
TAP JEMPOL KALIAN TERLEBIH DULU SEBELUM MEMBACA PLIS!
“Mommy... kata Daddy kita harus bersiap-siap,” ucap Sidney pagi itu saat Helena tengah menyiapkan sarapan pagi.
“Bersiap?” tanya Helena tampak bingung. Bukankah setiap pagi Mike yang mengantarkan Sidney untuk pergi ke sekolah.
“Daddy terserang flu, dia takut aku dan Mommy aku tertular. Jadi Daddy mengatakan kita harus pergi ke hotel,” kata Sidney.
“Ke hotel?”
Sidney menganggukkan kepalanya.
“Sayang, kau makan dulu sarapanmu, Mommy akan melihat keadaan Daddy-mu,” kata Helena. Ia meletakkan sepiring pancake yang di siram dengan saus stroberi di depan Sidney.
Sidney kembali menganggukkan kepalanya.
Sementara Helena ia melangkah masuk ke dalam kamar Mike, penglihatannya langsung menangkap sosok tinggi besar yang sedang meringkuk diatas tempat tidur. Tanpa ragu-ragu Helena mendekati ranjang dan duduk di sisi ranjang, ia meraba kening Mike untuk memastikan suhu tubuh pria yang pernah melamarnya itu.
“Kau sakit?” tanya Helena dengan suara pelan. Suhu tubuh Mike terasa sangat panas.
“Hhmmm... kalian tinggallah dulu di hotel hingga aku sembuh,” kata Mike sambil membuka sebelah matanya.
“Konyol, siapa yang akan merawatmu, kau bahkan hanya bisa meringkuk di atas tempat tidur,” ucap Helena.
“Aku bisa mengurus diriku,” kata Mike.
“Aku akan mengantar Sidney ke sekolah dan membeli beberapa obat untukmu,” kata Helena.
“Maaf merepotkanmu,” gumam Mike.
“Tidak sama sekali,” ucap Helena. Perlahan ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju pintu keluar. Saat tangannya hendak meraih gagang pintu, Helena menoleh ke arah tempat tidur. “Mike, apa kau ingin makan sesuatu?”
“Hhmmm... kurasa tidak ada,” jawab Mike.
“Baiklah,” ucap Helena, ia menarik gagang pintu. Melangkahkan kakinya menuju keluar lalu mengambil dompet dan kunci mobilnya. Ia juga memastikan sarapan Sidney telah habis lalu bergegas pergi mengantarkan Sidney untuk pergi ke sekolah.
Tiga puluh menit kemudian ia kembali di tangannya memegang satu kantung jeruk dan kantong plastik berisi obat. Setelah meletakkan jeruk di meja makan ia mencuci tangannya lalu membuat semangkuk bubur oat, membawa segelas air lalu menuju kamar Mike untuk memberikan Mike makanan dan obat.
“Mike apa kau tidur?” tanya Helena sambil meletakkan nampan berisi makanan di atas nakas.
Mike membuka matanya, ia tampak menyipitkan matanya.
“Kau harus mengisi perutmu lalu minum obatmu,” kata Helena sambil mengaduk bubur oat agar panas yang terkurung di dalam mangkuk berkurang.
“Terima kasih, aku akan memakannya nanti,” kata Mike.
“Tidak, kau harus memakannya sekarang.”
“Aku hanya ingin tidur sebentar,” kata Mike sambil memejamkan matanya kembali.
“Kau harus makan sekarang. Kau harus sembuh.” Helena mendesak Mike agar memakan bubur dan obatnya.
Helena menghela napasnya dan mengembuskannya dengan agak kasar. “Berhentii berkata konyol, apa kau bisa duduk? Biar aku memberimu makan.”
Mike tidak merespons. Ia kembali memejamkan matanya.
“Mike, jangan membuatku khawatir.” Suara Helena terdengar bergetar.
“Ini hanya flu,” jawab Mike, ia sama sekali tidak berniat untuk memakan bubur maupun obat yang di bawakan oleh Helena.
“Mike, jangan keras kepala. Suhu tubuhmu sangat tinggi, makan dan minum obat. Jika tidak mereda kita harus pergi ke rumah sakit.”
Tentu saja Helena khawatir, Mike pernah menjalani operasi pengambilan tulang sumsum sebanyak dua kali untuk Sidney, jika sesuatu terjadi kepada Mike, ia tidak tahu Haras bagaimana merawat Sidney nanti sementara ia sendiri tidak bekerja. Yang jelas jika terjadi sesuatu kepada Mike bisa di pastikan ia harus menyerahkan Sidney kepada Prilly. Ia tidak siap untuk itu. Tidak siap.
“Aku tidak berselera,” kata Mike.
“Kau sangat egois, kau tidak memikirkan bagaimana kami jika sesuatu terjadi kepada kami.” Akhirnya air mata Helena terjatuh juga. Ia sudah tidak bisa lagi menahan kekhawatiran yang menggayuti benaknya hingga bibirnya menyuarakannya.
Mike membuka matanya, susah payah ia mengubah posisinya menjadi duduk. “Kemarilah,” kata Mike.
“Untuk apa?” tanya Helena dengan nada ketus.
“Aku ingin memelukmu,” ujar Mike. Tatapannya begitu sendu menatap Helena, hidungnya tampak memerah.
Wajah Helena merona. Ia perlahan naik ke atas tempat tidur, mendekati Mike lalu membiarkan Mike memeluknya.
Tangisannya justru semakin menjadi-jadi. “Kau sangat menyebalkan, kau tidak boleh sakit, kau membuatku khawatir.”
“Maafkan aku,” kata Mike sambil memeluk tubuh Helena kuat-kuat.
Helena memuaskan dirinya menangis di dalam pelukan Mike, entahlah pikirannya berkecamuk. Sidney dan Mike adalah keluarganya, ia tidak akan sanggup jika harus terpisah dari mereka.
“Tidak akan terjadi apa-apa padaku, jangan khawatir,” ucap Mike.
“Kalau begitu makan dan minum obatnya,” erang Helena. Ia membenamkan wajahnya di dada Mike yang terasa sangat panas karena demam.
“Berikan aku makan,” pinta Mike.
Helena mengangguk, ia menjauhkan wajahnya dari dada Mike kemudian menyeka sisa air matanya. Tangannya meraih mangkuk yang berisi bubur oat kemudian perlahan mengaduknya mengenakan sendok. “Buburnya menjadi dingin,” kata Helena. Matanya terfokus ke arah bubur yang ada di tangannya.
“Tidak masalah,” kata Mike sambil menatap wajah Helena yang memerah. Sudut bibirnya terangkat.
Akhirnya, kena juga kau.
Setelah selesai memberi Mike makan Helena memberikan obat kepada Mike, dengan patuh Mike menelannya di bantu dengan segelas air. Ketika Helena hendak turun dari ranjang Mike segera menangkap pergelangan tangan Helena. “Temani aku tidur,” pintanya dengan ekspresi memelas.
TO BE CONTINUED 🌸
TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤
JANGAN LUPA BACA ARISAN BERONDONG!