
Sementara di sebuah club yang dulu biasa di datangi oleh Alexander, Prilly sedang memeluk seorang pria di tengah bisingnya musik yang memekakkan telinga, sesekaali tubuhnya oleng karena terlalu mabuk dan pria itu dengan sigap menangkapnya dan membenarkan posisi tubuh Prilly agar kembali berdiri dengan normal.
“Kau tahu? Kau mirip mantan suamiku yang sangat menyebalkan, hahahaa.” Racau prilly yang berada dalam gendongan seorang Pria menuju sebuah mobil.
“Pria itu sangat menjijikkan, kau tahu? Dia menghianatiku berulang kali, aku benci padanya...." Racau Prilly lagi. “Sayangnya, ia tidak setampan kau tuan, dia pria yang menyebalkan, ia bahkan kemarin memukul bokongku, dia sangat kurang ajar! Dia benar-benar pria yang tidak bermoral bukan?” Prily terus saja meracau.
Pria itu tidak membalas satupun perkataan Prilly, ia mendudukkan Prilly di bangku sebelah kemudi.
“Harun, kau telefon Jovita, katakan padanya aku mendadak pergi ke Barcelona,” kata pria yang hendak masuk ke dalam mobil milik Prilly, pria itu tak lain adalah Alexander, orang suruhannya yang ditugaskan mengikuti prilly melihat Prilly memasuki club sendirian sepulang ia dari bekerja.
Alexander langsung menyusul mantan istrinya, ternyata wanita itu bersama teman teman sosialitanya, namun mereka semua telah mabuk, tidak ada jaminan wanita lugu itu bisa menjaga dirinya dan benar saja, buktinya sesampainya Alexander di sana Prilly telah mabuk hingga tak mampu mengangkat kepalanya hingga tergeletak di atas meja.
Alexander membawa Prilly ke apartemen tempat tinggal miliknya yang pernah Prilly lelang dengan harga 1 Poundsterling, Alexander tidak mungkin membawa Prilly kembali ke tempat tinggal Prilly, bagaimanapun juga ia tidak ingin anak-anak Prilly melihat ibunya begitu buruk, setelah mabuk Alexander yakin besok pagi wanita ini pasti akan bangun setelah matahari telah tinggi dan mengeluhkan kepalanya yang sakit.
Sayangnya saat dalam pengaruh alkohol, menurut Alexander, Prilly sangat menyebalkan, ia belum pernah menjumpai wanita mabuk dengan gaya seperti itu, di samping mulutnya yang terus mengatainya, Prilly juga terus menggeliat di badannya, membuat Alexander merasa kembali ke masa lalu saat ia dan Prilly berstatus suami istri, di mana ia membuka segel keperawanan milik wanita mungil itu, di mana ia mengajarkan Prilly bagaimana cara bercinta dari nol.
Ketika Prilly membuka matanya, ia sangat terkejut terlebih lagi ia sedang berpelukan dengan seorang pria yang bertelanjang dada, dan pria itu adalah Alexander manta suaminya. Prilly sontak melepaskan pelukannya seraya mendorong tubuh Alexander dengan kasar. “Alex, apa yang kau lakukan di ranjangku?” Suara prilly melengking hingga Alexander yang sebenarnya telah terbangun sejak lama mengerutkan keningnya, sambil ia tertawa pelan.
“Kau memelukku sangat erat hingga aku hampir tak bisa bernapas,” jawab Alexander dengan tenang.
“Pergi kau dari rumahku!” Bentak Prilly sambil berusaha duduk.
“Buka matamu lebar-lebar, ini rumah siapa?”
Prilly mengamati ruangan itu dan ia mulai tersadar bahwa tempat itu bukanlah mansion miliknya.
“Kita dimana?” tanya Prilly panik.
“Kita berada di barcelona sekarang,” goda Alexander.
“Bohong!” ucap Prilly, tentu saja ia mengenali ruangan itu, ruangan bekas kamarnya dulu, bahkan kamar itu masih tidak berubah. Prilly menekan pelipisnya, kepalanya mulai berdenyut hebat.
“Sakit bukan? Bagaimana nasibmu jika aku tidak menyusulmu? Apa kau akan berakhir di ranjang bersama pria asing lalu masuk ke dalam hedline berita? Atau mungkin kau di peras karena fotomu akan disebar luaskan,” ejek Alexander.
“Diam kau, Alex!” desis Prilly.
Alexander meraih tubuh Prilly membawanya ke dalam dekapannya. “Ceritakan padaku, untuk apa kau merusak dirimu dengan alkohol?”
“Bukan urusanmu,” jawab Prilly ketus namun ia tak menolak dekapan Alexander.
“Urusanku karena kau adalah wanita yang melahirkan William,” kata Alexander dengan nada penuh kasih sayang.
“Aku merasa nyaman saat mabuk, aku tidak tertekan dan aku merasa bisa berhenti memikirkan Mike,” kata Prilly lirih.
"Jau masih ingin mencarinya?"
Prilly mengangguk.
"Aku akan membantumu," kata Alexander. “Tapi mulai sekarang aku akan menemanimu, berbahaya pergi ke club sendirian, apalagi kau tidak bisa mengontrol emosimu saat di bawah pengaruh alkohol,” lanjutnya.
“Tidak, aku bisa minta kakakku untuk menemaniku,” Prilly menolak.
“Jovita akan salah paham.”
“Aku akan mengurusnya, dia pasti mengerti." Alexander tampak begitu yakin istrinya akan mengerti.
Hening sejenak, hanya suara deru bapas mereka yang terdengar.
“Alex...."
“Hmm...."
“Apa tadi malam kita melakukan hal yang salah?”
“Tidak ada yang salah, semua yang terjadi adalah hal yang seharusnya.”
“Aku yakin kau mencuri kesempatan dariku.” Prilly terisak. “Aku telah menghianati Mike.”
Alexander justru terkekeh, ia tak menyangka mantan istrinya masih saja polos, apa ia tidak merasakan sesuatu yang lain di bagian tubuhnya? Apa ada jejak cairan di bagian area pribadinya?
“Alex kau memang ba**ngan.” Prilly semakin terisak di dalam dekapan Alexander.
“Tidak ada yang terjadi tadi malam, hanya saja kau hampir memperkosaku, kau nyaris membuatku lepas kendali dan menghianati istriku, lihat aku, ini tidak kan hilang dalam waktu tiga hari,” kata Alexander menjelaskan pada Prilly seraya menunjukkan betapa banyaknya kiss mark di dada dan leher Alexander.
Melihat kiss mark yang bertebaran di leher dan dada Alexander sontak membuat Prilly memerah. “Aku... aku tidak melakukannya,” bantah Prilly, tentu saja ia tidak mengingatnya dan ia sangat malu untuk mengakuinya.
“Kau harus bertanggung jawab, aku tidak mungkin pulang dengan kiss mark buatanmu ini,” kata Alexander dengan seringai licik di matanya. Tadi malam ia dan prilly bercumbu hingga bibir mereka nyaris bengkak karena terlalu banyak berciuman, ia juga nyaris hilang kendali jika saja Prilly tidak menggumankan nama Mike.
Prilly menarik selimut dan mengubur kepalanya di dalam selimut, wajahnya telah terbakar merah merona, ia ternyata sangat binal saat mabuk, ia bahkan menggoda mantan suaminya.
“Aku akan membuatkanmu makanan, jika kau mampu berdiri, bersihkan tubuhmu di kamar mandi, tapi jika tidak, istirahatlah,” kata Alexander sambil bangkut dan meninggalkan kamar menuju ke dapur di mana Harun telah membelikan banyak bahan makanan untuk beberapa hari Alexander memulihkan tanda di lehernya.
Prilly terpaksa bangkit dari tidurnya ia menuju kamar mandi, setelah membersihkan tubuhnya ia memaksakan dirinya menuju dapur, ia mengenakan kemeja milik Alexander yang ia ambil di walk in closet, hanya ada beberapa kemeja di sana, dan Prilly memilih kemeja berwarna putih.
Ia menjumpai Alexander sedang memanggang beberapa lembar roti tawar dan menyeduh dua gelas teh lemon hangat, setelah semuanya siap Alexander menghidangkan di depan Prilly. “Aku tidak begitu pandai membuat makanan,” katanya.
“Terima kasih,” jawab Prilly canggung.
Mantan suami istri itu kini berhadap hadapan memakan sarapannya dengan suasana canggung, itu adalah pertama kali mereka berinteraksi begitu lama dan hanya berdua.
Setelah selesai memakan sarapan, Prilly dengan hati-hati menyampaikan keinginannya untuk kembali ke tempat tinggalnya. “Alex, maaf, aku harus kembali, anak-anak pasti mencariku.”
“Harun akan mengantarmu,” kata Alexander sambil mengulurkan satu biji aspirin beserta segelas air putih pada Prilly. “Redakan sakit kepalamu dulu.”
“Terima kasih,” guman Prilly, segera ia meminum obat yang Alexander berikan, “maaf aku tidak bisa bertanggung jawab.”
“Kalau begitu kau memiliki hutang padaku,” jawab Alexander dengan senyum kemenangan.
“Alex!” Prilly membeliak karena kesal dan juga malu.
TAP JEMPOL KALIAN PLISH 😚😚😚😚😚