
Prilly dan Anne mendarat dengan mulus di John F. Keneedy dengan mulus, ia segera di sambut oleh Sophia.
“Oh Prilly, aku sangat merindukanmu.” Sophia memeluk Prilly. “Bagaimana kabarmu?” tanya Sophia.
“Aku sangat baik,” jawab Prilly sambil menyeringai senang.
“Kau memotong rambutmu?” Ini sangat cocok untukmu.” Sophia mengomentari gaya rambut Prilly.
“Benarkah?” Prilly mengelus ujung rambutnya sendiri.
“Kau tampak seperti anak sekolah menengah atas, astaga memiliki tubuh mungil memang menguntungkan,” kata Sophia.
“Kau berlebihan, usiaku 28 tahun sekarang,” protes Prilly.
Sophia tertawa lepas, mereka memasuki sebuah mobil mewah, dengan pengawalan ketat. Saat ini ayah Harry bukan lagi seorang presiden namun baik ayah Harry maupun Harry, mereka masih menggeluti dunia politik.
“Prilly apa kau masih mendesain perhiasan?” tanya Sophia yang duduk di samping Prilly.
“Sayang sekali, aku hanya mengeluarkan satu atau dua desain dalam setahun belakangan ini, aku sangat sibuk.”
“Prilly, kau menyia-nyiakan bakatmu,” kata Sophia.
“Aku akan mengusahakan agar bisa membuat desain kembali, apa kau ingin memesan desain khusus? Aku akan memberimu harga spesial,” kata Prilly dengan nada bercanda.
Kedua orang itu terus bercakap-cakap hingga mereka tiba di sebuah hotel mewah, “kau istirahatlah di hotel ini, dan aku juga sudah menyiapkan mobil beserta sopir untuk keperluanmu di sini,” kata Sophia.
“Sophia, aku bisa tinggal di.” Prilly hendak menolak, selama di New York ia berniat tinggal di tempat tinggalnya dan Mike dulu.
“Tidak.” Sophia memotong ucapan Prilly. “Kau harus bersenang-senang di sini, nikmati waktumu. Kau tidak bekerja dua puluh empat jam, malam kau bisa bersenang-senang, aku dan Harry akan menemanimu nanti saat Harry memiliki waktu kosong.”
“Tidak Sophia aku takut merepotkanmu,” tolak Prilly dengan halus, bagaimana tidak, ia datang ke New York bukan untuk bersenang-senang, tujuannya datang adalah untuk pekerjaan.
“Prilly, kau tahu aku tidak suka di tolak." Sophia menatap Prilly dengan tatapan tidak senang.
“Sophia, kau masih pemaksa,” keluh Prilly dengan sedikit tawa ringan.
“Hanya kepadamu, karena kau adalah adikku,” jawab Sophia. “Nanti kita berbicara lagi, kau istirahatlah dulu, kau pasti lelah setelah perjalanan panjang.”
“Terima kasih, Sophia.”
Sophia adalah salah satu orang yang terus membantu pencarian Mike hingga kini, tentu saja berkat bantuan Harry karena koneksi Harry sangat banyak di seluruh negara di berbagai penjuru dunia.
Sesampainya di dalam kamar tempat mereka menginap, Anne dan Prilly tak mampu memejamkan mata karena selama berada di dalam pesawat mereka telah tidur.
“Sepertinya kita harus sedikit bersenang-senang,” guman Prilly.
“Tidak hari ini, besok kita ada pertemuan pukul sembilan pagi,” Anne menolak usul Prilly dengan tegas. “Aku akan memesan makanan agar kita bisa tidur nyenyak setelah kenyang,” kata Anne sambil mengangkat gagang telefon dan memesan beberapa makanan untuknya dan Prilly.
Prilly mendengus. “Kupikir ini kesempatan bagus, aku bisa bersenang senang dan terbebas dari Alex yang menyebalkan itu,” gerutu Prilly.
“Dia begitu gigih mendekatimu.”
“Dia hanya terobsesi padaku,” kata Prilly lirih, entah kenapa kepahitan justru menghampiri perasaannya.
“Kau tidak ingin memberi dia kesempatan kedua?”
“Alex beristri.”
“Jadi jika ia tidak beristri?”
“Entahlah, anak-anak sangat dekat dengannya, aku tidak tahu harus bagaimana.”
“Bukankah kebahagiaan anak-anak yang utama?”
“Tapi tidak dengan mengorbankan rumah tangga wanita lain,” jawab Prilly tegas.
“Aku tidak mengerti masalah rumah tangga, tapi kupikir jika Alex memang mencintaimu dan kau juga bisa mencintainya, kalian pasti akan menemukan jalan, tidak peduli siapa yang harus berkorban dan siapa yang harus di korbankan.”
“Tapi, aku tidak mau menjadi penghancur rumah tangga orang lain.”
“Aku tidak mau menyakiti Jovita,” guman Prilly lirih, tak terdengar oleh Anne, meski sebenarnya Prilly sadar ia telah menyakiti Jovita.
Sekarang pikiran Prilly mengembara, ia tahu Alexander masih menginginkannya, entah cinta atau obsesi tapi di pastikan pria itu akan mengejarnya tanpa ampun. Ia paham betul perangai Alexander, pria itu tidak bisa di tolak.
Memikirkan hal itu, Prilly justru semakin frustrasi karena mengingat status Alexander sekarang. Jovita adalah wanita yang pernah menolong William, Jovita adalah wanita yang baik, Jovita adalah wanita yang mampu mengubah Alexander.
Tiba-tiba ia merasa kesal pada dirinya sendiri, mengapa Alexander menghianatinya dulu? Mengapa Alexander bisa berubah saat bersama Jovita? Mengapa bukan ia yang bisa mengubah Alexander?
Jovita lebih sempurna di banding dirinya, jadi untuk apa Alexander mengejar dirinya laga? Pertanyaan-pertanyaan itu bertubi-tubi menghujani otaknya, rasanya Prilly seperti nyaris gila memikirkan nasibnya sendiri.
Mendengus kesal, ia meninggalkan Anne yang sedang mengawasi petugas hotel yang sedang menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
Prilly memasuki kamar mandi dan merendam tubuhnya di dalam bath tube dengan air hangat, rasanya hidupnya kini sangat berantakan. Ia harus segera mengakhiri semua ini, menyingkirkan Alexander sejauh mungkin dari hidupnya dan anak-anaknya.
Bagaimana caranya?
Hanya dua kata itu membuat Prilly rasanya ingin menenggelamkan tubuhnya di dalam air, pria menyebalkan itu sekarang telah menghantui pikirannya, bayangan Alexander seperti mengikutinya, Prilly memukul-mukul pelan kepalanya dengan pelan.
“Bodoh!” umpatnya pada dirinya sendiri.
Alexander Johanson, Photo by Google
Sementara di London, Alexander sedang memeriksa beberapa berkas sambil menekan pelipisnya. “Seandainya tubuhku bisa di bagi dua,” gerutu Alexander.
“Alex sepertinya kau harus segera pergi ke singapura, saham di sana anjlok total, kau harus segera mengatasinya,” kata Jovita, ia sedang berkutat dengan laptop di depannya.
“Aku tidak bisa pergi, cabang di Barcelona lebih membutuhkanku,” jawab Alexander sambil mengerutkan keningnya.
“Kalau begitu biar aku yang mengurus cabang di Singapura,” ucap Jovita cepat.
“Tidak, kau baru kembali beberapa hari yang lalu, aku tidak mau kau kelelahan.”
“Tidak masalah,” kata Jovita.
Alexander tampak berpikir keras, alisnya berkerut dalam.
“Cabang di sana memerlukan penanganan khusus, itu tidak akan bisa ditangani dalam satu atau dua hari, mungkin butuh kepala cabang baru,” kata Alexander. “Apa kau yakin akan tetap pergi?”
“Mau bagaimana lagi?”
Alexander menekan pelipisnya. “Kau bisa pergi bersama Danny, aku juga akan mencarikanmu seorang asisten pribadi untuk mengurusmu,” kata Alexander.
“Berlebihan Alex, aku bisa mengurus diriku sendiri.”
“Tidak, Asia sangat berbeda dengan Eropa kau mungkin akan kesulitan di sana, lagi pula di sana pasti sangat panas.”
“Baiklah terserah Kau saja,” kata Jovita. “Jadi kapan kau akan berangkat?”
“Kurasa lebih cepat lebih baik, aku akan mengutus Reymond untuk mengurus pekerjaan di sini.” Raymond adalah wakil di perusahaan milik Alexander.
“Sebelum kau ke singapura bisakah kau memberiku makan?” Alexander tiba-tiba berada di belakang tubuh Jovita.
“Alex, aku dalam masa periode.”
“Sayang sekali.”
Jovita mencubit dengan lembut lengan suaminya, sementara di belakang tubuh Jovita Alexander tersenyum pahit, pahit karena harus berpura-pura bahwa perasaanya kini bebeda.
SELAMAT SORE SEMUA 😍😍😍
SEMOGA BAHAGIA SELALU 😚😚😚
JANGAN LUPA TAP JEMPOL KALIAL PLISH 🙄🙄🙄