
Malam harinya, Prilly mendampingi Mike untuk sebuah acara gala amal untuk sebuah yayasan milik Victoria Johanson yang tak lain ibu mertuanya. Prilly mengenakan gaun panjang berwarna merah maroon tanpa lengan dengan dada berbentuk V, mengekspos sedikit dadanya, rambutnya yang panjang di tata sedikit bergelombang, ia datang bersama Mike yang mengenakan jas berwarna senada. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Prilly dengan possesive seolah tidak membiarkan istrinya menjauh sedikitpun darinya, mereka berdua tampak sangat serasi.
Ketika mereka akan memasuki ruangan yang menjadi tempat gala amal, di depan pintu para wartawan berusaha memburu mereka dan menanyakan hubungan mereka. Bodyguard segera mengelilingi mereka berdua agar tak satupun wartawan bisa mendekati mereka. Mike maupun Prilly tidak menjawab satupun pertanyaan dari mereka. Hanya senyuman tipis yang tersungging di bibir mereka berdua.
Saat itu, Alexander juga berada di tempat yang sama di acara amal tersebut di dampingi Jovita sekretarisnya. Seperti biasa perusahaan akan menyumbangkan beberapa milyar dolar setiap tahunnya. Jovita melihat dengan jelas siapa yang datang dan melewati mereka berdua yang kebetulan juga baru datang dan sedang menyapa beberapa kenalan Alexander. Alexander hanya melirik dengan ekor matanya. Namun, Jovita jelas melihat perubahan emosi Alexander. Rahangnya mengeras, Alexander dengan buru-buru mamasukkan telapak tangannya ke dalam saku celananya. Alexander menyembunyikan kepalan tangannya.
Prilly dan Mike berjalan melewati Alexander dan langsung menuju tempat dimana Victoria dan Adam johanson duduk. Setelah saling menyapa, Prilly segera duduk di samping Veronica dan Mike juga duduk di sampingnya.
Tibalah saatnya inti dari acara gala amal tersebut, kebanyakan para artis melelang perhiasan, pakaian dan mobil mereka lalu di beli dengan harga tinggi oleh beberapa orang yang menggilai artis tersebut. Konyol dan tidak masuk akal menurut Prilly. namun begitulah adanya.
Di dampingi, Moses, sekretaris Mike, Prilly dengan anggun naik ke atas panggung membuat semua orang yang hadir terpesona karena wanita cantik bak boneka hidup itu kini mendominasi panggung itu. Moses menyerahkan sebuah dokumen pada panitia. Prilly dengan sopan mengambil mikrofon yang di berikan kepadanya dari tangan mc, kemudian ia dengan lembut berbicara, “Selamat malam, malam ini saya akan melelang sebuah apartemen milik saya pribadi. Hasilnya tentu saja akan saya sumbangkan seratus persen untuk acara amal malam ini. Karena saya dalam suasana hati yang sangat baik, maka malam ini saya akan membuka sendiri lelang apartemen ini dengan harga yang sangat fantastis.” Prilly berhenti sejenak dan tersenyum kepada semua yang hadir malam itu.
“Apartemen dengan empat kamar ini akan saya buka dengan harga satu Poundsterling, terima kasih.” Prilly mengakhiri sambutannya yang di sambut dengan keterkejutan semua yang ada di ruangan itu dan berharap mereka salah dengar. Prilly mengembalikan mikrofonnya kepada mc, di layar proyektor terpampang foto-foto ruangan apartemen mewah itu beserta perabotan lengkapnya. Membuat semua yang hadir merasa tidak percaya dengan yang di lakukan wanita cantik itu.
Prilly turun dari panggung dan di sambut oleh Mike. Mereka tersenyum puas penuh arti, sedangkan mc dan panitia lelang mulai bertarung dengan para hadirin untuk memenangkan harga, Bahkan itu menjadi perebutan harga yang paling alot sepanjang lelang tersebut. Tak mau tahu lagi dengan lelang tersebut, Prilly dan Mike menghampiri Victoria dan Adam Johanson untuk berpamitan pulang. Victoria dan Adam tak henti-hentinya saling tersenyum melihat betapa putranya tampak sangat bahagia bersama cinta yang lama di pendam kini telah berada di genggamannya.
Emosi Alexander benar-benar sampai ke ubun-ubun, melihat semua yang terjadi di depan matanya. imItu adalah apartemen yang ia hadiahkan pada Prilly. Apa-apaan wanita kecil itu, sejak kapan mantan istrinya itu menjadi rubah kecil yang sangat licik?’ batinnya.
Dengan suara berat seraya berdiri, “Tiga milyar Poundsterling.”
“Tiga milyar satu, tiga milyar dua, tiga milyar tiga.” Suara palu dari panitia lelang menggema memenuhi ruangan itu. “Deal, satu unit apartemen dibeli oleh Tuan Alexander Johanson. Silahkan hubungi panitia lelang untuk menyelesaikan dan tanda tangani dokumen-dokumen yang terkait.”
Sesampainya di mobil, Mike bertanya pada Prilly, “Apa kau puas istriku sayang?”
“Hubby, kita lihat besok di portal berita online,” jawab Prilly dengan senyuman liciknya.
***
Alexander merasa sangat bodoh dan sangat menyesali perbuatan dirinya, ia tak bisa mengontrol emosinya semenjak rumor kedekatan Prilly dengan Mike, sepupunya, ia merasakan dadanya di penuhi api cemburu. Hingga tempramennya susah untuk di kendalikan.
Dengan gontai ia kembali ke mobilnya. Melajukan mobilnya dan tanpa terasa menuju apartemen sederhana tempat Jovita tinggal. Ia menekan bel pintu apartemen itu, ketika pintu terbuka tanpa menunggu, ia segera masuk dan merebahkan dirinya di sofa apartemen itu.
Jovita yang baru saja menyelesaikan makan malamnya, tidak menyangka bahwa orang yang datang adalah Alexander. Pria ini hanya satu kali menjemputnya di apartemenya. Namun ia bisa tahu dengan tepat di mana tempat tinggalnya. Jovita menuangkan segelas air putih dan meletakkan di meja dekat Alexander berbaring. Jovita tak berniat menanyakan apapun pada Alexander. Yang Jovita tahu, pasti bosnya sedang ada masalah yang berhubungan dengan mantan istrinya, sehingga moodnya hancur.
"Aku akan tidur di kamar. Jika kau perlu sesuatu, kau bisa bangunkan aku dan jika kau ingin tidur di sini ada satu kamar tamu. Kau bisa menggunakannya,” kata Jovita yang sama sekali tak di jawab oleh Alexander. Ia meningglkan Alexander dan memasuki kamarnya, menarik selimut dan mengubur dirinya dalam selimut mencoba memejamkan mata.
Jovita terbangun seperti biasanya jam enam pagi dan mendapati seseorang memeluknya dari belakang. Rupanya pria itu tidur di kamarnya. Ia membiarkan Alexander memeluknya dan perlahan ia menggesesr tubuhnya melepaskan diri dari pelukan pria itu dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya kemudian membuatkan sarapan.
Ia menunggu Alexander untuk sarapan namun pria itu rupanya enggan bangun. Jovita memakan sarapannya kemudian ia membuat catatan kecil.
“Alex, hari ini jam sepuluh, kau ada pertemuan dengan perusahaan dari China dan jam tiha kau harus berangkat ke Perth. Aku akan ke perusahaan lebih dulu untuk menyiapakan keperluanmu, sarapanmu ada di meja. -Jovi.”
Alexander terbangun jam delapan pagi dan mendapati cacatan di atas nakas tempat tidur Jovita. Ia bergegas mandi dan memakan sarapan yang di sediakan Jovitam Kemudian pergi ke perusahaan. Ia memasuki ruangannya dan mendapati Jovita sedang menyiapkan berkas-berkas pertemuan. Ia melewati Jovita dan memasuki ruangan yang berisi barang-barang pribadinya untuk mengganti bajunya.
Jovita sudah terbiasa dengan sikap dingin pria itu. Sangat sedikit kata-kata yang keluar dari bibir Alexander. Setelah semua berkas telah siap, ia memasuki ruangan tempat Qlex berada dan melihat pria itu sedang berganti baju. Ia menelan salivanya melihat tubuh seksi Alexander yang hanya mengenakan boxernya.
“Alex, pertemuan akan di mulai lima belas menit lagi, bersiaplah.”
“Baiklah,” jawab Alexander singkat.
Karena Alexander tidak membawanya dalam pertemuan, Jlvita menggunakan waktunya untuk mengepak semua barang-barang pribadi yang akan di perlukan Alexander selama di Perth.