Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Seperti Ayahnya



Prilly merebahkan tubuhnya di samping Alexander, posisi mereka berhadap-hadapan.


“Hari ini Wilona menghubungiku,” Prilly memberitahu suaminya. Ia memang memiliki kebiasaan menceritakan kejadian apa pun yang ia alami sebelum tidur kepada Alexander.


Mendengar apa yang dituturkan istrinya tubuh Alexander seketika menegang. Tetapi, ia berusaha mengendalikan dirinya, bersikap setenang mungkin. “Oh ya? Ada urusan apa?”


“Wilona mengundang kita untuk datang ke Mexico, dalam acara pernikahannya,” jawab Prilly.


“Hanya itu?” Alexander sebenarnya sangat penasaran apa saja yang dibicarakan Prilly dan Wilona tetapi dia tidak bisa bertanya lebih banyak iya takut akan curiga.


“Iya, hanya itu.”


“Hmmm... Apa cukup hanya undangan melalui panggilan?”


“Tidak, contoh undangan mana mungkin kita bisa masuk ke dalam acara mereka,” kata Prilly. “Wilona akan mengirimkan undangannya.”


“Dan kau memberi tahu Wilona alamat rumah kita?” Alexander benar-benar merasa saraf di tubuhnya saling berbenturan karena tegang.


“Tentu saja tidak, bukankah kau telah berpesan tidak boleh memberi tahu alamat rumah kita kepada sembarang orang. Aku menyuruhnya mengirimkan undangan ke Glamour Entertainment,” kata Prilly.


Mendengar jawaban istrinya Alexander rasa mendapatkan pasokan udara yang cukup ke dalam paru-parunya, ia hampir saja membawa anak dan istrinya kabur malam itu juga untuk menghindari kemungkinan buruk yang bisa saja dikirimkan oleh Wilona dan Simon.


“Istriku memang patuh,” puji Alexander sambil membelai rambut Prilly.


“Sebenarnya ia bersikeras ingin mengirimkan undangan ke alamat rumah kita tetapi aku katakan ada sekretarisku yang mengurus.”


“Ternyata kau cerdas juga, ya?” Alexander menyeringai karena merasa sangat lega.


“Apa kau pikir aku ini bodoh?” Prilly tidak terima karena Alexander menyeringai seperti sedang mengejeknya.


“Aku tidak berkata demikian.” Alexander menggoda Prilly yang tampak kesal.


“Tetapi nada bicaramu seolah mengejekku,” protes Prilly.


“Kau sangat menggemaskan,” kata Alexander.


“Menggemaskan seperti Grace,” kekeh Prilly.


“Aku rasa tidak." Alexander justru membayangkan Prilly kecil yang mirip dengan Sidney yang ia lihat di layar ponsel milik Mike.


“Kenapa Grace tidak mirip tidak sama sekali tidak mirip denganku?” tiba-tiba Prilly berucap demikian membuat Alexander merasakan pasokan udara yang masuk ke paru-parunya terasa menipis kembali, leher Alexander bahkan terasa seperti tercekik. Bagaimana cara memberitahu Prilly bahwa Grace bukan Putri kandungnya bersama Mike?


Bagi Alexander meskipun Grace bukan Putri kandung mereka tetap saja Alexander menyaingi Grace sebagai putrinya. Baginya tidak ada bedanya Grace Putri siapa, atau milik siapa. Bagi Alexander, Grace tetap akan menjadi putrinya apa pun yang terjadi nanti. Tetapi, yang membuat Alexander dilema adalah kepemilikan Prilly. Apakah Prilly akan tetap menjadi miliknya atau Prilly akan kembali menjadi milik Mike? Alexander ingin mempertahankan Prilly namun mengingat pengorbanan Mike yang begitu besar, Alexander merasa dirinya bukanlah apa-apa.


Alexander membelai pipi Prilly dengan ujung jemarinya. “Kau ingin Putri yang seperti dirimu?”


Prilly hanya menyeringai penampakan deretan giginya yang rapi.


“Katakan sayang." Suara Alexander sedikit mengeram tatapan matanya begitu menggoda.


“Kau yang ingin membuatnya bukan?” Prilly menatap balik Alexander dengan tatapan yang tak kalah menggoda.


Prilly menyeringai semakin lebar kemudian ia berinisiatif memulai permainan lebih dahulu. Ia mencium bibir Alexander dan membuat Alexander berada di bawahnya, melewati malam yang dingin, menggantinya menjadi malam yang hangat penuh erangan dan kobaran gairah cinta yang menyala-nyala meledak-ledak mereka. Bersatu dalam gairah untuk saling memiliki.


Sementara di New York.


Sidney sedang berlarian ke sana-kemari bersama mengejar seekor anak kelinci, sementara Helena mengawasi gadis kecil itu dengan sabar. Helena adalah pengasuh Sidney sejak ia dilahirkan. Sejak Sidney ditukar dengan bayi Grace, Helena juga bukan orang lain. Ia adalah asisten Wilona, dulu ia sangat patuh kepada Wilona namun seiring dengan berjalannya waktu ia tidak sepaham lagi dengan Wilona. Tepatnya, sejak Wilona menculik Sidney. Helena juga memutuskan untuk mengikuti Mike ke New York karena Sidney.


Helena secara tidak langsung terlibat dalam penculikan Sidney, lebih tepatnya Wilona membuatnya terlibat, saat itu Helena masih menjadi asisten Wilona meskipun Wilona baru saja kehilangan kariernya, Saat itu ia juga memang sangat memerlukan pekerjaan itu ayahnya sedang sakit keras dan terbaring di rumah sakit. Ia memerlukan uang untuk biaya pengobatan ayahnya, mau tidak mau tidak ada pilihan lain selain mematuhi apa pun perintah Wilona. Mengikuti Wilona pergi Mexico membawa bayi Sidney kemudian menjadi pengasuh bayi malang tersebut.


Wilona dan Helena, nama mereka memang mirip mungkin dia juga satu-satunya asisten Wilona yang bertahan paling lama karena hampir semua asisten Wilona mengundurkan diri karena menyerah dengan sikap Wilona yang arogan, sombong dan tentu saja ia sedikit temperamental di belakang kamera.


“Sidney jangan berlarian, kau bisa terjatuh.” Helena memperingatkan Sidney yang terus saja berlarian sejak tadi.


“Lihat dia sangat lucu,” kata Sidney sambil terus berusaha mendapatkan kelincinya, gadis itu bahkan tengah merangkak di bawah kolong meja.


Helena hanya menggelengkan kepalanya. Sebenarnya ia tidak setuju ada hewan di dalam tempat tinggal mereka, menurut Helena kelinci sama sekali tidak lucu. Apalagi karena kelinci adalah makhluk hidup, tentu saja kelinci membuang kotorannya di mana saja membuat Helena merasa risih.


“Sidney, kelincimu akan kelelahan dia bisa mati jika kau terus mengejarnya.” Sesungguhnya Helena tidak tahu apakah kelinci benar-benar bisa mengalami kelelahan hingga mati, tetapi yang jelas ia kurang setuju Mike membelikan kelinci untuk Sidney.


“Oh ayolah Sidney, di bawah kolong itu tidak bersih mungkin saja ada debu ayo patuhlah.” Bujuk Helena sambil berjongkok di bawah kolong meja.


“Helena jam berapa Daddy kembali?” Sidney bertanya sambil memegang telinga kelinci, anak kelinci yang malang itu berhasil ditangkap oleh Sidney dan tampak ketakutan.


“Mungkin sebentar lagi, ayolah Sidney kita masukkan kelinci itu ke dalam kandangnya setelah itu lebih baik kita mandi dan...."


“Dan apa? Apa kita akan menonton bioskop?” sela Sidney.


“Tidak ada penayangan film terbaru hari ini,” jawab Helena.


Mendengar jawaban Helena ekspresi Sydney tampak kecewa.


“Oh ayolah, jangan seperti itu.” Helena tentu saja sangat mengerti apa yang dirasakan Sidney, ia hafal betul dengan semua ekspresi yang tergambar di wajah bocah itu.


“Kenapa tidak ada film anak-anak yang tayang di bioskop setiap hari?” Sidney meremas-remas tubuh kecil kelinci di tangannya, ia tampaknya sangat gemas.


“Sidney tolong hentikan anak kelinci itu bisa mati,” Helena kehabisan akal membujuk Sidney. “Berikan padaku.” Helena mengulurkan tangannya meminta anak kelinci di tangan Sidney.


“Di masa depan aku bisa membuatnya sendiri film untuk anak-anak.” Sidney mengulurkan anak kelinci malang itu kepada Helena.


Mendengar jawaban Sidney tentu saja Helena tersenyum, tentu saja mungkin bakat Sidney sama seperti ayahnya.


TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️


RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️


JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️


TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️