Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Terlalu memanjakan



London, 03.00 pm


“Prilly, pencarian Mike tidak bisa lagi di lanjutkan,” kata Anthony dengan nada lirih, matanya waspada menatap adiknya yang sedang mengusap bulir-bulir air mata yang terjatuh di pipinya, “sudah tiga tahun sayang, pencarian kita telah mengalami kebuntuan." Anthony berusaha memberikan adiknya pengertian.


“Aku akan terus melanjutkannya,” ucap Prilly lirih.


“Prilly, lihat dirimu, sekarang kau sangat kurus dan pucat.” Anthony benar-benar iba pada adik satu-satunya, tubuh mungilnya benar-benar menjadi sangat kurus, ia juga hampir tak pernah tersenyum selain di depan anak-anaknya.


Prilly mengambil alih kepemimpinan perusahaan yang di tinggalkan Mike, ia juga merawat tiga anaknya tentu saja ia di bantu oleh Anthony, Linlin dan Alexander juga Jovita.


“Pikirkan juga masa depanmu, kau seharusnya berusaha membuka dirimu untuk pria lain, pergilah berlibur, biar Grace dan Leonel kami yang mengurus,” bujuk Anthony.


Prilly menggeleng pelan. “Aku tidak memerlukan itu.”


“Prilly, masa depanmu masih panjang.”


“Jual saja semua saham atas namaku, aku akan menggunakan uangnya untuk mencari Mike,” kata Prilly sambil menunduk, siku tagannya bertumpu di meja dan jari jemarinya menekan kedua pelipisnya.


“Seluruh pesisir pantai di seluruh penjuru bumi ini telah di selidiki selama tiga tahun dan itu memakan biaya yang tidak sedikit. Sayang, aku mengerti keinginanmu tapi kau juga harus memikirkan Grace dan Leonel, mereka kelak memerlukan biaya pendidikan dan masa depan yang terjamin. Kau tidak bisa mengatakan begitu saja menjual sahammu untuk mencari Mike, kau juga tahu Glamour Entertainment sekarang tak sejaya dulu di bawah kepemimpinan suamimu.” Anthony terus memberikan pengertian pada adiknya.


“Kakak, kau tidak mengerti, aku sangat mencintai Mike.” Prilly justru semakin terisak.


Anthony mengangkat gagang telepon di depan meja Prilly dan memanggil Anne, sahabat sekaligus sekretaris Prilly.


“Anne, bawa Prilly kembali ke rumahnya, biar aku yang mengurus pekerjaan di sini,” titah Anthony ketika Anne telah berada di dalam ruangan itu.


***


Anne mengemudikan mobil sementara Prilly duduk di bangku sebelahnya dengan tatapan mata kosong, tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka berdua.'Anne berulang kali menghela napasnya dalam-dalam, ia juga merasakan betapa sahabatnya kini terpuruk, Anne kembali menjadi sekretaris Prilly begitu mendengar kabar Prilly mengambil alih perusahaan yang di tinggalkan Mike, ia sendiri yang datang kepada Prilly menawarkan diri untuk membantunya.


Mereka tiba di Mansion berbentuk kastil dengan cat berwarna biru muda di atapnya, itu adalah hadiah pernikahan sekaligus ulang tahun Prilly, baru satu tahun Prilly bersama Mike menempati mansion itu tetapi Tuhan berkehendak lain. Selama tiga tahun tidak satu pun Prilly memindahkan barang-barang Mike, semuanya masih sama.


“Anne, tolong kau bawa anak-anakku ke taman belakang, aku akan langsung ke kamar untuk mencuci wajahku terlebih dulu,” guman Prilly, ia tidak ingin anak-anaknya melihatnya begitu terlihat lemah dan mengerikan.


Setelah mencuci wajahnya dan mengganti pakaiannya, Prilly menuju taman belakang di mana William, Grace dan Leonel berada, tampak Alexander juga di sana.


Grace buduk di pundak Alexander sambil lengan mungilnya melingkar di kepala pria itu, sesekali Grace berteriak dan tertawa girang, sedangkan William ia sedang menggambar bersama Leonel dan Anne.


“Willy, bagaimana sekolahmu hari ini?” tanya Prilly.


“Sangat menyenangkan, Daddy menjemputku,” jawabnya.


“Oh ya? Kelihatannya kau senang sekali.”


“Ya mommy, apa kau sangat sibuk?” tanya William.


“Tidak, Uncle Anthony dan Aunty Anne membantuku,” jawab Prilly sambil mengelus kepala William.


“Daddy, seharusnya kau membantu Mommy,” kata William.


“Daddymu memiliki urusan sendiri, sayang,” kata Prilly. “Alex turunkan Grace, bahumu bisa sakit,” pinta Prilly karena tubuh Grace bisa di bilang sangat berisi.


“Tidak masalah, ia masih belum ingin turun,” kata Alexander sambil berlari lari kecil membuat Grace tertawa senang.


“Mommy lihat aku sangat tinggi, aku suka berada di sini.” Grace semakin kuat mengalungkan lengannya di kepala Alexander.


“Alex, kau terlalu memanjakannya,” protes Prilly.


“Grace seperti dirimu saat kecil dulu." Alexander mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum dan menurunkan Grace dari atas bahunya. “Sebaiknya kalian mandi, ayo anak-anak,” Alexander menyerahkan Grace pada Prilly, sementara William dan Leonel dengan patuh mengikuti Alexander masuk ke dalam ruangan mansion menuju kamar kedua pria kecil itu.


“Grace, kau juga harus mandi. Ayo, nannymu akan memandikanmu,” kata Prilly sambil memberikan kode pada nanny yang mengurus Grace.


Anne masih duduk di bangku taman sambil memainkan ponselnya, Prilly duduk di depan Anne, tiba-tiba ia berguman. “Aku merasa tidak nyaman pada Jovita, Alexander terlalu dekat dengan anak-anakku.”


“Tapi, yang kulihat Jovita sangat tulus juga pada ketiga anakmu." Anne memberikan pendapat.


“Jovita sangat baik, aku takut ada kesalah pahaman nantinya.”


“Kau berpikir terlalu banyak, lihat dirimu, astaga... kau sangat menyedihkan, kau sangat kurus.”


“Anne kau tidak tahu rasanya."


“Astaga, Prilly hentikan, kau akan menangis lagi? Kau tidak lelah menyiksa dirimu?”


“Anne, aku....” Belum selesai Prilly berkata, Anne menyeret bangkit dari duduknya dan menyeret pergelangan tangan Prilly. Membawanya ke dalam kamarnya dan mendudukkan di depan meja riasnya.


“Lihat dirimu sekarang, dan bandingkan dengan kau beberapa tahun yang lalu, kau tampak lebih tua lima tahun dari usiamu sekarang Prilly!” Anne rupanya merasa lelah setiap hari hanya menyaksikan ratapan dan isakan Prilly setiap kali ia sedikit saja ada orang menyinggung masalah suaminya, hampir semua orang berusaha menghindari topik tentang Mike tetapi Prilly sendiri yang terkadang mengorek-orek kenangannya bersama Mike, seperti ruang kerjanya yang sama sekali tak berubah sedikit pun, seluruh barang-barang di sana adalah peninggalan Mike, seperti halnya di tempat tinggalnya, ia akan marah walau barang Mike hanya tergeser, semua pelayan akan terkena omelannya.


“Sekarang bergegaslah mandi dan aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” kata Anne dengan nada memerintah bossnya!


“Anne, aku tidak,” tolak Prilly.


“Kalau begitu tidak perlu mandi.” Anne kembali memotong ucapan Prilly yang di pastikan akan menolak ajakannya, gadis itu mengambil beberapa potongan pakaian yang cukup terbuka dan memaksa Prilly mengganti pakaiannya, sedangkan ia sendiri mengambil beberapa pakaian Prilly yang berukuran agak besar dan mengenakannya secara paksa.


“Anne apa kau tidak salah? Lihat penampilan kita seperti *******.” Prilly mengamati pakaian yang mereka berdua kenakan, sangat terbuka dan ketat.


“Kalau begitu ayo kita bersenang senang seperti ******* di club,” kata Anne sambil mengoleskan Lipstick berwarna merah cabai ke bibirnya sendiri.


“Kau? Kau serius?”


“Sangat serius!” kata Anne sambil mengaplikasikan make up di wajah Prilly. “Lihat, kau masih cantik, kau masih muda, ayolah kau harus menikmati hidup ini, Prilly,” cerocos Anne.


“Tapi, besok kita harus bekerja.”


“Persetan dengan pekerjaanmu itu, perusahaan akan baik-baik saja. Lagi pula, perusahaan tidak akan bangkrut hanya karena kau tidak duduk di balik meja itu sehari,” kata Anne dengan nada kesal.


“Tapi....” Prilly hendak melayangkan kembali Protesnya.


“Aku akan menelefon Anthony untuk menggantikan posisimu besok.” Anne buru-buru menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya juga menyemprotkannya ke tubuh Prilly, lalu menyeret Prilly keluar sebelum Prilly melayangkan kembali protesnya.


HALLO SELAMAT PAGI 😚


SELAMAT MENIKMATI HARI MINGGU DAN SRLAMAT MEMBACA BABAK BARU DALAM KEHIDUPAN PRILLY.


TAP JEMPOL KALIAN 😍😍😍😍