
Pertemuan Prilly dengan Jay Al-fatih akhirnya berakhir dengan sebuah kesepakatan yaitu mereka tidak menjalin kerja sama karena Johanson Corporation mengajukan satu syarat yang tidak disetujui oleh Jay Al-fatih. Johanson Corporation meminta perusahaan Jay tidak menjalin kerja sama dengan siapa pun selain dengan mereka. Rupanya Charles dan Jovita memang piawai dalam bekerja sama untuk meyakinkan Jay hingga lebih memilih perusahaan milik orang tua Charles dibandingkan dengan Johanson Corporation. Sebenarnya tidak masalah bagi Prilly tidak mendapatkan kerja sama itu, justru ia bersyukur karena di masa depan ia tidak lagi harus berurusan dengan Jovita maupun Charles juga Jay yang sesekali menatapnya dengan tatapan lapar membuat ia sedikit takut.
Yang terpenting sebenarnya jika kerja sama itu gagal Jovita tidak lagi memiliki kesempatan untuk mendekati suaminya.
Prilly diam-diam menyeringai senang sepanjang perjalanan menuju ke perusahaan suaminya setelah mengantarkan Anne ke Glamour Entertainment.
“Jadi kau gagal meyakinkan Jay?” Alexander memiringkan kepalanya. Bibirnya menyunggingkan senyum.
“Yap,” jawab Prilly dengan nada acuh.
Alexander terkekeh. “Baru pertama kali aku menemui seorang yang gagal bernegosiasi tetapi begitu bahagia,” ujarnya.
“Ya, aku memang tidak tertarik dengan mereka,” kata Prilly sambil mendekati Alexander lalu dengan nyaman duduk di pangkuannya.
Sebelah lengan Alexander melingkar di pinggang Prilly. “Aku mencium bau kekhawatiran seorang istri posesif,” ucapnya dengan nada menggoda.
“Apa proyek itu lebih penting di banding aku?” Prilly menangkup wajah suaminya.
“Aku rela kehilangan seribu proyek asal tidak kehilanganmu,” jawab Alexander.
Prilly menyapukan sekilas bibirnya di bibir Alexander. “Kalau begitu jangan salahkan aku karena aku tidak berjuang tadi,” katanya di sertai seringai di wajahnya.
“Bahkan jika kau membangkrutkan perusahaan ini, aku tidak akan menyalakanmu.”
Prilly menarik hidung Alexander dengan lembut. “Hubby, kau sekarang sangat pandai berkata-kata manis,” katanya dengan nada gemas.
“Hanya kepadamu,” ucap Alexander sambil meraih telapak tangan istrinya dan membawanya mendekati bibirnya. “Aku mencintaimu, Prilly.”
“Aku sangat mencintaimu, Eileks,” ucap Prilly, ia menyeringai hingga giginya yang rapi terlihat.
Alexander mengalungkan kedua lengannya di pinggang Prilly, mempersempit jarak di antara mereka. “Bagaimana jika....”
“Tidak!” potong Prilly cepat-cepat.
“Kenapa?”
“Aku telah berjanji kepada Mommy Diana untuk kembali sebelum makan siang, Mommy telah menyiapkan makan siang untukku,” kata Prilly.
“Astaga, aku tidak yakin aku ini anaknya,” keluh Alexander karena ibunya itu tidak mengundangnya untuk makan siang.
“Ini masih pukul....” Alexander melirik jam dinding yang tergantung di ruangan itu. “11:20,” katanya.
“Tidak Alex!” Prilly melotot galak kepada suaminya.
“Memang tidak. Tapi, aku akan ikut makan siang di rumah Mommy.” Alexander menaikkan sebalah alisnya kemudian berdiri tanpa menurunkan Prilly yang berada di pangkuannya. Membawa istrinya memasuki bagian belakang ruang kerjanya.
Melucuti pakaian yang dikenakan istrinya lalu melucuti pakaiannya sendiri. Jika Alexander telah bertitah, maka Prilly sama sekali tidak bisa menolak karena ia juga menyukainya.
“Jangan biarkan mommy menunggu kita terlalu lama,” erang Prilly ketika Alexander telah menyatukan tubuh mereka dalam satu sentakan.
“Mommy tidak masalah jika harus menunggumu,” geram Alexander yang belum bergerak. Ia sedang menikmati rasa di dalam istrinya, penuh, sesak dan hangat. Rasa Prilly, wanita yang di gilainya.
“Sayangku, bagaimana jika kita memiliki beberapa anak lagi?” tanya Alexander sambil perlahan menggoyangkan pinggulnya.
“Kau saja yang hamil!”
“Aku tidak memiliki sel telur,” jawab Alexander.
***
Di Glamour Entertainment.
“Bagaimana urusanmu dengan Prilly?” tanya Harun setelah ia dan Anne menyelesaikan santap siang mereka, seperti biasa mereka berdua makan siang di ruang kerja Harun.
“Berjalan dengan baik tetapi Prilly tidak berhasil meyakinkan pihak Jay, ia sepertinya tidak berniat bekerja sama dengan Jay,” Jawa. Anne.
“Kenapa wanita sulit sekali bertindak profesional?” tanya Harun.
“Itu adalah bentuk perlindungan rumah tangga, Jovita sepertinya memiliki rencana licik, wanita itu belum bisa menerima kenyataan sepertinya,” sungut Anne.
“Bicaramu seperti wanita yang telah siap berumah tangga,” ucap Harun diiringi seringai menggoda di wajahnya.
TAP JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤
TERIMA KASIH ❤️