Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Berdamai



Sementara di luar, di area garden party seseorang dengan wajah dingin dan kaku datang menghampiri Mike yang sedang duduk di kursi.


“Selamat atas pernikahanmu,” katanya sambil mendudukkan pantatnya di kursi tepat di samping Mike.


“Terima kasih, Alex.”


Hening sesaat. “Jaga Prilly seumur hidupmu,” kata Alexander.


“Pasti akan aku lakukan,” jawab Mike.


“Katakan padanya aku minta maaf.”


“Aku rasa, lebih baik kau berbicara langsung padanya.”


Alexander terdiam, Mike memanggil pelayan yang membawa beberapa gelas wine. Ia mengambil satu gelas dan diberikan pada Alexander lalu mengambil untuk dirinya sendiri, lalu mendentingkan gelas untuk mengajak sepupunya minum.


“ini pertama kali kita minum bersama,” kata Mike. “Bagaimana jika kapan kapan kita minum bersama lagi?” lanjutnya.


“Baiklah,” kata Alexander.


“Kau tunggulah di sini. Aku akan panggil, Prilly,” kata Mike hendak bangkit namun, Anthony yang berada tak jauh darinya memberikan kode untuk duduk kembali dan ia yang sendiri yang pergi untuk memanggil adiknya.


“Alexander ingin mengucapkan selamat padamu,” bisik Anthony.


Expressi prilly langsung berubah bersemangat mendengar kata-kata kakaknya.


“Baiklah, ayo.” Prilly langsung bangkit hendak meninggalkan ruangan itu namun karena gaunnya cukup panjang ia sedikit kesulitan, Anne dan Jovita reflek berdiri membantunya memegangi bagian belakang gaun Prilly dan mengiringi langkah Prilly hingga ke area garden party.


“Terima kasih, Jovita, Anne,” kata Prilly.


“Hari ini, kau ratu kami Prilly, tidak perlu sungkan,” kata Anne sambil terkekeh.


“Hari ini tidak akan terulang kedua kali, Prilly,” lanjut jovita sambil terkekeh juga tanpa memperhatikan sekitar.


Melihat siapa yang memegangi gaun Prilly, Alexander terkejut. Jantungnya berdegub tidak menentu. Ia tak menyangka akan bertemu Jovita di pesta pernikahan mantan istrinya. Apalagi melihat gaun yang dikenakan Jovita. Ia lebih tak menyangka Jovita menjadi salah satu bridesmaid Prilly.


Jovita juga tak kalah terkejutnya saat ia mendongakkan kepalanya dan melihat Alexander berdiri di depannya hanya terhalang tubuh Prilly dan Mike, ia merutuki kebodohannya sendiri, mengapa ia tadi membantu Prilly.


Setelah Prilly duduk disamping Mike, Jovita dan Anne segera meninggalkan mereka berdua. Begitu juga Anthony, ia bergabung dengan para tamu dan ia memilih mengobrol bersama David yang hadir di antara para tamu undangan tersebut. Anthony mengawasi mereka dari kejauhan.


"Kak Alex, terima kasih kau datang untuk memberikan kami restu,” kata Prilly dengan nada riang.


“Semoga kalian berbahagia, selamanya,”


“Terima kasih,” jawab Prilly dan Mike bersamaan.


“Kurasa kalian perlu bicara berdua,” kata Mike bermaksud meninggalkan Prilly dan Alexander.


“Tidak Mike, kau disni saja,” kata Alexander.


“Maafkan perbuatanku padamu, Prilly. Maafkan juga keegoisanku yang yang membuat kalian berdua dalam kesulitan beberapa kali,” kata Alexander dengan nada pelan, penuh penyesalan.


“Kak Alex, aku telah memaafkanmu. Sekarang mari kita besarkan, William bersama-sama.”


“Alex, jangan sungkan jika ingin menemui William, pintu rumah kami terbuka untukmu,” lanjut Mike.


“Terima kasih,” kata Alexander dengan nada datar. Membali pada Alexander yang seperti biasa.


“Apa kau ingin melihat Willy? Ia ada di kamar bersama Mommy. Kita bisa menemuinya barangkali ia belum tidur,” tanya Prilly.


“Aku khawatir dia akan takut padaku,” jawab Alexander dengan nada tidak yakin.


“Aku dan Prilly akan menemanimu,” kata Mike.


“Kurasa, lebih baik setelah acara pesta berakhir. Kau tuan rumah, Mike, tidak baik menghilang dari acara.”


“Baiklah, kau memang sepupuku yang pengertian,” Mike tertawa riang.


Setelah berbicara dan mengobrol beberapa saat, Mike bermaksud mengantar Prilly kembali ke dalam kamar karena khawatir dengan kesehatan Prilly.


“Sayang, aku antar kau ke kembali ke kamar. Udara malam tidak baik untuk tubuhmu,” kata Mike seraya melepas jasnya dan mengenakannya pada istrinya.


“Baiklah, Kak Alex, sampai jumpa.” Prilly mengucapkan salam perpisahan dengan sopan.


“Sampai jumpa,” jawab Alexander.


Tidak lama kemudian, Anthony datang dan mengulurkan sebuah gelas wine pada Alexander dan mendentingkan gelas tersebut. Mereka tidak berbicara satu sama lain namun mereka duduk berdekatan.


Hingga Mike datang dan mulai mencairkan suasana.


Setelah acara berakhir, Mike membawa Alexander menuju kamar dimana William berada. William bersama Sandra dan Federick Smith.


Ketika Mike dan Alexander sampai di kamar yang mereka tuju, pria kecil itu telah tertidur pulas.


Alexander mendekati ranjang lalu membelai rambut William dan mengecup kening pria kecil itu.


Air mata Alexander tiba-tiba tergelincir dari kelopak matanya. Ia menyeka air matanya sambil memandangi wajah imut putranya.


Mike, Sandra dan Federick hanya saling memandang dan melempar senyuman melihat adegan mengharukan itu.


“Mike, terima kasih kau merawatnya dengan baik,” kata Alexander.


“Kita akan merawatnya bersama hingga ia tumbuh dewasa dan mandiri,” jawab Mike.


Malam itu, Alexander juga meminta maaf pada kedua mantan mertuanya atas semua perbuatannya.


Ketika Alexander hendak menunggalkan hotel itu, di lobi ia berpapasan dengan Jovita yang telah mengganti gaunnya dengan pakaian biasa. Jovita hanya menunduk seolah-olah ia tak melihat sosok Alexander yang berpapasan dengannya dan hanya berjarak beberapa inchi.


Alexander juga tidak berusaha memanggil Jovita, ia melangkah dengan anggun menuju pintu keluar untuk menunggu mobilnya.


Tiba tiba ponsel Jovita berdering. Ternyata Alexander yang memanggilnya.


Setelah kali ketiga, Jovita membiarkan ponsel itu berdering tanpa menjawabnya. Jovita akhirnya menjawabnya ketika kali keempat ponselnya terus berteriak.


“Temui aku, di kamar empat ratus tujuh,” kata Alexander dengan nada dingin memerintah.


“Maaf, saya tidak bisa.”


“Jovita, jangan uji kesabaranku.”


“maaf, Sir.”


“Jovita, jangan menentangku.”


“Maaf, saya perlu istirahat.”


“Jovita, aku akan....”


Jovita mematikan sambungan panggilan dengan sekali sentuh dan mematikan ponselnya lalu ia mencoba memejamkan matanya.


Di kamar lain di hotel, Prilly tertidur setelah menukar gaun pengantinnya dengan gaun tidur tanpa menunggu suaminya kembali ke kamar. Ketika Mike masuk ke kamar, ia melihat istrinya meringkuk dan tidur saangat pulas. Mike mengecup kening istrinya, kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Tepat jam dua belas malam, Mike membangunkan Prilly.


“Sayang, bangun.” Mike menciumi wajah Prilly berulang-ulang, Hingga Prilly membuka matanya.


Mike tersenyum tepat di depan wajahnya sambil menggenggam seikat bunga.


Seorang pelayan memegang kue ulang tahun yang berbentuk sebuah bangunan kastil berwarna biru muda.


Prilly segera bangkit dan berdiri di depan Mike, seorang fotografer merekam semua keromantisan yang malam itu telah di rencanakan oleh Mike.


“Selamat ulang tahun, Istriku,” kata Mike sambil memberikan seikat bunga.


"Mike, kau mengganggu tidurku,” kata Prilly dengan nada bercand.a “Terima kasih, Suamiku,” kata Prilly senang sambil menerima seikat bunga yang diulurkan Mike. Kemudian ia memeluk suaminya dengan penuh kehangatan.


Mike memberikan pelayan kode untuk memberikan kue ulang tahun pada Mike dan menyalakan lilinnya. “Buat permohonanmu,” kata Mike.


Prilly memejamkan mata dan meletakkan kedua tangannya di depan dadanya, lalu berdoa dengan wajah berseri-seri, bibirnya menyunggingkan senyum. Lalu membuka mata dan meniup lilin. Setelah itu ia memotong kuenya dan memberikan potongan pertama pada Mike. Mike memberikan kado sebuah kotak kecil berwarna biru.


“Sayang, terima kasih. Apa ini?”


“Bukalah.”


Prilly menarik pita di atas kotak tersebut, ternyata isinya adalah sebuah kunci.


“Mike ini?”


“Sebuah kunci.”


“Iya, aku tahu. Tapi kunci apa?”


“Rumah kita.”


“Mike kau menghambur-hamburkan uangmu. Tempat tinggal kita sekarang sudah cukup.”


“Itu tidak cukup untuk kelima putra kita di masa depan.”


"Lima? Tidak, itu terlalu banyak.”


“Sudah ada dua, tinggal menambah tiga, Sayang.”


Prilly tersipu, Mike ******* bibir Prilly. Setelah fotografer dan pelayan meninggalkan ruangan itu, Prilly memprotes kejutan yang di berikan Mike.


“Kau tidak memberitahuku akan memberikan kejutan seperti ini. Rambutku berantakan tadi, aku tidak siap di foto,” gerutunya.


Mike hanya tertawa kecil mendengar keluhan istrinya, ia membelai rambut Prilly.


“Mike, dimana kau membeli rumah untuk kita?”


“Kau sudah beberapa kali melihatnya.”


“Aku?”


“Ya, kastil berwarna biru itu.”


“Mike, kau membeli kastel itu?” Prilly amat sangat terkejut. Suaminya rupanya mengetahui ia beberapa kali melihat iklan di sebuah situs jual beli. Sebuah mansion yang dibangun dengan gaya seperti kastil dan kue ulang tahun Prilly juga sama persis dengan kastil yang dibeli oleh Mike.


“Pembangunan kastil sebenarnya belum selesai, itu masih memerlukan banyak waktu lagi. Jadi mungkin satu atau dua tahun lagi, kita baru bisa menempatinya,” kata Mike. “Terserah seperti apa maumu, kau bisa mengatur interiornya.”


“Sayang, aku sangat bahagia.”


kata Prilly. Jantungnya bahkan seperti tidak bisa lagi menampung kebahagiaan yang meluap-luap di dalam dadanya. Prilly menciumi wajah Mike berulang-ulang.


“Ayo, lanjutkan tidurmu, wanita hamil tidak boleh tidur larut malam,” kata Mike sambil membawa Prilly ke dalam pelukannya.


“Kau yang membangunkanku. Kau harus bertanggung jawab, sekarang aku tidak mengantuk,” rengek Prilly.


“Maafkan aku,” kata Mike sambil mengecup punggung tangan istrinya.


“Mike, ini malam yang indah dan kau akan melewatkan begitu saja?”


“Sayang, kau menawariku? Jangan salahkan aku jika kau besok kelelahan.”


“Hari ini aku sangat bahagia, aku tidak masalah jika kelelahan,” kata Prilly sambil duduk di atas paha suaminya dan wajahnya tampak menggoda suaminya.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, Mike segera memangsa kelinci kecil di depannya. Mereka memadu kasih menghabiskan malam yang hangat, sehangat udara di musim semi.