Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Alex mesum!



Setelah menempuh perjalanan dari John F. Keneedy selama 6 jam 55 menit akhirnya Prilly dan Anne mendarat di Heathrow London, sepanjang perjalanan Prilly hanya menonton film di layar televisinya di dalam pesawat.


Alexander membelikan fasilitas first class untuk mereka berdua agar mudah untuk prilly beristirahat meski pada faktanya prilly tidak dapat memejamkan matanya sedetik pun. Ia sangat merindukan ketiga anaknya, rasanya tidak sabar untuk segera bertemu tiga malaikat kecilnya.


“Mommy aku merindukanmu." Grace langsung menghambur ke dalam pelukan Prilly begitu juga Leonel dan William ketika Prilly menjemput mereka di kediaman Victoria.


“Mommy juga merindukanmu,” kata Prilly sambil menciumi pipi anak gadisnya, bergantian mencium pipi Leonel dan William.


“Di mana daddy? Kenapa daddy tidak ada?” tanya Grace lagi.


“Daddy masih bekerja.”


“Tapi daddy berkata akan datang bersama Mommy." Grace tampak kecewa.


“Oh ya, benarkah Daddy berkata begitu?”


Grace hanya mengangguk.


“Alex berkata, ia akan pulang bersamamu.” Victoria menyahut.


“Oh astaga, Daddy masih ada sedikit urusan, ia akan datang secepatnya." Bujuk Prilly berusaha meyakinkan Grace yang tampak cemberut.


“Panggil Daddy,” rengek Grace manja.


“Baiklah, ayo panggil Daddy.”


Prilly mengeluarkan ponselnya dan memanggil Alexander dengan panggilan video call, ketika wajah Alexander muncul di layar ponselnya, Grace begitu antusias, begitu juga Leonel dan William.


“Daddy, kapan kau pulang?” tanya William.


“Daddy, aku merindukanmu!” Leonel berseru.


“Daddy, aku juga rindu padamu,” kata Grace.


“Aku juga merindukan kalian anak-anak, Daddy akan segera kembali, Daddy memiliki sesuatu untuk kalian.” Alexander menjawab pertanyaan ketiga anak itu dengan sabar.


“Apa itu? Apa itu?” ketika anak itu saling berebut untuk tahu.


“Kejutan,” jawab Alexander lembut.


“Daddy, kapan kau akan tidur bersama kami lagi?” tanya William.


“Kapan kau ingin, Willy?”


“Kapan kau tidak sibuk?” William justru balik bertanya.


“Baik, aku akan segera kembali.”


Mereka masih melanjutkan percakapan menggunakan panggilan Video Call sementara Prilly dan Victoria bercakap-cakap sembari menunggu ketiga anak itu selesai melakukan.


“Anak-anak sangat menyukai Alex, ya?” tanya Victoria, entah itu sebuah pertanyaan ataupun pernyataan.


Prilly hanya menghela nafas, ia merasa tak mampu memberi tanggapan apa pun atas kalimat yang Victoria ucapkan. “Kurasa Alex yang sekarang lebih baik.”


Sekali lagi kalimat Victoria tak mampu Prilly tanggapi, Prilly sangat tahu Alexander memang baik, sejak dulu Alexander adalah pria yang baik, Alexander menjaganya dengan baik sejak ia kecil, kesalahan Alexander hanya satu, menikahi Prilly lalu mengkhianati. Prilly menundukkan wajahnya, entah siapa yang salah dalam pernikahannya dengan Alexander di masa lalu.


“Mommy, ayo kita tunggu Daddy di rumah.” Grace tiba-tiba mengguncang paha Prilly membuat lamunannya buyar seketika.


“Apa yang daddy katakan?” Tanya Prilly.


“Daddy akan kembali malam ini,” jawab Grace.


“Oh ya? Baiklah, ayo kita kembali,” kata Prilly sukses membuat Grace melompat-lompat kegirangan.


Setelah berpamitan pada Victoria, Prilly membawa ketiga anaknya kembali ke tempat tinggalnya, setelah membersihkan tubuh prilly membongkar beberapa hasil belanjanya di New York dan menyerahkan pada pelayan untuk mengurusnya.


Paginya Prilly menuruni tangga kemudian memasuki ruang makan, ua tertegun melihat Alexander sedang menyiapkan sarapan untuk ketiga anaknya. Cekungan matanya tampak dalam, ia juga terlihat sedikit kusut.


“Selamat pagi, anak-anak,” sapa Prilly di sertai senyuman hangat dan tentu saja kecupan hangat untuk ketiga anaknya.


“Mommy, lihat Daddy telah datang!” seru Grace, entah mengapa gadis kecil itu selalu sangat antusias pada Alexander, mungkin Alexander terlalu memanjakan Grace karena Grace satu-satunya anak gadis di antara William dan Leonel.


“Mommy kau tidak mencium Daddy?” Leonel melayangkan protesnya.


“Selamat pagi, Mommy,” Alexander membungkukkan tubuhnya agar sehajar dengan tinggi baddan Prilly dan menyodorkan pipinya tepat di depan Prilly, “daddy juga ingin ciuman selamat pagi,” kata Alexander dengan tatapan menggoda.


Membuat Prilly tak bisa berlari lagi di depan anak-anaknya, ia terpaksa mengecup pipi Alexander dan pipinya menjadi merah merona.


“Terima kasih, Mommy,” goda Alexander dengan suara lirih di dekat telinga Prilly dan sekali lagi seperti ada yang mengalir panas di dalam darahnya.


“Ayo anak-anak makan sarapan kalian dan aku akan mengantarkan kalian ke sekalah,” kata Prilly sambil menarik kursinya.


“Daddy yang akan mengantar kami,” kata Grace. “Bukan begitu daddy?”


“Iya, Daddy akan mengantar kalian.”


“Mommy, kau bersama kami juga, kan?” kali ini William yang bertanya.


“Tentu saja." Alexander menjawab pertanyaan William.


Sekarang posisinya benar-benar terpojok, mantan suaminya memenangkan hati anak-anaknya dan menyeringai penuh kemenangan.


“Alex, sebaiknya kau pulang dan tidur,” kata Prilly ketika ketiga anaknya telah turun dari mobil.


“Aku telah tidur di pesawat.” Alexander menjawab.


“Kau kurang tidur,” proters Prilly, ia tak tega melihat cekungan di mata mantan suaminya yang sangat dalam.


“Kau perhatian sekali.” Alexander menyeringai sambil mulai mengemudikan mobilnya, menuju ke apartemen yang pernah Prilly lelang dengan harga 1£.


“Alex, aku harus bekerja, untuk apa kau mengajakku ke sini?”


“Untuk tidur,” jawab Alexander dengan acuh.


“T-tidur?”


“Kau mengatakan aku harus tidur bukan?”


“Kau bisa tidur sendiri,” sungut Prilly.


“Aku ingin di temani, kau harus bertanggung jawab, aku meninggalkan pekerjaan karena anak-anak kita tidak sabar lagi beremu denganku.”


Prilly benar-benar kehilangan akal, mantan suaminya selalu menggunakan alasan yang tidak bisa di bantah, mau tidak mau ia mengikuti langkah Alexander turun dari mobil dan memasuki bekas tempat tinggalnya dulu.


“Alex kau sangat licik,” keluh Prilly sesampainya di dalam kamar.


“Apa pun akan kulakukan, untukmu dan anak-anak kita.”


‘Anak-anak kita.’ Terdengar manis di telinga Prilly.


“Apa yang kau pikirkan?” tanya Alexander sambil memeluk pinggang Prilly, “temani aku tidur.”


Prilly tidak menjawab, ia membiarkan Alexander menuntunnya ke tas ranjang, merebahkan tubuh mereka, awalnya Prilly tidak bisa memejamkan matanya, ia hanya mendengarkan detak jantung Alexander dan sesekali memandangi wajah tampan Alexander, setelah lelah berpikir Prilly akhirnya tertidur juga karena tertular kantuk Alexander yang tidur dengan nyaman sambil memeluk tubuhnya.


Prilly terbangun karena suara nafas Alexander begitu dekat di lehernya, terlebih lagi sesuatu yang sangat keras menempel di perutnya.


“A-Alex, apa yang terjadi?” Prilly berusaha meronta.


“Jangan bergerak sayang,” geram Alexander sambil mengeratkan pelukannya


“Apa yang kau lakukan?” jerit Prilly.


“Tidak ada, jangan bergerak, aku sedang tersiksa,” geram Alexander.


“Kau mesum Alex!”


“Hmmmm.”


“Apa Jovita telah kembali?”


Alexander tidak menjawab ia justru mengecup leher Prilly.


TAP TAP JEMPOL KALIAN 😂😂😂😂


JANGAN MINTA PART ENA ENA PLISH 🙄


AUTHOR LUPA CARA BIKIN PART KAYA GITU 😁😁😁