Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Lamaran



TAP JEMPOL KALIAN TERLEBIH DULU SEBELUM MEMBACA PLIS!


Tidak memiliki pilihan akhirnya Helena mengganggu ya merupakan tubuhnya di sisi tubuh biarkan Mike melingkarkan lengannya dengan posesif di pinggangnya. tidak lama terdengar suara dengkuran halus menandakan Mike telah terlelap, mungkin karena pengaruh obat hingga tidak memerlukan waktu lama pria malang itu terseret dalam kantuknya. Sementara Helena tidak bisa memejamkan matanya. Ia ingin berbalik memunggungi Mike tetapi ia tidak berani bergerak karena takut membangunkan Mike.


Akhirnya ia memutuskan menatap wajah tampan pria yang jaraknya hanya berapa centil meter darinya. Helena memanjakan indra penglihatannya, menatap lekat-lekat hidung Mike tang tampak kokoh, bentuk bibirnya yang tipis, bulu-bulu halus di wajahnya, alis matanya, dan mata birunya. Andai pria itu membuka matanya, keindahan samudra akan tampak di sana. Sepertinya Helena rela jika harus tenggelam di sana.


Wajah tampan itu memang bukan wajah asli tetapi bagi Helena bagaimanapun bentuk wajah Mike tidak sebuah masalah karena yang terpenting adalah pria itu tetap Mike, ayah Sidney. Pria yang sangat mengagumkan di matanya. Pria yang sangat sopan, emosinya terkontrol dan ia rela mengorbankan apa pun demi keluarganya. Perlahan Helena menyentuh alis mata Mike menggunakan ujung jemarinya.


“Helena...”suara Mike seperti sebuah rintihan, mungkin ia mengigau dalam tidurnya karena demam.


“Ya, aku di sini,” ucap Helena seraya mengecek suhu tubuh Mike. Dadanya kembali di dera perasaan khawatir karena setahu Helena orang yang mengigau saat di Landa demam berarti sakitnya tidak main-main. Sekali lagi Helena menempelkan telapak tangannya untuk memastikan suhu tubuh Mike.


Meskipun suhu tubuh Mike lebih rendah dari pada sebelumnya tetapi Helena tidak bisa begitu saja merasa tenang. “Apa kau butuh sesuatu? Katakan di mana kau !etawa tidak nyaman? Apa tidak sebaiknya kita pergi ke dokter?” Helena memberondong Mike dengan pertanyaan.


Mike menggelengkan kepalanya, ia meraih telapak tangan Helena yang berada di keningnya kemudian menggenggamnya, membawanya ke dadanya. Cara Mike menggenggam telapak tangan Helena begitu posesif namun lembut. “Aku tidak apa-apa,” gumam Mike lirih.


“Jangan berbohong kepadaku,” suara Helena terdengar bergetar, itu karena ia nyaris kembali menangis.


“Helena...” Mike kembali mengeluarkan suara seperti rintihan.


“Mike...” suara Helena tersekat si tenggorokannya.


“Aku hanya kedinginan, peluk aku,” kata Mike.


Helena menurut, ke melepaskan membebaskan telapak tangannya yang di genggam oleh Mike lalu memeluk Mike erat-erat.


Di sisi lain Mike membuka metanya sedikit melihat Helena yang memeluknya erat lalu ia diam-diam menyeringai penuh kemenangan.


Dua hari kemudian kesehatan Mike telah membaik. Hubungannya dengan Helena juga telah membaik, sangat baik. Tidak ada kecanggungan lagi di antara mereka. Tetapi, ada yang ganjil karena Sidney selama itu tidak berada di tempat tinggal mereka. Mike sengaja meminta Sophia untuk merawat Sidney beberapa hari demi menjalankan misinya.


“Aku merindukan Sidney, kapan kita menjemputnya?” tanya Helena pagi itu.


Mike yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua tampak tidak menghiraukan pertanyaan Helena.


“Tampaknya kau tidak merindukan putrimu,” protes Helena.


“Pukul empat sore ini bersiaplah, aku akan menjemputmu. Kita jemput putri kita,” jawab Mike.


Putri kita.


Wajah Helena terasa memanas.


Putri kita, oh Tuhan. Sangat indah kedengarannya. Bagaimana jika kita menambah beberapa lagi?


Helena tanpa sadar menganggukkan kepalanya meski Mike tidak bisa melihat anggukannya karena posisi Mike yang membelakanginya.


“Mike, ini... bukan arah menuju tempat tinggal Sophia,” kata Helena.


“Ya, aku tahu,” jawab Mike.


Helena hanya melirik sekilas ke arah Mike yang sedang mengemudikan mobilnya sambil bibirnya sedikit mengerucut.


“Untuk apa kita ke Brooklyn?”


“Sidney di sini, sayangku,” jawab Mike dengan nada ringan tanpa beban menyebut kata sayang kepada Helena.


Wajah Helena memerah. Diam-diam Mike merasa gemas kepada Helena karena wajah gadis itu selalu merona akhir-akhir ini. Dan itu membuatnya semakin ingin terus menggodanya.


Jembatan Brooklyn merupakan jembatan suspensi yang berada di New York, menghubungkan wilayah Manhattan dan Brooklyn, menyeberangi Sungai East. Biasanya orang-orang akan menyusuri jembatan di kala matahari terbenam untuk memperoleh salah satu pemandangan paling memesona di New York. Dari tengah-tengah Brooklyn Bridge, kita bisa melihat East River dari kedua arah. Kita bisa melayangkan pandangan menuju Manhattan dan Williamsburg Bridges di utara, atau ke Upper Bay di selatan. Jika cuaca sedang cerah, di sana kita bisa melihat Patung Liberty di kejauhan. Pemandangan matahari terbenam dari Brooklyn Bridge memang tiada duanya.


Brooklyn Bridge bisa dicapai dengan jalan kaki dari DUMBO dan Lower Manhattan dan tersedia juga layanan kereta untuk jembatan ini tetapi Mike sepertinya hendak membuat Helena kelelahan dengan mengajaknya berjalan kaki setelah memarkirkan mobilnya di tempat khusus yang tak jauh dari tempat mereka akan berjalan kaki.


“Apa kau bercanda Mike? Kenapa kita ke sini? Bukankah kita akan menjemput Sidney? Apa menikmati senja di sini lebih penting di banding menjemput Sidney?” kembali Helena bertanya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


Sepertinya Mike telah terbiasa dengan mulut cerewet Helena, ia tidak terlalu memedulikan protes Helena. Pria itu justru mempercepat langkahnya sambil memasukkan kedua telapak tangannya yang besar ke dalam sakunya. Sementara Helena ia harus sedikit berlari untuk menyeimbangkan langkah kakinya agar sejajar dengan Mike sambil mulutnya menggerutu.


Mereka tiba di tengah jembatan. Helena terkejut karena di sana berdiri Sidney dan Sophia, Harry berserta Gerald juga Isabella. Sidney segera berlari kecil menghampiri ayahnya, gadis itu memberikan seikat bunga mawar yang menyala kepada Mike tanpa berkata apa-apa.


“Terima kasih, sayangku,” kata Mike sambil meletakkan tangannya di atas kepala anak gadisnya.


Sidney mengangguk.


Mike berdehem. “Helena, maukah kau menikah denganku?” tanyanya sambil menekuk sebelah kakinya, berlutut di depan Helena sambil mengulurkan buket bunga di tangannya kepada Helena.


Helena terkesiap. “K-kau melamarku?” tanyanya dengan ekspresi konyol.


HALAH.......


MIKE AKU GAK BISA DI GINIIN. AKU NGETIKNYA SERASA AKU YANG MAU DI LAMAR.


TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤


TERIMA KASIH ❤️


🍒🍒🍒🍒


BACA JUGA NOVEL TERBARUKU ARISAN BERONDONG 😍