
Di perusahaan milik Alexander, pria itu sedang menghadapi laptop sambil rahangnya terkatup rapat, wajahnya tampak dingin dan kaku, seperti Alexander di masa lalu. Jovita yang berada di ruangan itu tak berani menanyakan apa pun karena ia sendiri ketakutan melihat wajah suaminya yang menggambarkan mood buruknya, pria itu beberapa kali memanggil Harun dan Danny, ia memarahi siapa pun walaupun hanya karena kesalahan yang tak berarti. Alexander bahkan membatalkan pertemuan yang sudah terjadwal jam sebelas siang.
Melihat Alexander yang begitu mengerikan Jovita merasa bergidik, ia seperti tak mengenal Alexander yang selama lima tahun telah menjadi suaminya, ia merasa melihat Alexander yang dulu, dingin, kaku dan selalu bersikap otoriter.
Alexander mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, memasukkan benda itu ke dalam saku jasnya dan bangkit dari duduknya, “sayang, jangan lupa janjimu pada Prilly, kau pergilah makan siang dengannya, Harun telah memesankan tempat untuk kalian, Danny akan mengantarkanmu, jangan pergi sendiri,” Alexander bahkan tidak pernah mengatur Jovita seperti ini selama mereka menikah.
“Baiklah sayang, terima kasih,” ucap Jovita, ada rasa bahagia karena Alexander memberinya perhatian.
“Aku ada urusan penting, aku akan kembali sore atau malam.”
Jovita mengangguk, ia melepaskan kepergian Alexander dengan tatapan heran, karena sejak ia kembali dari Singapura suaminya terlihat terus saja murung, suaminya bersikap seperti pribadi yang dulu pertama kali ia jumpai, namun kali ini Alexander seperti sedang menanggung beban berat yang enggan di bagi dengan siapa pun.
Tidak ingin berpikir banyak apalagi membayangkan kemungkinan suaminya bermain ****** seperti masa lalu. Jovita meraih tasnya, memasukkan barang-barang yang ia perlukan ke dalamnya lalu mengirim pesan pada Prilly untuk memastikan rencana mereka makan siang bersama.
****
Photo sourch Instagram.
Alexander sedang mencium paksa bibir Prilly sambil menggeram, ia sangat kesal pada istrinya itu, tadi malam saat ia hendak menyusup ke dalam kamar Prilly, istri kesayangannya itu justru mengunci pintu kamarnya, padahal setahu Alexander Prilly tidak pernah melakukan itu, sejak kecil ia tidak pernah mengunci kamarnya. Alexander yakin istrinya itu sengaja menghukumnya, dan itu membuat moodnya hancur hingga harinya menjadi sangat suram karena istrinya tidak mengerti kerinduannya.
“Alex lepaskan!” Prilly terus menolak Alexander yang menciuminya dengan sedikit kasar.
“Kau sangat nakal, kau harus di hukum,” geram Alexander.
“Apa salahku?” sungut Prilly tidak terima.
“Aku merindukanmu, tapi kau tidak peduli,” geram Alexander.
“Kau hanya ingin tubuhku,” desis Prilly.
“Katakan sekali lagi Mrs. Johanson.”
“Alex, kau hanya ingin tubuhku!” Tuduh Prilly pada suaminya.
“Berani sekali, hmmmm... siapa mengajarimu?” Alexander melahap bibir nakal Prilly yang terus mengatainya.
Ciuman yang didominasi Alexander yang sedikit kasar itu begitu panas dan mulai berkobar membakar gairah kedua insan yang dimabuk asmara.
“Jangan mengataiku, tentu saja aku menginginkan tubuhmu, kau istriku, wajar aku ingin tubuhmu, tapi ada yang lebih penting dari itu, aku ingin semua darimu, tubuhmu, hatimu, cintamu, aku ingin semuanya,” bisik Alexander saat tautan bibir mereka telah terlepas.
“Kau tidak menelefonku, kau tidak menanyai kabarku!”
“Kau sangat posesif, ya?” Alexander mengecup kening prilly, lalau membawa istrinya duduk di tepi ranjang sambil memeluk tubuh mungil Prilly.
Prilly mengatupkan bibirnya karena kesal, “mencintaimu membuat jantungku sangat sakit,” ucap Prilly lirih.
“Aku tak memberimu kabar itu karena aku sangat sibuk, aku mengabaikan pekerjaan untuk mengejarmu, sekarang kau telah menjadi milikku, banyak sekali pekerjaan yang telah tertunda harus segera diselesaikan, apalagi Harun juga aku tugaskan untuk menjagamu, aku sedang mencari satu sekretaris baru untuk membantuku.” Alexander menjelaskan pada istrinya yang manja. “Mulai sekarang jika aku tidak menghubungiku, kau panggil aku lebih dulu atau kau panggil Harun jika aku tidak menjawab panggilanmu, mengertilah sayang.”
“Alex, aku ingin kau menjadi milikku saja.” Prilly justru terisak.
“Aku serakah, ya?” tanya Prilly.
“Aku suka keserakahanmu, Sayang,” kata Alexander mengecup pucuk kepala Prilly. “Aku suka keserakahanmu. Tapi, aku merasa sakit hati saat kau mengatakan kau membenciku pada Harun.”
Prilly mendongakkan wajahnya dan matanya menatap wajah Alexander dengan tatapan salah tingkah, “Harun mengatakannya?” tanya Prilly lirih.
“Tentu saja,” kata Alexander sambil menghapus sisa air mata istrinya.
“Aku tidak serius!” Prilly membela dirinya.
“Aku tahu. Tapi, jangan bercanda dengan kata-kata itu, aku tidak mau menjadi orang yang kau benci,” ujar Alexander.
“Maafkan aku, aku hanya emosi,” ujar Prilly lirih.
“Kali ini kumaafkan, tapi lain kali akan kugigit hingga bibirmu bengkak, Bersiaplah, aku akan mengantarmu makan siang,” kata Alexander.
“Aku tidak ingin pergi, aku ingin bersamamu saja, aku masih merindukanmu,” erang Prilly.
“Aku sudah memesankan restoran untuk kalian, aku akan mengantarkanmu, aku juga akan menjemputmu, lalu kita nikmati waktu kita.”
“Alex... aku...."
“Tidak ada Alex di sini,” sela Alexander cepat.
“Hubby,” erang Prilly sambil mendekatkan wajahnya dan menciumi bibir Alexander, ciuman penuh kerinduan, kemudian ia mendorong tubuh Alexander dengan lembut hingga tubuh Alexander terbaring di atas ranjang dan Prilly berada di atas tubuh suaminya, membuang seluruh kain yang melekat di tubuh mereka berdua, dan menyatukan kedua tubuh, Prilly mulai menggerakkan pinggulnya menari penuh gairah hingga mereka mencapai puncak bersama-sama.
“Aku sangat mencintaimu." Alexander membisikkan dengan lembut kalimat itu di telinga Prilly saat keduanya telah terkulai lemas. “Ayo bangun, kau harus makan siang,” kata Alexander.
“Hubby, aku enggan.”
“Patuhlah, sayangku,” kata Alexander dengan nada membujuk.
Akhirnya Prilly mengikuti apa kata suaminya, ia bersiap untuk makan siang bersama Jovita, Alexander mengantarkannya menggunakan mobil sport milik Prilly, sebuah Aston Martin DB11 V8 yang berwarna Silver.
Photo sourch Google
Prilly melingkarkan lengannya di pinggang Alexander yang dengan lembut melajukan mobil yang di kemudikannya, sesekali Prilly merambat dan menciumi Alexander, dan sesekali juga di perhentian rambu lalu lintas mereka mencuri waktu untuk saling bercumbu.
Dulu mereka menikah tanpa berpacaran terlebih dulu, sekarang pun demikian, mereka kembali menikah tanpa berpacaran terlebih dulu, wajar mereka seperti dua anak muda yang baru merasakan indahnya cinta.
SELAMAT PAGI 😄😄😄😄
KARENA RATING NOVEL INI TERBILANG KECIL BOLEH YA AKU MINTA RATING BINTANG, TOLONG TEMAN TEMAN KASIH AKU BINTANG DONG 🌟🌟🌟🌟🌟
TAP JEMPOL KALIAN 😘😘😘😘