita tidak tau harus berbuat apa, ia memanggil security dan membawa bosnya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan bibir pucat pria itu mengerang kesakitan tangannya memegangi perutnya. Sesekali di sela erangannya dengan lemah memanggil nama seseorang, “Prilly.... Prilly....”


Jovita tersenyum kecut, ia mengerti siapa yang di panggil oleh bosnya. Siapa lagi kalau bukan mantan istrinya. Sesampainya di rumah sakit, dengan segera Alexander di tangani oleh dokter dan perawat. Ia kini sudah di pindahkan dari Instalasi gawat darurat ke kamar VVIP. Ia terlelap dan sepertinya sakit di perutnya sudah berkurang. Suhu badannya juga sudah tidak sepanas tadi. Jovita menghembuskan nafas lega, dokter bilang ia terlalu banyak mengkonsumsi alkohol dan tidak ada makan yang masuk selama beberapa hari. Dan sesekali Jovita masih mendengar ia memanggil nama Prilly dalam tidurnya.


Ada rasa sakit mencubit jantungnya, namun tidak pantas ia cemburu pada Prilly. Ia bahkan bukan seujung kuku jika di banding Prilly di hati bosnya. Ia tidak berani menghubungi orang tua Alexander. Jadi ia akan menunggu Alexander bangun dan tidur di kursi persis di samping ranjang pasien. Tidak terlalu jauh, Karena ia khawatir jika Alexander bangun dan memerlukan sesuatu, ia tidak mendengarnya.


Jam dua dini hari, Alexander terbangun dan mendapati kepalanya berdenyut hebat. Ia menyapukan pandangan matanya ke sekeliling tempat yang di rasa asing olehnya. Sebelah tangannya terpasang jarum infus. Ternyata ia berada di sebuah kamar di rumah sakit. Dan sebelah tangannya terasa berat tertindih oleh kepala berambut blonde, siapa lagi kalau bukan Jovita, sekretarisnya.


Alexander merasa iba melihat sekretarisnya tertidur dengan posisi seperti itu. Pasti wanita itu kelelahan menjaganya, ia menggoyangkan bahu Jovita dengan pelan sampai Jovita terbangun dan sangat terkejut. Ia tidak menyangka bosnya terbangun.


“Jov,” kata Alexander pelan, “pulang dan tidurlah kalau kau lelah.”


“Apa kau perlu sesuatu, Alex. Apa kau ingin minum? Atau aku perlu hubungi orang tuamu?” Ia tak menggubris omongan Alexander.


“Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Pulanglah, pasti kau lelah!” titah Alexander


“Tidak! Tidak ada yang merawatmu disini.” Jovita bangkit menuju nakas.


“Ada perawat di luar.”


“Perawat tidak di sampingmu setiap waktu. Bagaimana jika kau ingin ke kamar mandi? Bagaimana jika kau ingin makan atau minum?” Jovita menuangkan air mineral ke dalam gelas.


“Terserah kau saja. Aku tidak akan menggaji overtimemu.”


“Aku tidak perlu gaji overtime. Bisakah kau diam?” sungut Jovita. “Minumlah!” Jovita membantu Alexander bangun dari duduknya dan meminum air dari gelasnya, “Kau terlalu banyak minum alkohol. Lambungmu terluka, kau harus istirahat di sini selama satu minggu untuk pengobatan.” Jovita memberi tahu Alexander dan pria itu hanya terdiam sambil merebahkan tubuhnya kembali.


“Aku akan tidur di sofa. Jika kau perlukan apa-apa, katakan saja dan panggil aku.” kemudian jovita merebahkan tubuhnya yang kaku di sofa dan mencoba memejamkan matanya.