Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Tahu batasan



Hari pertama di California, Prilly di bawa oleh suaminya pergi ke lokasi shooting. Prilly duduk di samping Mike yang mengawasi langsung proses pembuatan film tersebut, ia mulai jenuh namun ia sebisa mungkin tidak menunjukkan pada suaminya yang sedang sibuk bekerja.


Hanya melihat orang berlalu lalang. Sama sekali tidak menarik, kadang juga melihat suaminya berteriak memarahi kru. suaminya juga begitu sering menggerutu. Pertama kali bagi Prilly melihat suaminya itu begitu serius, dan tentu ia hampir tak pernah melihat sisi lain dari suaminya yang bisa menggerutu dan marah-marah.


Untunglah Prilly membawa alat gambarnya, ia membunuh kejenuhan dengan menggambar beberapa desain perhiasan.


“Apa kau lelah?” tanya Mike sambil membelai rambut Prilly


Prilly menggeleng, bibirnya menyunggingkan senyum.


“Tidak, aku hanya berdiam melihatmu bekerja, seharusnya aku yang bertanya padamu.”


“Melihatmu di sini semua lelahku tidak ada artinya,” jawab Mike membuat wajah Prilly merona.


Mike melirik jam di pergelangan tangannya, “Tunggu di sini, aku akan berbicara dengan kru.”


Prilly mengangguk, matanya terus mengawasi suaminya, ia sangat memuja suaminya, ia adalah seorang seniman juga pengusaha yang membangun semua usahanya dengan kemampuannya sendiri.


“Selamat sore, Mrs. Smith,” sapa seorang gadis dengan suara lembut, sangat lembut sehingga membuat Prilly mengalihkan pandangannya dari sosok suaminya.


“Selamat sore, Nona,” jawab Prilly ramah, gadis yang berdiri di depannya sangat cantik, anggun, tinggi dan tentu saja sangat seksi.


Bahkan mungkin jika di bandingkan dengan Prilly, bagaikan langit dan bumi perbandingan antara mereka.


“Perkenalkan namaku Wilona,” kata gadis itu memperkenalkan diri


Sejenak Prilly tergagap, Wilona, gadis yang namanya baru saja memicu pertengkaran antara mereka persis berada di depannya, berdiri menyapa dirinya, dan ternyata gadis itu sangat cantik.


“Hai Wilona, senang berkenalan denganmu,”


jawab Prilly sedikit canggung.


“Mrs. Smith aku salah satu penggemar rancanganmu dan aku juga mengoleksi perhiasan limited edition karyamu.”


“Terima kasih.”


“Aku tidak sabar lagi menunggu rancangan berikutnya.”


Prilly hanya tersenyum simpul, ada sedikit ketakutan saat melihat kilatan di mata gadis di depannya.


“Mike membantuku mendapatkan barang tersebut,” kata Wilona.


Darah Prilly tiba-tiba berdesir, rambutnya terasa tegak lurus di kepalanya, kekhawatiran mulai merayapi perasaannya.


“Oh ya?” jawab Prilly dengan nada di buat sehangat mungkin.


“Baiklah, Mrs. Smith saya harus pergi” kata Wilona sambil hendak melangkah pergi.


“Maaf nona, sebaiknya Anda memanggil saya Mrs. Johanson. Karena sejak aku resmi menikah dengan Michael Johanson namaku adalah Prilly Johanson,” kata Prilly dengan nada ramah.


“Oh maafkan saya, baiklah jika ada kesempatan lain saya tidak akan salah lagi menyebut nama Anda,” jawab Wilona ramah.


"Terima kasih, sampai jumpa."


Setelah Wilona menjauh, Prilly mendengkus kesal, bagaimana mungkin gadis itu memanggil atasannya dengan panggilan akrab, Mike? Kenapa bukan Michael, atau Mr. Johanson? Sedekat apa mereka di masa lalu?


Rasanya Prilly ingin sekali mencekik Wilona jika nanti mereka bertemu dan memanggil suaminya dengan panggilan akrab seperti itu lagi.


Beberapa menit kemudian Mike datang menghampiri Prilly lalu mengajaknya kembali ke hotel.


“Mike berapa lama kita di sini?” tanya Prilly setelah mereka selesai makan malam dan telah berada di dalam kamar hotel mereka.


“Hanya satu minggu, apa kau nerindukan William?”


“Tentu saja.”


“Tidak,” jawab Prilly cepat.


“Jika kau merindukan Willy, aku akan minta Moses untuk menemanimu sampai ke London, aku tidak bisa mewakilkan pekerjaan ini pada orang lain.” kata Mike.


“Aku memang merindukan William, tapi aku tidak ingin kembali ke London,” dengkus Prilly, ia mulai kesal pada suaminya yang seolah-olah di matanya mengusirnya


Mike yang kelelahan tentu saja kurang memperhatikan istrinya yang sejak mereka menuju ke hotel telah sebisa mungkin menyembunyikan kekesalannya, kecemburuannya.


Hingga hari terakhir di California Prilly terus saja mengekori suaminya, ia mendadak menjadi sangat posessesif pada Mike. Hampir tak sedetik pun Prilly melepaskan pandangannya dari Mike, bahkan saat Sophia mengajak Prilly berbelanja dan berkeliling California. Prilly menyeret suaminya untuk ikut dan tak terus bergelayut manja di lengan suaminya.


Mike dengan wajah kelelahan terus menuruti keinginan istrinya yang tidak bisanya bertingkah berlebihan dan mendadak akrab dengan Sophia.


“Mike,” suara lembut Wilona membuat Prilly dan Mike menghentikan langkah mereka.


“Oh, ada apa?” tanya Mike dengan ekspresi santai.


“Bisa aku menumpang di mobil kalian? Mobilku penuh dengan barang aku merasa tidak nyaman”


“Oh, kenalkan ini istriku,Prilly.” kata Mike tanpa menanggapi permintaan Wilona.


“Kami sudah berkenalan dan mengobrol beberapa hari yang lalu, istrimu wanita yang sangat hebat,” kata Wilona dengan nada sangat santun.


Prilly hanya tersenyum simpul mendengar jawaban Wilona.


“Oh ya, kau tidak bercerita apa apa padaku sayang,” kata Mike sambil matanya menatap Prilly mencari sesuatu yang mungkin di lewatkan olehnya.


“Tidak ada yang penting, Hubby.” jawab Prilly dengan nada sedikit manja.


“Bagaimana Mike? Apa aku bisa menumpang di mobil kalian?”


“Baiklah, ayo.” itu suara Prilly sebelum Mike membuka mulutnya. “Lagi pula bangku di samping Moses kosong,” lanjut Prilly tanpa mempedulikan ekspresi Wilona, ia bergelayut manja di lengan suaminya sambil menyeret Mike menuju mobil.


Mike membukakan pintu untuk Prilly dan mereka berdua duduk di bangku belakang, sementara Wilona harus puas duduk di bangku samping kemudi dimana Moses sekretaris pribadi Mile melajukan mobil yang mereka tumpangi hingga sampai di hotel tempat mereka menginap.


Sepanjang jalan Prilly masih terus saja bergelayut manja, sedangkan Mike tentu saja memanjakan istrinya dengan senang hati.


Ketika mereka turun dari mobil tidak sengaja Sophia juga turun dari sebuah mobil mewah, tentu saja bersama tunangannya, putra presiden Amerika Serikat.


Seperti Prilly, Sophia juga mendadak bergelayut manja pada calon suaminya.


“Prilly, Mike, bagaimana jika kita malam ini makan malam bersama. Kebetulan calon suamiku datang, kita bisa double date, lagi pula ini Sabtu malam, sangat cocok untuk pasangan berkencan,” kata Sophia sambil menarik lengan calon suaminya mendekati Prilly dan Mike.


“Prilly, kenalkan calon suamiku, Harry Truman,” kata Sophia memperkenalkan calon suaminya pada Prilly, Mike tentu saja telah mengenal pria itu sejak beberapa tahun yang lalu.


“Mike, terima kasih atas tumpangannya, aku permisi dulu,” kata Wilona dengan sopan.


“Sampai jumpa,” kata Mike.


Tersenyum tipis Wilona melangkahkan kakinya meninggalkan kedua pasangan itu.


“Kau masih saja tidak menjaga jarak dengannya, ia gadis yang berbahaya.” Sophia mulai mencerocos.


“Aku tau batasan dan aku bisa menjaga diriku sendiri,”


ujar Mike acuh pada peringatan Sophia.


“Dia bisa membangun rumor untuk mendapat keuntungan darimu sepupuku yang bodoh,” maki Sophia.


“Harry, urus calon istrimu. Sampai jumpa jam delapan di restoran,” kata Mike sambil meraih pinggang istrinya dan meninggalkan Sophia bersama Harry.


TAP JEMPOL KALIAN SISTAH 😉😙 TENANG INI AUTHOR BERSEMANGAT NGETIK KOK 😉😉