
“Alex, sebaiknya kau pulang!” Prilly membentak Alexander dengan suara tertahan setelah memastikan Grace tertidur.
“Anak gadisku akan kecewa saat besok pagi terbangun daddynya tidak ada di sampingnya,” jawab Alexander dengan santai, ia tampak tak berniat meninggalkan ranjang.
Grace merengek meminta tidur dikamar ibunya dan parahnya lagi gadis kecil itu meminta Alexander juga tidur di sana, entah bagaimana cara Alexander mencuci otak ketiga anak Prilly.
“Kembalilah ke tempat tinggalmu Alex, jangan sampai Jovita terluka karena kau, karena kita, aku yakin sebentar lagi akan ada kesalah-pahaman di antara kita semua.” Prilly benar-benar merasa tidak nyaman.
“Jovita sedang berada di Sidney,” jawab Alexander dengan acuh.
“Untuk apa?”
“Pekerjaan.”
“Kau menjauhkannya?”
“Tidak, ia sendiri yang ingin, ia mengeluh bosan dan ingin bekerja,” faktanya memang demikian. Alexander sama sekali tidak berbohong.
Prilly mendengus kesal mendengar jawaban Alexander, bisa di pastikan mantan suaminya tidak akan menjauh dari kamarnya, ia bangkit meninggalkan ranjangnya, mengambil selimut dan bantal lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Prilly memaksakan memejamkan matanya.
“Tulang lehermu akan sakit jika kau keras kepala tidur di sini,” suara itu begitu dekat di telinga Prilly membuat buku kuduk Prilly meremang.
“Alex, ku mohon, jangan jadikanku seperti ****** yang merusak rumah tanggamu.” Prilly berkata dengan lirih.
Alexander menekuk kakinya, “Kau ibu dari anakku, sampai kapan pun kau tidak akan pernah sejajar dengan para ****** yang pernah menghangatkan ranjangku,” kata Alexander dengan nada pelan.
“Kalau begitu jangan dekati aku lagi, kumohon.”
“Kau takut tergoda olehku?” tanya Alexander.
“Kau jangan besar kepala, aku hanya tidak mau Jovita mengalami hal yang sama sepertiku,” jawab Prilly sambil jemarinya menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
Alexander justru menarik kembali selimut yang mengubur kepala prilly dengan pelan, ujung jemari tangan Alexander mengelus kulut wjah Prilly dengan penuh perasaan. “Prilly, jangan pernah kau menganggap dirimu adalah jalangku.”
“Alex, kita telah," tanpa menyeleaikan kalimatnya air mata Prilly tergelincir dari kelopak matanya.
“Kenapa kau tidak pernah bisa mengerti perasaanku?” Alexander mengangkat tubuh kecil Prilly, bukan membawanya ke atas ranjang namun justru meletakkan di pangkuannya.
“Prilly.” Alexander berkata dengan nada sangat rendah dan pelan, ia menyatukan kening mereka berdua. “Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapimu.” Nada suara Alexander penuh kepahitan.
“Alex, aku hanya mencintai Mike, aku tidak ingin pria lain dalam hidupku.” Lirih Prilly mengatakan isi hatinya yang sjujurnya.
“Aku mengerti,” jawab Alexander, air mata Alexander tergelincir dari kelopak matanya, sangat sakit rasanya ketika wanita yang ia cintai terang-terangan menolak dirinya, terus menerus seumur hidupnya.
“Maafkan aku Alex, aku tak bisa membalas perasaanmu,” erang Prilly begitu menyadari air mata Alexander jatuh menambah basah di pipinya.
"Tidak perlu membalas perasaanku, izinkan aku merawatmu saja, itu sudah cukup," jawab Alexander, terdengar sangat tulus.
Hening sejenak, hanya deru nafas mereka berdua yang terdengar begitu berat.
“Alex, walaupun hanya kuburnya aku harus melihatnya,” ucap Prilly memecah keheningan.
“Suamimu masih hidup, percayalah padaku.” Alexander menjawab dengan nada getir, entah harus iba pada dirinya atau pada Mike.
Alexander membawa Prilly ke dalam dekapannya, tidak ada pembicaraan lebih lanjut lagi di antara mereka.
Paginya ketika membuka matanya Prilly mendapati dirinya berada di atas ranjang, tidak ada Grace maupun Alexander di dalam kamar itu, Prilly menurunkan kakinya dari ranjang untuk melangkah ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya lalu menuruni tangga dan menuju dapur untuk mengecek pelayan yang sedang menyiapkan sarapan untuknya dan anak-anaknya.
Perasaan Prilly terasa tergigit, bagaimanapun ketiga anaknya memang memerlukan figur ayah untuk menemani tumbuh kembang mereka, dan Alexander adalah pria terdekat dengan ketiga anaknya, Anthony kakaknya memiliki keluarga yang bahagia, Anthony dan Linlin akhir-akhir ini hanya bisa berkunjung satu minggu sekali ke tempat tinggal Prilly karena kesibukan mereka yang bertambah.
Sebenarnya orang tua Prilly berulang kali mengusulkan untuk tinggal di Mansion keluarga Smith agar Sandra lebih mudah mengurus ketiga cucunya, namun Prilly bersikeras untuk tetap tinggal di mansion peninggalan suaminya, menunggu pria yang paling ia cintai kembali, ia meyakini suaminya akan kembali suatu saat nanti.
“Mommy, selamat pagi.” William berseru sambil melambaikan tangannya saat menyadari kehadiran ibunya, “mommy kemarilah, daddy membuatkan sarapan.”
“Selamat pagi sayang.” Prilly mendekati ketiga anaknya, mengecup satu persatu pipi anaknya.
“Mommy kau tidak mencium daddy?” tanya Grace.
“Grace, itu tidak di izinkan.” Prilly sedikit bingung bagaimana cara menjelaskan pada ketiga putranya.
Tiba-tiba Alexander mendekati meja pantry.
“Mommy malu mencium daddy di depan kalian,” kata Alexander dengan seringai menggoda di wajahnya.
Prilly membelalakkan matanya ke arah Alexander yang di balas Alexander dengan seringai kemenangan.
“Kalau begitu daddy saja yang mencium mommy,” seru Grace.
“Grace,” belum selesai Prilly mengatakan apa-apa sebuah kecupan mendarat di pelipisnya.
Prilly buru-buru menginjak telapak kaki Alexander dengan tumitnya, namun Alexander seolah tidak merasakan apa-apa.
“Daddy bisakah kau membuatkan kami sarapan setiap pagi? Aku suka roti panggang buatanmu.” Leonel bertanya dengan polosnya.
Mendengar permintaan Leonel, Prilly hendak membuka mulutnya namun Alexander segera menyela, “bujuk mommy kalian agar daddy bisa membuatkan kalian sarapan.” Alexander mengedipkan sebelah matanya ke arah Grace.
Ketiga anak kecil itu menganggukkan kepalanya, tidak tega mengecewakan ketiga putranya Prilly tersenyum manis, ”baiklah, saat daddy kalian tidak sibuk ia pasti akan membuatkan kalian sarapan setiap pagi.”
Setelah sarapan penuh sandiwara di depan ketiga anaknya Prilly menyeret Alexander ke dalam ruang kerja, ruang kerja tempatnya dan Mike dulu.
“Ei-lek-sen-de!” desis Prilly, “apa yang kau rencanakan?” tanya Prilly sambil menatap mantan suaminya dengan tatapan permusuhan.
“Menikahimu, aku ingin merawat ketiga anak kita sebagai keluarga yang sempurna.”
“Aku bersuami, kau beristri, kau jangan gila.” Prilly mengingatkan Alexander apa status mereka masing-masing.
“Anak-anak perlu ayah, prilly.”
Prilly tidak menyangkal, perkataan mantan suaminya memang benar, “ayah mereka akan kembali,” jawab Prilly dengan nada penuh keyakinan sambil membalikkan tubuhnya, namun dengan cepat Alexander menangkap pergelangan tangan Prilly.
“Hanya sampai Mike di temukan, ayo bersandiwara di depan anak-anak,” ucap Alexander.
“Alex, jangan bermain api, kau membahayakan rumah tanggamu.”
“Aku bisa mengatasinya, asal kau bekerja sama denganku.”
“Alex.” Prilly memejamkan matanya sambil menghela nafas dalam-dalam. “Sepandai apa pun kita menyimpan kebohongan, suatu saat kebohongan itu pasti,” Prilly berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang berada di genggaman telapak tangan Alexander namun pria itu justru meraih tubuh Prilly ke dalam pelukannya.
“Alex, sudah kukatakan aku,” belum lagi Prilly menyelesaikan kalimatnya Alexander telah ******* bibirnya, dan sialnya lagi Prilly tak mampu menolak, ia justru menikmatinya.
“Alex,” erang Prilly, “hentikan!” suara Prilly tertahan di tenggorokannya.
AUTHOR KABUR DULU DEH, KARENA PASTI BANYAK YANG TERTIPU DENGAN JUDUL BAB 😂😂😂😂
MENDING TAP TAP JEMPOL KALIAN AJA 😚😚😚 HEHEHEEEE