Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Berenang



Mengenakan gaun di bawah lutut berwarna biru tua dengan lengan sepanjang siku di hiasi ikat pinggang kecil yang melingkar di pinggangnya Prilly tampak anggun dan cantik, ia memegang sebuah tas di tangannya, kakinya juga mengenakan sepatu hak tinggi yang senada dengan gaunnya, dengan anggun Prilly melangkahkan kakinya memasuki ruangan di mana acara di gelar, Alexander dengan tegap berdiri di sampingnya, telapak tangannya menggenggam erat tangan Prilly seolah-olah tidak ingin melepaskan telapak tangan mungil milik istrinya yang berada di genggamannya itu. Tidak hanya dirinya dan Alexander, di sana juga ada Linlin dan Anthony kakaknya.


“Kau tampak lebih muda dengan gaya rambut seperti ini,” bisik Prilly ketika baru saja mereka mendudukkan bokongnya di kursi yang di sediakan panitia.


“Oh ya? Orang-orang akan mengira kita seumuran,” kata Alexander penuh percaya diri.


“Itu tidak mungkin,” kekeh Prilly, “Aku tidak setua kau, Hubby,” protesnya.


“Aku yang terlihat seumur denganmu.” Alexander mengangkat sebelah alisnya, bibirnya menyunggingkan senyum jahil.


“Itu mustahil.” Prilly menyangkal, tentu saja ia tidak terima.


“Kau tahu nyonya Johanson? Malam ini kulihat kau satu-satunya wanita tercantik di sini." Alexander membisikkan kalimatnya di telinga Prilly membuat Prilly mencubit pinggang Alexander dengan lembut.


“Sepertinya setiap tahun kau mendapatkan penghargaan,” kata Prilly sambil memandang wajah tampan suaminya, ia benar-benar merasa suaminya sangat tampan malam ini, berbeda dengan Alexander yang ia kenal delapan tahun yang lalu, suaminya sekarang entah mengapa begitu tampan di matanya.


“Tahun ini berbeda,” ujar Alexander dengan nada lembut dan tatapan matanya yang begitu meneduhkan hati, tatapan mata Alexander memang tak seindah lautan biru yang mampu menenggelamkan Prilly, namun tatapannya dari manik abu-abu itu kini adalah tempat ia berteduh.


“Apa itu?”


“Tahun ini ada dirimu di sampingku, pencapaian dalam hidupku sempurna,” jawab Alexander dengan nada terdengar sangat amat puas.


“Kau sangat pandai bersilat lidah sekarang.”


Baru saja Prilly menyelesaikan kalimatnya seseorang tiba-tiba datang, orang itu adalah David Brown.


Prilly dan Alexander segera bangkit dari duduk untuk menyapa David.


“Alex, Prilly, apa kabar?” David menyapa kedua orang yang tampak mesra dan mengulurkan tangannya untuk menyalami Alexander.


“Kami baik,” jawab Alexander sembari berlama-lama menjabat tangan David seolah enggan melepaskan.


“Kalian tidak mengundangku ke acara pernikahan kalian, Prilly teman macam apa kau ini?” mengerti apa yang di takutkan Alexander, David mendudukkan bokongnya di bangku yang berada tepat di samping Alexander.


“Maaf, acaranya mendadak dan, kami hanya mengundang keluarga terdekat,” Prilly menjawab dengan nada lembut sambil mendudukkan pantatnya kembali.


“Akhir-akhir ini kau sangat terkenal di media sosial Prilly,” kata David tiba-tiba.


“Benarkah?” Prilly merasa heran, ia telah lama tidak membuka akun media sosialnya, ia sangat sibuk dengan desain perhiasan, suami dan anak-anaknya, hidupnya sangat bahagia tidak ada waktu untuk bermain-main dengan hal tidak penting.


“Kau tidak mengecek?” ada gurat keheranan yang tampak jelas di wajah David.


“Aku tidak memiliki waktu untuk itu,” jawab Prilly dengan nada santai dan di sertai tawa ringan.


“Kau harus mengeceknya nanti,” kata David.


“Dunia media sosial hanya merepotkan.” Menurut Prilly memang demikian adanya.


“Tidak berguna,” imbuh Alexander.


Mereka bertiga terkekeh karena obrolan ringan mereka.


“Baiklah, aku tidak ingin menjadi orang ketiga di sini, aku lebih baik bergabung dengan pria lajang, sampai jumpa Alex, Prilly,” David berpamitan.


“Sampai jumpa,” kata Alexander dan Prilly bersamaaan.


Tidak lama Linlin dan Anthony datang, mereka berempat bergabung dan mulai mengikuti serangkaian kegiatan yang telah di jadwalkan, seperti tahun lalu, Alexander memberikan pidatonya sebagai penerima penghargaan pengusaha tersukses tahun ini. Ia bahkan mengangkat Pialanya dan mengatakan piala itu ia persembahkan untuk istrinya, Prilly.


Alexander Johanson menerima penghargaan di dampingi Prilly Smith, pasangan paling serasi tahun ini. judul berita itu.


“Kau mengatur judul ini bukan?” Prilly telah menebak perbuatan suaminya yang menurut Prilly menggelikan.


“Faktanya begitu bukan?” bibir Alexander menyunggingkan smirknya.



Photo source Google.


Prilly yang sedang duduk bangku taman belakang tempat tinggal mereka terkekeh sambil melepaskan jaket parasut yang di kenakannya, mereka baru saja melakukan joging berkeliling area mansion.


Alexander sangat memperhatikan kebugaran tubuhnya meski tak seintens seperti dulu karena ia memiliki banyak kegiatan di tempat tinggalnya, di sampung harus membagi waktu bersama Prilly yang sangat ia cintai ia juga berkewajiban meluangkan waktunya untuk ketiga anak-anak mereka.


“Kau sangat narsis, astaga! Aku benar-benar tidak menyangka,” Prilly terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


“Aku ingin seluruh dunia tahu kita sangat bahagia,” kata Alexander sambil mendekati Prilly dan bibirnya menjelajahi leher Prilly dengan lembut yang tentu saja membuat bulu kuduk Prilly meremang dan bibirnya mengeluarkan erangan halus.


“Minggu depan kita harus ke New York,” bisik Alexander di telinga Prilly.


“New York?”


“Ya, ke New York, ada pekerjaan di sana.”


“Tapi, William minggu depan ada ujian hubby, aku harus mendampinginya.” Prilly memberi tahu suaminya.


“Aku tidak akan pergi tanpamu,” geram Alexander sambil telapak tangannya meraba gundukan di dada istrinya, bibirnya bahkan membuat tanda kepemilikan di leher istrinya.


“Tidak sayang, pekerjaanmu penting, kau pergilah,” ucap Prilly setengah mengerang dan tubuhnya juga menggeliat.


“Aku enggan tidur tanpamu,” geram Alexander, ia tampaknya menginginkan olah raga pagi itu.


“Kau manja sekarang,” erang Prilly, api gairah di benaknya telah menyala karena sentuhan Alexander.


“Istriku membuatku kecanduan di atas ranjang,” geram Alexander. “Bagaimana jika kita berenang?”


“Ide bagus.”


“Ayo kita coba sesuatu yang baru,” ajak Alexander dengan suara parau, gairahnya membakar jiwanya, tubuh mungil istrinya adalah candu baginya, dan yang pasti ia ingin sekali Prilly hamil, ia ingin menebus kesalahannya, ia ingin merawat wanita pujaaanya hamil, memanjakannya dengan seluruh kemampuannya.


Mereka melepas pakaian yang meteka kenakan di tubuh nereka dan masuk ke dalam air kolam pagi itu, pagi yang hangat, matahari begitu cerah dan cahayanya berkilauan menyinari air kolam dan dua insan yang memadu kasih di dalam air kolam dengan desahan dan erangan yang terlepas dari bibir Prilly, gerakan-gerakan berirama yang di ciptakan Alexander membuat air kolam bergerak seperti riak ombak kecil, riak ombak kecil yang mungkin akan mewarnai rumah tangga mereka.


Sementara Jovita berkutat di depan Laptopnya di depan seseorang, wajahmya tampak bahagia, sesekali ia mengelus perutnyanyang mulai membuncit.


"Sayangku, jika kau tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahmu, maka tidak seorang pun boleh mendapatkan kasih sayang darinya, apa saja yang terjadi dalam hidup kita di atas bumi ini harus adil." gumamnya.


SELAMAT SORE SEMUA 😍😍😍😍


TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤


VOTE JIKA SAYANG AUTHOG ❤❤❤❤


TERIMA KASIH ❤❤❤❤❤