Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
End part 3



“Kau selamat dari kecelakaan pesawat itu?”


“Aku tidak pernah menaiki pesawat itu, semua hanya kebetulan,” jawab Mike.


“Kalian membohongiku,” ucap Prilly terdengar lirih.


“Maafkan aku, maafkan aku dan Alexander.”


“Maafkan aku tidak menunggumu, aku--aku dan Alex...." Prilly tidak mampu menyelesaikan kalimatnya air matanya semakin deras.


Mike tersenyum kemudian berucap, “kau dan Alex tidak bersalah, itu manusiawi. Andai aku berada di posisimu, aku juga akan melakukan hal yang sama sepertimu, kau tahu sendiri di dalam sejarah kecelakaan pesawat yang terjatuh ke dalam lautan tidak ada kemungkinan penumpang pesawat itu selamat. Juga banyak jenazahnya yang tidak ditemukan, kalian tidak bersalah sama sekali,” pria di depan Prilly berbicara logika.


“Kau harus melanjutkan hidupmu bukan menungguku, menunggu orang yang tidak ada kepastian, tidak ada yang menyalahkan kalian berdua.” Mike melanjutkan ucapannya sambil menatap Prilly yang masih menunduk dan terus terisak.


“Aku tidak setia kepadamu,” ucap Prilly lirih.


“Batas kesetiaan itu seperti apa?”


Prilly menggeleng.


“Hidup harus terus di lanjutkan, kau telah menungguku selama tiga tahun, kau hebat. Bagiku itu sudah membuktikan kau sangat setia,” kata Mike.


Prilly masih tetap dengan posisinya menunduk sambil menangis, sesekali ia menyeka air matanya menggunakan telapak tangannya.


“Sudah jangan menangis semuanya akan baik-baik saja, kita bisa membesarkan anak-anak bersama. Aku ingin segera bisa keluar dari rumah sakit. Aku ingin bertemu Leonel dan Grace,” kata Mike.


"Leonel sangat mirip denganmu," kata Prilly.


"Sidney mirip denganmu," kata Mike.


Prilly mengangguk. "Sid—Sidney, apa mengidap penyakit berbahaya?”


“Tidak, dia akan sembuh percayalah.” Mike meyakinkan Prilly.


Perlahan Prilly mengangkat kepalnya, memberanikan menatap wajah Mike. “Jangan membohongiku lagi,” ucap Prilly lirih.


“Aku berbicara sungguh-sungguh, dia akan baik-baik saja setelah operasi kedua.” Mike berbicara kenyataan.


“Kapan dia akan bangun?”


“Sidney hanya tertidur karena pengaruh obat, dia akan bangun beberapa jam lagi.”


“Apakah ah kau baik-baik saja?” suara Prilly sedikit melunak tidak terlalu kaku seperti sebelumnya.


“Aku baik-baik saja kau jangan khawatir,” jawab Mike.


“Syukurlah,” kata Prilly lirih.


Keheningan kembali menyeruak, Prilly kembali menunduk menatap lantai yang ia pijak.


“Aku... a-ku bisa mengenalimu sejak awal kita bertemu, kenapa kau mengubah wajahmu?” terbata-bata Prilly bertanya.


Mike mengusap wajahnya, kemudian ia berucap, “Alexander akan menjelaskan semuanya kepadamu.”


“Apa Alexander memperlakukanmu dengan baik?” Mike kembali membuka percakapan.


“Sangat baik,” jawab Prilly singkat.


“Kau mencintainya sekarang?” Mike menaikkan sebelah alisnya.


Prilly masih menunduk.


“Tidak perlu menutupi apa pun dariku, katakan apa kau mencintainya?”


Prilly mengangguk. “Aku mencintainya, maafkan aku tidak bisa kembali padamu.”


Mike tersenyum lebar mendengar pengakuan Prilly yang terdengar begitu tegas meski ia mengucapkan kalimatnya dengan suara sangat pelan.


“Aku tahu kalian saling mencintai, ayolah Prilly jangan perlakukan aku seperti kau tidak mengenalku,” Mike mulai mengeluh karena Prilly seperti ketakutan kepadanya, mantan istrinya terus saja menunduk, Mike yakin jika ada Anthony atau Alexander, bisa dipastikan Prilly akan bersembunyi di belang punggung kedua pria itu. “Kau tampak ketakutan kepadaku, percayalah aku tidak akan menghalangi kebahagiaan kalian. Sekarang jika Alexander memperlakukanmu dengan baik dan Alexander telah berubah aku sangat senang aku bahagia jika kalian bahagia.”


Prilly mengangkat kepalanya dan menatap Mike, “Alexander tidak pernah memperlakukanku dengan buruk,” ucap Prilly seolah sedang membela Alexander, Alexander di masa lalu melakukan kesalahan karena Prilly sebagai istrinya tidak memperlakukan Alexander sebagai suaminya dengan benar. Kesalahan Alexander di masa lalu adalah buah dari perlakuan Prilly.


Mike senyum mendengar jawaban yang terdengar sangat membela Alexander. Mike sekarang merasa lega melepaskan Prilly untuk Alexander. “Kau memang kehidupan Alexander, sekarang temui suamimu. Ia pasti akan mengira aku akan mengambil dirimu, jika kita terlalu lama berbicara berdua.”


Prilly menatap mata biru Mike dengan tatapan pahit, ragu-ragu Prilly meraih telapak tangan Mike dan menggenggamnya. “Maafkan aku Mike.”


Mike membalas genggaman tangan Prilly, bibirnya tersenyum, ia menganggukkan kepalanya dan berucap, “temui Alexander.”


Prilly mengangguk, perlahan ia melepaskan genggaman tangannya dari telapak tangan Mike, ia membalikkan tubuhnya dan perlahan melangkah menuju pintu, sesampainya di luar kamar Prilly tidak menemukan siapa pun, tidak ada Sophia, tidak ada juga Alexander. Hanya ada dua orang penjaga di depan pintu, jantung Prilly berdegup kencang.


Mungkinkah Alexander meninggalkannya begitu saja? Menyerahkan istrinya kepada Mike tanpa mengucapkan apa pun?


Prilly berjalan dengan linglung menyusuri lorong ruangan rumah sakit matanya terus mengawasi orang-orang yang ia jumpai sepanjang ia melangkahkan kakinya. Prilly terus menyapukan pandangannya ke seluruh tempat yang ia lewati, namun ia sama sekali tidak menjumpai Alexander hingga ia tiba di depan pintu keluar rumah sakit.


Ternyata sore itu cuaca tidak bersahabat langit begitu kelam, hujan turun sangat deras bercampur angin cukup kencang. Prilly melangkah dan berdiri di tepi teras bangunan rumah sakit. Matanya menatap hujan dengan air mata terus berlinang di wajahnya, Alexander sepertinya benar-benar telah meninggalkannya, sepertinya suaminya benar-benar menyerahkan dirinya kepada Mike.


Prilly berpikir Alexander benar-benar menepati janjinya, sekarang Prilly merasa menjadi seorang yang sangat tidak berharga dan terbuang, bahkan ia sekarang tidak bisa menghubungi Alexander karena dia sendiri tidak tahu di mana ponsel dan tas milikinya berada.


Prilly menatap air hujan yang turun dari langit begitu lama, ia memperhatikan butiran-butiran hujan dari langit yang jatuh terhempas ke bumi dan berubah bentuk. Bibirnya tersenyum masam.


Tidak ada kebahagiaan yang sempurna dan tidak ada yang tidak berubah di dunia ini, semua berubah tak terkecuali hati manusia.


Prilly tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kepada Alexander bahwa dirinya yang sekarang hanya menginginkan Alexander, bagaimana agar Alexander mengerti bahwa cinta Prilly kepada Alexander bukan hanya karena pelampiasan semata. Prilly dengan kasar menyeka air matanya yang tidak jua kunjung berhenti mengalir di pipinya.


SELAMAT SORE TEMAN TEMAN SEMUA, NOVEL INI TAMAT YA HARI INI, SEMUA KONFLIK AKAN AKU USAHAKAN SELESAI HARI INI.


JIKA MASIH ADA YANG BELUM SELESAI MAKA AKAN AKU MASUKKAN SEBAGI BONUS CHAPTER.


DAN SETELAH INI AKAN ADA SQUEL DARI NOVEL INI, DENGAN JUDUL YANG BERBEDA SEPERTI MARRIED WITH PILOT.


UNTUK SQUEL DI TUNGGU NANTI AKAN MUNCUL YA, SAAT INI MASIH PROSES REVIEW.


JANGAN LUPA JEJAK KOMEN KALIAN DAN JANGAN LUPA TAP JEMPOL KALIAN ❤️🌸


FOLLOW AUTOR DI AKUN MANGATOON DAN BACA JUGA KARYA YANG LAIN 😘😘😘😘