
Prilly gelisah menunggu Alexander yang tak kunjung kembali ke hotel tempat mereka menginap, waktu telah menunjukkan pukul delapan malam berulang kali Prilly memanggil suaminya melalui ponselnya, tetapi panggilan itu diabaikan oleh Alexander, ia mulai merasa putus asa. Menunggu adalah pekerjaan yang menyebalkan menunggu membuatnya khawatir, menunggu membuat Prilly mulai berpikiran buruk.
Prilly mengambil jaket dan mengenakannya, ia meraih tasnya dan tak lupa juga mengenakan sepatunya. Tetapi, baru saja Prilly hendak melangkah keluar dari kamarnya tiba-tiba pintu kamar terbuka dan sesosok pria yang dinantikannya berdiri di ambang pintu dengan penampilan sedikit kusut dan rambut yang tampak berantakan, mata Alexander juga tampak merah.
“Hubby,” gumam Prilly, iya meletakkan tasnya di meja terdekat dari tempatnya berdiri. Kemudian ia buru-buru menghampiri suaminya, “dari mana saja kau? Aku mau khawatirkanmu,” kata Prilly sambil menatap wajah Alexander yang begitu muram.
Alexander melangkah tanpa menghiraukan Prilly ia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Prilly tentu saja membeku di tempatnya, itu adalah pertama kali Alexander tidak menghiraukannya, itu adalah pertama kali Alexander mengacuhkannya.
Prilly menahan nafasnya kemudian menelan ludahnya, sambil menata hatinya ia melangkah mendekati Alexander dan duduk di tepi ranjang, “hubby, apa kau baik-baik saja?” tanya Prilly dengan nada sehalus mungkin, ia meraih telapak tangan Alexander.
Alexander tampak memejamkan matanya, membiarkan Prilly menyentuh telapak tangannya merasakan sentuhan halus tangan istrinya, perlahan ia membalas sentuhan istrinya. Digenggam erat jemari tangan Prilly kemudian ia berucap dengan suara serak. “Aku baik-baik saja.”
“Sepertinya kau minum terlalu banyak, apa kau butuh sesuatu?”
Alexander hanya diam pria itu tetap memejamkan matanya nafasnya tampak berat.
Setelah beberapa menit larut dalam kebisuan dan keheningan Alexander membuka matanya menatap wajah Prilly. “Apa kau sudah makan malam?”
Prilly menggelengkan kepalanya. “Aku menunggumu,” katanya lirih.
“Maafkan aku,” kata Alexander. “Aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu, kau pesanlah makanan, apa tidak masalah?” Alexander masih menatap mata Prilly yang tampak sendu.
Prilly hanya mengangguk, perlahan Alexander bangkit, mengubah posisi menjadi duduk, ujung jemarinya mengelus pipi Prilly kemudian ia mengecup kening istrinya beberapa detik setelah itu ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengatakan apa pun.
Prilly memejamkan matanya sebentar untuk menata hatinya kembali dalam benaknya bertanya-tanya apakah Alexander frustrasi karena Mike telah kembali? Apakah Alexander pergi ke club dan bersenang-senang dengan gadis di New York untuk menghilangkan keresahannya?
Prilly mencium bau tembakau dari tubuh Alexander, tentu saja perasaan khawatir Prilly semakin menjadi-jadi tetapi ia tidak berani menampakkan di depan Alexander, ia takut Alexander akan curiga bahwa ia mengenali Morgan sebagai Mike.
Menepis semua kegelisahannya Prilly bangkit dari posisi duduknya, iya meraih gagang telepon yang ada di ruangan itu dan memesan makan malam untuknya dan Alexander.
Sementara di dalam kamar mandi Alexander berdiri di depan cermin, ia menatap wajahnya sendiri, jantungnya terasa sangat sakit seperti diremas bahkan mungkin seperti dicincang oleh seribu belati.
Istrinya entah benar entah tidak ingin keluar dari kamar tanpa memberitahunya, entah benar mencari dirinya atau diam-diam Prilly ingin keluar menemui Mike, rasa cemburu di dadanya berkobar-kobar seperti hendak membakar akal sehatnya, Alexander nyaris kehilangan logikanya, ia bahkan berpikir untuk membawa Prilly kembali ke London malam ini juga. Untuk menjauhkan istrinya dari Mike.
Setelah beberapa lama memandangi cermin sambil mengatur emosinya Alexander mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower, malam itu ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk memadamkan api kecemburuannya.
Setelah 30 menit berada di bawah guyuran air dingin Alexander akhirnya keluar dari kamar mandi, iya melihat Prilly sedang menunggunya di meja makan.
Alexander menghampirinya sekolah menyesali sikapnya yang mengabaikan Prilly, berusaha mencairkan suasana Alexander mengecup pipi Prilly lengannya melingkar di pundak Prilly.
“Maafkan aku membuatmu terlalu lama menunggu,” kata Alexander dengan nada begitu halus.
Prilly mendongakkan kepalanya, menyentuh lengan suaminya, bibirnya juga tersenyum, “kenakan pakaianmu aku telah menyiapkannya,” jawabnya dengan nada lembut pula.
“Baiklah terima kasih, istriku,” kata Alexander sambil kembali menciumi pipi Prilly.
Setelah mengenakan pakaian Alexander kembali menghampiri istrinya yang masih duduk di tempat semula, “Ayo makan,” katanya dengan hati-hati, seperti biasa Alexander memberi Prilly makan dengan tangannya.
“Apa pekerjaanmu begitu banyak hari ini?”
Alexander mengangkat sebelah alisnya, “tidak juga.”
“Kenapa begitu terlambat kau kembali aku sangat bosan hanya tinggal di kamar,” keluh Prilly yang memang hanya berada di dalam kamar hari ini.
“Bukankah kau dan Sophia berencana keluar untuk berbelanja?” Alexander mengingat apa kata Sophia ketika mereka berada di restoran tempat mereka bertemu dengan Morgan.
“Tidak aku membatalkannya.”
“Kenapa kau membatalkannya?”
Prilly membatalkan pertemuannya dengan Sophia karena Morgan, ia tidak ingin membicarakan masalah Morgan jika bertemu Sophia.
“Sophia sepertinya sibuk.” Prilly beralasan.
“Kenapa kau tidak mencoba keluar sendiri? Jangan takut bodyguard akan mengawalmu dari kejauhan.”
“Tidak, aku tidak ingin kemana-mana,” jawab Prilly cepat ya tidak ingin keluar tanpa Alexander iya takut suaminya berprasangka wah iya diam dia menemui Mike.
“Jadi kau bosan ya sendirian di kamar.” Alexander mengangkat sebelah alisnya.
“Sekarang tidak lagi,” jawab Prilly sambil menyeringai, suasana begitu canggung sebenarnya tetapi masing-masing dari mereka mencoba menepis kecanggungan itu meskipun tampak begitu kaku.
“Apa urusanmu setelah selesai?” Prilly menusuk daging di piring menggunakan garpu di tangannya.
”Ada apa?”
“Aku merindukan anak-anak,” jawab Prilly.
“Bersabarlah kita akan segera kembali lusa, aku juga merindukan mereka.”
Prilly mengangguk, suasana benar-benar canggung mereka menyelesaikan makan malam itu dengan suasana yang cukup berat.
Kemudian kedua sejoli itu duduk sambil menonton televisi sekitar tiga puluh menit dan pergi ke atas tempat tidur untuk mengistirahatkan mata mereka.
Paginya Alexander membuka mata dan karena istrinya membangunkannya istrinya tanpa kerah berdandan rapi, “hubby bangunlah,” bisik Prilly dengan suara lembut tepat berada di telinga Alexander.
Alexander mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian ia menatap wajah istrinya seolah-olah ia telah seribu tahun lamanya tidak melihat Prilly, lalu beralih menatap dalam-dalam mata berwarna Hazel milik Prilly.
“Selamat pagi sayang, kau bangun terlebih dahulu hari ini,” gumam Alexander dengan suara serak.
“Aku telah menyiapkan sarapan untukmu. Maksudku, aku mau mesannya dan pakaianmu juga telah aku siapkan,” kata Prilly.
Alexander kembali memandang wajah istrinya dengan tatapan penuh tanya, dalam benaknya berkecamuk. 'Apakah wanita mungil miliknya ini sedang merayu dan berusaha melarikan diri darinya dengan cara yang manis?'
HARI INI UPDATE 3 CHAPTER 💘💘💘💘
TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️
RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️
JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️
TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️