Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Hak asuh



Mendengar pengakuan Prilly dan Mike perasaan Alexander bagai terhantam badai, emosinya semakin tak terkendali. Ia menarik lengan Prilly dan bermaksud menyeret Prilly pergi dari tempat itu. Alexander mulai melangkahkan kakinya


“Alex lepaskan!” Prilly terpekik. “Alex, kau gila, lepaskan!” teriak Prilly membuat semua yang masih berada di tempat itu mengarahkan pandangan mereka ke arah Prilly dan Alexander yang tengah berseteru.


“Alex, lepaskan istriku.” Suara bariton Mike seolah menggema di telinga semua orang yang hadir di ruangan itu, Mike melangkah dan berdiri tepat di samping Prilly.


“Ceraikah dia Prilly, kau hanya bisa menjadi milikku. Kau harus jadi milikku.” kata Alexander dengan wajah penuh amarah.


“Tidak akan!” jawab Prilly sambil berusaha melepaskan tangannya.


“Kau milikku!”


“Sejak kapan aku milikmu? Kita sudah bercerai, Alex!”


“Jika tidak….” Alexander menggertakkan giginya dan melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Prilly yang kecil


“Jika tidak apa?” tanya Prilly juga menggertakkan giginya sambil mengangkat wajahnya agar Alexander melihat ekspresinya karena perbedaan tinggi mereka.


“Aku akan mengambil hak asuh William kau tidak akan bisa bertemu dengan William lagi” jawabnya sombong.


“Lakukan, jika kau bisa” jawab Prilly sinis.


“Kau tidak akan menang melawanku di pengadilan!” jawab Alexander sombong.


“Kau....” Mike maju meraih kerah baju Alexander tetapi Prilly menahan dengan lembut.


“Hubby, tahan dirimu biar aku yang menyelesaikan masalah ini,” kata Prilly lembut. Mike melepaskan cengkeramannya dari leher Alexander menuruti perkataan istrinya.


Semua orang yang hadir berkerumun melihat yang terjadi tidak ada yang bersuara, sedangkan segera Anthony membawa William menjauh dan Linlin mengikuti langkah suaminya.


“Aku tahu, aku tidak akan menang melawanmu di pengadilan, aku tidak akan sanggup membayar pengacara mahal sepertimu, Tuan Billioner,” kata Prilly sinis.


“Akhirnya kau sadar,” jawab Alexander tak kalah sinis.


“Lalu bagaimana kau akan merawat Willy sedangkan kau sangat sibuk?”


“Ada banyak pengasuh yang bisa aku bayar.”


“Pengasuh? Kau bercanda....” Prilly tertawa sumbang.


“Ceraikan dia, kembali padaku atau ku ambil hak asuh William?!” ancam Alexander lagi.


Prilly berdecih dengan wajah sinis. “Bahkan jika kau mengambil hak asuh Williampun aku tidak sudi kembali padamu Alex. Aku yakin jika William dewasa kelak ia akan membencimu jika tahu seperti apa ayahnya yang sesungguhnya,” jawab Prilly tenang.


Wajah Alexander semakin menghitam mendengar jawaban Prilly.


“Wanita bodoh mana yang sudi kembali pada mantan suami yang tiap tiga bulan sekali berganti ja*lang untuk di tiduri dengan kedok sek-re-ta-ris.” Prilly dengan mudah akhirnya mengucapkan rahasia terbesar perceraiannya di depan semua orang, ia menekankan kata sekretaris.


“Kau!” Alexander mengepalkan tangannya sambil memelototi Prilly, ia tak menduga Prilly membuka aibnya. Alexander seperti melemparkan bumerang pada Prilly namun bumerang itu berbalik mengenai kepalanya sendiri.


Semua orang tercengang, tak seorang pun tahu sebab perceraiannya dengan Alexander selain Anthony kakaknya, bahkan Mike juga tidak tahu.


“Akan, aku buat perhitungan denganmu Prilly,” desis Alexander.


“Jangan lupa Alex, aku memiliki video bukti perselingkuhanmu dan kontrak mesummu dengan jal*ang-jal*angmu,” jawab Prilly di sertai seringai licik yang membunuh Alexander seketika.


“Kita lihat saja nanti, akan aku balas kalian!” desis Alexander sambil menatap Mike penuh dendam kemudian melangkah keluar dan di susul oleh Richard Johanson ayahnya.


Prilly mengatur napasnya ia merasa lututnya terasa lemas, ia belum pernah berseteru dengan siapa pun sebelumnya dan jatuh diperlukan suaminya, Mike mendekapnya erat dan membawanya duduk. Veronica datang membawakan segelas air putih dan memberi menantunya minum.


Semua orang memandang kepada Prilly dengan tatapan kagum dan juga tatapan iba.


“Terima kasih, Mommy. Aku tidak apa-apa, jangan khawatir,” kata Prilly setelah meminum air putihnya hingga tandas, sejujurnya perlu banyak keberanian untuk mengatakan hal hal itu pada Alexander apa lagi di depan banyak orang, ia bahkan seperti telah menggunakan seluruh tenaganya.


“Sayangku, kau....” Mike menatap Prilly dengan tatapan meminta penjelasan.


“Tidak Prilly, kau harus menceritakan semua sekarang.” Itu adalah permintaan Diana. “Aku harus tahu seperti apa anakku,” lanjutnya.


“Baiklah, Mommy Diana. bisakah kita mencari ruangan yang lebih privacy?” kata Prilly


Mereka lalu masuk ke dalam sebuah ruangan, hanya terdiri dari keluarga inti mereka dan Prilly menceritakan awal keretakan rumah tangga mereka, video rekaman dan kontrak mesum Alexander dengan sekretaris-sekretarisnya.


Prilly juga menceritakan pertemuan Mike dengannya serta pernikahan mendadaknya karena Alexander yang bermaksud memerkosanya.


Sandra dan Federick Smith tak kalah emosionalnya saat mendengar cerita Prilly, mereka tidak menyangka semua itu menimpa rumah tangga putri mereka yang sangat berharga.


“Di luar banyak rumor kau yang berselingkuh. Apa kau tak ingin membersihkannya Prilly?” tanya Victoria.


“Biarkan saja mereka berbicara, aku tak peduli, Mommy,” jawab Prilly.


“Maafkan, aku Prilly, aku telah gagal mendidik putraku,” sesal Diana yang telah bersimbah air mata.


“Mommy, kau orang yang baik. Jangan meminta maaf padaku untuk apa yang tidak kau lakukan,” jawab Prilly lembut.


Akhirnya malam itu berakhir, Prilly dan Mike berniat untuk mengumumkan pernikahan mereka dengan manis berujung insiden tidak menyenangkan.


Ada perasaan sakit menusuk-nusuk jantung Mike, ada juga perasaan emosi ingin mematahkan leher sepupunya yang telah mencuri gadis pujaannya hanya untuk di sia-siakan. Perasaan di dadanya bercampur aduk, sepanjang perjalanan pulang, ia mendekap William yang tidur di pelukannya sambil menggenggam tangan Prilly dan mereka saling bungkam.


Sesampainya di tempat tinggal mereka, setelah memidurkan William di kamarnya, Mike segera menghampiri istrinya di kamarnya yang tengah mengganti pakaiannya dan langsung memeluk Prilly penuh kasih sayang.


“Sayangku, kenapa kau tak memberitahuku sebelumnya?” tanya Mike hati-hati.


“Itu bukan sesuatu hal penting, Hubby,” jawab Prilly sembari tertawa ringan


“Sepertinya istriku ini seorang detektif,” goda Mike.


“Tentu, aku seorang sarjana hukum kau jangan macam-macam padaku,” jawab Prilly.


“Yang tidak memiliki lisensi?” kekeh Mike.


“Aku tidak suka berdebat, Sayang,” jawab Prilly.


“Kau benar-benar aneh, sayangku,” kata Mike heran.


“Kau harus menerima keanehan istrimu selamanya, Hubby. Terima aku apa adanya.” Prilly sedikit bercanda.


“Tentu saja, akan aku terima sampai kita menua,”


Mike benar-benar tidak menduga, istrinya telah melewati masa sulit yang begitu menyakitkan, dinikahi untuk di khianati. Bahkan ketika itu ia sedang mengandung pastilah tidak mudah Prilly melewati hari-hari suramnya.


Tidak akan aku lepaskan begitu saja kau Alex. Kau harus membayar setiap goresan luka yang ada di hati Prilly.


Mereka masih terjaga hingga larut malam sambil bercerita berbagai hal, Mike duduk bersandar di kepala ranjang dan Prilly menyandarkan kepalanya di dada bidang Mike sambil mengotak-atik ponselnya ia memilih foto pernikahan mereka di gereja. Kemudian mengunggahnya ke akun instagramnya untuk mengumumkan pernikahannya dengan Mike, tidak lama Mike merepost foto tersebut. Segera saja, beberapa menit kemudian akun media sosial mereka di banjiri dengan komen-komen yang beragam, banyak yang mendoakan. Banyak juga yang mencela dengan mengatakan bahwa Prilly benar-benar telah berselingkuh dengan sepupu mantan suaminya.


“Jangan pikirkan komen netizen, Sayang,” kata Mike sambil mengecup pucuk kepala prilly.


“Tidak akan, aku hanya suka membaca saja. Toh jika benar aku berselingkuh denganmu dulu, itu lebih baik dari pada bertahan dengan pria baj*ingan.” Prilly menjawab dengan tenang.


“Sayang, apa kau menginginkan bulan madu?” tanya Mike tiba-tiba, ia berpikir mungkin harus membawa Prilly bersantai untuk sedikit melepaskan kepenatan yang telah mereka lalui.


“Terserah padamu, Hubby” jawab Prilly.


“Kau ingin kemana?”


“Aku akan memikirkannya. Mungkin negri yang hangat dan pantai yang indah,” kata Prilly.


Ya betul, sepertinya mereka harus pergi berbulan madu.


Mereka kemudian tidur tanpa melakukan aktivitas apa pun, hanya berpelukan, merasakan kasih sayang dan cinta dalam benak masing-masing.