
“Kali ini aku mohon sekali ini saja, percayalah padaku Sidney bukan selingkuhanku. Aku tidak pernah selingkuh bersama Sidney, aku hanya mencintaimu aku sudah cukup memilikimu, aku tidak perlu wanita lain dalam hidupku.” Alexander berusaha meyakinkan Prilly ya meraih kedua telapak tangan Prilly dan mengecupnya dengan lembut berulang-ulang.
“Jelaskan apa hubunganmu dengan Sidney saja." Terus saja Prilly tidak percaya dengan ucapan Alexander.
“Sydney adalah keponakan Harry dan Sophia." Alexander tidak berbohong Sidney memang keponakan Harry dan Sophia.
“Bohong.” Prilly bergumam tatapan matanya masih menyiratkan permusuhan yang dalam.
Alexander kembali mengecupi punggung telapak tangan istrinya dengan penuh kasih sayang. “Aku tidak berbohong sayang, demi Tuhan dia keponakan Harry dan Sophia.”
Ekspresi wajah Prilly tampak sedikit melunak meski bibirnya masih tampak terkatup rapat.
“Kau sangat pencemburu sayangku." Alexander menggoda Prilly. “Apa kau begitu mencintaiku?” Alexander mengangkat sebelah alisnya dengan senyum menggoda Prilly.
Prilly yang memalingkan wajahnya. “Jangan besar kepala.”
Alexander meraih dagu Prilly dengan lembut agar mereka kembali dapat saling menatap, “katakan kepadaku seberapa besar rasa cintamu padaku.”
Prilly tampak berpikir. “Itu tidak bisa digambarkan.”
“Apa begitu besar?” Alexander menatap lembut mata Hazel milik Prilly, katanya begitu lembut bahkan membuat sisa emosi Prilly yang masih tergambar di wajahnya mulai pudar.
“Kau seperti anak kecil,” kata Prilly dengan nada sedikit merengek.
“Seperti anak kecil? Anak kecil yang bisa membuat anak kecil?” Alexander menyeringai sambil menatap Prilly dengan tatapan yang sangat menggoda.
Melihat tatapan menggoda Alexander membuat jantung Prilly berpacu semakin cepat karena tatapan mata Alexander yang begitu menawan bagi pria sayang Prilly terlambat menyadarinya bahwa Alexander sangat menawan. Jantungnya selalu terasa berdegup kencang setiap Alexander menatapnya dengan tatapan menggoda seperti itu.
Prilly mencubit perut suaminya karena gemas. “Jangan coba-coba membuatku cemburu lagi Alexander." wajah Prilly tampak merah merona sepertinya kecemburuannya telah teratasi.
Alexander menarik nafasnya karena lega. “Baiklah, maafkan Aku.”
Prilly menatap Alexander dengan tatapan tampak malu-malu.
“Apa apa?” Alexander menaikkan sebelah alisnya.
Prilly menggeleng.
“Katakan sayang apa maumu? Apa kau ingin membuat bayi?”
Prilly menempelkan telapak tangannya di kening Alexander, “apa hanya itu yang ada di pikiranmu?”
“Tentu saja, aku sangat merindukanmu dua malam kau mengacuhkanku," jawab Alexander sambil mengambil telapak tangan Prilly dan mengecup jemari istrinya berulang-ulang.
Alexander segera menerkam tubuh kecil Prilly mencium bibir kenyal milik Prilly menelusuri kulit lembut milik istrinya melepaskan seluruh pakaian yang membungkus tubuh Prilly membenamkan wajahnya di dada istrinya, mulutnya mulut Alexander terus menghisap dada istrinya seperti ia adalah seorang bayi yang sedang kelaparan.
Setelah puas bermain-main dengan setiap jengkal tubuh istrinya dan membuat begitu banyak kiss mark di dada dan di leher istrinya, Alexander mengambil posisi untuk menyatukan kedua tubuh mereka, tetapi Prilly menghentikan Alexander. Matanya berkabut gairah namun terlihat begitu sendu.
“Benarkah Sydney bukan selingkuhanmu?”
Pertanyaan Prilly membuat gairah Alexander menurun drastis, ia merebahkan tubuh menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Prilly.
“Kenapa berhenti?” Pertanyaan Prilly kali ini justru membuat Alexander semakin kehilangan gairahnya.
“Tidurlah,” jawab Alexander sambil merangkul tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
“Kita belum selesai,” tuntut Prilly.
“Tidurlah kita bisa melanjutkan besok pagi.” Alexander merasa lelah, lelah menutupi kebohongannya.
“Sepertinya kau memang memiliki selingkuhan bernama Sidney, lihat kau tidak bernafsu lagi padaku,” suara Prilly terdengar hampir meledakkan tangis.
“Kau terlalu banyak menuduhku sayang, Bagaimana cara aku membuktikan tidak ada wanita lain di hatiku?” Alexander menuntun telapak tangan Prilly dan meletakkan telapak tangan itu di dada Alexander.
“Hanya kau satu-satunya wanita yang ada di hatiku, sampai maut memisahkan kita,” ucap Alexander sambil menatap wajah Prilly dengan tatapan begitu tulus.
“Alex, aku sangat mencintaimu, mencintaimu membuatku takut, aku takut kau meninggalkanku." Prilly mulai terisak.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Prilly. Tidak akan pernah. Jangan menangis, aku tidak ingin cintamu padaku membuatmu menangis.” Alexander menyapu air mata Prilly dengan penuh kasih sayang menggunakan telapak tangannya.
“Aku sangat mencintaimu Prilly, kau tahu sendiri bagaimana perasaanku sejak dulu.”
Prilly mengangguk.
“Sayang pernahkah kau bercermin saat menangis?” Alexander menatapku dengan tatapan geli.
“Untuk apa kau bertanya seperti itu? Aku tidak memiliki waktu untuk menangis di depan cermin,” kata Prilly dengan nada kesal.
“Kau sangat jelek saat menangis kau harus tahu itu." Alexander menggoda Prilly.
Mendengar ucapan Alexander, Prilly sangat kesal. Tentu saja ia kesal, wanita mana yang bisa menerima dikatakan jelek oleh suaminya sendiri, Prilly mencubit perut Alexander yang keras perut itu memang benar-benar hanya berisi otot rupanya.
“Kau benar-benar sangat menyebalkan,” sungut Prilly.
Alexander menangkap telapak tangan Prilly yang mencubiti perutnya, kemudian mengarahkannya ke arah benda yang berada di antara kedua paha Alexander. "lebih baik kau belai dia dari pada untuk mencubit perutku, bangunkan dia.”
Prilly menarik tangan telapak tangannya namun terlambat, benda itu memang telah berada di genggaman tangannya, ia pasrah dengan titah suaminya, telapak tangannya mengelus benda itu dengan penuh kasih sayang hingga benda tersebut menegang dan menjadi kokoh seperti tulang.
Bibir lembut Prilly juga telah disegel oleh Alexander, mereka berdua tenggelam dalam ciuman yang sangat lembut dan memabukkan. kedua insan itu lanjutkan memadu kasih yang nyaris tertunda, menumpahkan kerinduan di antara entakkan pinggul yang berpadu dengan geraman dan erangan dari bibir mereka.
Saling menggumamkan cinta dalam kenikmatan untuk terus saling memiliki.
Paginya saat Alexander baru saja keluar dari kamar mandi, istrinya sedang berdiri sambil memegang ponsel Alexander. Matanya menyipit penuh kemarahan menatap Alexander.
“Harry memanggil, ia mengatakan Sidney berada di rumah sakit dan hendak menjalani operasi. Kalian... Apa yang kalian sembunyikan dariku?” dada Prilly tampak naik turun, ia sepertinya benar-benar marah kali ini.
RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
VOTE POIN SEBANYAK-