Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Gaya yang dulu



Kau akan ku coret dari posisimu di perusahaan jika kau berani menikahi jalangmu!” hardik Diana.


“Coba saja, kita lihat apa perusahaan mampu berdiri tanpa campur tanganku?” tanya Alexander dingin sambil menutup pintu ruangan tersebut.


Sementara Diana terengah engah mengatur nafasnya yang terasa berat, putranya satu-satunya menentangnya hanya karena seorang wanita, terlebih lagi ia hanya salah satu jalangnya.


Menahan amarah yang seperti hendak membuncahkan kepalanya Diana me***as selembar kertas hingga buku-buku jarinya memutih, wanita berambut pirang tersebut mendudukkan pantatnya, menyandarkan kepalanya di kursi sambil matanya terpejam, isi kepalnya di penuhi dengan kekecewaan pada putra semata wayangnya.


Dulu ia sangat bahagia ketika putranya mendapatkan Prilly, dan ia telah kehilangan harapan sejak Prilly di kecewakan oleh putranya, terlebih sekarang Prilly telah di nikahi keponakannya sendiri, harapannya benar-benar musnah.


Di lamar Alexander Jovita tengah menidurkan William, pria kecil itu meringkuk di pelukan Jovita dengan tenang, bulu. Memikirkan hal pelik yang sedang menimpanya cukup membuat Jovita lelah, setelah memandangi wajah William yang mulai terlarut dalam mimpi perlahan rasa kantuk juga merayapi dirinya dan Jovita pun tertidur.


Sementara Alexander masuk ke kamarnya dan menjumpai pemandangan indah di atas ranjangnya, sungguh tidak di sangka ia sekarang ia dapat menyentuh William dengan tangannya sendiri, ia memandangi Jovita, kemudian setelah mengganti pakaiannya ia merebahkan tubuhnya di samping tubuh Jovita, memeluk wanita yang untuk pertama kali dalam hidupnya, mengacaukan pikirannya dan berani berkata kasar padanya. Wanita todak masuk akal yang membuat jantung Alexander berguncang, apa mungkin ia jatuh cinta?


Sementara di New York, Mike dan Prilly telah kembali dari California beberapa hari yang lalu, setelah memeriksakan kandungan Prilly yang semakin membesar mereka sedang duduk di ruang kerja, Prilly memegang pensil dan kertas menggambar desain perhiasan sedangkan Mike membaca setumpuk kertas dokumen, tidak lama ponsel Prilly berdering.


Alexander memanggilnya, tentu saja Prilly mengira bahwa Alexander memanggilnya karena William merepotkan, tapi Alexander justru menceritakan perihal hubungannya dengan Jovita.


“Selamat kak Alex” ucap Prilly ketika Alexander memberitahu bahwa Jovita tengah berbadan dua.


“Prilly, seperti apa rasanya jatuh cinta?” Alexander tiba-tiba bertanya.


“Oh tuhan, ku rasa agak sulit untuk menjabarkannya, tapi yang pasti saat kau jatuh cinta kau akan merasakan dunia menjadi berwarna,” kata Prilly.


“Benarkah? Saat bersamamu dulu aku juga merasa duniaku berwarna, dan warna yang ku lihat hanya dirimu,” jawab Alexander dengan nada bercanda.


“Kau bisa saja,” kata Prilly sambil sedikit tertawa, “jadi kapan kau akan menikahi Jovita?”


“Aku menunggu kalian kembali ke London, aku ingin saat pernikahanku nanti kita berkumpul sebagai keluarga.”


“Apa tidak masalah, kandungan Jovita akan semakin membesar?”


“Tidak masalah.”


“Kak Alex, bisakah aku meminta sesuatu?”


“Katakanlah.”


“Ku mohon, jangan kecewakan Jovita, ia gadis yang baik dan tulus,” kata Prilly dengan nada hati-hati.


Mike yang duduk di depan Prilly tampak memandangi wajah kecil istrinya, tatapannya begitu sayu teringat bagaimana Alexander pernah berbuat hal yang tidak sepantasnya pada Prilly.


“Terima kasih telah mengingatkanku, aku tidak ingin lagi jatuh kedalam lubang yang sama, aku telah cukup bersenang senang, aku ingin memiliki keluarga yang normal sepertimu dan Mike."


Setelah berbincang seputar kabar William, Prilly mengakhiri obrolannya bersama Alexander.


Senyum tampak mengembang di bibir Mike, “aku bahagia mendengarnya.” Tentu saja ia bahagia, setidaknya jika Alexander memiliki istri, Mike tidak perlu khawatir lagi soal mantan suami Prilly karena jujur saja Mike masih tidak sepenuhnya yakin sepupunya itu benar-benar melepaskan Prilly semudah itu.


Prilly tiba-tiba mendekati suaminya, dengan gerakan seolah memaksakan dirinya Prilly duduk di pangkuan Mike.


“Ada apa sayang?” tanya Mike.


“Mike, aku ingin dirimu,”


rengek Prilly dengan gaya manjanya.


“Apa kau tidak lelah?”


“Aku tidak lelah.”


“Apa kata dokter?”


“Itu baik-baik saja, jika kau tidak ingin maka aku yang akan menelanjangimu.”


“Kalau begitu aku tidak bisa berkata tidak sayang,” bisik Mike dengan suara sedikit menggeram.


Mike mengangkat tubuh Prilly ala bridal style, “kau semakin berat sayang,” kata Mike seraya merebahkan istrinya di atas ranjang, menikmati tubuh istrinya yang semakin padat dan berisi, dengan hati-hati Mike menekan Prilly di bawahnya, memastikan kedua calon bayinya tidak tertindih olehnya.


"Sayang kau terlalu berhati hati." protes Prilly lebar.


"Aku mengkhawatirkan babies sayang," ucap mike sambil mengecup bibir Prilly.


"Mereka marah," sungut Prilly.


Mike mengerutkan keningnya. "Katakan apa salah Daddynya?"


"Mommynya belum puas." Prilly kembali menyeringai.


"Tapi, aku takut berbahaya, Sayang."


"Aku suka gaya kita yang dulu."


Prilly naik ke atas tubuh Mike dan menggoda suaminya yang sejak ada janjn di dalam rahim Prilly, suaminya selalu bertindak dengan sangat hati hati, bagaimapun Prilly pernah merasakan ketidak puasan seorang suami di atas ranjang dan berakhir dengan Alexander mencari kepuasan di luar rumah. Ia tidak ingin hal serupa terjadi di antara dirinya dan Mike, belajar dari masa lalu, menurut Prilly cinta saja tidak cukup, dalam berumah tangga hubungan yang saling memuaskan di atas ranjang adalah salah satu pondasi kuat dalam rumah tangga.


Selamat pagi 😚😚😚😚


Jangan bosen tap jempolnya ya 😚😍


Novel ini update dua kali sehari, pagi dan sore ya ❤💖❤❤💖❤💖