Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Morgan



Paginya Prilly terbangun saat matahari telah tinggi, tentu saja suaminya tidak berada di sampingnya lagi, Alexander tentu saja pergi untuk menyelesaikan urusannya, mungkin suaminya pergi ke perusahaan untuk bekerja atau mengurus urusan yang lain, Prilly meraih ponselnya dan mengecek isi pesan yang masuk, pesan itu dari Alexander, suaminya memberi tahu di mana ia sedang berada.


Prilly tersenyum puas karena paling tidak Alexander memberi kabar kepadanya, Alexander tidak membangunkannya sebelum ia berangkat untuk menangani urusannya karena mereka baru tertidur setelah hari hampir pagi, setelah dirasa cukup berguling-guling di atas tempat tidurnya Prilly turun dari atas ranjang dan membersihkan tubuhnya ia kemudian memesan makanan melalui layanan kamar hotel.


Meski ia sangat tidak ingin makan karena memikirkan hal-hal yang menimpanya belakangan ini, Prilly memaksa mulutnya untuk mengunyah makanan, setidaknya ia harus memikirkan kesehatan tubuhnya, ia harus sehat karena mungkin saja ia akan kembali mengandung buah cinta yang ia idam-idamkan bersama Alexander, memikirkan kegaduhan di Arizona ditambah lagi dengan kehadiran Morgan yang ia yakini adalah Mike. Semua itu juga memerlukan tenaga.


Setelah selesai menyantap makanannya Prilly berdiri di atas balkon kamar hotel, memandang langit New York, Prilly merasa kepalanya berdenyut, bukan karena kurang tidur, ia merasa berpikir terlalu banyak atau mungkin ia harus menemui Morgan secara diam-diam untuk memastikan siapa pria itu sebenarnya, meskipun ia yakin bahwa pria itu adalah mantan suaminya, tetap saja itu tidak cukup hanya dengan sebuah prasangka ataupun dugaan, ia perlu kepastian.


Setelah mendapatkan kepastian siapa pria itu yang sebenarnya, Prilly harus mengatakan dengan tegas bahwa pilihannya kali ini adalah Alexander.


Benar Prilly mencintai Mike di masa lalu tetapi hati manusia bisa berubah, perasaan manusia mudah berbolak-balik, lagi pula jika memang Mike benar-benar mencintainya mengapa Mike meninggalkannya sementara ia masih hidup? Jika ia selamat dari kecelakaan pesawat empat tahun yang lalu bukankah seharusnya tidak tepat bagi Mike kembali karena Prilly telah bahagia bersama Alexander? Prilly tidak ingin kebahagiaannya dihancurkan oleh Mike, ia tidak ingin membenci Mike.


Prilly menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya ia juga memijit pelipisnya dengan ujung-ujung jemarinya. “Demi Tuhan, mengapa semua jadi begini,” erangnya.


Wanita itu meraih ponsel yang berada di dalam saku pakaiannya, ia mengetik di atas layar mengirim sebuah pesan untuk memberitahu Sophia bahwa hari ini ia tidak bisa bertemu dengan sepupu Mike yang juga merupakan sahabat baiknya. Prilly tidak siap untuk bertemu Sophia saat ini, ia tidak ingin membicarakan perihal Morgan meskipun ia benar-benar penasaran terhadap Morgan. Prilly takut menghadapi kenyataan jika Morgan adalah Mike. Prilly perlu waktu menata hatinya, setelah di rasa tepat ia pasti akan bertemu Mike dan berbicara secara pribadi dengan mantan suaminya.


Sementara di tempat lain di perusahaan milik Harry.


“Apa yang kalian sembunyikan dari kami?” Alexander menatap Harry dengan tatapan dingin dan tajam, rahangnya tampak mengeras.


“Kami tidak pernah menyembunyikan apa pun,” jawab hari dengan tenang tidak terpengaruh oleh emosi Alexander sedikit pun.


Alexander menata nafasnya yang terasa sesak seolah dadanya terimpit batu. “Harry, kumohon. Aku tidak ingin persahabatan di antara kita retak, karena masalah ini, tolong katakan yang sejujurnya.” Pinta Alexander dengan nada rendah.


“Alex, tidak ada apa-apa aku bahkan tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan,” elak Harry.


“Harry, mataku tidak buta, Morgan dia....” Alexander menatap wajah Harry sambil menyipitkan sebelah matanya, nafasnya terlihat tidak beraturan.


“Morgan....” Harry menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesaran miliknya.


Alexander menekan batang hidung di antara kedua matanya ,tentu saja kepalanya berdenyut semakin hebat, iya telah melalui dua malam tanpa tidur nyenyak, emosinya juga tidak stabil saat ini. “Seberapa banyak rahasia yang kau dan Sophia sembunyikan?”


“Kembalilah ke London,” ucap Harry tiba-tiba sambil menegakkan punggungnya.


“Aku tidak akan kembali sebelum masalah ini selesai,” jawab Alexander masih dengan posisi yang sama memijit batang hidung antara matanya, jika menurutkan amarahnya Alexander ingin sekali mengajar Harry yang ia anggap terlalu banyak menyembunyikan sesuatu di belakangnya.


“Oh ayolah Alexander, kau mencurigaiku,” jawab Harry masih dengan keteguhannya, bahwa ia tidak mengetahui apa pun.


Dengan berat hati Alexander mengucapkan kalimat itu meski sebenarnya Harry begitu banyak membantunya tetapi tidak ada pilihan lain selain memojokkan sahabatnya.


Hening sejenak, kedua sahabat itu tenggelam dalam pikiran masing-masing, Harry mengetuk-ngetukkan pena yang berada di tangannya ke atas meja, matanya memandang Alexander dengan tatapan yang sulit diartikan. “Pergilah ke ruangan sebelah kau akan mendapatkan jawabannya,” ucap Harry dengan suara pelan.


Tanpa pikir panjang Alexander bangkit dari kursi yang ia duduki ia menuju ruangan yang maksud oleh Harry, ragu-ragu Alexander membuka gagang pintu dan pandangannya langsung tertuju kepada pria yang sedang duduk menghadapi laptop di ruangan itu, pria yang berada di dalam ruangan itu tentu saja terkejut dengan kehadiran Alexander yang tiba-tiba.


Alexander tanpa suara langsung duduk di depan pria yang berada dalam ruangan tersebut, pria dengan manik mata biru yang membuat Alexander seperti nyaris kehilangan keseimbangannya, pria yang membuat Alexander merasa jiwanya nyaris meninggalkan raganya.


Pria yang duduk di depan Alexander adalah Morgan.


Sekitar dua menit kedua pria itu hanya saling tatap tidak ada suara yang terlontar dari mulut mereka. Alexander menelan ludahnya dan menarik nafas seolah-olah tarikan nafasnya benar-benar terasa berat, Alexander juga memegangi pelipisnya yang benar-benar terasa berdenyut.


“Untuk apa kau memalsukan kematianmu?” Alexander bertanya dengan nada sangat lirih namun suaranya terdengar berat dan penuh kemarahan.


“Aku tidak mengerti dengan ucapanmu,” jawab Morgan.


“Michael Brian Johnson! Kau tidak perlu bersandiwara lagi,” kata Alexander dengan nada sedikit meninggi. “Aku tahu siapa dirimu. Kau bisa mengganti wajahmu seribu kali tetapi matamu, kau tidak bisa menyembunyikan, tidak akan pernah bisa,” ucapnya lagi, kali ini nada suaranya benar-benar meninggi.


“Jadi apakah istriku... maksudku Prilly, apa dia juga mengenaliku?” Morgan yang tak lain adalah Mike, ia berbicara dengan nada sangat santai seolah pembicaraan itu bukan pembicaraan yang penting.


Alexander tersenyum sinis. “Siapa yang kau bilang istrimu? Dia ISTRIKU.” Alexander menekankan kata istriku, ia tentu saja tidak terima istrinya diakui oleh orang lain meskipun itu Mike.


“Ya. Aku tahu, dia istrimu," jawab Mike dangan senyuman di bibirnya, entah apa arti senyuman itu.


“Jadi, apa maumu?”


TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️


RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️


JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️


TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️