Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Alex tidak romantis



"Ayo pergi ke Barcelona,” ajak Alexander tiba-tiba.


“Untuk apa?”


“Menikah.”


Prilly tertawa hambar ia mengubah posisinya menjadi duduk, dan menjuntaikan kakinya ke bawah ranjang, Alexander bangkit dari ranjang dan berdiri di depan Prilly.


“Ayo menikah, aku ingin memilikimu, seutuhnya.”


“Alex, kau beristri,” jawab Prilly sambil mengerutkan keningnya.


“Beri aku waktu untuk mencari solusinya tapi kita harus tetap menikah,” kata Alexander sambil menekuk kedua kakinya. Ia berlutut di depan Prilly sambil menggenggam telapak tangan Prilly. “Prilly, maukah kau menikah denganku?” untuk kedua kali Alexander melamar Prilly.


“Bagaimana Jovita?”


“Aku akan menceraikannya, aku akan mencari jalan terbaik agar ia mengerti.”


“Bagaimana cara kita menikah, itu tidak legal di negara ini dan kepercayaan kita juga tidak memungkinkan,” lirih Prilly menjawab.


“Yang jelas kau bersedia menikah denganku bukan? Persetan dengan aturan itu, kita yang menjalani.” Alexander memutar cincin yang melingkar di jari manis Prilly, cincin pernikahan Mike dan Prilly.


Prilly terdiam sambil memandangi jemari Alexander yang sedang memutar-mutar cincin di jarinya.


“Alex, bagaimana jika Mike kembali saat kita telah menikah nanti?” Prilly bertanya dengan penuh kepahitan.


“Kau bebas memilih sayangku, jika kau ingin bersama Mike aku akan berlapang dada,” kata Alexander dengan nada lembut meski mungkin saja di dasar hatinya penuh kepahitan.


Prilly memandang wajah Alexander dengan tatapan lembut. “Alex, apa kata cintamu padaku bisa kupercaya kali ini?”


“Kau ingin bukti apa sayang?” tanya Alexander dengan nada sangat lembut.


Prilly menggeleng.


“Aku ingin merawat keluarga kecil kita, aku ingin di sisa hidupku nanti hanya bersamamu. Prilly, aku telah puas bermain di masa lalu, aku sudah cukup.” Alexander meyakinkan Prilly.


Prilly memandangi wajah Alexander yang berkata dengan bersungguh-sungguh, sorot matanya Alexander begitu tulus, pria yang bersamanya sajak kecil, pria yang menjaga Prilly tumbuh hingga berusia dua puluh tahun, selain Anthony kakaknya, Mike dan Alexander tidak ada pria yang pernah bersamanya.


“Alex, apa harus menikah secepat ini?”


“Aku tidak mau kehilanganmu lagi, aku tidak ingin kau berubah pikiran jika kita menunda pernikahan,” jawab Alexander.


“Baik, ayo menikah.” Prilly menjawab dengan lirih.


Alexander bangun dari posisi berlututnya, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi terlentang, bukannya memeluk Prilly.


“Alex, kau tidak romantis!” protes Prilly.


“Sayang, maaf, kakiku kebas, aku terlalu lama menekuk kakiku.” Alexander benar-benar merasa kedua kakinya mati rasa.


Prilly terkekeh karena ulah mantan suami sekaligus calon suaminya, perlahan Prilly mendekati Alexander dan merebahkan kepalanya didada Alexander.


“Alex, apa kita tidak terlalu kejam pada Jovita?”


“Pikirkan dirimu saja, sayang,” kata Alexander sambil menarik tubuh Prilly ke atas hingga wanita itu kini tepat berada di atas dadanya. “Terima kasih telah menerima lamaranku, terima kasih sayangku.”


Wajah prilly menjadi merah merona, “Alex, aku takut.”


“Apa yang kau takutkan?”


“Orang tuaku dan Anthony,” jawab Prilly jujur. Ia yakin mereka akan menentang hubungannya habis-habisan.


“Aku akan menghadapi mereka, kau jangan takut.”


Prilly meletakkan kepalanya pada ceruk leher Alexander, menikmati aroma maskulin Alexander yang kini di sukainya, menikmati debaran-debaran yang tercipta dari detak jantung mereka yang saling beradu.


“Prilly, aku sangat mencintaimu,” kata Alexander, Prilly sama sekali tidak merespons.


Alexander mengelus rambut di kepala Prilly. “Aku lebih suka rambutmu panjang.“ kata Alexander.


“Aku akan memanjangkannya,” ujar Prilly.


“Ayo kita turun, anak-anak pasti menunggu kita.”


Kedua pasangan baru yang baru saja saling berjanji akan menikah itu membersihkan tubuh lalu dengan lembut Alexander menggenggam tangan Prilly sambil mereka menuruni tangga dan menuju ruang makan di mana anak-anak sedang menunggu.


“Mommy, daddy selamat pagi,” sapa Grace, Leonel dan William.


“Selamat pagi." Prilly dengan halus melepas genggaman tangan Alexander dan mencium bergantian anak anaknya, begitu juga Alexander.


“Daddy, apa kau sudah mencium Mommy?” Grace bertanya.


“Aku tidak percaya jika tidak melihatnya,” kata Grace.


“Grace, ayo makan sarapanmu.” Prilly dengan lembut mengingatkan Grace untuk makan sarapannya.


“Baik, Mommy.” Jawab Grace dengan patuh.


“Anak-anak, besok Mommy dan Daddy akan pergi karena ada pekerjaan, kalian harus patuh, Grandmom Diana akan mengurus kalian.” Kata Alexander tiba-tiba.


Prilly menatap Alexander dengan tatapan bingung.


“Mommy dan Daddy ada perjalanan bisnis keluar negeri, kalian harus menjadi anak yang patuh, Daddy akan membelikan kalian banyak hadiah jika kalian menjadi anak yang manis.” Alexander menjelaskan.


“Daddy, aku akan menjadi anak yang paling patuh.” seru Grace.


“Daddy, kau curang, Grace memiliki begitu banyak hadiah dan aku hanya dua,” Protes Leonel


“Leonel, kau seorang pria.” William melayangkan protesnya pada adiknya Leonel.


“Meskipun aku seorang pria tapi aku masih anak-anak,” jawab Leonel tidak mau kalah.


Prilly hanya terkekeh melihat ketiga anaknya yang lucu, mereka sering sekali berdebat untuk hal-hal yang tidak penting dan membuat Prilly terpaksa memijit pelipisnya.


Sekarang entah apa yang akan terjadi lagi dalam hidupnya, Prilly tidak ingin memaksakan otaknya untuk berpikir keras, ia telah memutuskan untuk berkonsentrasi menyalurkan bakatnya, membuat desain perhiasan dan mengurus ketiga anaknya adalah prioritas utama.


Setelah mengantarkan ketiga anaknya ke sekolah, Alexander dan Prilly bukan kembali ke tempat tinggal mereka, Alexander justru membawa Prilly ke sebuah kantor pengembangan real Estate.


“Alex, untuk apa kita ke sini?”


“Membeli sebuah mansion,” jawab Alexander lembut, ia dulu memang memiliki mansion yang ia tempati bersama Prilly tetapi tidak lama setelah prilly menceraikannya ia menjual mansion itu. Mansion yang penuh kenangan buruk, ia membawa ****** dan menidurinya di sana.


Ia tidak sudi kembali ke masa-masa itu lagi.


“Tapi tempat tinggalku dan anak-anak cukup layak,” kata Prilly.


“Aku akan segera menjadi penanggung jawab hidup kalian, maka biarkan aku bertanggung jawab juga di mana kalian akan tinggal,” jawab Alexander sambil menyelipkan anak rambut kebelang telinga prilly.


Prilly memandangi wajah Alexander, ia mengerti pria di depannya pastilah merasa gengsi harus terus tinggal di mansion milik Prilly, apalagi bangunan itu adalah peninggalan dari Mike.


“Baikah, terserah kau saja,” Kata Prilly.


“Kau yang akan memilih bangunannya dan kau juga yang akan menentukan interiornya.”


“Kenapa harus aku semua?”


“Karena kau nyonya rumahnya bukan?”


Mendengar kata-kata mantan suaminya membuat wajah Prilly merona, Alexander mengecup kening Prilly.


“Prilly, aku mencintaimu,” bisiknya.


Prilly justru tertunduk dalam, ia tidak bisa membuka mulutnya, ia menjadi sangat gugup, wajahnya bahkan telah masak, ia merasa sangat panas hingga sampai ke telinganya.


“Nyonya Johanson ada apa?” tanya Alexander pada Prilly meski ia tahu mantan istrinya sedang salah tingkah.


Prilly mencubit paha Alexander dengan pelan, namun lagi-lagi Alexander menangkap telapak tangan Prilly dan mengecupnya. “Kenapa harus malu?”


“Alex kau menyebalkan!”


“Panggil hubby, sayang,” pinta Alexander dengan nada menggoda.


“Tidak sekarang,” jawab Prilly ketus.


“Kapan itu?”


“Alex, hentikan.” Prilly menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Alexander terkekeh penuh kemenangan, pagi itu suasana di London sangat cerah, belum pernah Alexander menemui pagi seindah ini sepanjang hidupnya.


HALLO 😅😅😅


SELAMAT PAGI 😚😚😚


AIH BAHAGIANYA 😆😆😆


PRILLY YANG DI LAMAR ALEX KOK AUTHOR YANG BAHAGIA 🤐🤐🤐 HAHAHHAHA


TAP JEMPOL KALIAN 😚😚😚😚