Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Tersirat



Jovita menyapu air mata yang membanjiri wajahnya, “Alex!” Teriaknya memecah keheningan dan sunyinya tempat tinggal miliknya. Tempat tinggalnya selama lima tahun bersama Alexander dulu.


“Kalian benar-benar merencanakan dengan baik di belakangku,” ratapnya, ia baru saja membaca halaman berita gosip di media sosial dan topik hangat yang tersaji adalah Alexander melamar Prilly seperti delapan tahun yang lalu.


Itu merupakan gurauan yang tidak lucu bagi Jovita, pria itu melakukan apa pun demi Prilly dengan sangat apik, Jovita tidak pernah merasakan hal-hal romantis dari mantan suaminya. Jovita memejamkan matanya, membayangkan Alexander berada di sampingnya, mengingat aroma maskulinnya, menyentuh tubuhnya seperti terakhir kali mereka bercinta.


Jovita membuka matanya dengan tiba-tiba.


Satu bulan yang lalu. Ya, satu bulan yang lalu mereka bercinta dan karena terlalu larut dalam kesedihan Jovita melupakan masa periodenya. Bergegas Jovita keluar dari kamarnya dan menyambar kunci mobilnya, ia pergi membeli alat tes kehamilan dan segera menggunakannya setelah tiba di tempat tinggalnya kembali dan hasilnya positif. Ia menggenggam erat alat tes kehamilan itu, kakinya terasa lemas, Jovita masih berjongkok di atas kloset di kamar mandinya.


Entah harus bahagia atau sedih, ysng jelas ia bahagia karena memiliki keturunan. Namun ia seorang wanita yang telah bercerai, dan ia kini justru sedang mengandung? Di sisi lain ia bahagia akan menjadi seorang ibu, namun di sisi lain tentu saja ia sangat takut, bagaimana nanti anaknya? Apakah ia akan tumbuh tanpa orang tua yang lengkap? Apa nanti Alexander bisa bersikap baik seperti kepada William?


Jovita harus membicarakan masalah ini kepada Alexander, namun mengingat Alexander pasti akan memperlakukan dirinya dengan dingin, ia lebih baik menghubungi Harun untuk menyampaikan niatnya.


***


Sedangkan di mansion milik orang tua Prilly, pagi itu Prilly terbangun masih sangat pagi karena ia mendapati tubuhnya terasa terbakar, panas itu bukan suhu tubuhnya melainkan suhu tubuh suaminya yang meningkat, Alexander rupanya terserang demam. Prilly bergegas turun dari ranjang, ia meminta bantuan pelayan memanggilkan dokter Pribadi keluarga Alexander. Dokter mengatakan demam Alexander hal yang wajar dan tidak berbahaya, dokter hanya memberikan k obat dan memberitahu Prilly kapan waktunya Alexander mengonsumsi obatnya.


Setelah dokter meninggalkan kamarnya Prilly meminta pelayan membuatkan sup krim agar Alexander mudah menelan makanannya pagi itu, sambil menunggu pelayan menyiapkan apa yang ia perintahkan, Prilly mengompres kening Alexander menggunakan handuk yang di basahi dengan air hangat, sambil memandangi wajah Alexander yang merah karena demam dan memejamkan mata tak berdaya Prilly menyentuh wajah suaminya dengan hati-hati.


Takdir membawanya kembali kepada pria ini, pria yang jelas tergila-gila kepadanya, Prilly sekarang meyakini kepergian Mike adalah rencana Tuhan untuk mempersatukannya kembali bersama Alexander.


Kelopak mata Alexander tampak bergerak-gerak.


“Prilly,” erang Alexander dengan suara parau.


“Sayang, apa kau merasa sangat buruk? Apa kau sangat kesakitan?” Prilly mengececek suhu tubuh suaminya dengan menempelkan telapak tangannya di kening suaminya.


“Aku hanya kedinginan sayang, peluk aku,” pinta Alexander.


Prilly segera naik ke atas ranjang dan memeluk tubuh Alexander. “Bersabarlah, sup akan siap dan kau bisa minum obat,” ujar Prilly.


“Kau adalah obatku, Prilly.” suara Alexander sedikit bergetar.


“Kau sakit dan masih bisa merayuku.”


Tidak ada suara, Alexander hanya bernapas pelan dan lemah, ia tampak bukan seperti Alexander yang diktator dan sering bertindak semaunya sendiri. Tidak berapa lama pelayan mengantarkan semangkuk sup, roti tawar dan air putih hangat untuk Alexander meminum obatnya, Prilly membangunkan Alexander, membantunya duduk dan penuh kasih sayang Prilly meniup sup memastikan suhunya tepat tidak terlalu panas dan menyuapkan ke bibir Alexander.


“Apa aku merepotkanmu?” Alexander bertanya dengan suara lemah.


“Omong kosong, aku lebih sering merepotkanmu,” jawab Prilly, nadanya sangat lembut.


“Maafkan aku,” gumam Alexander.


“Berhenti bersikap seperti itu, kita telah berjanji akan selalu bersama dalam keadaan apa pun,” kata Prilly dengan penuh kasih sayang bagaimanapun mereka pernah bersumpah di depan Tuhan saat mereka berada di Barcelona.


“Terima kasih.”


“Sekarang minum obatmu, aku akan menemanimu beristirahat,” Prilly membantu Alexander meminum obatnya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.


“Terima kasih telah merawatku,” Alexander menatap wajah istrinya dengan tatapan sayang.


“Aku akan merawatmu sampai kau menjadi tua, ingat kau lebih tua dariku, saat kau telah menua aku mungkin masih cantik, kau tidak boleh macam-macam.” Prilly mengucapkan kalimatnya dengan nada galak.


“Baik, aku akan mengingatnya tuan putriku,” kata Alexander. “Kau sangat galak ya sekarang.” Nadanya tidak terdengar seperti keluhan sama sekali, justru ia terdengar hangat dan bahagia.


“Karena kau sangat kucintai, kau tidak boleh macam-macam, kau milikku,” ucap Prily dengan nada posesif, ia mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya dan mencium bibir Alexander dengan penuh kelembutan, meskipun ini bukan pertama kali Prilly berinisiatif mencium Alexander.


Sepertinya jantung Alexander hampir terlepas dari rongga dadanya karena melompat kegirangan, Prilly menciumnya dan itu bukan mimpi. Bibir Alexander menyunggingkan senyum bahagia, ia menatap Prilly istrinya dengan tatapan mendamba, jika saja ia tidak terserang demam dan kondisi Prilly memungkinkan, ia pasti akan memakan istrinya sebagai sarapan yang sesungguhnya pagi itu, sungguh nasib baik sedang tidak berpihak padanya.


“Nyonya posesifku." Alexander meraih dagu Prilly, kemudian **********.


Ciuman itu panas, sangat panas karena suhu tubuh Alexander yang masih demam, Prilly perlahan mencondongkan tubuhnya hingga Alexander berada di bawahnya. Ciuman panas itu semakin dalam namun dering ponsel milik Alexander yang berada tak jauh dari mereka amat mengganggu, Prilly menghentikan cumbuan mereka dan menjauhkan tubuhnya dari suaminya untuk meraih ponsel yang masih berteriak.


“Harun memanggilmu,” ucap Prilly setelah melihat layar ponsel milik suaminya dan mengulurkan benda di tangannya kepada Alexander.


Alexander memperbaiki posisinya dan menyeret tombol penjawab panggilan di ponselnya, ia mulai berbicara kepada Harun. “Setelah aku sembuh aku akan menemuinya, katakan padanya untuk datang ke perusahaan, mungkin aku harus beristirahat dua atau tiga hari,” kata Alexander, matanya menatap wajah istrinya.


“Baiklah, hari ini kau urus semua jadwalku, batalkan saja semuanya.” Alexander mematikan sambungan panggilannya.


Prilly menatap Alexander dengan tatapan seolah bertanya. ‘Siapa yang akan kau temui?’


“Jovita ingin bertemu, kita akan menemuinya di perusahaan nanti,” Alexander menjawab pertanyaan yang sebenarnya sama sekali tidak Prilly lontarkan.


Prilly mengatupkan bibitnya, ia memalingkan wajahnya, perasaannya tiba-tiba terasa tersayat. Ini bukan masalah Jovita yang ingin bertemu suaminya. Bukan itu meski sedikitnya ada rasa cemburu, tapi bukan itu yang utama. Melihat itu, Alexander membuka kunci tombol ponselnya dan memanggil Harun kembali.


“Harun, ganti seluruh isi ruang kerjaku, seluruhnya, jangan ada yang tidak baru, semuanya harus baru termasuk wallpaper dan lampu, ingat seluruhnya dan harus selesai dalam waktu dua hari, sesuaikan dengan selera istriku, kau bisa bertanya pada Anne,” titahnya dengan nada tegas dan memaksa.


Rupanya Alexander mengerti keresahan Prilly, semua berawal dari ruang kerja itu. Prilly meletakkan kepalanya di dada Alexander seolah ia mengucapkan terima kasih, suaminya mengerti dengan apa yang ua inginkan tanpa harus ia ucapkan.


“Apa kau ingin aku memindahkan ruang kerjaku?” Alexander nengelus rambut di kepala istrinya dengan lembut.


Prilly hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah.


OHALOOO 😄


SELAMAT PAGI DAN SELAMAT AWAL BULAN, PASTI SENENG BANGET YANG HABIS GAJIAN ☺☺☺


TRAKTIR AUTHOR DONG 😙😙😙😙


TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤


VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤❤❤🌟


TERIMA KASIH