
Jovita memasuki ruangan kerja mantan suaminya, ia tentu saja tertegun karena ruangan itu telah berubah seluruhnya, tidak hanya tatanannya namun juga barang-barang di sana semuanya serba baru dan yang paling mengejutkan adalah Prilly duduk dengan manis di kursi kerja Alexander sedang Alexander ia duduk di depannya hanya terhalang oleh meja seperti bawahan Prilly.
Jovita merasa ia berada di ambang jurang kegagalan, ia tidak mungkin bisa merayu Alexander, ia membasahi bibirnya dengan ujung lidahnya dan menggigit bibir bawahnya.
“Alex, ada yang ingin kubicarakan denganmu,” kata Jovita saat ia telah duduk dengan anggun di atas sofa yang berada di ruangan itu.
“Baiklah.” Alexander juga meletakkan bokongnya di sofa tepat di depan Jovita duduk.
“Bisakah kita berbicara secara pribadi?” ekor mata Jovita melirik kepada Prilly yang tampak berada di dunianya sendiri, ia sedang menuangkan idenya ke dalam sebuah gambar.
“Maksudmu?” Alexander seolah tidak mengerti dengan apa yang Jovita maksud meski ia pastinya mengerti karena ia pria yang memiliki IQ di atas rata-rata.
“Aku hanya ingin berbicara denganmu,” gumam Jovita lirih.
Sementara di tempat Prilly duduk tak jauh dari mereka berdua sekilas Prilly menghentikan gerakan tangannya yang memainkan pensilnya.
Alexander menghela nafas panjang dan menatap dengan tatapan lurus kepada Jovita. “Maaf Jovita, Prilly adalah istriku, kami telah menikah secara hukum di negara ini, ia berhak tahu apa pun tentang suaminya.”
Merasa kehadirannya membuat Jovita tidak nyaman Prilly hendak bangkit dari duduknya namun Alexander melarangnya, “tetap di tempatmu sayangku, selesaikan gambarmu,” titah Alexander tegas namun tetap terdengar lembut.
Mendengar hal itu, ekspresi wajah Jovita tampak menghitam, ia yang semula memandang wajah Alexander dengan tatapan rindu, tamppak berganti menjadi tatapan kesal dan sedikit emosi. Ia sendiri tahu jelas tidak mungkin ada kesempatan karena Alexander pasti tidak akan peduli padanya, namun terhadap anak-anak Jovita yakin Alexander bisa di luluhkan dengan anak kecil, ia pria yang penyayang keluarga pada dasarnya. Jovita yakin akan hal itu, dengan berbekal sedikit keyakinan itu Jovita kembali mengumpulkan tekadnya.
“Alex, kau tidak bisa menceraikan aku begitu saja." Jovita memberanikan dirinya.
“Kenapa kau berkata seperti itu?” tentu saja Alexander tidak menyangka Jovita mengucapkan kalimat itu, ia sedikit mengerutkan keningnya.
“Aku--, aku merasa mungkin kita bisa memperbaiki hubungan kita,” kata Jovita lirih.
“Jovita, surat cerai kita telah berada ditangan kita masing-masing dan aku juga telah beristri, pernikahanku dan Prilly telah terdaftar di negara ini kemarin,” kata Alexander dengan nada datar.
“Tapi, aku sekarang hamil,” ucap Jovita pelan.
Prilly sedikit terkejut, ia spontan menghentikan aktivitasnya lalu matanya menatap ke arah Jovita dan Alexander.
“Jovita, bukankah kau menandatangani surat perceraian tanpa paksaan dan aku yakin kau juga membaca keseluruhan isinya dengan cermat,” Alexander menanggapi dengan sangat datar.
“Ya, tapi aku tidak tahu akan ada hal seperti ini, aku tidak tahu bahwa aku bisa hamil lagi,” kata Jovita masih dengan nada pelan dan lemah.
Bibir Alexander tampak bergerak-gerak, ia menatap wajah Jovita dengan tatapan yang hanya di mengerti artinya oleh Alexander sendiri. “Masalah kehamilan itu, itu memang tidak terduga, aku tidak menambahkan pasal apa pun di sana.”
“Tapi, sebagai ayahnya kau harus bertanggung jawab, ia juga harus mendapatkan kasih sayang dari ayahnya,” ucap Jovita benar-benar penuh harap.
“Aku pasti bertanggung jawab, aku akan memberikan materi yang di perlukan anakmu kelak.”
“Anakmu? Dia anak kita,” suara Jovita naik satu oktav.
Alexander benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi mantan istrinya yang satu ini, ia tidak mungkin mengatakan bukan dia yang menghamili Jovita. “Jadi, kau ingin bagaimana?” Alexander hanya mampu bertanya.
Setelah beberapa saat dalam keheningan, Alexander berucap. “Jovita, untuk menikahimu lagi aku tidak bisa, tetapi untuk bertanggung jawab aku akan melakukannya hingga anak itu dewasa.”
“Itu tidak adil, Alex." Lirih Jovita mengeluarkan suaranya, ia nyaris menjatuhkan airmatanya.
Alexander melirik sekilas ke arah Prilly yang masih menonton drama di depannya. “Jovita, apa kau tidak menginginkannya?”
Jovita masih tertunduk, ia tidak menjawab pertanyaan Alexander.
“Aku dan Prilly yang akan merawatnya jika kau tidak menginginkannya, aku rasa istriku tidak akan keberatan, bagaimana sayang?” Alexander menatap Prilly dengan tatapan penuh harap.
Prilly tersenyum manis, kemudian ia mengangguk. “Itu tidak masalah, kami akan membesarkannya sebagai adik William, Leonel dan Grace.”
“Alex, kau benar-benar tidak berperasaan, kalian berdua benar-benar pasangan yang kejam!” Jovita bangkit dengan kasar dan meninggalkan Alexander dan Prilly yang tidak mampu mengatakan apa pun.
“Kau tidak memberitahu kebenarannya?” Prilly bangkit dari duduknya menghampiri suaminya, ia berdiri di belakang kursi tempat Alexander duduk dan ia mengalungkan lengannya di bahu Alexander.
“Dia korban pelecehan seksual, itu sebuah tindakan pemerkosaan, pasti berat untuk di lalui jika ia mengetahui kebenarannya, aku tidak bisa merangkai kata bagaimana cara memberitahunya.”
Sekali lagi Prilly terkejut dengan apa yang ia alami, Alexander, suaminya memang benar-benar pria yang pantas di cintai, mengapa matanya baru saja terbuka untuk pria sebaik ini?
“Apa kau keberatan jika aku mengadopsi bayi itu nanti?” Alexander benar-benar ingin memastikan apakah istrinya bersedia.
“Tentu saja tidak, kita akan merawatnya,” jawab Prilly sambil meletakkan dagunya di atas kepala Alexander.
“Terima kasih atas pengertianmu,” Alexander mendongakkan wajahnya dan Prilly mengecup bibir suaminya dengan lembut.
Alexander menghela napas lega, ia teringat malam di mana Charles meniduri Jovita. saat itu ia baru saja keluar dari kamar di mana Prilly berada setelah mencumbui tubuh wanita yang paling di cintainya dan melalui tiga babak panas yang membuat Alexander benar-benar merasa menjadi pria paling bahagia di dunia ini.
Baru saja ia membuka pintu hendak keluar dari kamar yang di tempati Prilly ia menjumpai Charles keluar dari kamar yang di tempati Jovita. Tentu saja Alexander bertanya-tanya bagaimana cara Charles masuk sedangkan kunci cadangan kamar ada di tangan Alexander, setelah Charles menjauh ia bergegas Alexander membuka pintu kamar itu dan ia mendapati kamar pakaian Jovita yang berceceran, ranjang yang berantakan dan Jovita tertidur pulas di atas ranjang dengan keadaan telanjang juga aroma sex yang menyengat, rupanya percintaan juga baru saja usai di ruangan itu.
Alexander seharusnya marah saat itu karena Jovita adalah istrinya dan di jamah orang lain, Jovita ia tinggalkan dalam keadaan tak sadarkan diri, apakah Charleslah yang mengambil kesempatan? Batin Alexander bertanya-tanya.
“Maafkan aku Jovita,” gumam Alexander, kali ini ia memilih menjadi pria ba**ngan sekali lagi, bukan karena tidak ingin membela Jovita, namun ada sisi lain yang harus dipertimbangkan.
Ia menutupi tubuh telanjang Jovita menggunakan selimut kemudian keluar untuk memanggil tim IT kepercayaannya. “Dapatkan rekaman kamera pengintai di hotel ini, sekarang juga!” titah Alexander sambil menyebutkan seluruh detail lantai kamarnya yang ia maksud, ia kemudian mendatangi resepsionis untuk meminta sebuah kamar kosong dan mengistirahatkan tubuhnya di sana, ia telah menggenggam bukti kejahatan Charles, di sana tampak jelas Jovita tak sengaja membuka pintu kamarnya dan Charles kebetulan sedang lewat, tubuh Jovita tampak tidak seimbang, wanita itu terhuyung huyung nyaris roboh dan Charles menangkapnya, detik berikutnya justru yang tampak mereka bercumbu di lorong kamar hotel, Charles benar-benar bodoh.
Pria itu di butakan nafsu dan tidak waspada sama sekali, sudut bibir Alexander menyeringai licik. Jika kali ini ia tidak bisa berbuat apa pun untuk Jovita, maka rekaman kamera pengintai itu bisa di jadikan bukti suatu saat nanti untuk menolong Jovita sekaligus memukul Charles di masa depan.
TAP JEMPOL KALIAN 😭😭😭😭😭
NANTI KALO AKU GAK DI KASIH JEMPOL MERAJUK 🤑🤑🤑
GAK DI VOTE JUGA MERAJUK 😥😥😥 VOTE DONG 🤐🤐🤐🤐
TERIMA KASIH 😚😚😚😚