Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Apa aku menyakitimu?



Sophia bangun dari duduknya dengan gerakan Anggun. “Apa kalian ingin bergabung, b-bergabung bersama kami?” Sophia bertanya kepada Alexander dan Prilly. “Oh iya, kenalkan ini Morgan,” lanjutnya memperkenalkan pria yang duduk bersamanya.


Pria itu bermata biru rahangnya tampak kokoh hidungnya yang mancung, bibirnya tipis, rambutnya dipotong sangat pendek nyaris hanya menyisakan setengah centi meter. Dengan anggun pula ia bangkit dari duduknya.


Pria itu tersenyum ramah kepada Alexander kemudian memandang Prilly sekilas, ia kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan kepada Alexander.


“Morgan,” kata pria itu memperkenalkan dirinya, Alexander menjabat tangan pria itu dengan erat.


“Alexander,” kata Alexander dengan nada tegas.


Ketika pria bernama Morgan itu melepaskan jabatan tangannya dan hendak menjabat tangan Prilly tiba-tiba Alexander dengan gerakan yang tidak begitu terlihat, Alexander dengan halus memeluk Prilly dari belakang sehingga lengan Prilly terkurung oleh lengan Alexander. “Perkenalkan ini adalah istriku, Prilly,” kata Alexander dengan tatapan dingin mengarah kepada Morgan.


“Hai, senang bertemu denganmu.” Prilly hanya menatap mata pria itu tidak kurang dari sedetik.


Morgan hanya tersenyum simpul.


“Oh ya, Sophia sejak kapan kau memiliki saudara bernama Morgan? Aku tidak pernah mendengarnya.” Alexander dengan tatapan dingin mengarah kepada Sophia, bibirnya menyunggingkan senyum sinis.


“Oh, kami bersaudara jauh, dia keluarga ibuku maksudku... dia sepupuku." Sophia tampak tergagap, mungkin kemampuan aktingnya telah hilang karena ia telah terlalu lama pensiun dari dunia keartisan.


“Jadi, apa kalian ingin bergabung bersama kami?” Sophia kembali ke tempat duduk, pria bernama Morgan itu juga kembali ke tempat duduknya.


Alexander masih tersenyum tipis. “Aku ingin menikmati makan malam yang romantis bersama istriku. Jadi, kami tidak ingin bergabung bersama kalian," kata Alexander sambil meregangkan pelukannya dari tubuh Prilly. “Baiklah, Sophia, Morgan, sampai jumpa.”


“Baiklah, Prilly sampai jumpa,” kata Sophia. “Besok aku akan menemuimu, bukankah kita akan berbelanja bersama?” Sophia tampak berusaha mencairkan suasana, ia jelas tahu situasi yang sekarang terjadi.


“Baiklah sampai jumpa besok Sophia,” jawab Prilly dengan nada senatural mungkin. Meski itu hanya dugaannya, namun batinnya terasa berdetak tidak menentu.


Prilly nyaris kehilangan fokusnya ia hampir tidak bisa menelan makanan yang tersaji di depannya tetapi ia tidak ingin menyakiti Alexander, ia bersusah payah bersikap sebaik mungkin dan sebiasa mungkin Prilly juga bertingkah selayaknya tidak terjadi apa-apa. Mereka melalui makan malam dengan suasana hangat seperti hari-hari biasa bersama Alexander, dengan penuh kasih sayang Alexander memotongkan daging steak untuk Prilly kemudian ia juga beberapa kali menyuapi Prilly dengan makanan dari tangannya.


“Setelah ini kita akan pergi berjalan-jalan mengelilingi New York, katakan kau ingin ke mana?” Alexander mengangkat gelasnya kemudian meneguk air putih di dalam dari dalam kelas.


Prilly tampak berpikir sejenak, kemudian Prilly tersenyum dan menatap Alexander ia menggumam “Empire State Building.”


“Baiklah jika kau ingin ke sana.” Alexander langsung menyetujui.


Prilly mengangguk seraya tersenyum manis. Setelah selesai menyantap makan malam dua sejoli itu menuju gedung Empire State Building. Mereka berdua berdiri diatas gedung itu seperti mungkin satu tahun yang lalu saat Alexander mengejar Prilly hingga ke New York.



Image & Informasi source Google.


Siapa yang tidak mengenal bangunan yang menjadi ikon New York City. Bangunan yang memiliki ketinggian 381 meter ini akan tampil lebih memesona setiap malam.


Pada hari kemerdekaan Amerika Serikat, 4 Juli, lampu yang ada di menara akan dinyalakan dengan cahaya berwarna merah, putih, dan biru. Bahkan pada acara St Patrick's Day, cahaya lampu bersinar dengan warna hijau dan oranye seperti bendera Irlandia. Beberapa malam di sini akan menampilkan pertunjukan musik dengan cahaya penuh.


Prilly menatap indahnya kota New York yang di terangi dengan cahaya lampu malam, sementara Alexander berdiri di belakangnya sambil memeluk pinggang Prilly lagu Alexander tepat berada di atas kepala Prilly. Cukup lama mereka terkurung dalam keheningan, hanya deru nafas mereka yang sesekali terdengar berat.


“Katakan sayang kenapa kau ini kita ke sini?” Suara Alexander memecah keheningan di antara mereka berdua.


Saat ini batin Prilly seperti berada di dalam pertempuran, entah karena kehadiran pria bernama Morgan atau karena ia takut Alexander juga memikirkan hal yang sama tentang pria bernama Morgan itu. Prilly dengan gerakan halus membalikkan tubuhnya menghadap Alexander, mendongakkan kepalanya kemudian ia juga memindahkan lengannya, mengalungkannya di leher Alexander, menatap dalam mata Alexander di antara cahaya yang tak begitu terang.


“Di sini tempat pertama kali aku merasakan... entah di mana pastinya. Tetapi, sepertinya di sini, ini adalah tempat pertama kali aku merasakan jantungku berdebar-debar karenamu,” kata Prilly lirih.


“Terima kasih telah membuka hatimu untukku.” Alexander menyatukan kening mereka.


“Alex, bisakah kita seperti ini? Selamanya? Aku ingin dunia benar-benar....” tiba-tiba air mata Prilly tergelincir dari kelopak matanya.


“Kenapa kau tiba-tiba menangis?” Alexander bertanya dengan suara lirih, ibu jarinya menyeka air mata Prilly.


“Berjanjilah.” Pinta Prilly dengan kata lemah.


“Aku tidak akan meninggalkanmu, bahkan jika kau memintaku untuk meninggalkanmu. Aku tidak akan mampu, jangan berpikir terlalu banyak,” jawab Alexander sambil terus menyeka air mata Prilly yang bagaikan aliran anak sungai di pipi lembutnya.


Prilly menghela napasnya. “Ayo kembali London,” ucap Prilly tiba-tiba.


Alexander terdiam, pria itu juga tampak menghela napasnya begitu dalam lalu menghempaskan menghembuskannya perlahan. “Aku masih memiliki beberapa urusan di sini, bisakah kau bersabar sebentar saja beri aku waktu dua hari untuk menyelesaikan urusanku apakah kau mau bersabar?”


Prilly kembali menghela napasnya. “Hanya dua hari, baiklah aku tidak ingin lebih lama lagi di sini,” kata Prilly air matanya bahkan semakin mengucur deras meski ia sama sekali tidak terisak.


“Apa aku menyakitimu?” Alexander membawa Prilly ke dalam pelukannya.


Prilly hanya menggeleng. “Ayo kembali hotel." kata Prilly tiba-tiba, suaranya begitu rendah seperti tak berdaya.


APA YANG BIKIN PRILLY BEGITU SEDIH????


TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️


RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️


JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️


TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️