
Prilly sama sekali tidak membawa barang apa pun selain dirinya sendiri, mungkin Alexander telah kembali ke hotel. Sekarang ia harus bertemu Alexander terlebih dahulu. Prilly melangkahkan kakinya menuju halaman rumah sakit, ia harus secepatnya menemukan taksi. Meskipun air hujan terus berguguran di atas kepala dan tubuhnya, ia tak peduli. Pakaiannya juga mulai basah, ia menyilangkan lengannya seolah memeluk tubuhnya sendiri karena air hujan yang membasahi tubuhnya terasa benar-benar sangat dingin.
Prilly mengamati sekeliling, sepertinya nasibnya kali ini memang tidak terlalu bagus karena tidak satu pun taksi terlihat melintasi halaman rumah sakit. Jalan satu-satunya ia harus berdiri di pinggir jalan untuk mendapatkan taksi. Sambil terus mendekap lengannya Prilly melangkahkan kakinya dan sesekali ia menyeka air matanya air mata yang telah bercampur dengan air hujan.
Tiba-tiba menyadari ada yang berbeda karena air hujan tidak lagi berguguran di atas kepalanya Prilly mendongak dan mendapati sebuah payung menaungi kepalanya, kemudian Prilly membalikkan tubuhnya, Alexander berdiri tepat di depannya.
Alexander sama sekali tidak bersuara begitu juga Prilly mereka hanya saling menatap sementara air mata Prilly masih terus berguguran, dari rambutnya yang basah meneteskan air di ujungnya.
“Apa kau tidak lelah? Sejak tadi malam kau terus saja menangis.” Suara Alexander terdengar sedikit serak.
“Kau meninggalkanku,” protes Prilly dengan suara berat, tatapan matanya tampak begitu kesal.
Alexander tidak menjawab, ia hanya mengamati wajah Prilly sambil sebelah tangannya memegang payung.
“Kau meninggalkan istri yang sedang hamil bersama pria lain,” tuduh Prilly.
Alexander masih tidak menjawab, posisi mereka masih sama seperti sebelumnya.
“Apa kau tidak bahagia mendengar aku hamil?” Prilly tampak semakin kesal karena suaminya tidak memedulikan dirinya.
Alexander masih bungkam, tidak bereaksi.
“Alex, aku kedinginan peluk aku Alexander!” Prilly tampak mulai frustrasi karena suaminya tidak bereaksi dengan semua triknya, Prilly mendekati tubuh Alexander kemudian ia melingkarkan lengannya di pinggang Alexander dan membenamkan wajahnya di dada Alexander. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Alex Aku mencintaimu! Jangan kembalikan aku kepada Mike.” Sekuat tenaga Prilly memberanikan diri mengatakan ketakutan yang membelenggu perasaannya sejak Mike kembali.
Mendengar pernyataan cinta Prilly, Alexander justru membeku. Tubuhnya menegang, ia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Alexander aku mencintaimu. Aku hanya ingin bersamamu, apa kau mendengarku?” Prilly menaikkan nada suaranya.
Lengan Alexander perlahan merengkuh pundak Prilly, begitu lembut di awal namun semakin lama semakin erat. Alexander membuang payung yang berada di tangan kanannya, kedua lengannya kini memeluk Prilly dengan erat. Mereka berdua telah basah kuyup di bawah derasnya hujan yang mengguyur New York sore itu.
“Bodoh, kenapa tidak sabar menungguku? Aku hanya pergi ke kantin untuk membeli air mineral,” ucap Alexander, bibirnya begitu dekat di telinga Prilly.
Setelah beberapa saat saling memeluk erat, Alexander melepaskan dekapan lengannya dari tubuh Prilly.
“Kau sangat tidak penyabar,” Alexander menangkup wajah istrinya menggunakan kedua telapak tangannya, wajah Alexander begitu dekat, hidung mancung mereka telah saling bersentuhan.
“Aku mencarimu,” jawab Prilly.
“Kita basah,” kata Alexander, bibirnya menyunggingkan senyum.
“Kau membuang payungnya,” mata Prilly menatap mata Alexander yang begitu dekat.
Alexander mengecup bibir istrinya, kecupan yang berubah menjadi ciuman panas penuh cinta yang dalam. Lengan Alexander berada di pinggang Prilly, sementara Prilly juga telah mengalungkan lengannya di leher Alexander. Kedua insan itu terus mencurahkan perasaan cinta mereka di bawah derasnya hujan yang turun dengan latar beberapa pohon di halaman rumah sakit yang daunnya telah memerah karena musim gugur yang akan segera berakhir. Mungkin ini adalah pertama kalinya mereka bermandikan air hujan dalam hidup mereka sejak bukan lagi anak-anak.
Setelah ciuman yang dalam itu terlepas, mengangkat ke tubuh kecil Prilly ala bridal style mereka berdua berjalan di antara derasnya hujan menuju mobil untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap. Mereka perlu mengganti pakaian mereka yang basah kuyup.
Photo source Instagram.
Kerna anak-anak, di bawah umur dua belas tahun, sangat rentan tertular berbagai macam penyakit. Rumah sakit adalah sarang bagi berbagai jenis organisme penyebab penyakit seperti bakteri, virus, kuman, hingga toksin, dan sangat mudah menular pada anak-anak.
“Mommy aku ingin, bermain bersama Grace,” kata Sidney.
“Tentu saja, Grace juga sangat tidak sabar untuk bertemu denganmu,” jawab Prilly dengan nada penuh kasih sayang.
“Apakah besok aku bisa bertemu Grace?” mata Hazel milik Sidney menatap Prilly dengan tatapan puppy eyes.
Prilly tersenyum dan membelai rambut Sidney, “secepatnya kalian akan bertemu.”
Tidak lama Helena memasuki ruangan kamar inap, gadis itu membawakan beberapa pakaian ganti untuk Sidney dan Mike.
Mike tengah duduk di sofa bersama Alexander dan mereka menatap layar laptop masing-masing, tak jauh dari ketiga wanita itu. Mike melirik Helena dengan ekor matanya.
“Calon pendamping?” Alexander yang menangkap arah mata ekor mata Mike rupanya tidak tahan untuk tidak memberikan komentar.
Mike menaikkan kedua alisnya. “Kau seperti istrimu gemar ingin tahu urusan asmara orang lain,” ejek Mike pada Alexander. Ia ingat betul Bagaimana Prilly menjodohkan Anthony dengan Linlin.
Alexander hanya menyeringai tanpa membalas ejekan Mike.
“Sekarang kau lebih banyak tersenyum ya?” Mike memberikan komentar kepada Alexander mengenai sikap Alexander yang kini lebih sering tersenyum.
Alexander hanya mengusap sebelah alisnya dengan ujung jemarinya, “apa yang ingin kamu lakukan terhadap Wilona dan Simon sekarang?” Alexander ingin mendengar rencana tindakan Mike terhadap Wilona dan Simon.
“Biarkan saja dulu aku ingin bermain-main sebentar dengan mereka, aku jamin mereka tidak akan bisa lagi membayar pembunuh pembayaran maupun para cecunguk mereka,” jawab Mike dengan penuh percaya diri.
“Bagus, tetapi kuingatkan jangan terlalu larut dalam permainan,” Alexander mengingatkan sepupunya.
“Saham perusahaan legal milik Simon berada di titik terendah, aku mengakuisisi sahamnya.” Mike mengedipkan sebelah matanya kepada Alexander.
“Itu baru sepupuku yang licik,” Alexander tersenyum licik sementara Mike tertawa tertahan, dadanya rampak bergoyang.
“Darah kita Johanson.” Mike mengepalkan tinjunya yang di sambut oleh Alexander, kedua pria itu menyatukan tinjunya sambil tersenyum licik ala keturunan Johanson.
SETELAH BERKALI KALI JATUH BANGUN MEMBUAT KALIAN EMOSI 😆😆😆
TERIMA KASIH BUAT TEMAN TEMAN YANG MENGIKUTI NOVEL INI DARI PERTAMA, DARI TULISAN ACAK ACAKAN, DARI AKU GAK NGERTI DIALOG TAG, TANDA BACA DAN PENEMPATAN KALIMAT YANG BERANTAKAN.
MESKIPUN SAMPAI SEKARANG TYPO DAN PENGULANGAN KATA AKU MASIH PAYAH HEHEHE.
TERIMA KASIH SEKALI LAGI ATAS SEMUA SUPPORT DAN MASUKAN YANG BAIK 💘💘
MASIH ADA BEBERAPA PART TAMBAHAN NANTI.
FOLLOW AUTOR DI AKUN MANGATOON DAN BACA JUGA KARYA YANG LAIN 😘😘😘😘
UNTUK SELANJUTNYA KALIAN BISA FOLLOW IG AKU @cherryblossom0311 UNTUK INFO NOVEL TERBARU DAN FB : SAKURA HIKARU.