Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Kekurangan Alexander



“Apa rencanamu hari ini Sayang?” Alexander bertanya dengan nada senatural mungkin.


“Rencanaku....” Prilly menyentuh kulit didada Alexander yang ditumbuhi bulu-bulu dengan gaya yang menggoda. “Bolehkah aku pergi bersamamu ke perusahaan?”


Pertanyaan itu mengejutkan Alexander, tentu saja ia tidak menyangka semua prasangka yang ada di benaknya 'mencurigai istrinya' ternyata salah. Tetapi, hari ini Alexander telah membuat rencana untuk bertemu Mike di perusahaan miliknya.


Bagaimana jika Prilly ikut bersamanya? Bagaimana mungkin Alexander rela istrinya bertemu mantan suaminya di depan matanya sendiri, bagaimana jika Prilly tiba-tiba berpaling meninggalkannya?


Memikirkan ini Alexander kembali merasa frustrasi.


“Bagaimana jika kau pergi berbelanja dengan Sophia?” Alexander mencoba memberikan Prilly pilihan.


“Hubby aku tidak ingin berbelanja aku ingin ikut denganmu,” rengek Prilly dengan gaya seperti Grace.


“Tidak sayangku, hari ini suamimu ini memiliki banyak urusan." Alexander berusaha memberi Prilly pengertian.


“Aku akan patuh dan tidak akan mengganggumu percayalah aku hanya ingin ikut denganmu." Prilly menatap mata Alexander dengan tatapan puppy eyes.


‘Oh gosh!’ gerutu Alexander di dalam hatinya, tatapan mata Prilly membuat Alexander tak berdaya tatapan itu benar-benar tidak berubah sejak kecil.


Prilly selalu menggunakan trik semacam itu untuk meluluhkan hati Alexander setiap kali ia memiliki keinginan yang ditentang oleh Alexander dan Alexander selalu luluh dengan cara itu.


“Jangan menatapku seperti itu kata Alexander aku tidak kau tahu aku tidak mampu melihat tatapan seperti itu." Alexander membawa Prilly ke dalam dekapannya lalu merampok bibir Prilly tanpa ampun, menghisapnya menciuminya seperti pria yang kelaparan di pagi hari.


Setelah ciuman mereka terlepas Prilly menyandarkan kepalanya di dada Alexander dan berkata dengan suara lirih. “Apa kau memiliki wanita lain di sini? Kau terus menghindariku dari tadi malam,” tanyanya langsung, dari suaranya wanita itu nyaris menangis.


Alexander nyaris memuntahkan tawanya karena merasa geli dengan pertanyaan Prilly, namun bisikan setan di sisi kiri telinganya mengatakan mungkin saja istrinya hanya sedang berpura-pura cemburu untuk menutupi bahwa ia sedang memikirkan Mike, Alexander pahala napasnya diam-diam, ia menata emosinya.


“Jangan berbicara omong kosong Nyonya Johanson, satu-satunya wanita yang kuinginkan telah berada di dalam pelukanku di muka bumi ini tidak ada wanita yang menarik di mataku selain dirimu,” ujar Alexander, ia berkata dengan nada sungguh-sungguh dan benar-benar dari dalam hatinya.


Prilly mengangkat kepalanya dan menatap Alexsander dengan tatapan marah, “kau seperti menghindariku," tuduh Prilly.


“Tidak ada yang mampu menghindarimu Nyonya Johanson.” Alexander menarik ujung hidung Prilly.


“Kalau begitu izinkan aku ikut bersamamu pergi ke perusahaan.” Prilly masih tetap keras dengan keinginannya.


Alexander mengangkat kedua alisnya sambil bibir manisnya menyunggingkan senyum licik. “Baiklah, Tetapi, ada syarat yang harus kau penuhi.”


“Apa pun syaratnya, akan aku lakukan,” ucap Prilly cepat.


Dengan gesit Alexander menerkam tubuh Prilly dan membuat tubuh kecil itu berada di bawahnya.


“Kita telah lama tidak melakukan olahraga pagi, aku ingin olahraga pagi tiga babak.”


Wanita yang berada di bawah tubuhnya sekarang adalah miliknya, itu yang ada di dalam benak Alexander apa pun alasan Mike meninggalkan Prilly empat tahun yang lalu, sebesar apa pun pengorbanan Mike untuk keluarganya tetap saja untuk saat ini Prilly adalah miliknya dan Alexander berhak mempertahankan apa yang menjadi haknya, dan satu-satunya cara untuk membuat Prilly tetap berada di genggamannya adalah menghamili istrinya.


Tekad Alexander begitu kuat, meski ia menyadari dirinya mungkin egois, tetapi bukankah sejak dulu ia memang selalu egois? Ia tidak pernah memikirkan orang lain, yang ia pikirkan hanya keinginannya terpenuhi tidak peduli bagaimanapun caranya.


“Kau serakah,” protes Prilly.


“Aku merindukanmu." Rayu Alexander kepada istrinya dengan tatapan mata licik.


"Baiklah, satu babak sampai kau menangis memohon aku lepaskan." Alexander menyeringai, ia segera melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuh Prilly kemudian mencumbui setiap jengkal tubuh istrinya menikmati gundukan kenyal di dada istrinya dengan bibirnya, dihisapnya seolah ia bayi yang kelaparan.


Berulang kali mereka saling menyatakan cinta di antara erangan dan geraman, pinggul mereka mengentak bergerak berirama bersama hingga Alexander menyemburkan cairan cintanya di dalam rahim Prilly, berharap sel telur istrinya berhasil ia buahi.


Kedua insan itu kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka di dalam kamar mandi mereka berdua mengobrol lebih santai di dalam bath tube, merupakan ketegangan dan prasangka yang menyelimuti benak mereka masing-masing.


“Apa kau memiliki pertemuan penting hari ini?”


“Tidak juga aku hanya perlu mengecek beberapa berkas,” jawab Alexander sambil menyandarkan kepalanya di tepi bath tube.


“Kita terlalu lama bercinta dan sekarang kau masih di dalam bath tube seperti ini, sepertinya tidak mengutamakan pekerjaanmu.” Prilly mengerutkan bibirnya.


“Tidak ada yang penting di dunia ini, yang terpenting di dunia ini kau bersamaku,” kata Alexander sambil telapak tangannya menggayung air dan mengucurkan air itu kembali.


Wajah Prilly bersemu merah karena bahagia.


“Bagaimana jika sampainya di London kita memeriksakan kandunganku,” ucap Prilly tiba-tiba.


Alexander terkejut ia menegakkan tubuhnya, ia juga mengerutkan keningnya. “Kau hamil?” Alexander bertanya dengan sungguh-sungguh, ia hampir terlonjak kegirangan.


“Mungkin saja, bisa saja bukan? Kita melakukannya hampir setiap hari,” kata Prilly dengan nada penuh harap.


“Aku harap kau segera mengandung buah cinta kita," kata Alexander penuh harap. "Kau sangat menyukai momen kita bercinta ya,” goda Alexander dengan senyum di bibirnya.


“Kau berkata seperti itu seolah kau tidak menyukainya, padahal kau sangat serakah.” Prilly terkekeh sambil dengan lembut mencubit paha suaminya.


Bibir Alexander masih menyunggingkan senyum sambil matanya mengarah ke wajah Prilly yang bersemu merah. Tiba-tiba ia bertanya. “Sayang, katakan apa kekuranganku.”


Prilly memiringkan kepalanya kemudian mengamati wajah Alexander dengan seksama, hidungnya yang mancung tulang pipi dan rahangnya sangat kokoh, alisnya begitu tebal menaungi kelopak matanya, dan manik mata yang berwarna abu-abu itu sangat menyebalkan karena terkesan begitu dingin dan angker di mata Prilly, bulu matanya yang lentik membuat Alexander terlihat sangat manis. Bibirnya yang tipis dan gigi-giginya yang kecil sangat menggemaskan saat ia menyeringai memperlihatkan giginya. Tetapi, sayangnya pria ini jangan jarang tersenyum di masa lalu, bulu-bulu halus di wajahnya membuat ia semakin tampan.


Alexander justru terkekeh melihat istrinya mengamatinya begitu rupa. “Kenapa kamu mengamatiku seperti itu? Kau akan jatuh cinta kepadaku jika kau terlalu serius mengamati wajahku.”


“Aku sedang mencari kekuranganmu,” sungut Prilly.


“Apa kau mendapatkannya?” Alexander mengangkat kedua alisnya.


“Satu-satunya kekuranganmu adalah....” Prilly mengamati kembali wajah Alexander.


Jantung Alexander tiba-tiba berdegup kencang, sejujurnya ia takut Prilly akan membandingkan dirinya dengan Mike.


TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️


RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️


JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️


TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️