
“Katakan apa maumu,” ucap Anne setelah mereka berada di dalam unit apartemen tempat tinggal David, ia tidak ingin membuang waktunya lagi.
Mereka berdua berdiri berhadap-hadapan.
“Berhentilah bekerja ada tinggallah bersamaku,” ucap David dengan nada datar.
Anne menelan ludahnya, perasaannya pada David sejujurnya telah lenyap tak berbekas. Setelah menata batinnya Anne berucap, “David, aku telah mendengar kau mengatakan hal itu ratusan kali dalam beberapa bulan ini, tapi sayangnya aku sama sekali tidak tertarik dengan tawaranmu itu.”
David memang telah mengejar Anne selama beberapa bulan dan Anne masih bersikeras untuk menolak David, pria itu hanya menginginkan Anne untuk tinggal bersama David di apartemen. Dengan kata lain mungkin David hanya ingin dirinya menghangatkan ranjang David. Tentu saja Anne keberatan dengan hal itu, seorang wanita perlu kepastian, seorang wanita perlu hubungan yang jelas yaitu ikatan pasti yang bernama pernikahan. Apalagi usia Anne tak lagi muda, ia kini menginjak tiga puluh tahun.
Meski sebenarnya di Eropa tidak ada yang mempermasalahkan seorang wanita belum menikah di usia tiga puluh tahun, tetapi Anne ingin seperti Prilly dan Linlin. Mereka memiliki keluarga yang bahagia meskipun ia tahu, Prilly menjalani hidupnya tidak sesempurna yang orang lain lihat, sahabatnya itu mengalami jatuh bangun berkali-kali. Tetapi, sepertinya manusiawi jika seorang wanita merasa sedikit kecemburuan di dalam benaknya saat melihat sahabatnya sendiri memiliki anak dan suami yang penuh cinta.
Yang Anne inginkan adalah memiliki keluarga sendiri, memiliki suami dan anak tinggal di rumah yang penuh cinta bukan menjalani hubungan tidak pasti.
“David jangan bermain-main aku tidak ingin tinggal bersamamu, karena dirimu, pertemananku dengan Adelia rusak dan ia sampai detik ini yang menghindariku, aku sungguh kecewa kau menyembunyikan rahasia besar dariku.” Untuk pertama kali Anne membuka suaranya tentang kekecewaannya terhadap David.
“Kami memang menyembunyikan hubungan kami Antara aku dan Adelia tidak ada perasaan apa pun, Adelia menghindarimu karena ia khawatir kau merasa tidak nyaman terhadapnya.” David berusaha menjelaskan.
“Dan faktanya memang demikian, aku memang merasa tidak nyaman,” ucap Anne dengan nada sinis.
“Adelia sesungguhnya telah mengetahui hubungan kita sejak alas kedekatan kita,” kata David tiba-tiba.
Bagi Anne ucapan David sama sekali tidak menarik, andai David mengejarnya dulu mungkin ucapan itu akan berarti.
“Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan sebaiknya aku pergi,” dengan nada dingin dan ekspresi tak berminat melanjutkan pembicaraan Anne berusaha menghentikan pembicaraan yang tidak seharusnya ada menurut Anne. Menurut Anne pembicaraan ini hanya berputar-putar dan membuang waktunya, dan yang pasti ia tidak akan sudi menjadi simpanan David.
“Dengarkan penjelasanku kali ini, oke?” David meraih telapak tangan Anne dengan gerakan tak terbaca oleh Anne, tentu saja Anne terkesiap. Ia refleks menarik tangannya namun David menahannya.
“Kenapa aku tidak mengejarmu selama tiga tahun? Kenapa aku baru saja mengejarmu? Kau tahu kenapa alasannya?”
Anne justru menatap wajah David dengan tatapan malas ia sama sekali tidak ingin mendengarkan penjelasan David, entah apa alasannya Anne tidak ingin peduli.
“Ayahku....” David terdiam sebentar untuk menghela napasnya. “Kau tahu sendiri ayahku, aku tidak bisa menentangnya. Apalagi keadaan beliau ketika itu sakit-sakitan, aku takut sesuatu terjadi kepadanya. Beruntungnya beliau tidak menekanku dan Adelia untuk segera menikah, sekarang beliau telah tiada aku memutuskan pertunangan pertunanganku dengan Adelia Antara aku dan Adelia tidak pernah ada satu pun dari kami yang memiliki rasa. Hubungan tidak seperti yang kau kira, Adelia menghormati keluargaku dia menolak perjodohan kami tetapi ia masih bersikap baik, aku menerima perjodohan itu karena orang tuaku, tapi karena sekarang orang tuaku telah tiada keduanya siapa yang harus dipatuhi? Aku tidak perlu mematuhi siapa pun.”
Anne masih dengan sikap semula, alisnya bahkan tampak sedikit bengkok.
“Sekarang, ayo kita menikah,” kata David.
“David." Anne berhenti sejenak. Ia harus merangkai kalimat yang tepat agar tidak menyinggung David, “Mantan kekasihmu cukup banyak lebih baik kau memilih mantan kekasihmu yang lain. Kau tidak perlu mengejarku lagi,” jawab Anne dengan nada yang lebih ringan di banding nada suara sebelumnya.
“Kita bisa memulai lagi dari awal jika kau tidak ingin terburu-buru menikah,” ucap David.
“David, aku—“
“Apa yang kau inginkan?” potong David dengan suara rendah.
“Tidak ada yang kuinginkan, yang kuinginkan sekarang hanya kembali bekerja karena ini masih jam masih waktuku bekerja.” Beruntungnya David memotong kalimat Anne sehingga ia tidak perlu repot-repot menolak David lagi.
“Kembali bekerja atau untuk bertemu Harun?” David mengangkat sebelah alisnya.
“Kau tidak masuk akal,” ucap Anne dengan nada kembali terdengar sinis.
“Jadi kalian memang memiliki hubungan?”
“Karena kami bernaung di bawah perusahaan yang di pimpin oleh orang yang sama, tentu saja aku dan Harun memiliki hubungan,” jawaban Anne dengan nada acuh.
“Aku telah meminta Alexander untuk memecatmu,” ucap David terdengar mengancam.
“Oh ya?” tanya Anne dengan nada sinis kembali. “Mereka tidak akan mungkin memecatku tanpa alasan.”
‘Aku harus menghubungi Prilly untuk hal ini, Prilly harus bertanggung jawab!’ batin Anne kesal.
“Alasannya sudah cukup jelas, karena kau akan kunikahi, kau menjadi Nyonya Brown maka kau harus berada di sampingku bukan di perusahaan milik orang lain.” David dengan lembut membawa telapak tangan Anne mendekati bibirnya namun Anne dengan cepat menarik kedua tangannya.
TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️
RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️
JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️
TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️