
“Omong kosong, kau seperti Jovita kau menuduhku, kebetulan David makan di tempat itu juga dan dia menghampiri kami. Oh ya, Hubby... kau tahu? Sepertinya Anne dan David dalam hubungan, mereka menjalin hubungan aku yakin,” kata Prilly mulai mengajak suaminya bergosip.
“Astaga, kau mengajakku bergosip?” Alexander terkekeh.
“Tidak, bukan bergosip, aku hanya menduga karena sikap Anda tidak seperti biasanya apa itu seperti hubungan sekretaris dan bosnya?” tanya Prilly dengan nada polos.
Mungkin jika Alexander berada di depannya pastilah Alexander sudah merasa tidak nyaman karena pertanyaan Prilly, bagaimanapun pria itu pernah merusak hubungan rumah tangga mereka karena sekretaris.
“Maksudku begini....” Prilly berusaha meralat kalimatnya. “Maksudku aku tidak bermaksud mengungkit masa lalu bukan begitu, apa kau marah padaku?”
“Bagaimana mungkin aku bisa marah padamu sayangku?” Alexander hanya tersenyum simpul dan menatap Prilly, “Tapi, aku bisa lebih marah karena kau makan siang bersama pria lain, jika tidak ada Anne di antara kalian,” kata Alexander dengan nada yang terdengar tidak senang.
“Hahaha...” Prilly justru tertawa. “Di masa lalu aku Linlin, Anne dan Adelia kami sering meminta David untuk mentraktir kami makan siang.”
“Aku tidak suka istriku makan siang dibayarkan pria lain. Jadi, setelah aku kembali aku akan mengundang David untuk mentraktirnya makan siang,” kata Alexander.
“Ya Tuhan, kau sangat konyol sayangku, Hubby kapan kau kembali? aku sangat rindu padamu,” rengek Prilly.
“Bersabarlah, aku akan kembali besok, aku juga sangat merindukanmu,” jawab Alexander.
“Bagaimana urusan pekerjaan di sana?” Jemari tangan Prilly seolah hendak membelai wajah suaminya di layar ponsel.
“Itu tidak penting lagi sayangku, yang terpenting adalah rinduku padamu, kau tahu? waktu berjalan terasa sangat lambat di sini aku merindukanmu, Prilly,” kata Alexander dengan nada sangat lembut.
Prilly tersenyum, matanya tampak berbinar menatap wajah suaminya, ia merebahkan tubuhnya di atas sofa membuat dadanya tampak membusung Alexander tampak menelan ludah karena melihat dada istrinya yang sedikit menyembul.
“Sayang apa yang kau lakukan? Jangan menggodaku,” pinta Alexander.
“Aku tidak menggodamu,” kata Prilly ia memang tidak menggoda suaminya.
“Tapi, posisi seperti itu membuatku ingin berada di atasmu, Sayang,” kata Alexander dengan nada lemah tak berdaya.
“Hubby, kau sangat mesum,” kekeh Prilly dengan seringai jail di wajahnya.
“Aku ingin segera pulang untuk menciummu,” kata Alexander, tampak di layar ponsel milik Prilly tangannya bergerak-gerak.
Prilly justru sengaja membuka sedikit gaun tidurnya dan menampak menampakkan dadanya yang berisi kepada suaminya, ia juga me**masnya membuat Alexander semakin tampak frustrasi.
“Oh shit,tthat’s the nipp*le!” gerutu Alexander yang tampak putus asa.
“Dia sangat merindukanmu, Sayang... cepatlah pulang,” rintih Prilly menggoda suaminya kali ini dia benar-benar menggoda suaminya.
“Jangan menyiksaku, tunggu aku akan pulang.” Alexander mematikan panggilan videonya dan mengubah menjadi panggilan telepon dia tidak sanggup melihat istrinya menggodanya.
Di New York.
Hari ini rencananya Alexander akan kembali ke London ia memang tidak sabar lagi untuk bertemu Prilly dia sangat merindukan istrinya juga anak-anaknya sebelum ia kembali ke London ia dan Harry bertemu di coffee shop, mereka berdua duduk berhadapan sambil menyesap kopi yang mereka pesan.
“Jadi pembeli itu menolak untuk bernegosiasi ulang ya denganmu?” Setelah beberapa saat Harry membuka suaranya.
“Ia lebih memilih perusahaan sainganku, begitulah,” kata Alexander dengan nada acuh.
“Aku rasa kemampuanmu harus ditingkatkan mungkin saat berbicara dengan pembeli wajahmu kurang meyakinkan,” ejek Harry.
“Aku cukup meyakinkan dan aku rasa, aku cukup tampan,” ucap Alexander masih dengan nada acuh.
“Ini tidak hubungannya dengan ketampanan, kau berlebihan kalau terlalu percaya, diri sejak kapan kau seperti itu?” Harry menggelengkan kepalanya.
“Aku hanya bosan aku ingin sekali kembali ke London saat ini,” gerutu Alexander.
“Kau tidak memakai jet pribadimu?” Harry mengangkat gelas kopinya lalu menyesap isinya.
“Omong kosong Aku hanya pergi sendiri tidak mungkin aku seboros itu,” jawab Alexander, ia bukan pria yang gemar berfoya-foya apalagi sekarang yang ada Prilly dan ketiga anaknya yang harus iya pikirkan masa depannya.
“Itu lebih baik,” ucap Harry sambil meletakkan kembali gelas kopinya ke tempat semula kemudian ia menggeser kursor di laptopnya.
“Aku merasa sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan dengan pembeli yang membeli rancangan yang dicuri darimu itu,” kata Harry.
“Aku juga mencium sesuatu yang aneh,” kata Alexander menimpali perkataan Harry.
“Kau lihat ini." Harry menunjuk pada grafik yang ada di laptop miliknya. “Aku mencium bau kecurangan di sini,” kata Harry.
“Dari mana kau mendapatkan data pelaksana proyek?” Alexander mengamati data itu dengan seksama.
“Itu tidak penting,” jawab Harry. “Kita cukup duduk manis dan menonton pertunjukan ini aku yakin kau tidak akan menyesal melepaskan proyek ini dengan ikhlas."
Alexander masih mengamati data dan grafik yang ada di dalam layar laptop milik hari tiba-tiba satu baris pesan muncul pengirimnya inisial M.
“Harry, katakan pada Alexander untuk segera kembali ke London, keluarganya lebih memerlukannya."
Isi dari pesan tersebut.
Alexander tentu saja mengerutkan keningnya ia menggeser laptopnya laptop di depannya, “apa maksud pesan ini?”
Sekilas terlihat tatapan Harry tampak goyah namun ia segera menutupinya. “Oh itu? dia orangku, benar keluargamu lebih memerlukanmu, kau tidak perlu risau lagi masalah proyek yang hilang itu, kau perbaiki saja keseluruhan isinya, aku telah berjanji padamu untuk memberikan yang lebih baik. Kau bisa pegang kata-kataku,” kata Harry sambil menggeser laptopnya dan tidak lama ia mematikannya.
Setelah menyelesaikan perbincangan masalah proyek merek Alexander akhirnya Alexander mengundurkan diri karena ia harus pergi ke airport untuk kembali ke London, namun sebelumnya ia tentu harus kembali ke kamar hotelnya untuk bersiap-siap karena barang-barangnya masih berada di sana. Setelah mengambil seluruh barangnya Alexander segera menuju lobi karena mobil yang akan mengantarkannya ke airport telah menunggunya, tak sengaja ia berpapasan dengan seseorang yang mengenakan topi dan jaket, figur pria yang berpapasan dengannya tampak akrab dan ketika ia menoleh ke belakang yang rasanya ia semakin mengenali figur dari pria itu, ada sekilas rasa penasaran di dalam hatinya ingin menyapa pria itu, tetapi ia melirik arloji di pergelangan tangannya waktunya dia pergi ke airport sudah sangat dekat dan ia takut akan miss flight, ia lebih merindukan Prilly dibanding harus mengejar pria yang tampak familier itu.
TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️❤️❤️
VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤️❤️❤️❤️❤️
TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️❤️❤️