Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Grand Canyon 1



“Mommy, aku ingin pergi bersamamu ke New York,” Grace merengek ketika Alexander dan Prilly mengantarkan ketiga bocah itu menuju kediaman Diana, orang tua Alexander.


“Sayang, tidak ada libur sekolah, kalian tidak bisa bepergian,” bujuk Prilly berusaha memberi pengertian kepada Grace.


“Daddy bisa meliburkan diri kenapa aku tidak?” protes Grace.


“Grace pergi saja kau bersama Mommy dan aku yakin kau tidak akan naik kelas karena kau tertinggal pelajaran.” Leonel menjawab Grace.


“Aku tidak berbicara denganmu,” kata Grace.


Kedua bocah kembar itu terus saja berdebat, sementara William sibuk memainkan kan rubik di tangannya.


“Willy, ingat untuk menjaga adikmu,” kata Prilly berbicara kepada William.


“Mommy, aku mengerti,” kata William dengan patuh.


“Dan Leonel, Mommy mohon kepadamu untuk tidak menindas Grace selama Mommy dan Daddy berada di New York.” Prilly memperingatkan Leonel, tentu saja ia tahu bagaimana Leonel selalu menindas adiknya itu.


“Ayolah Mommy, aku tidak pernah menindas Grace, Grace yang menindasku, dia mengada-ada.” Leonel tidak mau disalahkan.


“Aku tidak pernah menindasmu, kau sering merebut mainan milikku, kau juga merebut kentang di piringku,” cerca Grace.


“Ya Tuhan,” erang Prilly sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, memiliki anak kembar sungguh merepotkan, dan yang lebih merepotkan lagi menurut Prilly, kedua anak itu sama sekali tidak bisa untuk bersahabat, mereka bukan seperti sepasang anak kembar, mereka lebih seperti musuh bebuyutan.


“Kau berbicara omong kosong Grace,” Leonel membela dirinya dari seluruh tuduhan yang gres layangkan.


“Kau tahu Mom? Leonel selalu berkata aku akan menjaga Grace di sekolah tetapi faktanya di sekolah justru dia yang menindasku bahkan dia menindas temanku,” Grace sedang mengadukan saudara kembarnya kepada orang ibunya.


“Grace, kau jangan memfitnahku,” Leonel tidak terima meski sebenarnya yang dikatakan Grace adalah benar adanya.


“Kalian berdua, ya Tuhan. Apa kalian tidak bisa untuk berdamai sebentar saja?” tanya Prilly sambil menggelengkan kepalanya, “Willy, sebagai kakak kau harus menengahi kedua adikmu, jangan biarkan mereka bertengkar,” Prilly memberikan wejangan kepada William putra tertuanya.


“Baiklah, Mommy.” William menjawab.


Alexander yang sejak tadi berkonsentrasi mengemudikan mobil sambil tersenyum-senyum sendiri akhirnya ia membuka suara. “Apa kalian ingin seorang adik?”


“Aku tidak mau memiliki adik,” jawab Leonel cepat tentu saja ia tidak ingin memiliki adik, memiliki saudara kembar saja sudah cukup merepotkan.


“Aku ingin seorang adik perempuan,” ucap Grace tak kalah cepat dari Leonel.


Sementara William tidak bergeming iya masih tetap sibuk dengan rubik di tangannya.


“Willy apa kau tidak ingin adik?” Alexander memastikan putranya.


“Beberapa lagi tidak masalah Daddy,” jawab William acuh tak acuh.


“Beberapa terlalu banyak, Sayang,” kata Prilly sambi bibirnya tersenyum manis.


“Kalian akan mendapatkannya nanti,” ujar Alexander dengan seringai di bibirnya.


“Secepat itu?” Grace tampak begitu antusias.


“Sembilan bulan lagi,” jawab Alexander penuh percaya diri.


Prilly dengan lembut mencubit suaminya Alexander menangkup telapak tangan Prilly dengan sebelah tangannya lalu mengusap besarnya dengan penuh kasih sayang.


Arizona, Amerika Serikat.




Mereka menyewa sebuah helikopter selama berada di Grand Canyon karena tempat itu bukan tempat yang mudah untuk dijelajahi, tidak mungkin mengajak Prilly hiking. Well, akan lebih mudah bagi Alexander untuk menyewa sebuah helikopter, ketimbang membawa seorang wanita mungil mendaki tebing dan ngarai.


Grand Canyon memiliki sekitar 277 mil panjang sungai, hingga 18 mil lebar dan satu mil dalam, jurang besar di Arizona utara benar-benar keajaiban alam. Selama enam juta tahun, Grand Canyon telah berkembang dengan bantuan Sungai Colorado yang perkasa, dan selama berabad-abad, orang-orang dari seluruh dunia telah melakukan perjalanan untuk memandang keagungannya yang merah dan oranye. Dikelola oleh Layanan Taman Nasional dan secara resmi ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO, Grand Canyon meninggalkan sekitar enam juta pengunjung yang terpesona setiap tahunnya.


Tetapi jika berkunjung untuk melarikan diri ke alam terpencil, Anda harus siap, Grand Canyon bisa sangat ramai. South Rim - rumah bagi Grand Canyon Village dan Bright Angel Trail yang sudah usang - sangat populer untuk wisatawan dan pejalan kaki. Di sisi inilah Anda akan menemukan fasilitas terbaik. Untuk istirahat dari keramaian, pergilah ke Rim Utara . Ini adalah tempat berkemah berkemah dan hiking hardcore.


“Bagaimana nyonya Johansen? Apa kau menyukai tempat ini?” Alexander memeluk pria dari belakang menciumi tengkuk Prilly saat itu mereka telah berada di sebuah hotel di Arizona.


Balkon tempat mereka sedang berdiri itu menghadap langsung kak alam terbuka yang menyuguhkan pemandangan alam Grand Canyon dari jauh.


“Aku menyukai udara di sini sangat bagus sejuk, tidak ada polusi di sini,” jawab Prilly ambil dengan pelan menghirup udara yang yang memang terasa segar.


“Kita akan mengunjungi tempat lain setelah, ini bukankah kita telah merencanakan untuk berkeliling dunia?” Alexander mengeratkan pelukannya di tubuh istrinya.


“Jadi, kau benar-benar ingin wujudkan itu?” Prilly menyentuh pergelangan tangan Alexander yang melingkar begitu posesif di perutnya, seolah ia mengeratkan pelukan Alexander, “kau benar-benar ingin mewujudkan impianku untuk berkeliling dunia?” Prilly mendongakkan wajahnya sedikit, Alexander menunduk dan mencium pipi Prilly.


“Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku, Sayang. Kita akan berkeliling dunia berdua, atau mungkin kita membawa ketiga anak kita, atau empat anak kita kelak atau bahkan lima.”


“Lima? Tuhan.... Alexander itu terlalu banyak,” protes Prilly, andai saja Alexander berada di depannya, dipastikan Prilly menatap galak kepada suaminya.


“Kau memanggil apa tadi?” suara Alexander terdengar begitu tidak senang.


“Kau terlalu melebih-lebihkan, dengan cara apa pun aku memanggilmu tetap saja kau yang paling kusayangi, cintaku hanya untukmu,” kata Prilly dengan nada yang terdengar begitu manis sekolah apa yang keluar dari bibirnya adalah murni dari dalam hatinya yang tulus.


“Kau pandai berbicara, ya?" geram Alexander, ia memang tidak bisa marah dengan apapun yang dikatakan Prilly kepadanya.


Prilly hanya terkekeh.


“Jadi, bagaimana?” Alexander berbisik lagi di telinga Prilly, napasnya menyapu sebagian kulit wajah dan leher Prilly membuat bulu kuduk Prilly meremang.


“Apa kita akan menambah beberapa lagi?” Alexander bertanya dengan nada menggoda, ia menjelajah leher Prilly menggunakan bibirnya meninggalkan beberapa kiss mark di sana.


“Aku rasa satu saja sayang cukup, aku tidak sanggup lagi. Demi Tuhan, mereka sangat berisik.” Suara Prilly sedikit mengerang.


“Berisik?" Alexander mengeram sementara bibirnya terus saja menjelajah kulit leher Prilly yang membuat tubuh Prilly sedikit menggeliat, “berisik seperti saat kita membuatnya?”


Prilly menahan kepala Alexander menggunakan kedua telapak tangannya. “Astaga, kau sangat mesum," Ia tertawa ringan.




Photo source Booking.com


TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️❤️


VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤️❤️❤️❤️❤️


FOTO ALEXANDER DENGAN GAYA RAMBUT BARU SUDAH LOLOS REVIEW DI CHAPTER BERENANG ❤️❤️❤️❤️


FOTO LIBURAN DI GRAND CANYON AKAN MUNCUL DI SINI NANTI ❤️❤️❤️❤️


TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️❤️