
Prilly memasuki restoran di mana Jovita telah menunggunya.
“Maaf Jovita, ada hal yang harus kuurus terlebih dulu,” kata Prilly setelah mendudukkan bokongnya dengan anggun, ia terlambat hampir 30 menit.
“Tidak masalah, kau pasti sangat sibuk mengurus perusahaanmu,” kata Jovita.
“Ya begitulah,” jawab Prilly, jauh di dasar hatinya ia sangat canggung menghadapi Jovita, ia iba pada Jovita, ia tidak sampai hati melihat wajah Jovita.
Bahkan hingga makanan tersaji dan mereka telah selesai menyantap hidangan yang di sajikan tidak banyak percakapan di antara mereka.
“Prilly, apa kau tidak enak badan? Kau banyak melamun dari tadi.” Jovita bertanya.
“Ya aku sedikit kurang baik,” jawab Prilly berbohong, ia ingin segera melarikan diri dari tempat itu. Ia tidak bisa lebih lama menghadapi wanita yang suaminya diam-diam telah ia rebut.
“Sebaiknya kau kembali dan beristirahat, aku akan mengantarmu,” ucap Jovita.
“Tidak Jovita aku tidak ingin merepotkanmu, terima kasih,” tolak Prilly halus.
“Kau tidak boleh mengemudikan mobil dalam keadaan sakit Prilly,” kata Jovita tampak khawatir.
“Aku tidak membawa mobilku, aku bisa menggunakan taxi.” Prilly terus saja berusaha menolak.
“Tidak Prilly, aku akan mengantarkanmu, lagi pula aku bersama Danny,” kata Jovita.
Tidak memiliki alasan lagi, akhirnya Prilly mengangguk dan menyetujui tawaran Jovita, diam-diam jemari Prilly mengetik di atas layar ponselnya untuk memberitahu Alexander bahwa Jovita mengantarkannya kembali ke tempat tinggalnya.
Prilly bersama Jovita duduk di bangku penumpang sambil larut dalam pikiran masing-masing, tidak banyak yang mereka bicarakan, suasana begitu tegang, untunglah jarak antara restoran dan tempat tinggal Prilly bisa di tempuh dalam waktu 15 menit, namun percayalah 15 menit dalam ketegangan sepertinya jarak menjadi begitu panjang.
Setelah mengucapkan terima kasih dan mobil yang di tumpangi Jovita dan Danny menjauh Prilly menghela nafasnya dan menghembuskannya seolah membuang semua beban di dadanya, ia melangkahkan kakinya memasuki tempat tinggalnya dan menghempaskan bokongnya di sofa dengan nyaman.
Photo sourch Instagram
Prilly meletakkan kepalanya di sandaran sofa sambil memejamkan matanya, mengendurkan ketegangan yang terus merasuki otaknya, sambil berpikir untuk pergi berkeliling dunia, sepertinya ia harus berlibur agar ia tidak terpaku pada Alexander yang menguasai jiwa dan pikirannya sekarang, dulu jatuh cinta pada Mike tidak menyiksa batinnya seperti ini, namun kali ini jatuh cinta pada Alexander benar-benar menguras emosinya.
Prilly membuka matanya perlahan saat ia merasakan aroma maskulin pria begitu dekat di hidungnya, wajah pria yang memorak-porandakan perasaannya ada di depan matanya dan dengan lembut Alexander mengecup bibir Prilly.
“Mrs. Johanson, apa yang kau pikirkan?” tanya Alexander dengan nada sangat lembut.
Prilly menyentuh wajah suaminya dengan telapak tangannya. “Apa kau sudah makan?”
“Aku makan di lantai atas tempat kalian makan siang,” jawab Alexander dengan seringai nakal.
“Kau memang licik,” ucap Prilly dengan nada sangat ringan.
Alexander mendudukkan bokongnya tepat di samping Prilly dan menyandarkan kepalanya di sofa seperti yang Prilly lakukan.
“Kurasa aku ingin pergi berlibur keliling dunia, ke negara-negara yang belum pernah aku kunjungi,”
Prilly memberitahu Alexander tentang rencananya.
“Kita akan pergi bersama nanti,” kata Alexander.
“Bagaimana pekerjaanmu? Jangan bilang kau kan mengabaikannya lagi.”
Alexander justru terkekeh. “Kita rencanakan dengan matang, setelah semua beres, ayo kita berkeliling dunia,” ujar Alexander.
“Aku sangat setuju,” jawab Alexander. “Mommy pasti sangat senang, kau adalah putri kesayangannya.”
“Kau memberitahu Mommy tentang pernikahan kita?”
“Tentu saja, tanpa Momny dan Daddy, kita pasti mengalami jalan buntu untuk menikah di gereja,” jawab Alexander.
“Kau memang pria pemaksa,” kekeh Prilly.
“Untukmu, apa pun akan kulakukan kau tahu itu Prilly Silviana Johanson.” Alexander berkata dengan nada tegas.
“Jika di pikir-pikir... sejak aku mulai duduk di bangku sekolah menengah atas kita tidak pernah lagi berbicara santai berdua seperti ini ya?”
“Aku sangat sibuk,” kata Alexander mengingat ia adalah pewaris satu-satu kerajaan bisnis yang di bangun kakeknya dan diteruskan oleh ayahnya, ia menjadi telah menduduki jabatan di perusahaan milik ayahnya sendiri sebagai CEO di usia 23 tahun, kemudian di usia 29 tahun ia mengambil alih semuanya, kursi jabatan sebagai direksi telah mutlak menjadi miliknya, itulah sebabnya ketika Disna mengancam akan mencoret Alexander dari jabatannya di perusahaan karena menikahi Jovita ancaman Diana tumpul, ancaman itu tidak berguna karena bisa di pastikan perusahaan tidak akan bisa berjalan tanpa tangan Alexander.
Alexander memiringkan kepalanya menghadap ke arah istrinya, “Kau selalu datang padaku saat kau tidak bisa mengerjakan tugas matematika,” kata Alexander dengan suara pelan.
“Dan ilmu sains,” timpal Prilly, ia memang lemah dalam dua hal itu meski ia cerdas di bidang lain.
Mereka tertawa ringan, Prilly juga memiringkan kepalanya menghadap Alexander, mereka berdua saling menatap dalam.
Alexander semakin mendekatkan wajahnya pada Prilly dan melahap bibir kenyal milik istri kesayangannya, lidah mereka saling membelit dalam ciuman dalam yang menggairahkan, erangan-erangan kecil keluar dari bibir Prilly.
"Hubby, bawa aku ke ranjang,” erang Prilly.
Dengan senang hati Alexander mengangkat tubuh istrinya, membawa Prilly menaikintangga menuju kamar utama, melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuh mereka berdua dan mulai pergulatan di atas ranjang.
“Sayang, kau sangat sempit,” geram Alexander seperti suaranya tertahan di kerongkongannya.
“Hubby, aku mencintaimu,” erang Prilly.
Mendengar apa yang di ucapkan Prilly membuat jantung Alexander berpacu dengan cepat dan semakin bersemangat mengerjakan tugasnya membuat istrinya mendesah di bawah kuasanya, ia semakin dalam mendorong pinggulnya hingga berkali kali Prilly mendapatkan apa yang seharusnya berhak Prilly dapatkan.
Setelah memastikan Prilly cukup, Alexander menuntaskan apa yang menjadi haknya, ia memuntahkan cairan cintanya hingga memenuhi rahim Prilly, diam-diam Alexander berdoa mengharapkan benih cintanya tumbuh di rahim prilly agar ikatan di antara mereka semakin dalam.
Alexander mengecup kening Prilly yang masih sedang melingkarkan lengannya di pinggang Alexander, “kau lelah?” Alexander bertanya.
“Kurasa kau yang terlalu bersemangat, seharusnya kau yang lelah,” ejek Prilly.
“Jadi kau masih ingin lagi?” goda Alexander.
“Omong kosong, kau yang menginginkannya bukan?” ejek Prilly.
“Aku akan memberimu waktu tidur tiga puluh menit menit,” kata Alexander.
“Kau pelit sekali,” gerutu Prilly.
“Anak-anak akan segera datang, mereka memerlukan kita," ucap Alexander, ia memang datang bukan semata-mata untuk bertemu istrinya, ia juga ingin bercengkerama bersama ketiga anak-anak yang menggemaskan sebagai sebuah keluarga yang utuh.
“Baiklah,” guman Prilly yang tampaknya telah sedikit kehilangan kesadarannya.
Alexander menarik selimut untuk menutupi kedua tubuh telanjang mereka dan memeluk tubuh Prilly, ia juga memejamkan matanya, ia juga sangat mengantuk karena tadi malam ia tidak bisa memejamkan matanya, dan saat ini ia hanya ingin menikmati waktunya bersama dengan wanita pujaannya.
TAP JEMPOL KALIAN 😙😙😙😙😙