
Prilly memilih beberapa pasang jas, kemeja dan juga beberapa lembar pakaian santai untuk Alexander, jika di pikir-pikir suaminya itu lebih sering berpakaian formal, Prilly berpikir untuk membuat suaminya lebih terlihat santai sekarang karena ia adalah hot Daddy, setalah mendapatkan beberapa pasang jas, Prilly mendekati tempat di mana dasi di pajang di counter yang sedang ia kunjungi, ia menunjuk dasi berwarna merah maroon dan biru tosca, cocok untuk suaminya, ia juga melirik beberapa penjepit dasi, ia memilih dua penjepit dasi juga untuk suaminya, sedikit terlintas ide untuk mendesain sendiri penjepit dasi spesial untuk Alexander dan ia akan menyematkan nama mereka di balik jepitan dasi itu.
Tetapi untuk saat ini ia lebih baik membeli terlebih dahulu karena suaminya pasti memerlukannya. Setelah membayar seluruh bagang uang di belinya Prilly mengintrusikan Harun untuk mengantar seluruh barang hasil buruannya ke dalam mobilnya.
Kemudian Prilly berpindah ke counter pakaian yang menyediakan berbagai pakaian musim dingin untuk segala usia, toko yang telah Jovita dan Prilly sepakati untuk bertemu dan berbelanja bersama.
Prilly sengaja datang satu jam lebih awal dari waktu yang di sepakati bersama Jovita agar ia dapat memilih pakaian untuk suaminya, sehingga saat Jovita tiba ia tinggal memilih pakaian musim dingin untuk ketiga anaknya.
“Aku merindukan William, Leonel dan Grace,” ujar Jovita setelah mereka bertemu dan saling menyapa.
“William juga merindukanmu tentunya,” jawab Prilly senatural mungkin.
“Aku ingin mengunjunginya,” kata Jovita sambil mengambil sebuah jaket dari bulu angsa yang tampak manis dengan warna soft.
“Su, maksudku, ayahnya, Kak Alex.” Prilly terbata-bata saat hendak mengucapkan kalimatnya. “Kak Alex membawanya tinggal di kediaman Mommy Diana.”
“Kalian tinggal di sana?” tanya Jovita memulai penyelidikannya.
“Kediaman Mommyku sangat dekat, aku tidak perlu repot.” Prilly memberikan jawaban ambigu, tentu saja jawaban itu membuat Jovita menemui jalan buntu, kediaman orang tua Prilly hanya berjarak sekitar 200 meter dari kediaman orang tua Alexander, semua orang juga tahu.
“Kau bisa datang bersamaku jika kau ingin mengunjungi anak-anak.” Prilly menawarkan kebaikan meskipun itu hanya sekedar berbasa-basi.
“Kurasa aku tidak berani menginjakkan kakiku ke kediaman orang tua suamiku,” kata Jovita dengan nada terdengar seperti keluhan.
“Kau berlebihan Jovita, orang tua Kak Alex sangat baik,” ujar Prilly apa adanya, orang tua Alexander memang sangat baik kepadanya sejak ia kecil, bahkan tidak hanya kepadanya, terhadap Grace dan Leonel yang bukan cucu kandungnyapun mereka tidak pernah membedakan antara Grace, Leonel dan William.
Jovita tertawa hambar. “Kurasa, itu pengecualian untukku,” katanya.
Prilly hanya tersenyum simpul sambil tangan dan matanya kembali memilih beberapa lembar pakaian anak-anak kemudian memasukkan ke dalam kantong belanjanya, musim dingin tahun ini memang di beritakan akan datang sedikit terlambat karena efek pemanasan global, namun mungkin suasananya akan berbeda bagi anak-anak, musim dingin kali ini di pastikan akan lebih hangat baginya dan natal tahun ini seharusnya semunya bahagia, berkumpul sebagai keluarga yang utuh.
Prilly yang akhirnya dapat menerima Alexander dan Alexander yang akhirnya bersedia kembali pada orang tuanya, memikirkan hal-hal seperti itu membuat wajah Prilly merona. Setelah selesai berbelanja Prilly dan Jovita duduk berhadap-hadapan di sebuah restoran, tidak ada pembicaraan yang berarti di antara mereka.
“Prilly, bisalah aku meminta tolong padamu?” tanya Jovita memulai percakapan kembali.
“Meminta tolong?”
“Aku dan Alexander... kami, maksudku... Alex tidak pernah kembali lagi ke kediaman kami, ini sudah hampir dua minggu dan aku juga tidak bisa menghubunginya, mungkin jika kau yang menghubunginya ia mau mendengarkanmu, aku perlu berbicara dengannya.” Jovita mulai membuka permasalahan yang mengganjal di benaknya.
“Aku tidak bisa menjanjikan apa pun Jovita,” kata Prilly dengan nada enggan, bagaimana mungkin ia bisa mengizinkan suaminya menemui wanita lain?
“Suamiku mulai berubah sejak aku datang dari singapura, tepatnya sejak aku menyusul punya ke Barcelona, aku tidak tahu apa salahku, ia seperti menghindariku,” kata Jovita.
“Jovita, itu masalah kalian berdua, aku tidak ingin ikut campur, maaf.” Prilly benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana, ia pernah di khianati Alexander, tapi saat itu tidak ada cinta di hatinya untuk Alexander suaminya, ia tidak merasakan sakit hati sedikit pun, ia hanya merasa terhina, tidak lebih dari itu.
Hening menyeruak di antara keduanya, tidak ada yang bersuara. Kedua wanita itu memandangi piring yang berisi makanan mereka masing-masing tanpa minat.
***
Di kediaman orang tua Alexander, pria itu baru saja menidurkan Grace di kamarnya, ia duduk dengan santai di depan laptopnya untuk mengecek beberapa pekerjaannya, sesekali jemari panjangnya di ketukkan ke meja, bibirnya tersenyum lebar meski yang ia hadapi adalah pekerjaan yang menumpuk, pertemuan yang banyak tertunda dan lain sebagainya, kali ini ia mengejar Prilly dengan mengorbankan pekerjaannya.
Alexander menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, sabil mengelus dagunya sendiri yang ditumbuhi bulu-bulu yang belum di cukur, Prilly melarang mencukur habis bulu-bulu di wajahnya, kemudian jemarinya meraih ponsel hendak menghubungi Harun bermaksud untuk mengecek di mana posisi istrinya namun sebuah pemberitahuan muncul di layar ponselnya, sebuah situs berita online mengabarkan kerusuhan terjadi di sebuah Mall, dan Mall itu adalah Mall di mana istrinya sedang berbelanja, seorang pria tak di kenal menembaki secara brutal penjaga pintu masuk dan ia juga menembak beberapa orang di sana, di kabarkan dua orang wanita terluka karena terkena timah panas.
Alexander menutup laptopnya, memanggil nanny untuk mengawasi Grace dan mengambil kunci mobilnya, ia menginjak pedal gas mobilnya tanpa memperhitungkan kecepatannya lagi, saat ini di pikirannya hanya ada Prilly. Bagaimana nasibnya? Apakah korban itu Prilly? Apa istrinya sedang ketakutan? Semua ketakutan berkecamuk di otaknya.
Tidak hanya sampai di situ, seampainya di Mall yang ia tuju, ternyata Mall tersebut di jaga ketat oleh polisi, tidak satu pun orang di izinkan masuk karena penembak itu menyandera seorang wanita, dan mengancam akan menembak kepalanya. Menghadapi hal itu kepanikan Alexander semakin menjadi-jadi, ia meraba pistol di saku celana kainnya, ia memang selalu membawa pistol di mobilnya untuk menjaga dirinya, rasanya ia ingin menembak kepala pria pembuat onar itu, perasaan Alexander sangat menyesal telah membiarkan Prilly pergi berbelanja hari ini, ia mulai merutuki dirinya sendiri. Tidak sabar lagi menunggu dengan keadaan batin yang terus mengkhawatirkan istrinya. Alexander berusaha menghubungi salah satu polisi dengan pangkat tinggi untuk mengirimkan bantuan, ia harus secepatnya memastikan keadaan istrinya meskipun ia harus melewati hujan peluru sekalipun.
TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤
VOTE JIKA SAYANG AUTHOR 😚😚😚😚 HEHEHE
TERIMA KASIH.