
Mike menimang-nimang pena yang ada di tangannya, kemudian meletakkan kembali pena ke atas meja, ia meraih bungkus rokok yang berada di depannya kemudian ia berjalan menuju pintu penghubung balkon di ruangan itu, tangan kekarnya membuka pintu itu kemudian ia melangkah dan berdiri di atas balkon, ia mulai membakar rokok yang di jepit di antara dua jarinya tatapan matanya memandang lepas ke langit New York.
Alexander bangkit dan berjalan menuju tempat di mana Mike berdiri, ia berhenti di tengah pintu, kedua tangannya berada di dalam saku celana kain yang di kenalannya, sementara Mike tanpa mempedulikan Alexander terus menghisap tembakaunya terus-menerus hingga api yang berada di rokok itu nyaris membakar jemarinya, ia mematikan rokoknya dan mengambil kembali satu batang kemudian membakarnya lagi.
Baru setelah empat batang rokok habis dibakar, pria itu membuka suaranya. “Kembalilah ke London di sana kalian lebih aman,” kata dengan nada terdengar pahit.
“Aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi sesungguhnya,” ucap Alexander dengan nada tegas. Di posisi ini ia merasa menjadi seorang pria idiot, ia tidak mengerti mengapa ia berada di tengah-tengah situasi yang tidak masuk akal, ia dan Prilly berada di tengah-tengah bahaya sementara yang ia tahu ia tidak memiliki musuh.
“Apa yang kalian inginkan dariku? Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku? Aku berhak mengetahuinya.” Alexander nyaris kehilangan kesabarannya.
Mike menghela nafasnya. “Wilona menginginkan nyawa Prilly,” jawab Mike.
“Ada masalah apa antara Prilly dan Wilona?”
“Akulah yang memiliki masalah dengan Wilona." Mike menjawab dengan suara rendah nyaris bergumam.
“Damn!” Alexander mengumpat, entah umpatan itu ditujukan kepada siapa.
“Kariernya hancur karena aku.”
“Wanita bodoh.” Alexander berucap dengan nada sinis. “Kariernya hancur karena ulahnya sendiri.”
“Dan Simon, itu hanya persaingan bisnis antara kau dan Simon." Mike memberi tahu.
“Konyol,” ucap Alexander karena ia juga tidak mengenal Simon.
“Simon Martinez dan Wilona, keduanya adalah pasangan yang menginginkan kematian Prilly.”
Alexander tertawa hambar. “Omong kosong macam apa ini?”
“Karena dengan kematian Prilly, kau akan menderita, begitu juga aku.” Mike berucap dengan nada pahit.
Alexander menghela nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Jadi selama ini kau memalsukan kematianmu?” Alexander bertanya dengan suara yang terdengar karena tekanan emosi membunuh bukan perbuatan yang melanggar hukum menurut Alexander telah mendorong pria itu dari balkon. Tidak, itu bukan perbuatan seorang pria, mungkin Alexander akan lebih memilih menghajar dengan tangannya sendiri hingga Mike tewas.
“Apa kau pernah berpikir bagaimana perasaan Prilly? Bagaimana ia menjalani hidupnya selama tiga tahun tanpa dirimu?” Alexander berjalan dan berdiri tepat di samping Mike.
“Aku tahu kau tidak akan membiarkan Prilly sendirian, aku telah menebak pasti akan seperti ini akhirnya, aku telah memperhitungkan segalanya. Prilly tidak mungkin menderita sendiri karena ada kau yang sangat mencintainya, meskipun saat itu posisimu adalah suami dari wanita lain tapi aku yakin kau tidak akan membiarkan Prilly sendiri,” Kata Mike dengan ekspresi wajah yang tampak begitu muram.
“Kau benar-benar keterlaluan Mike.” Apa pun alasan Mike saat ini bagi Alexander itu bukanlah sebuah alasan yang tepat, membuat Prilly begitu terpuruk selama bertahun-tahun menurut Alexander terlalu kejam. “Aku yakin kau tidak mungkin selamat dari kecelakaan pesawat, kau sengaja memasukkan kematianmu.”
“Logika yang bagus Alex. Bahkan dalam sejarah tidak ada satu pun manusia yang mampu selamat dari kecelakaan pesawat yang telah terjatuh di lautan,” ucap Mike dengan nada datar.
Sudut bibir Alexander terangkat tentu saja logika yang tepat karena ia seorang Johanson, tidak mungkin ia bodoh.
“Di mana kau selama ini?” sudut mata Alexander melirik ke arah Mike.
“Aku berada di Mexico,” jawab Mike.
“Di tangan Wilona?” sebelah alis Alexander terangkat.
“Tepatnya Simon dan Wilona.” Mike meralat.
“Kapan kau kembali?” Alexander juga ingin bertanya, ‘untuk apa kau kembali?’ tetapi pertanyaan itu kedengarannya cukup jahat. Alexander hanya menyuarakan pertanyaan itu di dalam batinnya.
“Ini siang hari, kau benar-benar konyol,” untuk pertama kali Alexander penyelidikan sedikit tawa dalam ucapannya hari ini.
“Kita bisa duduk santai di bar, sepertinya memang tidak ada club yang buka di tengah hari begini,” ucap Mike sambil membalikkan badannya dan mulai melangkah meninggalkan balkon.
“Aku tidak pernah menginjakkan kakiku ke tempat seperti itu lagi.” Alexander mengikuti langkah Mike meski berucap tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke tempat seperti itu lagi.
“Sepertinya kau jadi pria suci sekarang?” Kalimat itu seperti ejekan namun terdengar santai.
Bibir Alexander hanya tersenyum sinis.
“Kita belum pernah pergi minum bersama, bukankah untuk kali ini kau dan aku memiliki tujuan yang sama? Suka atau tidak suka kita harus bekerja sama, target Wilona dan Simon adalah Prilly, mereka bukan hanya ingin menghancurkan bisnis keluarga kita, tetapi mereka juga ingin menghancurkan kehidupanmu seperti kehidupanku.” Mike berkata sambil memunguti barang-barang di mejanya ia memasukkan ponsel dan dompet ke dalam saku pakaiannya.
Setelah mempertimbangkan beberapa saat akhirnya Alexander mengikuti ke mana Mike membawanya dan tiba di sebuah bar yang beroperasi dua puluh empat jam di sekitar wilayah Manhattan.
Mike beberapa kali menyesap wiskinya, sedangkan Alexander gelas wiski di depannya sama sekali belum terjamah.
“Kau tahu?” Mike berucap, “Andai bisa memilih takdir aku lebih baik kehilangan nyawaku dalam kecelakaan pesawat dibanding harus kehilangan keluarga, itu lebih mengerikan dibanding dengan kematian.”
Alexander mengamati wajah Mike dari samping, jemari Mike memutar-mutar gelas wiskinya yang tergeletak di atas meja. Alexander menghela napasnya. “Kenapa kau mengubah wajahmu?”
“Satu minggu Setelah kalian menikah Simon melepaskanku." Mike berhenti sesaat dan menatap gelas wiski di depannya dengan tatapan kosong, rahangnya tampak mengeras. “Apa kau tahu tujuan mereka melepaskanku?”
“Apa kau akan melakukan itu?” Rahang Alexander juga tampak mengeras.
“Aku bukan orang bodoh, aku bukan boneka, sudah cukup tanganku berlumuran dosa dan darah,” kata Mike dengan suara pelan. “Aku tidak mungkin menghancurkan rumah tangga kalian karena aku melihat kau begitu tulus terhadap Grace dan Leonel, kau berhak mendapatkan Prilly.”
“Jadi kau telah mengikhlaskan Prilly?”
Mike tersenyum simpul kemudian bergumam “Entahlah.”
Morgan.
Photo source Instagram.
Michael Brian Johanson
Photo source Instagram.
TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️
RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️
JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️
TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️