
Sudah satu minggu sejak hari itu Prilly dan Alexander beserta ketiga anak mereka menginap di kediaman orang tua Alexander, Diana tentu saja sangat senang, namun tidak dengan Sandra, wanita itu terus saja mengeluh kepada suaminya.
“Biarkan saja,” kata Federick. “Biarkan putri kita memilih kebahagiaannya sendiri.”
“Alexander itu ba***gan, oh Tuhan, sayang kau tidak mengkhawatirkan putrimu?” Tetap saja Sandra dengan penuh emosi mengatai Alexander mantan memantunya.
“Manusia bisa berubah, lihat sekarang Prilly bahkan sangat produktif, dalam satu minggu ia mendesain beberapa perhiasan, aku yakin moodnya sangat baik karena perlakuan Alexander juga baik,” kata Federick berusaha meyakinkan istrinya.
“Aku tidak percaya,” jawab Sandra dengan nada ketus.
“Kau sangat pemarah seperti nenek-nenek,” goda Federick kepada istrinya.
“Eric!” Sandra melotot tidak senang, bagaimanapun ia memang telah tua, namun tidak ada wanita yang senang di sebut tua meskipun faktanya telah menua!
Federick terkekeh. “Lebih baik siapkan makan malam yang meriah, sebentar lagi cucu-cucu kita akan datang,” kata Federick yang di sambut dengan dengusan kesal Sandra.
Benar saja satu jam kemudian William dan Leonel berlarian memasuki mansion itu bersama Prilly yang mulutnya Treys saja mengomel agar kedua putranya berjalan dengan benar bukan berlarian, sementara Grace berada di dalam gendongan Alexander, gadis itu terlalu manja, ia telah berumur lima tahun tapi ia malas berjalan sendiri setiap Alexander bersamanya.
Setelah berbasa-basi sebentar sambil menunggu waktu makan malam Alexander bermain catur bersama ayah mertuanya.
Kedua pria itu duduk berhadap hadapan sambil memandangi papan catur yang berada di antara mereka.
“Jadi kau sudah memutuskan?” tanya Federick.
“Ya, minggu depan gugatan perceraian siap di layangkan,” jawab Alexander.
“Alex, kesempatanmu hanya kali ini saja,” kata Federick dengan tatapan setajam belati ke arah Alexander.
“Aku mengerti.” Alexander menjawab dengan nada yang sangat tanang namun meyakinkan.
“Daddy...." Panggil Grace sambil berlari kecil mendekati Alexander kemudian gadis kecil itu bergelayut manja.
Alexander membelai rambut gadis kecil itu sambil tatapannya masih menatap ke arah papan catur di depannya.
“Daddy, bisakah kau kupaskan ini?” tanya Grace seraya menyodorkan sebuah seruk.
“Baiklah....” Alexander meletakkan bidak caturnya ke tempat semula, ia mulai mengupas kulit jeruk itu dan menyuapkan satu demi satu belahan jeruk ke dalam mulut Grace sambil mereka berdua bercengkerama, Alexander bahkan telah melupakan papan caturnya.
Federick yang menyaksikan itu hanya tersenyum, ia merasa melihat masa lalu, Alexander dan Prilly kecil, hatinya menghangat, ia yakin kali ini pilihan Prilly tidak salah, Alexander memang telah berubah.
"Daddy, terima kasih. Aku sangat menyayangimu,” kata Grace sambil membelai wajah Alexander yang di tumbuhi bulu-bulu halus.
“Daddy juga menyayangimu,” jawab Alexander seraya mengecup telapak tangan mungil Grace.
“Benarkah? Kau sepertinya lebih menyayangi Mommy,” protes Grace.
“Aku menyayangi kalian semua,” jawab Alexander dengan nada lembut yang penuh kehangatan.
“Eheemmm...” Federick berdehem setelah merasa puas menyaksikan adegan di depannya. “Grace, apa kau tidak menyayangi Granddad?”
“Tentu saja aku menyayangi Granddad juga,” jawab Grace dengan nada sedikit acuh, tampak jelas gadis kecil itu sangat dekat dengan Alexander.
“Besok Granddad akan mengajak kalian ke taman,” kata Federick.
“Apa Daddy juga ikut?” tanya Grace.
Federick mengangkat kedua alisnya seraya menatap wajah Alexander.
“Tentu, jika kau ingin Daddy akan ikut pergi ke taman,” jawab Alexander.
“Mommy juga?” tanya Grace sambil matanya menatap Alexander penuh harap
Grace melepaskan lengannya yang melingkar di paha Alexander dan berlari sembari melompat-lompat kegirangan menuju ruang di mana saudara laki-lakinya sedang bermain, gadis kecil itu bahkan berteriak kegirangan memberitahu bahwa mereka akan bermain di taman bersama Kakek dan Ayah mereka.
“Kau sepertinya memang menyukai anak kecil ya?” tanya Federick sambil tersenyum lebar.
“Tidak juga, aku hanya mencintai bagian dari hidupku yang sangat berharga,” kata Alexander dengan nada sangat tenang, tetapi wajahnya tampak begitu berseri-seri.
“Bagaimana jika Mike kembali suatu saat nanti?” tanya Federick tiba-tiba.
“Kemungkinan itu hanya 1% dan jika hal itu terjadi, aku menghormati apa pun keputusan Prilly,” jawab Alexander tanpa kehilangan ketenangannya.
Mendengar jawaban itu Federick tampak kehilangan senyumnya, ia merasa iba terhadap Alexander. Federick yakin pria yang duduk di depannya telah berubah dan layak untuk mendapatkan cinta putri satu-satunya.
“Kuharap kau bisa mendapatkan cintamu dan kau mampu menjaganya,” kata Federick penuh harap.
Alexander hanya diam sambil jemari tangannya mulai kembali memainkan bidak caturnya.
***
Pagi yang cerah di London, Prilly menggeliat dengan malas di kamarnya, kamar yang ia tempati ketika ia kecil hingga berusia 20 tahun, di sampingnya Alexander masih memejamkan matanya, lengan kekarnya melingkar dengan mesra di pinggang Prilly. Masih enggan membuka matanya Prilly semakin merapatkan tubuhnya kepada Alexander, sambil menghirup aroma maskulin suaminya.
“Kau sudah bangun, Sayang?” tanya Alexander dengan suara parau.
Prilly menganggukkan kepalanya dengan malas, seolah Alexander melihat anggukannya.
“Kau masih mengantuk?” tanya Alexander sambil mengecupi pucuk kepala Prilly.
“Kau menyiksaku tadi malam,” keluh Prilly.
“Kau memintaku lebih dalam dan cepat, aku hanya memberikan apa yang kau mau,” jawab Alexander dengan nada tidak bersalah.
Prilly mencubit pinggang suaminya karena merasa malu mengingat malam yang mereka lalui terasa begitu menggairahkan.
“Apa kau ingin lagi?” tanya Alexander dengan nada yang terdengar nakal, ia menggesekkan benda yang menngeras di antara pahanya ke perut Prilly.
“Tidak, aku tidak akan sanggup bersepeda di taman jika kau menindihku lagi,” erang Prillym ia benar-benar lelah.
“Kalau begitu kau bisa di atas,” goda Alexander.
“Hubby, kau benar-benar tidak tahu malu,” ucap Prilly seraya mencubit pinggang suaminya dengan lembut.
Alexander terkekeh hingga bahunya terguncang, ia mengecup pucuk kepala Prilly, “tidurlah satu jam lagi, aku akan membangunkanmu nanti.”
“Apa kau akan menemaniku?”
“Jika kau ingin.”
“Aku ingin terus di peluk seperti ini, seperti dulu, kau selalu memelukku saat aku kecil,” kata Prilly dengan nada manja.
“Baik, tidurlah.”
Alexander mengingat masa itu, masa kecil Prilly, saat Prilly mulai duduk di bangku sekolah menengah atas, ia mulai takut pada Prilly meski hanya menyentuh ujung rambutnya karena pikiran liarnya sering menjelajah tubuh Prilly.
Sudut bibir Alexander menyunggingkan senyum, satu langkah lagi setelah ia menceraikan Jovita, ia dan Prilly, tidak akan bisa di pisahkan kecuali maut yang memisahkan.
TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤
BERI DUKUNGAN DENGAN VOTE JIKA KALIAN SAYAMG AUTHOR 😄😄😄
TERIMA KASIH 😍😍😍😍😍